Menjernihkan Kepala
Yap, aku kembali lagi menulis refleksi! Rasanya seperti hidup kembali. Meski ada beberapa part yang hilang, semoga masih ada part baru yang bisa dimulai.
I'm comeback stronger.
T,K

No title available

JVL
Jules of Nature
Monterey Bay Aquarium
KIROKAZE

if i look back, i am lost
Keni

tannertan36
we're not kids anymore.
Sade Olutola
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
d e v o n
sheepfilms

oozey mess

Janaina Medeiros

⁂
Cosimo Galluzzi
Show & Tell
Game of Thrones Daily

Discoholic 🪩
seen from France

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia
seen from Chile

seen from Australia
seen from United Kingdom

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Germany
seen from Spain
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Saudi Arabia
seen from United States
seen from United States
@kiyaziza
Menjernihkan Kepala
Yap, aku kembali lagi menulis refleksi! Rasanya seperti hidup kembali. Meski ada beberapa part yang hilang, semoga masih ada part baru yang bisa dimulai.
I'm comeback stronger.
T,K
Lifestyle Gadget yang Terpenuhi Karena Kemudahan Impor
Sejak 73 tahun lalu hingga kini, rupiah ialah alat tukar yang sah di Indonesia. Adanya kegiatan ekonomi mengharuskan tiap negara memiliki mata uangnya sendiri-sendiri. Namun rupiah tidak semata-mata langsung hadir di Indonesia, butuh waktu untuk mewujudkannya. Berawal dari ORI atau kepanjangannya ialah Oeang Republik Indonesia yang berhasil dicetak pada 30 Oktober 1946, yang kita kenal sekarang dengan peringatan Hari Uang Nasional. Meski demikian, mata uang di Indonesia pada waktu itu memiliki kendala, dimulai dari peredaran uang yang tidak kondusif hingga mata uang negara lain yang masih beredar dan menimbulkan ketidak imbangan. Lalu ditetapkanlah Rupiah sebagai mata uang yang berlaku di Indonesia pada tahun 1949 tepatnya 2 November.
Perwujudan uang adalah inisiasi dari adanya kegiatan yang di dalamnya terdapat ekonomi produksi, distribusi, dan konsumsi. Masing-masing kegiatan ekonomi bertujuan untuk mendapatkan pendapatan yang bernilai dan memenuhi kebutuhan hidup. Bisnis yang meliputi perdagangan, investasi, produksi, pemasaran dan lainnya adalah bagian dari ekonomi.
Perdagangan itu sendiri kegiatan yang paling menonjol dari bisnis karena mengacu pada transaksi barang dan jasa—yang identic dengan uang. Di Indonesia perdagangan melalui daring atau online semakin pesat perkembangannya.
Dilansir dari laman Katadata.co.id pertumbuhan situs jual beli online atau e-commerce terhitung hingga tahun 2018, Indonesia adalah negara dengan pertumbuhan yang tercepat. Di dalam situs jual beli online terdapat beberapa kategori yaitu;
1. Gadget & Accessories 2. Fashion 3. Computer & Accessories 4. Personal care & cosmetic 5. Electronic 6. Office supplies 7. Automotive Accessories 8. Food and Beverages 9. Photography 10. Sport Appare 11. Book & Stationary 12. Music and film nilainya
Dan lainya
Dari kategori di atas, Gadget dan Fashion banyak diminati dan sering terjadi transaksi. Bahkan gadget sendirii nilai angka transaksinya naik dua kali lipat, yaitu dari Rp. 8,018 triliun pada tahun 2017 menjadi Rp. 16,823 triliun pada tahun 2018.
Perlu diketahui bahwa pasar gadget (khususnya telepon genggam) di Indonesia hampir seluruhnya adalah merek dari luar negeri seperti; Apple, Samsung, Xiaomi, Sony, Huawei, dan lain sebagainya. Karena permintaan pasar itulah yang membuat impor gadget mendapat perhatian lebih. Melihat permintaan atas merek tersebut membuat kegiatan impor pun semakin meningkat. Peranan Kementerian perdagangan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan sangat berperan aktif di ranah ini.
Indonesia sebelum tahun 2012 masih menggunakan metode manual terkait pencatatan data barang ekspor dan impor, yang mengharuskan pelaku usaha memberikan data tidak hanya pada satu tempat saja. Selain birokrasi yang panjang regulasi pun menjadikan kurang efektifnya kegiatan impor, sehingga memakan waktu dan biaya.
