Don't ask if I'm happy, you know that I'm not But at best I can say I'm not sad Cause hope is a dangerous thing for a woman like me to have...
seen from United States
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Singapore
seen from Russia
seen from China
seen from United States
seen from Poland

seen from Switzerland

seen from United States
seen from China
seen from Türkiye

seen from T1
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Switzerland
seen from China
seen from Australia
seen from Poland
Don't ask if I'm happy, you know that I'm not But at best I can say I'm not sad Cause hope is a dangerous thing for a woman like me to have...
Hello, there. I just stuck on my bad condition and don’t know how to fix it all. Its hard to tell anyone, ‘cause i feel like I’m the worse person in the world. I have no income, no idea, no spirit, etc. My daily activity just lying down in my bed and thinking nothing. I have biggest fault in my life which is I think that everyone can’t accept it. I’m so scared to do something. I’m so scared to start in anything. Stuck on my final report of bachelor which not finish yet, and stuck on my guilty feeling to my parent. I hope that Allah forgive my fault, give me a chance and make everything in the right way.
~~ March17, 2019.
Dia yang Mengajarkanku Betapa Tulusnya Kamu
Ini tentang dia, bukan kamu.
Dia yang hanya singgah sebentar untuk bertamu.
Dia yang menyadarkanku betapa bodohnya diriku meninggalkanmu.
-o-
Aku pernah begitu nyaman dengan seseorang yang tak pernah kujumpai.
Aku hiraukan bagaimana fisiknya,sikapnya, dan bahkan masa lalunya.
Perkenalan yang singkat membawa kami ke dalam percakapan yang amat dalam.
Tanpa disadari, itu semua menjadikan kami tak tau arah.
Dia selalu bercerita apapun padaku hingga aku ditarik masuk ke dalamnya.
Membuat diriku enggan keluar dan menjadi pendengar yang baik untuknya. Jujur pada awalnya hanya kujadikan dia pelampiasan atas rasa bosanku.
Namun, dia terlalu pandai memainkan perannya sebagai seorang lelaki.
Membuat diriku nyaman dan bahagia ketika membaca pesan darinya.
Telpon darinya juga selalu kutunggu di setiap malam, karena disinilah dia bercerita segalanya dan tak lupa menanyakan “bagaimana hariku hari ini?”. Perempuan mana yang tidak bahagia, ada seseorang yang peduli padanya di tengah rasa sepinya.
Saat itu rasanya malamku teramat panjang, tak ada batasan waktu untuk kami saling bertukar cerita. Dia terlalu pandai membawa hatiku dan aku terlalu lemah untuk dibawa olehnya, rasanya gampang sekali senyumku terukir olehnya. Dia menyukai puisi dan membuatkan puisi untukku, sudah pasti kalian tau rasanya hatiku saat itu. Dia selalu saja berkata manis seolah aku miliknya, padahal nyatanya kami tak pernah dan tak akan mungkin terikat dalam suatu hubungan.
Kukira ini akan selamanya baik-baik saja, tapi ternyata tidak. Harapan dan perasaanku dibuatnya jatuh, ia tiba-tiba melangkah mundur karna takut perasaan yang ia tanam semakin dalam. Dia membuatku kebingungan di tengah jalan tanpa kabar dan pamit. Dan bodohnya aku, menyuruhnya kembali untuk memberiku alasan dan penjelasan. Malam itu, kami kembali mengobrol lewat telpon. Dia untuk pertama kalinya benar-benar berbicara serius, tegang sekali pembicaraan kami saat itu. Dan satu hal yang membuatku terkejut adalah dia menangis, dia menangis karena dia merasa telah menyakitiku. Hatiku yang lemah ini pun ikut menangis, aku terharu.. benar-benar terharu karena percaya atau tidak aku telah menjadi alasannya menangis.
