Ketika Pendidikan Menjadi Beban di Korea
Post ini ditulis berdasarkan ngobrol-ngobrol iseng saya dengan Leo (bukan nama sebenarnya, beneran, ga boong, hahaha), seorang siswa kelas 2 (Grade XI) Foreign Language High School di Korea selama event KSCF (Korean Scientific and Creativity Festival), Agustus 2013
Saya bersyukur lahir dan besar di Indonesia.
Kita tahu pendidikan itu dasarnya untuk meningkatkan pengetahuan orang itu, kalo ada embel-embel lainnya sih ya bisa aja buat meningkatkan derajat keluarga atau masa depan, biar pinter, dapet uang banyak, and so on, you can definitely add more things to the list. Linear.
Tiap negara punya sistem pendidikannya sendiri, dan masing-masing murid boleh berkeluh kesah tentang sistem pendidikannya. Boleh kok bilang susah dan ngeluh, asal ngeluhnya yang bener (to god for example). Tapi, kalau kita bandingkan tingkat stress dan beban mental pendidikan, kayaknya yang menempati peringkat stress murid-murid no.1 either Korea atau Jepang deh. Kenapa?
First thing first, Siswa-siswa disini harus udah ada di sekolah dari jam 6.30 pagi, dan baru boleh pulang setelah jam 11 malam. Saat tulisan ini dibuat, waktu korea menunjukkan jam 10 malam, anggaplah ini lagi ga liburan summer, pasti bakal banyak siswa-siswi korea berseliweran pulang ke rumahnya dalam 1 jam berikutnya. Terus gimana dong makan nya? Ya mereka makan pagi-siang-malam semuanya di sekolah. Praktis di rumah itu cuma tempat tidur dan bikin pe-er. Terus gimana dong sosialisasi nya? Ya gampang aja, mereka engga bersosialisasi terlalu luas.
Second. Ga ada, atau kurang ada, yang namanya support dari sang kekasih tercinta (nah tuh para cewek-cewek kalo mau cari cowok korea, carilah yang udah masuk universitas, soalnya mereka juga nyari kok). Jadi, ada beberapa sekolah yang me-mubah-kan pacaran, ada juga yang totally meng-haramkan hal tersebut, atau memang dari si orang tersebut yang ngga mau pacaran. Kenapa demikian? Coba liat poin ke tiga dibawah ini deh.
Third. Dan ini yang paling penting. SNMPTN mereka sangat-sangat-sangat ketat! Saat siswa-siswi udah memasuki kelas 3 SMA (Grade XII) mereka bakal amat sangat belajar mati-matian demi universitas idaman. Ujian tersebut jadi semacam ritual sakral yang menentukan masa depan, gaji, bahkan hidup mati anak tersebut. Kata leo, saat tulisan ini ditulis, ujian SNMPTN mereka tinggal 69 hari lagi, dan banyak siswa yang merasa gak PD atau takut gagal, sehingga mereka lebih milih bunuh diri.
Di Korea (selatan), ada 3 universitas top yang jadi tujuan utama seluruh jutaan umat manusia siswa siswi korea, yaitu Seoul University, dua lagi depannya K sama Y, jadi kalau disingkat S-K-Y, SKY. Dan sama kayak menembus langit, it is very hard! Ga ada cerita main "belakang" di Korea. Anggaplah seseorang sudah bisa menembus SKY, beda antara masa depan, pengharapan dan gaji sangat besar, sekitar 10 kali lipat, dibandingkan dengan orang yang kuliah ngga di universitas SKY tersebut. Para pemberi lapangan pekerjaan sangat melihat background GPA (IPK) dan Universitas dari para pelamar. Jadi, istilah "IPK itu cuma sebagai pengantar wawancara kerja, sisanya ditentukan oleh skill anda" ngga berlaku di korea, disini semua tentang background, nilai, GPA, dan kayaknya skill baru diperhitungkan terakhir-terakhir.
Semua yang ada di Korea (selatan) ditentukan oleh otak, kerajinan dan nilai. Leo bilang kalau ada aja anak-anak yang udah lebih pintar dari gurunya dalam satu mata pelajaran. Terus ngapain coba mereka masih sekolah, kalau udah lebih pinter dari gurunya -____-. Sekolah di korea, bagi yang sudah pintar, cuma jadi semacam prasyarat untuk mengikuti ujian SNMPTN tadi. Ya iya lah masa ngga enrolled as a highschool student mau ikut SNMPTN.
Memang ketat. Namun semua bikin orang disini jadi pintar dan jadi semua. Eliminasi super. Kalau sistem semacam ini diterapkan di Indonesia, apa yang akan terjadi ya?