Untuk impor, sekitar 18 (delapan belas) kementerian atau lembaga sebagian besar mengeluarkan perizinan sesuai keewenangannya. Hal ini menunjukkan bahwa banyaknya perijinan yang harus dipenuhi guna melakukan impor barang.
Dengan adanya amanat dari Bapak Presiden terkait dengan reformasi birokrasi, percepatan administrasi menjadi konsen yang sangat ditunggu oleh pelaku usaha, baik perorangan mau pun badan usaha. Sehubungan dengan hal tersebut, guna mensimplifikasi birokrasi yang ada Kementerian Perdagangan dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan membangun sistem sistem elektronik tentang penggunaan sistem elektronik dalam kerangka Indonesia National Single Window, yang selanjutnya disebut INSW. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden No. 10 Tahun 2008 Pasal 1 ayat (1) dan (2) yang memuat isi:
Dalam Peraturan Presiden ini yang dimaksud dengan:
1. Sistem elektronik adalah sistem untuk mengumpulkan, mempersiapkan, menyimpan, memproses, menganalisis, dan menyebarkan informasi elektronik;
2. Indonesia National Single Window yang selanjutnya disebut dengan INSW adalah sistem nasional Indonesia yang memungkinkan dilakukannya suatu penyampaian data dan informasi secara tunggal (single submission of data and information), pemrosesan data dan informasi secara tunggal dan sinkron (single and synchronous processing of data and information), dan pembuatan keputusan secara tunggal untuk pemberian izin kepabeanan dan pengeluaran barang (single decision-making for custom release and clearance of cargoes);
Single window sendiri secara singkatnya ialah segala sesuatu yang berhubungan dengan sistem kepabeanan, perdagangan, pelabuhan dan perijinan, yang fungsinya untuk menjadika transaksi dan pengolahan data menjadi satu pintu masuk dan pintu keluar. Sistem Single Window juga menghubungkan banyak sistem sehingga menjadi baik dan terintegrasi, seperti penyatuan sub sistem contohnya yaitu; (PEB & PIB) sistm Bea dan Cukai, Karantina, POM, Pelabuhan, Perdagangan dan Perindustrian.
Dengan diterapkannya sistem INSW ini diharapkan;
1. Pengumpulan dokumen-dokumen perijinan pada satu tempat dan satu entitas. Dokumen yang berupa deklarasi, aplikasi perijinan ekspor dan impor, dan dokumen-dokumen pendukung lainnya. Diharapkan meningkatkan efisiensi waktu dan penghematan biaya untuk pelaku usaha. 2. Memperlancar dan menyederhanakan aliran informasi antara pedagang dan pemerintah. 3. Memberikan pendapatan yang berarti bagi semua pihak yang terlibat. 4. Mengatasi sistem yang komplek dari pengumpulan data dan pengendalian peraturan.
Adapun pada praktek di lapangan cara kerja sistem INSW atas impor adalah sebagai berikut;
Sistem INSW menampung semua database perijinan berdasarkan peraturan dari Instansi Teknis (GA-Government Agency) meliputi larangan dan pembatasan di bidang impor
Instansi Teknis Terkait meng-upload perijinan yang diterbitkannya ke Portal INSW
Portal INSW akan melakukan pengecekan kesesuaian data PIB (Pemberitahuan Impor Barang) yang dikirim oleh Importir/PPJK secara elektronik dengan DATABASE LARTAS IMPOR berdasarkan parameter Nomor HS
Dalam hal Nomor HS membutuhkan perijinan, maka Sistem INSW akan mengecek kesesuaian data PIB dengan Perijinan Terkait berdasarkan parameter Nomor Aju PIB, NPWP, nomor dan tanggal perijinan, kode ijin dan masa berlaku
Dalam hal pengecekan kesesuaian data PIB dengan Perijinan Terkait memerlukan penelitian lebih lanjut karena Nomor HS pada PIB tidak mutlak wajib ijin, maka Portal INSW akan memberikan respon Analysing Point, selanjutnya Petugas Analysing Point pada Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai akan melakukan pengecekan kesesuaian data PIB dengan Perijinan Terkait
Dalam hal pengecekan kesesuaian data PIB dengan Perijinan Terkait tidak memerlukan penelitian lebih lanjut karena Nomor HS pada PIB mutlak wajib ijin, maka Portal INSW akan langsung melakukan pengecekan by sistem
Jika proses pengecekan data PIB dengan Perijinan Terkait sesuai, maka Portal INSW akan meneruskan data PIB ke SIstem Komputer Kantor Bea dan Cukai terkait untuk diproses lebih lanjut (proses penjaluran)
Jika tidak sesuai, maka Portal INSW akan memberikan respon penolakan secara elektronik melalui Modul EDI ImportirPPJK .
