Perihal yang saya khawatirkan terjadi. Saya jadi terobsesi dengan Blackpink. Awalnya coba-coba, eh jadi keterusan. Apa kira-kira salah dan dosaku hingga kujadi bucin Blackpink? Sungguh, bingung-bingung kumemikirnyaaa…
Mengutip D’ Lloyd, saya memohon…
Oh Tuhan, Berikan petunjuk-Mu,
Untuk kujadikan pegangan hidupku.
Katakan salahku dan apa dosaku, sampai kubegini.
***
Sehari setelah mendengarkan lagu lovesicks girls untuk kali pertama, saya ke bank untuk mengurus buku tabungan. Ketika menunggu antrian di customer service, saya yang biasanya membaca e-book tiap menunggu antrian apapun tetiba tergerak untuk mencari fakta seputar Blackpink. Tiba-tiba saja kepikiran. Maka saya bukalah situs pencarian yang terkenal itu. Hal pertama yang saya ketik adalah ‘siapa leader Blackpink?’. Ternyata mereka tidak ada leader guys. “Unik juga”, batin saya.
Setelahnya adalah membaca fun facts seputar Blackpink. Saya baca semua artikel terkait mereka dan kaget. Saya pikir mereka lebih tua dari saya, ternyata I’m the unnie, hahaha. Anggota tertua adalah Jisoo yang lahir pada 1995, disusul Jennie sebagai kelahiran 1996, lalu Rosé dan Lisa yang lahir pada 1997. Kim Jisoo dan Kim Jennie adalah warga negara Korea, tapi Jennie pernah sekolah lima tahun di New Zealand, makanya pandai bahasa Inggris. Park Chaeyoung dengan nama Inggrisnya Roseanne Park alias Rosé adalah gadis keturunan Korea kelahiran New Zealand yang besar di Australia. Last but not least, Lalisa Manoban yang merupakan orang Thailand sekaligus non Korea pertama yang debut di YG Entertainment.
“Ada yang bisa dibantu?”, seseorang mendatangi saya. Saya yang asyik membaca fakta Blackpink tetiba mengarahkan pandangan ke sumber suara.”Ia, ini saya mau buat tabungan baru”, jawab saya. Sosok mbak yang menghampiri saya kemudian mengambil kartu atm dan buku tabungan saya yang sudah kadaluarsa untuk di cek, dan kembali dengan informasi bahwa saya harus mengurus ulang semuanya. Dalam hati saya,”itulah tujuan utama saya datang ke sini”. Beberapa saat kemudian nomor antrian saya dipanggil, maka majulah saya ke customer service. Akhirnya, setelah dua tahun, saya punya atm dan buku tabungan lagi. Sekadar intermezzo guys…
Dari membaca seputar mereka melalui artikel-artikel yang ada, saya kemudian menonton semua acara yang ada mereka, mulai dari episode ketika Jisoo dan Jennie menjadi bintang tamu di Running Man, kemudian episode ketika Jennie kembali diundang ke Running Man untuk episode Lucky and Unlucky Hand. Setelahnya menonton lagi episode ketika Blackpink menjadi tamu di Running Man untuk pertama kali. Dari situ lalu pindah menonton episode Knowing Brother saat pertama kali Blackpink juga jadi bintang tamu di sana. Ternyata mereka juga punya beberapa reality show yang ditayangkan di channel youtube resmi mereka. Jangan sedih, saya juga nonton. Bahkan variety show “Michuri” Village Survival, the Eight season I yang ada Jennie sebagai salah satu anggota tetapnya, saya tonton. Dari acara tersebut saya jadi tahu bahwa Jennie ini ternyata gadis kota yang tidak pernah ke desa sebelumnya. Bahkan di acara tersebut dia mengaku bahwa itu pertama kalinya dia mengupas kentang. “Kalau mengupas kentang saja dia newbie, apa kabar mengupas salak?”, pikir saya. Dia juga mengaku bahwa itu adalah kali pertama dia memasak nasi yang bukan nasi instan. Baru tahu saya ada nasi instan di dunia, selama ini tahunya hanya beras plastik. But anyway, pokoknya acara-acara yang ada Blackpink saya saksikan.
Ketika pada 25 November saya menonton mereka di Waktu Indonesia Belanja TV Show, setelahnya saya memutuskan menonton film Dokumenter mereka, BLACKPINK: Light Up The Sky. Sutradara memberikan kita gambaran nyata mereka sebagai manusia utuh-bukan sekedar sebagai idola yang terlihat sempurna. Filmnya bagus. Gambarnya bagus. Yang jelas setelah menonton itu, pemahaman dan simpati terhadap Blackpink semakin besar. Saya akan heran sih kalau ada orang yang menjadi atau masih menjadi haters mereka setelah menonton film dokumenter itu.
Dari film kemudian lompat dari satu video ke video lainnya secara simultan. Spontan. Itulah yang saya lakukan. Saya semakin mendalami Blackpink tanpa saya sadari. Tidak direncanakan. Saya heran sendiri dengan diri saya. Tapi sudah kepalang basah, ya sudah, sekalian nyebur saja.
