Baru saja aku menata rambutku yang berantakan, terdengar suara berisik dari dapur. Sekali lagi kutengok ranjangku yang masih berantakan dengan selimut menggantung di sisi ranjang. Barang kali merapikannya bisa menunggu. Aku lebih antusias ingin mengetahui siapa yang sedang sibuk menggali kulkas. Walaupun aku sendiri yakin siapa pelakunya.
Benar dugaanku. Tangannya sedang gatal sekali hingga semua makanan di dalam kulkas ia obrak-abrik sedemikian rupa.
Ben memutar kepalanya. Wajahnya terlihat kusam dan kasar. Rambutnya yang terakhir kali terlihat rapi, kini seperti sarang burung.
“Dari mana saja kau? Sudah dua minggu kau tidak kemari.” Aku mengulangi pertanyaanku yang sudah kutanyakan sebanyak...mungkin lebih dari seribu kali.
Ben melengos dan melanjutkan aktifitasnya. Menemukan satu sandwich beku dan satu kaleng minuman soda, ia berputar dan duduk di bangku. Mulutnya sibuk mengunyah beberapa saat kemudian.
“Menyeberangi lautan selama satu minggu,” ucap Ben disela-sela kunyahan. “Minggu berikutnya, aku menaklukkan singa di hutan belantara.”
Mendengarnya berbicara hal-hal besar seperti itu, aku sudah terbiasa. Ben tidak pernah mau menjelaskan kepadaku tentang bagaimana lautan-lautan yang telah ia seberangi atau ia selami, atau gunung yang telah ia daki, atau hutan mana yang telah ia jelajahi. Tidak mau pula sekedar mengambil barang satu saja gambar abadi agar aku bisa meyakini apa yang ia lakukan. Ben memang seperti itu. Mencoba semisterius mungkin agar menjadi seperti apa yang ia katakan: “I’m invisible. I’m everywhere.” Mungkin drama serial dan film bertema pengembara yang ia saksikan sebulan sekali secara berulang-ulang turut andil menyumbangkan ide-ide gila di otaknya.
Kadang kala, Ben bisa lebih buruk dari sekarang. Tiga bulan lalu pakaiannya compang-camping, seolah ia benar-benar menghadapi singa paling liar di dunia. Saat itu yang dapat ia katakan adalah: “Aku kembali.” Setelah itu, Ben tidur selama tiga hari berturut-turut, hanya bangun untuk berdoa, makan, dan mandi. Jika aku mencoba untuk mengambil waktu bangunnya untuk satu menit saja mengobrol, Ben akan tertidur dengan sendirinya. Payahnya, aku harus mengangkat tubuhnya ke kamar. Hari keempat ia di rumah, yang bisa ia janjikan kepadaku adalah kepulangannya seminggu berikutnya. Ia bergegas lagi, mengejar alam atau apalah.
Saat-saat terberat adalah saat melepasnya. Ben terlalu bersenang-senang dengan alam, berlaku juga sebaliknya, sehingga Ben dan alam menciptakan sebuah teori bahwa keduanya tak bisa dipisahkan. Rasanya alam tak ingin membiarkan Ben berlama-lama denganku. Aku tak suka, namun aneh jika aku cemburu pada alam. Alam.Gunung, hutan, laut, dan sebagainya. Aku? Aku hanya seorang wanita.
“Ben,” ucapku sembari mendekatinya. Ben terus mengunyah tanpa melihatku. “Mungkin sudah waktunya merombak taman bunga di halaman belakang. Bisa kita lakukan besok?”
“Hmm...aku rasa tidak,” jawabnya dengan santai. “Aku harus pergi malam ini.”
“Secepat itu?” Suaraku terdengar parau. Entah karena rasa tidak nyaman yang terjun bebas dari dadaku, atau karena tekanan tidak terlihat yang mencekat tenggorokanku. Keduanya, mungkin. Namun aku lebih suka menyalahkan suaraku yang begitu adanya setelah bangun tidur karena terlalu lelah dengan alasan yang sama beribu-ribu kali. “Kali ini apa lagi yang memanggilmu?”
