Suatu waktu angin berjalan menyapa langit yg adalah semestanya. Awan berpapasan dengan angin lalu kalah terbawa geraknya. Langit hanya bisa melihat, dia diam. Awan tak bisa berbuat apapun karena angin begitu kuat mendorongnya.
Semakin tinggi awan terbawa mengangkasa hingga tiba-tiba angin berhenti bergerak. Awan patah arang. Dia tidak tahu lagi ada di mana sekarang. Langit tetap diam, mengamati di tiap gelap dan terang. Sampai kemudian awan itu gugur menjadi bulir-bulir air hujan. Dia menangisi dirinya sendiri.
Aku ini langit mengais waktu hanya bisa menatap dirimu. Dia itu angin yang membawamu lalu meninggalkanmu. Dan dirimulah awan. Menjatuhkan kenangan. Menangisi keadaan.
Realita adalah ilusi yang terjadi secara terus menerus. Bayangkan diri kita pernah berasal dari abu lalu menjadi sebuah benda rumit berotak seperti hari ini. Hal yang sulit dipahami.
Independensi merupakan cagak yang menjadikanku berdiri. Kamu adalah ilusi yang lalu menjadi realita. Tepat di saat aku hampir jatuh binasa pada lubang dosa. Kehadiranmu merupakan ilusi berulang yang lalu menghabiskan sisa kepercayaanku.
Ketika independensiku hilang, aku mempertanyakan pengaruhmu. Bisakah kamu menjadi ilusi saja sekali berhenti? Karena nampaknya realita terlalu mengada-ada.
Kamu jadi meninggalkan hatiku? Tolong lakukanlah segera tanpa suara apalagi aba-aba. Jangan lupa untuk tidak membawa separuh diriku yang tersisa.
Walau sekejap lalu aku minta kamu pergi padahal sudah susah payah didatangkan yang punya kuasa, tetap saja aku tak berdaya. Aku mau kamu sementara hidupku tidak. Hatik meradang merindu meski otak tetap bersikeras menolak.
Kalau memang akan pergi, segeralah dan tak bersuara apalagi memberi aba-aba. Nanti juga kalau aku berteriak memanggil - hiraukanlah.
- aku mau jadi X untuk kamu X