Kesempurnaan Dunia dan Kaitannya dengan Nihilisme
Dunia telah mencapai kesempurnaannya jauh sebelum manusia mampu menyadari dan merenungkannya. Saya mungkin baru sekarang dapat menyadari--meski tidak sepenuhnya menerima--kesempurnaan dunia yang kita tinggali sekarang, namun sesungguhnya kesempurnaan itu tidak sedang berada pada tingkat tertentu melainkan sudah jelas adanya sebagai sifat dunia; sempurna dalam “ketidaksempurnaannya”.
Bukan tujuan utama saya menjelaskan tentang makna kesempurnaan lewat tulisan ini. Saya justru hendak membahas tentang nihilisme, paham yang berporos pada “ketiadaan” atau “yang tidak ada”.
Kehidupan dunia ini terbentuk sedimikian rupa oleh berbagai macam unsur, yang kemudian dapat disederhanakan menjadi unsur positif dan negatif dunia. Ada gelap dan terang, kebahagiaan dan kesedihan, pembangunan dan penghancuran, baik dan jahat, dan lain sebagainya. Baik segi positif maupun negatif sama-sama menyempurnakan dunia ini. Sementara itu, paham nilistik lebih condong melihat dunia dari segi negatifnya saja.
Para penganut nihilisme secara umum beranggapan bahwa dunia dipenuhi dengan kerusakan dan kejahatan, sehingga tidak ada gunannya lagi hidup di dunia ini. Pemikiran seperti itu cenderung mengarahkan manusia pada sifat pesimis dalam menghadapi dunia. Atau justru mendorong manusia untuk mengatasi sisi gelap dunia dengan caranya sendiri, seperti menjalankan terorisme dan pembunuhan untuk mengendalikan manusia lainnya agar tunduk pada kemauan kaum nihilis itu.
Kritik atas nihilisme ialah bahwa paham tersebut terlalu ekstrim memalingkan pandangan dari sisi dunia yang lain yang sesungguhnya masih banyak dipenuhi hal-hal positif. Seperti semangat gotong royong dan persatuan yang dapat kita lihat dari kejadian paska bom Sarinah. Tragedi bom tersebut memang menimbulkan kerusakan besar, namun apa yang kemudian terjadi setelahnya adalah masyarakat Indonesia semakin memahami rasa persatuan dan gotong royong dalam melawan terorisme.
Selama ini banyak dari kita selalu mencari-cari kebahagian dan kebaikan dengan senantiasa memalingkan wajah dari sisi negatif kehidupan ini, maka apa yang membedakan kita dari kaum nihilis ekstrim tersebut? Bukankah baik segi positif dan negatif dunia sama-sama membentuk keseimbangan dalam dunia ini?