***
Saat itu kebetulan sudah minggu-minggu mendekati masa pergantian tahun, kakak saya memutuskan pulang untuk bertahun baru bersama. Maka jadilah kami bertahun baru bersama-sama.
Suatu siang, ditengah-tengah menonton video kompilasi Blackpink yang dibuat oleh para fansnya, saya bertanya ke kakak saya,”kau tau Blackpink?”
“Iya. Jisoo, Jenni, Rose, sama Lisa toh”, kakak saya.
“Ih, kenapa kau bisa tahu?”, saya heran.
“Karena anggotanya cuma empat orang”, kakak saya menjawab keheranan saya.
“Kau ikuti juga ini Blackpink?”, saya penasaran.
“Tidak”, kakak saya singkat.
“Cantik-cantik tawwa. Bagus-bagus juga lagunya. Waktu kudengar kukira lagunya 2Ne1”, saya.
“Pas dibubarkan 2Ne1, setelah itu debut ini Blackpink”, kakak saya.
“Iya, 2016. Padahal bisa jalan berdua. Kejamnya industri”, kata saya.
“Begitu memang industri hiburan, kalau sudah tidak menarik yah diganti, begitu juga nanti Blackpink”, kakak saya.
“Astaga, miripko ini Jennie, capricorn golongan darah B juga. Beda satu hari tanggal ulang tahunmu, baru suka sekali kaget-kaget juga sama suka akting sok imut, hahaha. Baru kalau bicara kadang sadis juga”, kata saya yang seorang gemini.
“The power of capricorn golda B. Itu Jennie biar tidak make-up cantikji. Itu juga Jisoo cantik, muka-muka pemain drama”, jawab kakak saya yang seorang capricorn.
“Itu juga Lisa cantik, tapi kusuka kalau rambut pendek. Rosé cantikji juga, tapi kukira pertama lebih tua dari Jennie, ternyata seumuran sama Lisa”, jawab saya.
“Ih, lebih cantik itu Lisa pas panjang rambutnya, kalau Rosé kayak jutek-jutek mukanya kalau diam”, kakak saya.
“Iya, tapi intinya cantik semua anggotanya”, saya.
Fakta mengejutkan bahwa 2Ne1 dibubarkan dan ditahun yang sama manajemen mereka ternyata menerbitkan Blackpink, memunculkan asumsi publik bahwa Blackpink ada untuk menggantikan 2Ne1. Hal yang kemudian membuat saya bertanya-tanya akan nasib Blackpink dimasa yang akan datang. Setelah percakapan itu saya melanjutkan menonton video-video tentang Blackpink lainnya, sementara kakak saya melanjutkan menonton film yang sedang dia tonton.
***
Tidak hanya kepo soal tindak-tanduk para anggotanya, saya juga jadi semakin kecanduan lagu-lagu Blackpink. Dari lovesicks girls, secara otomatis youtube kemudian memutarkan lagu kedua dari Blackpink untuk saya. “Blackpink in youwr awriiaaaah”, kata Lisa sambil turun tangga. Saya merasa seperti diintimidasi oleh geng Nero ketika mereka bilang,”How you like that? Heh!”. Lagunya sesangar ekspresi para penyanyinya.
Setelah saya mendengar lagu-lagu lain dari mereka, sejak saat itu saya mulai menjadikan lagu-lagu Blackpink bagian dari kehidupan saya. Semacam soundtrack. Hari-hari yang ‘black’ itu berubah jadi ‘pink’, karena lagu-lagu Blackpink. Sebagai contoh…
Ketika menunggu operasi Mama saya, ada Blackpink di sana turut menemani,”Stay…stay…stay with me”.
Ketika pulang ke rumah dari ketidakpastian, ada Blackpink berteriak,”I’ll kick it if you’re down, kick it if you down”.
Ketika sore tiba dan memutuskan membaca buku di beranda, ada Blackpink juga di sana mengungkapkan keresahannya,”You know, I don’t know what to do, don’t know what to do without youuu”.
Ketika menatap derasnya hujan sambil minum kopi instan, Blackpink juga ikut-ikutan mendukung sendunya suasana,”You’ll never know unless you walk in my shoes… ‘Cause everybody sees what they wanna see, it’s easier to judge me than to believe”.
Ketika Mama saya tidak jadi membeli ikan karena harga yang tidak sepakat, ada Blackpink mengkompori,”See you later boy, see you later. See you later boy, see you later-later… See you later, maybe never”.
Secara keseluruhan lagu Blackpink bagus-bagus, tapi kalau saya mau urutkan, yang menempati lima teratas versi saya antara lain Lovesick Girls, Do know what to do, As If It’s Your Last, You Never Know, dan See you later. Tambahan bonus, Let’s-kill-this-loooveeee...
Waktu pertama kali mendengar lagu yang berjudul ‘As If It’s Your Last’ dan ‘Playing with Fire’ di Spotify saya pikir itu lagu dari 2Ne1, ternyata itu adalah lagu dari Blackpink. Saya dengar kabar katanya lagu ‘As If It’s Your Last’ awalnya dibuat untuk 2Ne1. Saya pikir warna musik 2Ne1 terdengar hampir sama dengan Blackpink, hanya saja dikemas secara berbeda. Lebih segar, muda dan berbahaya.
