Sewaktu kecil sering sekali kita mendengar pertanyaan “Kalau sudah besar mau jadi apa?”. Jawabannya pun beragam, mau jadi dokter, mau jadi jendral, mau jadi pilot, mau jadi polisi, jadi tentara dan profesi-profesi lainnya. Bahkan waktu TK, biasanya ada acara tahunan dimana kita diharuskan menggunakan seragam sesuai dengan cita-cita kita. Memakai seragam polisi kalu mau jadi polisi, memakai seragam tentara kalau mau jadi tentara, memakai seragam dokter kalau mau jadi dokter, dan sebagainya. Pernah nggak sih kita berpikir untuk apa hal semacam itu dilakukan. Dulu mungkin kita tidak berpikir apa sih tujuan sekolah mengadakan hal semacam ini.
Jawabannya adalah untuk melatih otak kanan sejak dini. Sebetulnya sih itu jawaban dari penulis karena penulis pun tidak pernah diberi tahu oleh guru-guru TK dulu untuk apa acara-acara festival anak seperti itu diadakan. Tapi penulis menyadari seiring dengan waktu dan perjalanan hidup penulis, bahwa impian atau cita-cita itu harus divisualisasikan, dan otak kanan adalah otak visual, bukan analitikal.
Di antara pembaca semua di sini, pernahkah mengalami kejadian saat anda memikirkan sesuatu, anda berharap sesuatu terjadi, atau anda takut sesuatu terjadi, pada akhirnya itu benar-benar terjadi? Ya, itulah kemampuan otak kanan kita yang mampu menggerakkan respon alam. Sesuatu yang tidak logis, bahkan terkesan magis, tapi itulah otak kanan. Otak kreatif kita sebagai manusia dan otak imajinasi kita. Berbeda dengan otak kiri yang selalu berpikir logis sesuai koridor dan sesuai hasil analisa, otak kanan membentuk daya gedor berpikir secara militan hingga mampu melewati batas.
Dalam hidup ini, kita sebagai manusia tentunya memiliki impian. Impian dalam karier, impian dalam hubungan berkeluarga, impian dalam hubungan percintaan dan lain sebagainya. Dengan kemampuan otak kanan yang sedemikian dahsyatnya, maka sangatlah pantas jika kita memanfaatkannya untuk membuat visualisasi dari impian tersebut. Agar lebih terkontrol, buatlah visualisasi tersebut secara sistematis dengan 3 cara sebagai berikut:
1. Tetapkan visi atau cita-cita anda dalam hidup ini. (Contoh: di puncak karier anda, anda ingin menjadi presiden, atau anda ingin menjadi direktur, dsb)
2. Hitunglah target berapa tahun lagi anda dapat mencapai cita-cita tersebut, lalu bagilah jumlah tahun tersebut (Contoh: skala 1 tahunan, 3 tahunan, 5 tahunan), kemudian tetapkanlah visi-visi kecil anda dalam skala waktu tersebut (biasanya visi-visi yang harus dilewati sebelum mencapai visi terakhir), misalnya target saya 3 tahun ke depan adalah menjadi kepala cabang di sebuah kantor perusahaan asuransi.
3. Tulis visi Anda, bahkan gambarlah dalam catatan anda. (Pastikan bahwa semua visi anda sudah tertulis dan tervisualisasi), bukan hanya dalam catatan anda, profile picture dan status-status anda di sosial media, atau poster-poster pembangkit semangat yang anda tempel di dinding kamar anda, tapi pastikan juga bahwa visi anda terekam jelas di otak anda, ya, terekam jelas hingga ter-encode di alam bawah sadar anda.
Setelah melakukan 3 hal tersebut di atas, hal pertama yang harus anda lakukan adalah optimis, percaya, dan yakin bahwa anda akan meraih cita-cita anda. Jangan terlintas sedikitpun dalam pikiran anda: “saya takut gagal”, atau “Bagaimana kalau saya tidak berhasil”. Percayalah, justru kata-kata itu yang akan di-encode oleh otak kanan anda, dan anda benar-benar tidak akan pernah berhasil.
Ingatlah kata-kata: “Anda adalah apa yang anda pikirkan” . Jadi jangan pernah berpikir negatif tentang diri kita sendiri. Pengalaman penulis, penulis selalu mengalami kejadian sesuai dengan apa yang dipikirkan, mulai dari perjalanan karier, perjalanan hidup, bahkan dari keinginan-keinginan kecil yang tampaknya tidak mungkin terjadi, justru setelah kita pikirkan dan diolah otak kanan, hal-hal kecil tersebut menjadi kenyataan dalam hidup penulis. Cepat atau lambat apa yang kita pikirkan akan masuk ke alam bawah sadar dan alam bawah sadar akan mengekstraksi pikiran tersebut untuk direspon di alam nyata.
Anda pernah mengikuti seminar MLM? atau pernah mengikuti bisnis MLM? Sebenarnya bukan produk yang meraka jual, tapi mimpi yang mereka jual. Ya, anda ditawari membeli suatu produk tertentu dengan diiming-imingi impian selangit, punya rumah mewah, mobil mewah, apartment, kapal pesiar, dan lain-lain. Dan ketika anda tertarik untuk bergabung, apa yang mereka lakukan? Ya, mereka seakan memaksa kita untuk memiliki impian terlebih dahulu sebelum menjalankan bisnisnya. Ya, memang benar, awal kesuksesan itu berawal dari impian atau cita-cita, 95% impian, dan 5% sisanya adalah teknis. Jadi, impian memang perlu didesain dengan sempurna dalam otak kita, agar kita memiliki tujuan dalam menjalani kehidupan. Dan dengan visualisasi impian, alam pun tentu akan merespon agar kehidupan yang kita jalani tetap berada dalam koridor untuk meraih impian dimaksud. Jadi, teruslah bermimpi seperti Laskar_Pelangi https://id.wikipedia.org/wiki/Laskar_Pelangi via @idwiki dan teruslah bervisualisasi seperti 5_cm_(film) https://id.wikipedia.org/wiki/5_cm_(film) via @idwiki .
Bandung, 1 September 2017