Setelah percakapan malam itu, kami memutuskan untuk tetap berteman tanpa menggenggam perasaan. Namun, semakin kesini dia semakin jelas mempermainkan hadirku untuknya. Dia memperlakukanku sesukanya, terkadang dia menjadikanku sebagai orang yang dia sayang tapi di sisi lain dia hanya menganggapku teman. Disini aku baru tersadar ucapannya terlalu manis, janjinya terlalu banyak, dan sikapnya sungguh drama. Aku memutuskan tetap berteman dengan baik, namun ucapan manisnya hanya kujadikan angin lalu.
Aku memang terlalu lemah jika sudah berurusan dengan hati, tapi aku masih punya akal untuk mencerna semua itu. Sampai akhirnya, kami sudah jarang berkomunikasi. Pada satu waktu, dia memberiku kabar bahwa dia akan datang ke kotaku untuk menghadiri suatu acara dengan harapan bisa bertemu denganku. Aku sedari awal bertekad tidak akan pernah menjumpainya, karena kuharap ini takkan pernah berlanjut terlebih lagi dia sudah membuatku ilfeel . Selama tak berkomunikasi denganku, ternyata ada seseorang yang diperlakukannya seperti aku saat awal kami berkenalan.
Bagaimana mungkin aku mau bertemu dengannya, sedangkan ia tak menghargai aku ketika tak saling temu.
Saat dia sudah berada di kotaku, dia memulai percakapan kembali untuk meminta pertemuan. Aku menolak dan dia kembali memohon padaku, pesannya aku archieve hingga kini dan tak sedikitpun kubaca. Sungguh berat hatiku karena telah memperlakukan orang yang pernah membuatku bahagia seperti itu, tapi aku tak ingin lagi menanggung resiko apapun. Pasti jika pertemuan terjadi, itu akan menjadi awal lagi untuk kami, dan aku benar-benar tak ingin.
Dia tak pernah lagi berani menggangguku, tapi tak juga memblokir apapun yang berkaitan denganku. Dia mengungkapkan rasa lewat kata-kata yang terkadang kuyakini untukku. Beruntungnya hatiku masih bisa menahan semua yang ingin kuungkapkan juga untuknya.
Enam bulan bukan waktu yang sebentar untuk saling mengenal, kurasa sudah banyak cerita yang tercipta untuk sekedar disimpan. Aku tahu kapan saat dia sedih dan kapan saat dia merindu, ada banyak hal yang bisa kubaca dari setiap update-annya.
Terimakasih untuk dia yang telah membuat cerita baru dihidupku. Aku banyak belajar darinya, termasuk ilmu menulis inipun kudapat darinya. Tak ada yang pernah kusesali, semua yang terjadi pasti ada hikmahnya.
Tak perlu menjadi asing untuk menutupi perasaan yang dulu pernah ada, kuharap tak ada gengsi yang membatasi aku dan dia untuk berteman.
-o-
Ini untuk kamu, bukan dia.
Kamu yang tulus mencintai dan teramat setia.
Kamu yang pernah berkorban tapi berakhir sia-sia.
Aku mencoba untuk tidak menyesali apa yang telah aku lakukan. Mungkin dengan aku mengakhiri hubungan saat itu hingga mengenal sosok dia, menjadikanku pribadi yang lebih menghargai dan mengerti arti ketulusan. Sehingga kini aku menyadari banyak kesalahan yang sengaja atau tidak sengaja kuperbuat mungkin menyakiti hatimu, tapi kamu memilih diam dan tetap tersenyum.
Maafkan aku yang dulu selalu menuntutmu menjadi apa-apa yang kumau. Tanpa sadar aku juga menuntutmu menjadi pasangan yang sempurna. Padahal tak ada gunanya semua itu. Aku harusnya sadar, kamu sudah menjadi sempurna dengan semua ketulusan dan kebahagiaan yang kamu berikan padaku.
Terimakasih atas apa-apa yang pernah kamu berikan untukku. Kamu yang selalu tersenyum sekalipun aku acuhkan masih teringat jelas dibenakku. Aku telah menyia-nyiakan ketulusan seseorang yang benar-benar menyayangiku.