Ditambah dengan diterapkannya sistem Delivery Order (DO) menjadi sebuah langkah pengoptimalisaian dari percepatan arus dokumen dan barang. Dengan begitu pelayanan tidak terputus oleh waktu. Pengurusan dokumen yang cepat sejalan dengan menurunnya dwelling time membuat impot dirasakan semakin mudah. Selain waktu dan biaya, keakurasian data ekspor-impor menjadi lebih baik dengan sistem INSW.
Kemudahan ekspor-impor semakin terasa karena sistem INSW yang menyerderhanakan perizinan. INSW hadir dan berjalan sejajar dengan era digitalisasi—di mana segala hal manual dapat disederhanakan tanpa mengurangi poin-poin yang ada sebelumnya.
Kepada ilalang yang masih bersedia tegak. Kepada awan yang sentiasa bergerak. Kepada riak air yang menuntun pulang. Mungkin matahari belum menyapa pagi ini, namun izinkan aku yang menyapa kalian pagi ini. Tak apa bukan?
Salam tak hangat dari,
Kiya
“To want something and to be ready for something are two different things.”
— Malanda Jean-Claude
Hai, Tumblr.
Katanya
Perutku hanya terisi nasi Tak bergizi, Katanya.
Otakku penuh caci Tak berinti, Katanya.
Badanku banyak daki Tak pantas dibaui, Katannya.
Hatiku tak berisi Tak ada perasaan sama sekali, Katanya.
Dan, Diriku penuh dosa dengki Tak ada yang bisa diampuni, Katanya.
Persetan! Kataku
Dialog Mata
Pada manik mata abu aku bertanya, mengapa kau sendu? Tak ada jawaban. Ah iya, ternyata aku salah. Mengapa aku bertanya pada sorot mata. Pada seseorang di sana, mengapa kau sendu? Tak ada jawaban.
Baik. Sekarang aku yang sendu. Aku pergi. Bukan hanya meninggalkan sorot itu, namun aku juga pergi dari pertanyaanku. Mengapa kutanyakan sendu pada sorot mata yang tak bisa bicara. Mengapa juga aku harus bertanya pada diri yang membuat dirinya, dirinya, dan dirinya runyam. Memang karena tak akan pernah ada jawaban dari sana; sorot yang tak menyertai diri.
Aku tak kuasa, bolehkah aku bercerita? Langit menutup tirai. Hujan turun. Membiarkkan aku mengadu sampai tersedu, atas segala yang kurasa itu. Langit, terimakasih. Kataku.
Sebuah Perbincangan Dunia
Apa yang ada di kepala tentang toleranasi? Menurut saya toleransi adalah wujud rasa menghargai. Awalnya yang saya kenal dari kata toleransi adalah saling menghargai terhadap agama lain. Namun ternyata toleransi itu sebuah wujud menghargai yang sangat luas maknanya. Pada umur yang sudah menginjak dewasa saya mulai mengerti sedikit demi sedikit apa itu toleransi. Namun ada yang membuat saya menyadari keberagaman toleransi.
Saya menyadari makna toleransi yang luas dari supir angkot yang saya naiki kala itu. Perbincangan supir angkot dengan penumpang yang duduk di depan menyadarkan saya betapa toleransi itu harusnya ada pada setiap hal. Di dunia pendidikan supir itu membahas topik toleransinya.
Di belakang saya sebagai penumpang, juga saya sebagai pendengar. Sampai habis perbincangan tersebut saya mencerna obrolan supir dan lawan bicaranya. Keduanya sangat bersemangat membicarakan pendidikan di Indonesia. Perbincangan yang cukup sederhana, namun padat makna yang saya ambil.