***
Mulai dari kapan tahu sampai hari ini update dari Blackpink kian membanjiri saya. Mulai dari penundaan konser mereka bertajuk “The Show” yang harusnya Desember tahun lalu diganti ke hari terakhir bulan Januari tahun ini, tentang drama perdana Jisoo, tentang anak adopsi Rosé bernama Hank yang punya akun instagram dengan follower jutaan dalam waktu singkat, tentang Jennie yang membuat kanal youtube pribadi dan mengunggah video pertama tepat di hari ulang tahunnya, tentang Blackpink x BTS yang kembali tampil di Waktu Indonesia Belanja TV Show, tentang kemunculan teaser MV debut solo Rosé yang menggemparkan khalayak dan informasi bahwa dia akan menyanyikan side B dari albumnya di konser “The Show” (salut dengan kinerja tim marketing mereka), tentang Lisa yang akan kembali menjadi mentor tari di sebuah program China, tentang kejulidan netijen terhadap bahasa Inggris Jisoo, tentang nyinyiran kekanak-kanakan yang didapatkan Lisa hanya karena terlambat memposting teaser MV debut solo Rosé (kejulidan yang sungguh tidak perlu) dibanding anggota lainnya, tentang isu rasisme yang tak henti menimpa Lisa, tentang video behind the scene dan geladi dari konser mereka, tentang Rosé yang melakukan live di hari ulang tahunnya untuk menyapa para penggemarnya (beberapa diantara pemirsa live tersebut adalah tipikal yang kalau ditongkrongan suka ‘nggak asyik banget sumpah’), tentang Lisa yang menggemparkan jagat maya akibat ulahnya mengunggah video menari terbaru di kanal youtube-nya (sakit ni orang!), dan hal-hal lainnya tentang Blackpink yang tidak henti-hentinya menghujam hadirin dan hadirat sekalian.
Tak lupa pula saya haturkan bahwa …
Saya menjadi bagian dari jutaan orang yang mengikuti media sosial mereka, satu per satu. Bukan untuk tujuan update apalagi ikut-ikutan ya-pengen saja-sebab jujur pikiran pertama saya setelah melihat postingan mereka di sosial media pasca jadi follower adalah ingin unfollow. Tapi sayangnya tidak saya lakukan, hahaha. “Monoton gilaaa postingannya”, pikir saya. Mana captionnya kadang ada, kadang ada walau singkat dan lebih sering tidak saya mengerti karena tulisan korea. Postingan dan update seru justru saya dapat dari akun-akun penggemar ketika menelusuri bagian penjelajahan-sebelumnya banyak diisi postingan tentang Han Ji Pyeong-yang kini berubah jadi sarang postingan seputar Blackpink.
Saya masih menyimpan tanya,”mengapa terlintas pemikiran kreatif dalam diri “semesta” untuk menghadirkan dan mendorong Blackpink menemani hari-hari saya yang penuh hujan deras, jemuran lembab, dan atap bocor? mengapa harus Blackpink? dan mengapa baru setelah empat tahun mereka debut?”.
Ya, semesta memang sering membuat ‘kebetulan-kebetulan’ mengagetkan, begitu pun kepada saya. Tapi apapun itu, sama seperti pikiran saya dibalik adanya pandemi Covid-19 di dunia saat ini, saya yakin kehadiran Blackpink mengisi hari-hari saya juga pasti ada hikmahnya. Semoga saja...
Blackpink pada ulang tahun ke-4 (Source: https://id.pinterest.com)
Pertama dengar kata itu, saya pikir itu judul film, merujuk pada film Pink Panther. Kembali mendengar itu dalam rentan yang cukup lama, saya pikir itu nama sebuah band indie. Kalau tidak salah itu sekitar tahun 2016, waktu dimana saya lagi senang-senangnya mengulik lagu-lagu indie dari berbagai negara dan sedang terkena demam drama Descendant of The Sun dimasa-masa mengerjakan skripsi. Beberapa lama setelahnya kata itu saya dengar lagi-mungkin sekitar tahun 2017-dan saya pikir itu nama sebuah boyband korea. Dalam rentan waktu itu saya hanya berakhir menduga-duga tanpa pernah mencari tahu lebih lanjut apa dan siapa sebenarnya Blackpink ini. Saya hanya fokus ingin jadi sarjana saat itu.
Sampai pada 2018, saya kembali mendengar kata ini digaungkan oleh teman-teman lelaki saya. Blackpink- Rosé-Lisa. Tiga kata itu selalu saya dengar disebut-sebut. Karena tidak paham, maka bertanyalah saya kepada teman saya,“Apa sebenarnya itu Blackpink?”.
“Girlband korea”, senior saya menjawab.
“Oh, girlband, astagaaa… kukira boyband. Yang mana lagunya itu? Berapa orang anggotanya?”, tanya saya.
“Empat orang”, kata seorang teman yang sedang di depan laptop sambil memutarkan lagu dari Blackpink, yang dua tahun kemudian baru saya ketahui berjudul Ddu-du ddu-du.
