Tak Bisa Memilih
Pada kanal-kanal yang airnya mengalir terus. Mengalir sampai ke lautan cinta. Yang dalam lagi menyesakkan. Dan diantara gulungan-gulungan masa lalu, serta diantara carikan-carikan hal yang akan datang, aku terpaku.
Bersitatap dengan guyuran air dan angin. Dibias cahaya mentari. Hidup laksana tak beratap. Demi merapikan gulungan masa lalu, rela berlelah mengatur dan menatanya sesuai alfabet-alfabet kenangan. Demi merangkai carikan hal yang akan datang, harus tekun menunggu tiap-tiap helaian turun dan menepi.
Lalu, jika aku diberi mesin waktu tuk merapikan gulungan dan carikan, mana yang kupilih lebih dulu? Dijawablah oleh kata yang akan datang ini, yang sebelumnya ada di dalam benak sebelah kanan. Kata yang datang adalah “Tidak keduanya,”.
Mengapa tak mau? Bukannya itu seperti tiket emas yang siapapun sulit miliki, lantas jika kau miliki kenapa tak kau gunakan? Sungguh itu adalah penyia-nyiaan.
Pasti ada di pikiran entah siapapun itu, yang melontarkan kata-kata tadi. Namun aku miliki jawaban sendiri, dan jawabanku adalah betul dariku; hati.
Aku ingin berlama-lama menunggu tiap-tiap carikan dari Penguasa Jagad Raya, sambil menunggu aku berbenah pada bilik-bilik kenangan yang kumiliki. Jadi, jika aku memakai mesin untuk salah satunya saja aku tak mau, karena keduanya penting. Jika aku terlalu cepat berbenah kenangan, aku pastinya menunggu lebih lama untuk sebuah carikan. Namun jika aku terlalu cepat mengumpulkan carikan, aku akan berlelah diri terhadap gulung-gulung kenang-mengenang.
Lalu, apa yang kau ingin? Aku hanya inginkan waktu yang semestinya. Tanpa ada bantuan apapun. Jika ada bantuan, aku yang menangis. Menangisi ketidakbisaanku mengatur waktu. Sampai-sampai bantuan datang dan menyapa. Ah, rasanya seperti diejek oleh waktu jika seperti itu.
photo by : tumblr
@i-amalia3













