Aku mendengar riuh suara hujan di kepala. Sepertinya ingatan ingin bergegas merapikan angan, mengembalikan serakan kata-kata yang sempat keluar dari bibir kita; yang seharusnya tak perlu. Seingatku, mata kita yang lebih sering beradu pandang, mendidihkan naluri yang merasa perlu memaki diri. Kita akan terus menebak. Ya, Rahasia; babak-babak yang katamu menyalakan rasa.
Rasa. Seperti juga rahasia, ia tak perlu punya sayap. Namun kelak, mereka akan mencoba terbang; entah pergi berkelana atau untuk membuat sarang. Di dada waktu, ingatanku begitu rapat mengunci kebisuan kata. Sedangkan kau, mencuri dengar dari mereka yang membual tentang cinta.
Aku? Aku di sini saja. Aku tak perlu menciptakan bahasa untuk menjelaskan kepadamu apa itu cinta. Aku akan menutup mata; memulai percakapan sederhana di kepala, melatih rasa untuk melihat apa yang tak bisa ditangkap mata.