Untuk saya yang pada masa itu lebih sering terpapar lagu-lagu bernuansa pop ceria yang santai, lagu yang teman saya putar terdengar lumayan keras di telinga saya. Bukan karena lagunya tidak bagus yah, tapi telinga saya butuh adaptasi lama, jadi lagu itu terkesan bising pada saat itu.
“Kenapa bisa terkenal sekali ini girlband? kayak banyak sekali orang selalu sebut-sebut”, saya bertanya heran, tapi bukan untuk maksud meremahkan. Saya heran karena baru sekali itu dengar temen-teman laki-laki saya menggaungkan nama girlband korea dengan sebegitu antusias. Berarti ada sesuatu yang spesial dari Blackpink sendiri.
“Bagus-bagus lagunya, terus cantik-cantik member-nya, baru bisa juga bahasa Inggris”, kata senior saya yang kemudian menyebutkan nama-nama member-nya. Hanya dua nama yang saya ingat saat itu, Rosé dan Lisa. Saya ingat dua nama ini karena selain terdengar Indonesia, saya tiba-tiba ingat tetangga sekaligus ibu teman main saya waktu kecil yang dipanggil Ibu Ros dan juga teman angkatan saya yang bernama Lisa. Saya bertanya lagi untuk memastikan karena saya pikir dia bercanda waktu menyebut nama itu, ”Lisa temanku?”.
“Bukan, Lisa Blackpink. Ada member-nya seksi sekali namanya Lisa”, kata teman saya.
“Rosé saya kusuka”, kata teman yang tadi memutar lagu Blackpink menimpali.
“Dari manajemen mana itu?”, saya kepo.
“Dari YG entertainment”, jawab senior saya.
“Oh, satu manajemen sama Big Bang dong. Pantas begitu musiknya”, kata saya yang kebetulan seorang VIP online.
Awalnya saya pikir anggota Blackpink ini adalah gadis-gadis korea yang pintar bahasa Inggris karena mereka belajar, sebab anggota Big Bang juga seperti itu, seperti G-Dragon dan Taeyang. Mereka belajar bahasa Inggris secara otodidak. Tapi dari jawaban senior saya ternyata saya salah. Tidak, ada dua orang bukan asli Korea. Rosé kayaknya dari Australia.
“Oh, bule ini Rosé?”, tanya saya kaget.
“Bukan. Orang korea tapi dari kecil tinggal di Australia”, kata senior saya.
“Aha, pantas mendunia. Ada anggotanya bukan dari Korea, baru pintar bahasa Inggris juga anggotanya”, kata saya sok tahu.
Dari percakapan saat itu dalam benak saya yang terlintas adalah bahwa untuk menggaet dunia internasional ada baiknya memang tiap member boyband atau girlband korea yang kurang bisa bahasa Inggris untuk semakin belajar bahasa Inggris, setidaknya untuk mempermudah mereka mengutarakan pendapat mereka secara langsung dengan nyaman yah walaupun menggunakan penerjemah tentu bukan hal yang buruk. Semoga maksud saya dipahami. Saya pernah nonton salah satu episode Running Man, bintang tamunya ada anggota boyband bernama Rap Monster (RapMon) yang merupakan leader ditimnya dan dikenal sebagai seorang jenius bahasa karena pintar bahasa Inggris dan ternyata dia belajar secara otodidak. Klu G-Dragon, Taeyang, dan RapMon bisa, yang lain pasti juga bisa, asal mau saja.
Setelahnya tidak ada lagi hal lebih lanjut seputar Blackpink yang saya ketahui. Saya tidak ada minat menggali lebih lanjut karena pada waktu itu saya sedang tenggelam dalam kegiatan saya dan juga merasa masa bakti saya sebagai fangirl sudah habis. Rasanya sudah tidak pantas lagi bagi saya menjadi pemuja member boyband/girlband diumur saya waktu itu, terlebih juga saya sudah tidak mengikuti perkembangan seputar boyband pun girldband korea seperti yang saya dulu intens saya lakukan di masa SMA sampai awal kuliah.
***
Pada pertengahan tahun 2020, saya menghabiskan waktu luang di malam hari dengan menonton salah satu kanal di youtube yang tidak sengaja saya temukan. Sama seperti banyaknya penonton youtube lainnya, ketika sedang menonton saya sambil membaca kolom komentar. Ada satu komentar yang selalu dilayangkan setiap saya menonton di kanal tersebut. “Reaction to Jenlisa Please…”, tulisan di kolom komentar tersebut.
Selain tidak mengerti manfaat video reaction itu apa, saya pun tidak paham Jenlisa itu apa. Saya tidak ada niat sedikitpun untuk mencari tahu. Sampai suatu ketika pemilik kanal yang saya tonton itu-mungkin karena bosan dibombardir permintaan yang sama terus menerus-akhirnya mewujudkan harapan penontonnya yang gigih dan tekun mengirim komentar yang sama di setiap videonya ini.
