Dari tulisan, seseorang bisa melahirkan beberapa orang, bahkan bisa menciptakan orang lain atau mungkin mematikan orang itu sendiri.

#dc comics#batman#dc#dick grayson#dc universe#bruce wayne#tim drake#batfamily#batfam#dc fanart




seen from Colombia

seen from United States
seen from Croatia
seen from Italy

seen from United States
seen from United States

seen from Japan
seen from United Kingdom

seen from Belarus
seen from United States
seen from Indonesia
seen from China
seen from United States
seen from Italy

seen from United States
seen from Switzerland

seen from United States

seen from Switzerland
seen from Switzerland
seen from Switzerland
Dari tulisan, seseorang bisa melahirkan beberapa orang, bahkan bisa menciptakan orang lain atau mungkin mematikan orang itu sendiri.
Attitude pembaca terhadap penulis
Hai, gue Wulandari Putri, biar enak dan gampang, panggil Wepe aja. Panggil sayang juga boleh. Gue nulis ini bukan mewakili READERS HANGOUT, tapi murni dari kepala gue sendiri. Kenapa nulis di sini? Soalnya blog gue udah penuh sama alien. Serius. Ah sudahlah, gue mulai aja yah.
Ini sebenarnya udah pernah dibahas di grup RH, tentang attitude kita sebagai pembaca. Kalau menurut logika gue, ketika kita nggak suka sama orang, yang kita komentari itu orangnya kan? Bukan Tuhan yang menciptakannya? Artinya, ketika kita nggak suka sama buku, yang dikritisi seharusnya bukunya, bukan penulisnya, kan? Oh bukan, gue nggak bilang penulis itu Tuhan. Tapi konsepnya sama, tentang pencipta dan yang diciptakan. Jangan cupat gitu ah. Kalem.
Menurut nalar gue lagi nih, nggak ada tuh buku yang jelek. Masalahnya hanya ada pada diri kita masing-masing, yaitu selera. Waktu gue nggak suka sama buku, bukan karena buku itu jelek, tapi ternyata karena buku itu bukan selera gue. Terus gue harus maksa penulis buat nulis sesuai sama selera yang gue suka? Analoginya gini: gue nggak mungkin bisa maksa Hanamasa buat menyajikan bala-bala. Buat nyari bala-bala, gue harus pergi ke warteg, warkop, atau ke rumah Mams Setia Estuningdyah. Bala-bala bikinan Mams enak loh, gratis lagi.
Attitude yang baik sebagai pembaca itu penting. Jangan punya pikiran “ah, gue udah beli buku ini, jadi gue bebas komentar apa aja tentang buku ini bahkan tentang penulisnya.”, etikanya nggak gitu. Tapi… ketika ada buku yang selera kita, namun tidak memuaskan hasrat baca, mungkin bisa disampaikan dengan bahasa yang enak kepada penulis tersebut. Gue yakin, penulis juga butuh kritikan dari pembacanya. Penulis yang baik akan welcome aja kok terhadap kritik. Terus kalau penulisnya yang senga’ dan sombong gimana? Lu keganggu sama kesenga’an atau kesombongan dia? Kalau iya, nggak usah baca bukunya. Kalau nggak, baca aja bukunya tanpa peduli penulisnya. Toh yang dibaca bukunya kan, bukan penulisnya? Gitu aja kok repot.
Jadi gitu… Hobi membaca buku-buku itu seharusnya bikin senang. Bukan repot memikirkan kritik yang menyerang. Kalau emang ada buku yang bukan masuk selera, cari lah buku lain yang bisa memuaskan hasrat baca. Gue sering kok baca buku yang bikin misuh-misuh, “ah, apaan sih? Gaya bahasanya nggak asik banget. Ceritanya ngalor-ngidul. Karakternya nggak kuat.”, udah selesai. Sekedar ngedumel kaya gitu aja tanpa “nyolek-nyolek” penulisnya. (Emang penulis itu sabun cuci dicolek-colek?). Sekian.