Keduanya memiliki anak yang masih sekolah, karena yang diperbincangkan adalah kehidupan sekolah anak-anaknya. Namun, ada yang membuat saya berpikir kembali tentang toleransi. Ketika Pak supir mengatakan dengan datarnya bahwa pendidikan hanyalah bagi mereka yang memiliki dana dan bertaraf hidup ke atas, namun kita yang taraf ke bawah? hanya mengejar selembar kertas yang disebut Ijazah. Miris. Saya berpikir kemana arahnya toleransi di Indonesia? Ke atas atau ke bawah?
Sekolah dengan dana yang minim, maka fasilitas tak seperti mereka yang membayar lebih. Kebanyakan pada prakteknya seperti itu. Sudah menjadi hal yang lazim di dengar, ketika pulang pergi sekolah hanya mengarap Ijazah, bukan pendidikan yang layak. Sekolah hanya ajang tuk menunggu Ijazah. Jika sudah dapati Ijazah, tujuan akhir adalah bekerja, mendapat uang, baru senang.
Beginikah pendidikan mengajarkan kaum menengah ke bawah? beginikah toleransi di dalam pendidikan? Menjulanglah engkau tinggi bagi yang berdana, menukiklah engkau yang tak miliki dana, apalagi kemampuan.
Jadi, di mana dunia pendidikan mengambil posisi pada kata toleransi?
(my first free writing. karena ini free writing jadi gak lolos seleksi. nah, dari pada mendem di laptop, aku share aja di sini)
Apa yang membuat saya begitu berharap akan tumbuhnya kesadaran diri? Biar saya ceritakan sedikit tentang kejadian dalam perjalanan menuju rumah teman. Hari itu, saya berniat mengembalikan buku kepada teman, karena rumahnya jauh maka saya harus menaiki angkutan umum. Saya menggunakan jasa angkutan umum angkot. Ketika itu keadaan angkot masih kosong, hanya ada saya dan Pak supir. Beberapa menit kemudian ada seorang ibu-ibu yang menghentikan angkot yang saya naiki. Ibu itu duduk di belakang Pak supir, saya di dekat pintu. Saya hanya melihat dan mengamati jalanan. Jalanan sore itu cukup lengang, tak terasa sudah sampai di pasar Citereup. Ibu itu turun di pasar, dan memberikan uang ongkos di dashboard dekat jendela pintu depan angkot. Hanya ada tumpukan uang receh lima ratusan yang tak begitu tinggi. Setelah memberikan uang tersebut ia langsung melenggang pergi. Dilihatlah ongkos itu oleh Pak Supir, ia hanya bisa mendengus melihat tumpukan uang receh itu. Tumpukan yang tak begitu tinggi menandakan tak banyak jumlah uang tersebut. Walau begitu, ia tetap mencari penumpang lagi dengan membesarkan suaranya seperti supir angkot kebanyakan. “Cileungsi Cileungsi Cileungsi,” Ya, hanya itu suara yang keluar. Tapi, bukan suara lantang seperti Supir mencari penumpang. Suara Pak Supir nyaris tak terdengar dari luar. Karena posisi saya di dalam angkot maka saya mendengarnya. Suaranya serak sekali, dan hanya satu kali ia memanggil penumpang. Setelah itu, ia hanya diam dan menunggu penumpang datang. Namun tak ada penumpang yang naik. Ia terlihat sangat lesu, dan langsung menjalankan mobil angkot tanpa bertambahnya penumpang. Melihat Pak supir seperti itu saya sangatlah iba, namun saya pun belum bisa membantu apa-apa. Saya hanya bisa membayar ongkos ‘sesuai tarif’. Maka, kesadaran untuk membayar sesuai tarif itu harusnya dimulai dari siapa? Dari kita. Baik muda ataupun tua, kita harus bisa memulainya. Mari sadarkan diri (terkhusus untuk saya), untuk harapan besar kita kepada Tanah Air tercinta, Indonesia. #millennialsberkarya #mimpimillennialsuntukindonesia #pemudaindonesia @millennialsberkarya @semenindonesia @likaahanif_ @anislstri @pitashaumy
Siapa?
Aku mencintai tiap-tiap rasa Karena mereka tak pernah berbohong Namun, siapa yang meletakkan getir Di sebalik kelopak matamu?
Tak Bisa Memilih
Pada kanal-kanal yang airnya mengalir terus. Mengalir sampai ke lautan cinta. Yang dalam lagi menyesakkan. Dan diantara gulungan-gulungan masa lalu, serta diantara carikan-carikan hal yang akan datang, aku terpaku.