Akhirnya video reaction Jenlisa hadir di kanal youtube-nya dan saya menonton. Ternyata “Jenlisa” adalah akronim dari Jennie dan Lisa, dua member Blackpink, yang tentunya sama-sama perempuan. Para penggemar pro Jenlisa adalah mereka yang menyukai kedekatan, keakraban dan kemesraan yang ditujukan antara dua member Blackpink ini, malah banyak yang baper sendiri melihat aksi-aksi so sweet diantara keduanya, dan bahkan meyakini hubungan diantara keduanya adalah nyata. “Zaman sudah berubah semakin pesat yah. Progresif dan liberal”, pikir saya.
Saya jadi nostalgia ke masa saya mengidolakan boyband korea. Saya tidak menemukan bentuk shiper-shiper semacam ini. Mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Zaman saya, yang saya tahu hanya para anggota boyband/girlband membuat sebuah video parodi dari drama hits saat itu untuk ditampilkan dalam acara konser mereka. Seperti Big bang yang pernah membuat video parodi dari drama Coffee Prince (2007) dan Secret Garden (2010). Saya tidak ingat ada yang menyoroti dan mengagumi kedekatan antara dua anggota boyband atau girlband dalam satu grup dan baper karenanya. Sekali lagi, mungkin ada, tapi saya tidak tahu.
***
Di tahun yang sama-2020- tepatnya awal November, saya tidak sengaja menonton cuplikan salah satu episode Running Man yang disarankan oleh Youtube. Itu adalah episode ketika para member Running Man sedang mempersiapkan pertunjukkan untuk merayakan ulang tahun mereka ke-9. Kedelapan anggota latihan menari bersama koreografer Lia Kim dengan koreografi yang awalnya nampak mustahil untuk dilakukan tapi akhirnya dapat dieksekusi dengan baik oleh semua anggota RM di atas pangggung. Dari situ saya belajar, apapun yang awalnya terlihat mustahil ternyata kalau dilatih dan diusahakan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran pasti akan berbuah manis. Saya menonton semua cuplikan di episode itu berulang-ulang dan mendapati diri juga merinding berulang-ulang.
Beberapa hari kemudian saya disarankan lagi oleh youtube episode Running Man lainnya. Cuplikan episodenya cukup panjang. Para pemain yang dibagi dalam tiga tim harus mengirim satu perwakilannya untuk duduk melantai dan menggunakan bando kucing dengan sensor yang membuat telinganya dapat bergerak naik turun mengikuti rangsangan otak dari penggunanya. Masing-masing perwakilan diberikan kesempatan untuk menggoda para pemain lain agar telinganya bergerak. Pemain yang menang adalah dia dengan jumlah pergerakan telinganya lebih sedikit. Bintang tamu dalam episode tersebut adalah Blackpink, yang saya tahu karena nama itu ada dijudul videonya. Selain episodenya seru dan lucu, itu juga adalah pertama kalinya saya melihat keempat anggota Blackpink. “Oh, inimi Blackpink yang legendaris itu”, pikir saya. Saya pun kemudian menonton episode Blackpink ini secara penuh di VIU.
Dari episode Running Man itu saya menjadi sedikit tahu tentang personel Blackpink. Mereka ternyata sudah dua kali menjadi bintang tamu di Running Man, dan itu adalah kali kedua mereka bertamu sekaligus untuk mempromosikan lagu terbaru yang ada dalam album terbaru mereka. Ternyata mereka baru comeback. Nama dan wajah anggota sekilas saya sudah sedikit tahu, tapi bagaimana suara mereka saya tidak tahu, sebab saya belum pernah mendengar lagu mereka dengan seksama.
***
Pada minggu kedua bulan November, sambil bersiap-siap untuk menemani mama saya ke Rumah Sakit Gigi, saya membuka youtube dengan niat untuk mendengarkan lagu dan melihat video berjudul BLACKPINK-‘Lovesick Girls’ M/V di beranda saya. Saya tidak pernah mendengar lagu Blackpink sebelumnya, jadi bisalah yang ini dicoba. Saya tidak memperhatikan videonya karena sedang berpakaian, hanya mendengar lagunya, tapi spontan melihat ke arah layar ketika sampai pada bait…
Yeah, We were born to be alone, but why we still looking for love?
“Iya juga yah? masuk akal”, pikir saya ketika mendengar lirik tersebut, mengingatkan pada lirik lagu Noah,”tak pernah ku mengerti aku segila ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”.
Setelah selesai bersiap, saya memutar kembali video itu karena suka dengan lagunya dan menonton dengan seksama adegan demi adegan sekaligus memperhatikan penampakan anggota Blackpink satu per satu. Oh, ternyata mereka memang pada cantik-cantik semua, pantas jadi idola global. Oh, ternyata Jennie dan Lisa ini bagian Rap. Oh, ternyata pemilik suara yang saya pikir adalah suara Jennie ternyata Rosé. Oh, ternyata pemilik suara yang saya pikir adalah Lisa ternyata adalah Jisoo. Oh, ternyata yang namanya Lisa memang cantik, apalagi dengan rambut pendeknya itu. Lisa sangat cocok dengan model rambut itu, menurut saya yang adalah penggemar telenovela “Cinta Paulina” pada masanya. Saya sangat suka perempuan dengan model rambut pendek lurus sebahu- itu model rambut favorit saya. Memperhatikan wajah Lisa, saya merasa dia mirip seseorang yang biasa saya liat, tapi saya lupa siapa. Ketika kemudian ingat dia mirip siapa saya memutuskan untuk menyimpan ingatan ini untuk diri sendiri. Bahaya kalau diungkap. Nanti saya kena hujat.
