Tidak pernah terbesit seblumnya untuk bisa aktif di sebuah komunitas ibu-ibu apalagi kegiatan dari pusatnya mostly online.
Aku jadi teringat saat menjadi trainer di pusdiklat kampus. Kami sudah menyiapkan untuk kegiatan offline tapi ternyata tiba-tiba ada pandemi covid 19 yang menjadikan hampir semua kegiatan pelatihan menjadi online. Tidak ada lagi outbond, tidak ada lagi senam dan hal seru lainnya.
Kaget? Shock parah, terlebih aku adalah penanggung jawabnya di periode tersebut.
Gimana ngejalaninnya? Awalnya berat karena aku lebih suka bertemu orang secara langsung sedangkan kali ini benar-benar hanya dari layar saja. Awal-awal memang mata terasa lelah harus menatap layar dari pagi hingga siang, harus ceria di depan kamera. Saat jam istirahat, aku gunakan untuk memejamkan mata. Wah rasanya surga dunia :D
Terlepas dari semua itu, aku juga bersyukur masih diberi kesempatan untuk isi pelatihan khusus secara offline dan beberapa kali outbond mahasiswa profesi saat masa new normal. Seperti keluar dalam gua. Selain itu ternyata pandemi covid semakin membuat timku lebih bonding, satu bulan penuh saat ramadhan, setengah dari kita masak sahur dan buka bersama. Kita juga jadi sering 'nature healing' bersama agar menyelaraskan rasa.
Hingga tiba akhirnya aku resign maret 2021 karena sudah menikah dan ikut suami di Jepara dan Jogja. Dari yang awalnya selalu ramai dengan teman, kini hening yang ku rasa.
Tapi benar, Allah maha baik. Segala proses aku lewati saat hamil dan menjadi new mom, diam, tangis, merasa tidak berdaya, dan hal mengerikan lainnya. Hingga akhirnya Allah kenalkan aku dengan komunitas luar biasa lewat storygram temanku, adik kelas SMAku sih lebih tepatnya.
Tahun 2022, aku mulai beranikan diri bergabung atas izin suami. Mencoba menjalani ritmenya dengan sadar dan bersungguh-sungguh. Hingga akhirnya aku mulai menemukan diriku lagi di 2025 ini. Prosesnya tidak sebentar tapi selalu perlu dirayakan. Agar apa? agar menjadi pengingat diri bahwa yang aku lalui tidak sedikit. Harapanku sekarang adalah Allah menjagaku di track passionku. aku harus bisa selalu merasa berdaya dengan mencintai aktivitas sesuai passionku.
Aku jadi berpikir apakah menjadi trainer online waktu itu adalah cara Allah memberiku bekal awal untuk belajar public speaking via dunia maya?