Bersitatap dengan guyuran air dan angin. Dibias cahaya mentari. Hidup laksana tak beratap. Demi merapikan gulungan masa lalu, rela berlelah mengatur dan menatanya sesuai alfabet-alfabet kenangan. Demi merangkai carikan hal yang akan datang, harus tekun menunggu tiap-tiap helaian turun dan menepi.
Lalu, jika aku diberi mesin waktu tuk merapikan gulungan dan carikan, mana yang kupilih lebih dulu? Dijawablah oleh kata yang akan datang ini, yang sebelumnya ada di dalam benak sebelah kanan. Kata yang datang adalah “Tidak keduanya,”.
Mengapa tak mau? Bukannya itu seperti tiket emas yang siapapun sulit miliki, lantas jika kau miliki kenapa tak kau gunakan? Sungguh itu adalah penyia-nyiaan.
Pasti ada di pikiran entah siapapun itu, yang melontarkan kata-kata tadi. Namun aku miliki jawaban sendiri, dan jawabanku adalah betul dariku; hati.
Aku ingin berlama-lama menunggu tiap-tiap carikan dari Penguasa Jagad Raya, sambil menunggu aku berbenah pada bilik-bilik kenangan yang kumiliki. Jadi, jika aku memakai mesin untuk salah satunya saja aku tak mau, karena keduanya penting. Jika aku terlalu cepat berbenah kenangan, aku pastinya menunggu lebih lama untuk sebuah carikan. Namun jika aku terlalu cepat mengumpulkan carikan, aku akan berlelah diri terhadap gulung-gulung kenang-mengenang.
Lalu, apa yang kau ingin? Aku hanya inginkan waktu yang semestinya. Tanpa ada bantuan apapun. Jika ada bantuan, aku yang menangis. Menangisi ketidakbisaanku mengatur waktu. Sampai-sampai bantuan datang dan menyapa. Ah, rasanya seperti diejek oleh waktu jika seperti itu.
photo by : tumblr
@i-amalia3
Halo Kak, kita memang belum pernah bersitatap dalam daring maupun nyata. Rasanya Bogor – Jakarta jauh sekali ketika kita belum saling mengenal. Ah iya, izinkan aku mengirim surat ini kepada Kak Deviana. Karena kemarin sore aku membaca surat Kakak di Perpustakaan @samsarakata dan aku jadi tertarik mengulik apa itu “Katarsis”. Ilmuku belum mumpuni, maka hanya sekedar Katasris saja aku tak tahu. Maka malamnya aku bermain ke dunia daring, di rumah si Mbah tepatnya. Disana aku bertanya, apa yang dimaksud “Katarsis” sih Mbah? Mbah menjawab dengan penjelasan yang agak rumit menurutku, namun ketika aku baca lagi surat Kakak aku mengerti. Katarsis itu semacam metode pelepasan rasa yang terpendam, bukan begitu Kak? Jika kita miliki rasa yang terpendam (rasa apapun itu) lalu menyalurkannya, maka penyalurannya itu disebut Katarsis. Entahlah benar atau tidaknya, karena yang baru aku takngkap seperti itu gamblangnya. Sampai di situ, Katarsis yang kumaksud betul atau tidak Kak? Ah, iya. Sebelumnya, bolehkah aku berkenalan dengan Kakak? agar jarak Bogor – Jakarta tak lagi terasa jauhnya kala belum berkenalan. Dari Zakiyya yang belum mengerti Katarsis #epistolary #epistolarysamsarakata 📷 by : @weheartit (at Bogor, Indonesia)
Bully Dari Orang Tua dan Bully yang Menjadi Lumrah. Bagaimana Ya?
Bully, apasih yang kalian ketahui tentang kata tersebut? Ya, kata ‘bully’ itu sendiri adalah kata dari bahasa Inggris yang jika diartikan ke dalam bahasa Indonesia adalah menggertak atau mengganggu. Istilah yang sangat dekat dengan bully adalah penindasan, pengucilan, atau bisa juga intimidasi.
Tak perlu jauh melihat dunia luar, saya sendiripun mengalaminya. Saya berada dalam lingkungan bully itu sendiri. Bukan, saya bukan yang terbully namun saya memiliki teman yang menjadi korban bully itu sendiri. Cukup sulit untuk meminta mereka angkat bicara, saya baru mengetahui betul bagaimana perasaan mereka setelah saya bertanya tentang apa itu ‘bully’.