Beberapa saat setelahnya, dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Gigi, tiba-tiba mengalun lagu Lovesick girls di radio mobil online yang mengantar kami. “Kok kebetulan sekali? pertanda apa ini?”, benak saya.
***
Dari cuplikan Running Man, lalu menonton MV, youtube kemudian kembali merekomendasikan saya cuplikan acara Knowing Brother yang dimana bintang tamunya sekali lagi, Blackpink. Jelas mereka tampil di sana untuk mempromosikan album terbaru mereka. Saya termasuk penonton Knowing Brother, jadi saya nonton cuplikan itu, ternyata seru, maka saya memutuskan untuk menonton versi lengkapnya di VIU.
Beberapa hari berselang, ketika sedang menonton youtube, tiba-tiba ada iklan Tokopedia muncul dan disitu ada Lisa yang bilang,”… Four more days until Tokopedia Waktu Indonesia Belanja TV Show ”. Setelah melihat itu, entah mengapa saya tiba-tiba merinding. Blackpink akan muncul di acara tersebut, tepatnya pada 25 November. Saya kaget bukan karena Tokopedia berhasil mengundang Blackpink, tapi lebih kepada kok ‘lu lagi lu lagi’. Layaknya sebuah efek domino, Blackpink terus menerus menampakkan pengaruhnya kepada saya tanpa saya sadari.
Kepalang penasaran, empat hari kemudian, saya ikutan menonton Waktu Indonesia Belanja TV Show itu. Ada mas Hansol dan MC Jongnim sebagai pemandu acara. Mereka diwawancara seputar kegiatan mereka selama pandemi dan ditantang bermain games. Permainannya adalah mereka harus menebak judul film berdasarkan clue yang digambar oleh salah satu anggota, yang dalam hal ini dilakukan oleh Rosé. Disitulah perhatian saya kemudian lebih banyak tertuju pada Jisoo dan Rosé, sebab sebelumnya tidak terlalu memperhatikan keduanya.
Ketika melihat Rosé mulai menggambar, seketika dalam benak ini langsung berkata,”aihh, tinggal tunggu waktu saya suka ini orang, tapi sebelum itu mari kita perhatikan yang lain”. Pikiran saya itu muncul bukan karena dia pandai menggambar. Bukan. Tapi karena dia left-handed. Ya, saya suka orang kidal.
Permainan dimulai, clue yang digambar Rosé cukup jelas, dan ketiga anggota lainnya berhasil menjawab pertanyaannya dengan baik. Yang menarik adalah ketika para member berhasil menjawab dengan benar, Rosé berbalik dan bilang ke mereka ‘gomawo yeorobun’ yang artinya terima kasih guys. Saya terkesima ketika dia mengatakan itu, bukan karena merasa itu ditujukan ke saya. Bukan. Saya tidak sepercaya diri itu.
Mengutip kalimat dari buku Pak Parlindungan Marpaung,“Satu kata penting adalah Kita. Dua kata penting adalah Terima Kasih. Tiga kata penting adalah Mari Lakukan Bersama”. Kalimat ‘terima kasih’ memang cuma terdiri dari dua kata, tapi efeknya besar sekali-saya pernah merasakannya. Sayangnya, orang sering tidak sadar akan pentingnya sebuah ‘kata’ dan dampak yang ditimbulkan ketika kata tersebut menjadi sebuah ‘kalimat’ untuk orang lain. Saya yang suka baper akibat efek dahsyat ‘dua kata penting’ tersebut jadi memandang Rosé berbeda sejak itu. Saya dalam hati langsung menghakimi,“Saya kira ini orang jutek, ternyata dia orang yang sopan, baik, dan rendah hati sekali”. Makanya guys, jangan seperti saya. Jangan mudah berasumsi sebelum mengenali.
Hal menarik lainnya yang saya temukan datang dari Jisoo ketika dia mencoba menjawab. Dia menjawab ‘Anpanman’ untuk jawaban ‘Shrek’ dan ‘Eternal Sunshine’ untuk jawaban ‘Thor’. Seketika itu juga saya bilang,”lah, ini orang pasti seumuran sama saya. Dan dia sepertinya juga satu selera dengan saya, menyukai film-film lawas”. Berdasarkan jawaban tersebut-selain juga karena seingat saya, sejak tahu blackpink beberapa minggu, saya jarang mendengar nama Jisoo disebut- maka saya memutuskan untuk suka Jisoo. “Mantap ini orang”, pikir saya.
Ibarat Bom Hiroshima dan Nagasaki (radiasinya dikabarkan masih ada sampai saat ini)-tepatnya setelah bom pertama dijatuhkan-pengaruh Blackpink semakin besar dan mendorong saya mengulik mereka lebih dalam.“Kenapa semesta tiba-tiba membombardir saya dengan berbagai hal seputar Blackpink terus menerus? Apa tujuan dari semua ini?”, kata saya dalam hati bak pesinetron yang sedang monolog sekaligus berharap semoga saya tidak jadi budak cinta. Tidak jadi lovesick girl. Jujur saya takut sekali. Ini sungguh kebetulan yang sangat membingungkan sekaligus meresahkan saya.
