Tak Ada Yang Suka Dibanding-bandingkan
Menjelang malam, ada yang mengirim pesan whatsapp ke gawai saya. Awalnya ia bertanya tentang apakah saya memiliki buku referensi mata kuliah tertentu. Kujawab bahwa aku tak memiliki banyak buku untuk mata kuliah yang ditanyakan. Akhirnya ia meminta nomor gawai beberapa orang yang saya kenal. Saya pun memberikannya.
Kemudian, ia kaget ketika mengetahui bahwa salah satu nomor gawai, saya simpan dengan nama musyrifah salah satu mabna. Saya pun menjelaskan bahwa memang saya mengenalnya ketika berada dalam satu bagian, yaitu bagian bahasa. Saya katakan bahwa musyrifah, murobbiah dan mahasantri dari mabna tersebur terkenal cantik-cantik. Ia pun berterima kasih mendapat tanggapan yang sepertinya sesuai dengan mabnanya.
Namun, yang akan saya bahas adalah yang ia tuliskan sesudahnya. Ia menganggap bahwa murobbiah mabna tersebut tidak seperti murobbiyah mabna lain. Saya awalnya memahami apa yang ia tuliskan sebagai suatu kegelisahan. Namun, saya tak ingin terbawa arus pembicaraan tanpa bersikap obyektif terhadap segala hal yang saya temui. Saya katakan bahwa setiap orang istimewa dengan kelebihan dan kekurangannya. Berhentilah untuk membanding-bandingkan setiap orang yang kau temui.
Begini saja, bagaimana rasanya bila orang lain mencoba membandingkanmu dengan orang lain yang bisa jadi menyinggung perasaanmu? Apa responmu? Marah, biasa saja, tergerak untuk berubah atau yang lain? Mayoritas akan menjawab marah. Sudahlah, tak perlu melihat rumput tetangga. Pelihara dan pupuk saja yang dimiliki. Ambil positifnya, buang negatifnya. Jangan terbawa suasana yang mengatakan bahwa kelompokmu jelek, ini, itu yang belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Akhirnya, selalu pandang positif apa pun dan mulai sekarang berhentilah mencela aib sendiri. Bela apa yang kau miliki selama itu benar adanya. Sekali lagi, jangan pernah lagi kau banding-bandingkan milikmu dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.