Bully, apasih itu?
Menurut narasumber pertama, bully yang ia ketahui adalah bully yang bukan hanya kekerasan fisik, tetapi bully yang menganggu psikologis kita, sehingga kita sendiri menjadi semakin penakut, bisa jadi sampai mencapai tingkatan depresi.
Berbeda dengan narasumber pertama, narasumber kedua beropini bully adalah suatu kejadian dimana diri kita merasa telah direndahkan oleh seseorang atau pihak tertentu yang membuat korban bully merasa tidak nyaman. Dari pemaparan mereka tersebut, sangat jelas terlihat bagaimana korban dari bully. Mereka sangat tertekan pastinya.
Lalu siapakah mereka yang membully?
Menurut mereka, mereka dibully oleh banyak pihak namun yang paling sering adalah
1. Dari pihak orang tua. Terkadang anak merasa sangat terintimidasi oleh orang tuanya sendiri, karena gaya pola asuh dari setiap orang tua berbeda, maka ada saja yang mengeluhkan mereka dibully oleh orang tua mereka sendiri. Sebagai contoh, terkadang orang tua suka membandingkan terhadap anak A dengan anak mereka sendiri.
2. Dari pihak senior kelas/kampus atau juga teman. Dalam lingkup inilah yang marak terjadi, bisa dikatakan jika pembullyan memanglah banyak yang berasal dari sini. Karena ada saja yang membuat sang pembully membully korbannya.
Kenapa bisa terjadi?
Pernahkah dipikiran kalian terlintas “kok bisa ya mereka dibully?”
Maka inilah jawaban yang membuat saya sendiri menjadi berpikir, sepertinya saya jugalah yang membully mereka. Dan dikalangan teman, juga sangat banyak terjadi pembullyan. Alih – alih bercanda, namum diri yang dalam topik bercanda ini tak menyukai apa yang ditertawakan. Konteks yang dijadikan bahan bercanda pun terlampau jauh, misalkan yang ditertawakan adalah karena ia tidak bisa melakukan sesuatu. Dan itu terus diperbincangkan, ditertawakan, dibuat bahan olok – olok. Dan yang menjadi bahan tertawaan itu tak berani mengungkapkan rasa tidak nyaman yang ada di hatinya. Teman yang membuat bahan candaan itu banyak, namun yang ditertawakan satu. Apalagi dia orang yang pemalu, habis sudah dia. “iya, mereka seperti itu adalah karena aku yang diam saja jika dibully, dan lama kelamaan mereka jadi terus menerus membuat bahan candaan dari apa yang aku lakukan. Mereka makin berani karena aku yang penakut”. Papar salah satu nara sumber.
Jelas sekali disini penindasannya, dan saya berpikir disini saya juga ikut andil. Saya pun sering ikut serta bercanda dengan teman – teman sekelas, termasuk bercanda dalam konteks – konteks yang konyol. Saya juga pernah menertawakan teman, saya tidak merasa bahwa itu bisa saja termasuk kedalam pembullyan. Karena saya tidak tahu isi hati teman yang saya tertawakan. Ini juga yang terjadi pada oknum – oknum pembully. Kita tidak mengetahui apakah teman yang kita tertawakan itu sakit hati atau tidak, kita berpikir bahwa itu bercanda walau tanpa tahu teman yang terbully tersebut merasa direndahkan.
Inilah yang tak akan terlupa oleh mereka yang terbully.
Jika kita tilik kembali, pembullyan berasal dari orang tua itu memanglah ada, dan ini marak ketika pembagian rapot berlangsung di sekolah – sekolah. Menurut narasumber kedua, ia dibully oleh orang tuanya sendiri ketika pembagian rapot usai. Dimana sang orang tua membandingkan dirinya dengan anak yang mendapat peringkat lebih darinya.