Tidak terasa beberapa jam lagi kita akan meninggalkan 2020 yang saya sebut sebagai tahun virtual, pasalnya banyak hal yang biasanya dilakukan secara tatap muka harus dialihkan ke ranah virtual demi keamanan dan keselamatan bersama. Semua karena pandemi.
Awalnya semua tampak biasa, sampai suatu ketika masuklah Corona. Virus Corona atau dikenal dengan nama panggung Covid-19 pertama kali terdeteksi di Wuhan, China pada 2019 akhir, lalu berkembang dan melebarkan sayap ke penjuru dunia. Virus global. Saat banyak negara mengkonfirmasi kasus Covid-19 masuk ke negara mereka pada bulan Januari, Indonesia dengan bangga mengklaim bebas sampai pada Maret 2020 Presiden mengkonfirmasi kasus Covid-19 pertama di Indonesia dengan adanya tiga pasien, yaitu Ibu dan dua puterinya. Setelah banyak pihak menuntut untuk lockdown atau di Indonesia dikenal dengan karantina wilayah, pemerintah memutuskan bahwa kebijakan untuk mengatasi Covid-19 yang berkaitan dengan kesehatan adalah dengan memperkuat pariwisata dan perekonomian. Setelahnya, walaupun banyak yang meragukan covid-19, tapi berbagai tempat dan kegiatan yang melibatkan banyak orang: pusat perbelanjaan, aktivitas sekolah dan perkantoran, berbagai usaha dan aktivitas lainnya dibatasi sementara dengan sebutan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Kota yang biasanya ramai, hiruk pikuk dengan jejeran kendaraan menjadi sepi seperti libur lebaran padahal belum lebaran. Memasuki ramadhan tidak ada terawih, sahur on the road, dan buka puasa bersama yang menjadi ajang reuni seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua sendi kehidupan berubah dan lahirlah bentuk adaptasi baru: menggunakan masker, hand sanitizer yang selalu siap sedia, dan jaga jarak.
Penutupan berbagai tempat untuk sementara waktu berdampak pula kepada banyaknya pekerja yang dirumahkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Tatap muka atau interaksi antar individu atau kelompok dilakukan dari rumah secara virtual, entah kerja, entah kuliah, entah sekolah bahkan wisuda. Tren sepeda, memelihara tanaman sampai maraknya pencurian pot bunga mencuat. Ya, semua karena pandemi.
Tahun 2020 dibuka dan ditutup dengan berbagai kejadian, ada suka, ada duka, ada luka. Banyak nyawa yang pergi, tenaga kesehatan yang gugur, kondisi ekonomi yang semrawut, hidup yang cukup sulit, dan angka kejadian kasus yang jauh dari kata surut. Semua karena pandemi.
Bagi saya tahun 2020 memang bukan tahun yang baik, tapi juga bukan tahun yang sepenuhnya buruk. Not good, but not really bad. Walaupun ada banyak kesempatan yang hilang dan rencana yang tertunda, tapi disaat yang sama banyak cerita dan kisah yang sebelumnya terlewat kini saya sadari keberadaannya dan fakta-fakta baru yang membuka mata saya. Kalau kata Ost. Sinetron Hikmah,”semua kan ada hikmahnya”. Yup, ini karena pandemi.
Menjelang pergantian tahun angka kejadian Covid-19 terus meningkat, namun demikan harapan agar keadaan menjadi lebih baik tentu selalu dipanjatkan. Walaupun dengan memakai masker membuat kita tidak perlu make-up-an lebih sering tapi menyimak orang bicara dengan lebih jelas secara langsung tentu lebih menyenangkan.
Tetap jaga kesehatan, tetap jaga jarak, dan masker jangan lupa! Semoga kita semua sehat selalu. Aamiin. Sekian. Wassalam.
Yours,
UP
[Ditulis di Makassar, didetik detik terakhir 2020]
Di luar sedang hujan, sedikit membuyarkan kebahagian orang yang sedang membakar uang dalam bentuk petasan. Saya berharap hujan reda, supaya mereka tidak sia-sia.
Beberapa jam lagi menjelang pergantian tahun dan saya di sini memutuskan menulis setelah sebelumnya berbaring menghadap langit-langit rumah yang telah saya dan keluarga diami sejak 2011. Mulai dari saya baru menjadi mahasiswa baru sampai akhirnya telah menyelesaikan sekolah saya. Rumah ini menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi. Saya baru sadar telah tinggal di rumah ini hampir 9 tahun, dan dalam kurun waktu tersebut ada banyak hal yang telah terjadi. Kabhi Kushi Kabhi Gham.
Pikiran saya terdorong untuk bernostalgia ke masa lalu. Menggali kembali ingatan akan tahun baru-tahun baru sebelumnya yang saya telah saya lewati. Yang sebagian besar saya lewati di rumah ini.