Fri 25/01/2019
My life in one picture 😂😂
10/08/17
I spent my day, hungover from the night before and took a drive out to Gasworks Park that has a gorgeous view of Seattle. As I sat there, i realized how unhappy I was and took the time I needed to ask myself why. After my own self reflection, I tried calling my best friend Jill.. She didn’t answer. Some time passed and as I sat on the hill, gazing at the skyline, she called me back. I started talking to her, asking her about her house and how things were going with her, Maggie, and Eddie. She asked about my night, who the chick was in my snap, and if I liked Seattle. I knew I called her for a reason, and it wasn’t for any of these reasons. I called her because she is a very important person in my life who I have yet to tell that I might be trans. It’s not that I was keeping it from her, it’s that there was never the right time. I only ever really wanted to start telling people after my time in Portland, OR and so when I got back and spent the week at her place, I thought it’d be easy, but it wasn’t. It hasn’t been easy at all to tell people face to face, unless they are people I have met after the fact. The people who already know me and love me as a lesbian, that’s a different story. When me and Jill had our day out in Boston, I thought it would be the perfect timing, but I never found the chance. The trip was so stressful and I was so absorbed in reconnecting with my ex that the trip didn’t even seem all too relevant to being a fun and cool time in our friendship. I’m glad we did it because we reconnected after the damage that had been done from my relationship and after my time away traveling. I had missed her, and I wanted her to know. Anyway, I realized that I never told her I was struggling with this and Jill is a big part of my life. Somewhere in the conversation, I saw my shot. She mentioned something about a trans conspiracy and I used that as my window. She guessed it. Apparently, at some point last year, when me, her, Mags, and my ex had all gone out to eat I made a comment about chopping off my boobs. Jill had apparently responded asking if I wanted to transition in a joking way and I got super weird about it. Apparently, I don’t recall. But sounds about right, because I’ve been so closed off and uncomfortable to this idea for a while. We had an hour and a half conversation about it, which is the most I’ve gotten out of any of my friends. She was so accepting, asked questions, and shared her support in so many ways. I was surprised at the amazing support. Most of my past friends I’ve told haven’t even flinched, which is cool in itself, but it was even cooler to have someone take a sense of interest and ask and care about where my heads at. It felt SO good to talk to her and it was so amazing to listen to her and connect with her in a way I never had because I run the risk of losing my family, and she’s basically already faced that just by being gay. I’ve had my own struggles with being gay and my family coming around, but never once did they leave my side. And I guess I never realized how strong Jill has been for coming to a place in her life where she accepts the loss of her family because she knows herself, and that’s actually a big reason why I haven’t told my family about possibly being trans. It was so refreshing to talk to her. She was so excited about everything and we through out jokes about how if I started Testosterone and get bigger muscles than her, she’ll be pissed. My heart has felt so full, with the acceptance I’ve gotten from the people I’ve told and their patience and understanding with what I’m going through. I don’t know how I got so lucky to have friends who stick by me and to have friends who just genuinely care about my happiness. I think sometimes I take them for granted because sometimes I don’t believe people care unless they show me with their actions. And that was a big action, I can never forget. I’ve talked to Trans Men who have told me to brace for impact because there will be friends who don’t accept it. But If right now, I keep the ones I’ve told, who have accepted it, I’ll be more than happy...because I don’t need quantity, I need quality, and I’ve got some serious dimes for friends and keep building that platform even higher. My heart is full, I’m taking steps to accepting myself, and I’ve never felt more happier and free.
Am I selfish for not wanting to become what you want me to be?
Cuối cùng em cũng hiểu được sự tồn tại của cô ấy trong lòng anh là không gì có thể thay thế được, sự tồn tại đó quan trọng và lớn lao hệt như vị trí của anh trong lòng em vậy, đáng tiếc là em trong lòng anh, lại mờ nhạt đến đau lòng. - Tử Đằng. (c) phusinhnhuocmong.tumblr #phusinhnhuocmong #tudang #tumblr #quotesbyme #aroundmylife #aboutme #mystories #myfeeling
The harsh reality,
It hits me endlessly,
The fear in me,
It makes me doubt,
Just like feeling,
I want to achieve it.