Berbeda hal dengan narasumber pertama, ia secara rinci menceritakan apa yang membekas di dalam hatinya tentang bully. “Ada satu kejadian dimana aku meminjam buku catatan temanku, lalu pada saat waktunya mengumpul buku tersebut aku lupa membawa bukunya. Bukunya tertinggal dirumahku. Dia yang kupinjam bukunya marah tak terkira, karena memang guru pelajaran waktu itu sangat terkenal tegasnya. Dan aku berakhir di luar kelas karena di hukum oleh guru itu, tetapi dia tidak. Kuanggap itu angin lalu, namun kejadian ini terus berlanjut hingga di grup kelas kami. Dia terus menerus meminta mengembalikan bukunya lewat pesan di grup, alhasil teman – teman sekelasku juga berkomentar pedas. Dari sanalah mulai banyak bermunculan cacian - caian untuk diriku. Aku kelu, dan tak terasa bulir – bulir air mata merambah turun, aku menangisi cacian mereka terhadapku. Itu yang membekas dalam dihatiku”
Jika bully sudah menjadi bahan bercanda, maka tidak ada lagi tawa sehat yang tercipta.
�X4�=
Hae.
Bagi yang seneng nulis, atau baca puisi, ada lomba nih ~ Lumayan hadiahnya, bisa buat makan ceker kecap di angkringan sampe munclak, atau buat isi bensin motor satu semester ke depan.
Yuk, ajak temen, keluarga, atau lainnya buat ikutan.
Tiada kesan tanpa keikut-sertaanmu, mylof.
@mbeeer @lookitasari @aksarannyta @biashujan @gincumerah @dwsrkhns @hujanmimpi @rubahlicik @miftahulfikri @duatigadesember @karenapuisiituindah @jagungrebus @jalansaja
Lomba nih. Sebarkan, @mediaberkarya ! 😂😂😂
MENITI
Teruntuk ayah
Tiang bagi keluarga
Yang selalu beri tahu arti dunia
Yang mengenali aku siang dan malam
Walau kau tak kenali itu saat bekerja
.
Teruntuk ibu
Pelerai gundah keluarga
Yang selallu mendengar cerita senang juga sedih
Walau tak pernah kudengar cerita
Kala kau senang ataupun sedih
.
Amat banyak pelajaran yang kuambil dari orangtua
Tapi, entah kapan aku bisa seperti mereka
Nanti, jika esok aku sudah dewasa
.
Maka tuk dewasa, kini kumulai langkahku
Mulai dari awal,
Menapaki jalan di bumi
Menuju langit tertinggi
.
Dengan begitu kucoba hidup mandiri
Walau anak ayah ini belum seutuhnya ‘dewasa’
Izinkanlah aku melangkah,
Melangkah pasti menuju pintu kesuksesan
.
Ridhoi aku tuk gapai mimpi
Lalu merajut kehidupan yang mumpuni
Karena ridhomu adalah ridho illahi
Yang tak bisa dibeli
pict source : @hujanmimpi
#MonochoromeTale2
Hallo teman-teman, selamat pagi! Sudah hari Rabu nih, jarak menuju weekend tidak–sejauh jarak antara kamu dan dia lagi loh, ehgmn–lama lagi yey! Jadi semangat harus tetap terjaga yaa! Semangat mengikuti Writing Project Monochrome-tale nya juga harus tetap on fire dong!
Well, gimana #MonochromeTale1 kemarin? Menyenangkan? Foto yang dilemparkan sepertinya membuat tulisan teman-teman mendayu-dayu dan lekat dengan percintaan nih! Gimana kalau kali ini diubah jadi…seperti foto di atas?
Ya, itu dia gambar untuk #MonochromeTale2!
Tulisannya boleh berupa prosa, puisi, cerpen, fiksi, nonfiksi atau apa saja yang teman-teman ingingkan. Foto tersebut bisa dijadikan tema, ilustrasi pelengkap atau pemantik ide teman-teman. Tapi tetap ya, teman-teman wajib menyertakan foto tersebut serta sumber foto (walau di foto sudah ada watermark-nya) pada tulisan teman-teman, nantinya!
pict source: hujanmimpi
Batas waktu #MonochromeTale2 ini sampai dengan pelemparan gambar #MonochromeTale3 lusa :) Maka, selamat berimajinasi! Semangat menulis dan berkarya selalu!
cc: @karenapuisiituindah @aksarannyta
Itu Dia, Hujan
Untaian kekata bebas mengangkasa Tebarkan butir - butir asa manusia Yang dilantunkan dari dasar bumi Hingga ke langit tertinggi, Dan ketika langit enggan mengatakannya Maka inilah yang datang, Hujan.
sumber foto : @aksarannyta