Tahun baru 2012 adalah tahun baru pertama saya di rumah ini bersama keluarga. Ramai. Ada Mama saya yang sedang sakit saat itu, ada dua kakak saya, ada sepupu-sepupu saya. Saya dan sepupu-kami bertiga- memutuskan membuat terang bulan-sebelumnya kami telah buat beberapa kali- dan seteko teh poci. Saya ingat kami bertiga jalan ke minimarket untuk membeli semua bahan dan lalu membuatnya, dan setelahnya tentu memakannya bersama yang lain. Kakak saya yang satu waktu itu baru pulang tugas dari Rumah Sakit. Membasuh diri dan lalu istirahat. Sepertinya tahun baru tidak begitu spesial untuk dia. Kakak saya yang satu bersama sepupu diajak sepupu yang lain untuk tahun baru di luar. Pergilah dia. Tidak beberapa lama teman sepupu saya datang lagi mengajak sepupu saya yang tadi juga ikut membuat terang bulan untuk tahun baru di luar. Pergilah dia. Tinggal saya dan sepupu saya serta mama dan kakak yang istirahat. Sepupu saya membuka percakapan,”sepertinya dia memang bukan orang yang tahan tinggal di rumah saja”, dan saya mengiyakan.
Tahun baru 2013 masih sama. Ada mama saya, kedua saudara saya, dan ada sepupu saya juga yang seperti tahun sebelumnya juga bertahun baru disini. Dia belum libur kuliah jadi bertahun baru bersama di kota ini. Ada personel baru, seorang keponakan saya. Tapi tidak lama, dia pergi bersama temannya bertahun baru di luar. Dia memang bukan anak rumahan. Kami hanya menghabiskan malam pergantian tahun di rumah saja, dengan makanan berminyak dan minuman bersoda.
Tahun baru 2014 masih sama. Ada mama saya, kedua kakak saya, dan ada sepupu saya juga yang seperti tahun sebelumnya juga bertahun baru disini. Saya pergi membeli sate untuk makan malam dengan sepeda kumbang saya. Nama jepangnya Mamachari Bike.
Tahun baru 2015 sebenarnya seorang teman mengajak untuk bertahun baru di gunung. Tapi saya menolak, karena tahun baru adalah momen yang penting untuk dihabiskan bersama keluarga. Mau sepi pun ramai.
Tahun baru 2016 sedikit berbeda. Tahun ini ada daeng saya yang sedang menjalani rawat jalan. Ada juga tiga sepupu lainnya. Kami membuat nasi kuning dan memakan bersama dimalam tahun baru. Tahun baru termewah yang pernah saya lewati.
Tahun baru 2017 juga ada yang berbeda. Dua keponakan saya telah persiapan masuk perguruan tinggi. Orang tua mereka memutuskan datang dan bertahun baru di sini. Tanggal 31 Desember 2016 bersama mereka saya ke Trans Studio Mall untuk bermain di wahananya. Ternyata biaya masuknya lebih besar karena ada pertunjukkan sirkus. Masuklah kami bermain. Pulangnya kami memesan martabak dan terang bulan dan makan bersama. Tahun baru dengan budget terbesar yang pernah saya keluarkan gegara ke taman bermain. Ya sudahlah yah.
Tahun baru 2018 seperti tahun sebelumnya kembali saya lewati di rumah hanya bersama mama dan kakak saya. Tetap menyenangkan karena musim liburan.
Saya ingat tahun lalu, tahun baru 2019, saya menghabiskan malam pergantian tahun hanya berdua dengan teman saya, di klinik. Itu adalah pertama kalinya saya menghabiskan tahun baru tidak bersama keluarga saya. Rasanya sangat beda, itu hal baru, tapi saya tetap menikmati. Teman lainnya datang beberapa jam setelahnya karena mereka juga menghabiskan malam dengan keluarganya. Teman tersebut membawa banyak makanan dari rumahnya dan kami makan bersama. Yummy.
Tahun baru kali ini saya lewati dengan dua kakak dan mama saya. Yups, hanya kami berempat. Diramaikan dengan dua botol soda, tahu pedas gosong dan onde-onde buatan mama saya, waktu berjalan cepat sekali. Waktu saya kecil, menanti jam 12 sangat amat lama sampai membuat saya jatuh terlelap. Saya ingat dulu berdiri di depan jam dinding dosen teladan-hadiah untuk Om saya dari tempatnya mengajar-berharap segera jam 12 karena saya ingin mendengar kembang api sebelum tertidur, tapi saya kalah oleh rasa kantuk. Sekarang, melirik sedikit, ehh sudah akan jam 12 saja. Dewasa membawa perubahan besar terhadap banyak aspek kehidupan, terutama terhadap pola pikir, pola tidur dan cara melewatkan waktu.
Tahun 2019 memberikan banyak pelajaran, perjalanan dan bermacam perasaan yang sampai pada akhirnya membuat saya berhasil menyelesaikan studi saya. Dan 2020 adalah pertanda untuk memulai lembar baru dengan lebih baik lagi. Senyata-nyatanya kehidupan sudah menunggu saya di depan. Saya harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga saya berhasil, dan kalian juga. Aamiin. Sekian. Wassalam
Yours,
UP
[Ditulis di Makassar, 31 Desember 2019, pukul 22.45]