Suara jam dinding menggantikan suara seruan yang tadinya ingin kulemparkan tepat di depan wajah Ben. Kita hening. Ben memutar-mutar kaleng sodanya, membaca tulisan-tulisan di permukaan secara acak. Seolah tak mengerti apa yang kupikirkan, ia menenggak minuman sodanya perlahan-lahan dan menikmatinya seakan itu adalah minuman terakhirnya.
“Bisakah aku ikut bersamamu?”
Ben mendongak, menatapku dengan matanya yang sayu dan lama-kelamaan menjadi tegas setelah menyadari dengan penuh permintaanku baru saja.
“Karena kau harus selalu berada di sini.”
“Aku tidak mengerti,” kataku, sudah terlanjur muak. Ben masih saja menatapku dengan tatapan tajamnya. Aku membalasnya dengan perlakuan yang sama. Percikan tegang yang terjadi di medan pandangan kami hampir dapat kulihat jika zat-zat aneh di udara tidak mengaburkannya. Sementara tak ada kata yang tertukar, waktu memperdengarkan kenyalangannya.
“Kau harus berada di sini, Mala.” Ben berdiri. Kini raut mukanya lebih jinak. “Sampai kapanpun, satu-satunya hal yang harus kau lakukan hanyalah tetap berada di tempatmu semula.”
“Kenapa aku harus tinggal dan kau harus pergi?”
Jujur, jika apa yang selama ini Ben katakan kepadaku setiap malam kami bersama memandang bintang tentang takdir kita yang saling memilin dan terikat adalah apa yang benar-benar ia katakan, maka logikanya tentang aku tinggal dan dia pergi adalah tidak masuk akal bagiku. Sama sekali tidak masuk akal.
Ben terlihat seperti ingin menguraikan jawabannya dari awal hingga akhir agar aku mengerti. Kedua alisnya bertautan dan kedua lengan ia angkat untuk diletakkan di kedua bahuku yang lebih rendah dari miliknya.
“Karena kau tidak akan pernah mengerti tentang konsep hidupku,” ucap Ben. “ Teorimu tentangku dan alam relatif benar. Tapi ada satu hal mutlak yang tak pernah bisa kuelakkan.”
Aku memperhatikan mulutnya yang bergerak mengucapkan setiap kata yang keluar.
“Kau adalah satu-satunya tempatku kembali.” Ben mengeratkan pegangannya pada kedua bahuku. “Oleh karena itu aku memintamu untuk tetap tinggal karena aku butuh satu tempat untuk kembali. Kau tidak bisa ikut denganku karena aku harus memastikan kau tidak pernah berpindah dan akan selalu menyambutku di sini, di tempat ini.”
Tiba-tiba saja dadaku menghangat.
“ Alam mungkin bisa menjeratku dan menenggelamkanku dalam pesonanya, tapi aku bertaruh, Mala, kau tidak pernah tahu rasanya melihat rumah setelah berminggu-minggu tersesat. Itu adalah hal yang paling membahagiakan dan paling melegakan dari semua perasaan yang bisa kurasakan. Dan rumah itu adalah kau, Mala.” Ben menjajarkan pandangannya denganku. “Kau mengerti?” tanyanya lembut. “Aku akan selalu pergi, tapi aku juga akan selalu kembali. Kepadamu. Ke rumahku. Kau harus berada di sini.”
Bukan salah harga diriku jika aku mengangguk membalasnya beberapa detik kemudian, karena... hati siapa yang tidak meleleh dengan kejujuran Ben?
Sebuah senyuman yang sudah lama tidak kulihat mengembang di wajahnya. Keinginan untuk memeluknya begitu besar sehingga satu-satunya hal yang kulakukan kemudian hanyalah memeluknya, begitu erat hingga Ben tertawa dan mendorongku menjauh untuk bernafas.
“Aku akan menambah koleksi bungamu di taman belakang.” Ben mengacak pelan rambutku. “Akan kubawakan Silene tomentosa dari Gibraltar.”
Aku terkekeh. “Aku ingin bertaruh satu juta dolar. Kau tidak akan berhasil membawanya pulang.”