Dari sejak pertemuan pertama-yang masih saya ingat jelas-sampai saat ini, tidak ada waktu diantaranya saya tidak memikirkan Dia. Tidak selalu. Tapi sering. Saking seringnya, saya merasa semacam ada ruangan imaginer type 16 bergaya minimalis dalam pikiran saya yang khusus untuk dia tinggali walau tidak lama. Tempat dia selalu datang dan pergi dan datang lagi, lalu pergi, lalu kembali. Begitu seterusnya dalam 13 tahun ini. Begitupun saat ini, dia datang kembali. Mengusik saya. Rese’.
I repeat everything’s okay
But my day ends with you again
I thought I can’t live without you but I live like this
But I feel empty I think I’m still there
– BtoB (Missing you)
Keresahan yang timbul tenggelam ini, sebenarnya sudah tidak sedahsyat dulu. Dulu, terinspirasi dari drama Korea berjudul Starway to Heaven, ada malam-malam dalam hidup saya kala itu yang saya habiskan dengan membeli minuman bersoda, menggambil gelas kaca ukuran kecil (yang biasa digunakan untuk lilin aroma terapi), lalu naik ke lantai atas rumah. Duduk di bawah gelapnya malam dikelilingi jemuran sambil minum soda, memandang ke angkasa penuh bintang, sesekali melirik pesawat yang lewat dan memikirkan dia sambil di kepala terputar OST dari Starway to Heaven,”Bogoshipda…bogoshipda…”. Assipa’na.
Seiring berjalan waktu, tidak ada lagi melamun ala-ala model video clip. Tugas sekolah sungguh menyita waktu dan menjadi prioritas utama. Membuyarkan rasa kasmaran dan aktivitas buang-buang waktu yang saya nikmati.
L-U-P-U-S.
Lupakan. Urusan. Pacaran. Utamakan. Sekolah.
Itu pengingat yang tertempel di dinding atas meja belajar. Disampingnya ada Foto Iker Casillas dengan tangan memberi arahan dengan mulut terbuka seolah berteriak ke saya,”Wee, kau! jammeko calleda, belajar meko saja!”.
Di bawah Casillas ada om Keanu Reaves dengan tatapan kebapakannya seolah berkata,”Sekolah meko baek-baek Nak!”. Nyatanya, galau saya tidak ada artinya dibandingkan pengorbanan orang tua bekerja keras menyekolahkan saya. Dari pagi hingga petang. Dari dhuha sampai Ashar. Dari senin hingga sabtu. So, untuk Dia, bye love. Ehh…
***
Selama bertahun-tahun (biar terkesan dramatis), hanya secuil kabar yang saya dapatkan tentang dia, sisanya hanya dia, keluarganya, teman dekatnya, dan Tuhan yang tahu. Saya tidak tahu harus bertanya spesifik ke siapa, jadi ketika bertemu teman lama, terkadang saya menyisipkan pertanyaan tentang dia, siapa tau ada teman yang tahu kabarnya. Semacam bertanya sepintas lalu, agar supaya tidak terlalu nampak bahwa saya mencari dan rindu, sebab…
You are still in my mind
***
“Jodoh pasti bertemu”, begitu kata Afgan.
Karena sudah putus kontak 13 tahun lalu tapi masih memikirkan dia, saya membentengi diri dengan lagu Afgan tersebut. Untuk menguatkan diri sendiri. Kalau memang jodoh mau bagaimanapun pasti akan bertemu. Pasti. Sepasti akan datangnya hari pembalasan. Dalam pikiran, selain mungkin optismisme macam itu, juga muncul pesimisme macam ini,”kalau misalnya kami berjodoh, apakah kami akan bisa hidup bersama dan happily ever after seperti dalam dongeng?”. Jawabannya tentu tidak, karena hidup bukan fiksi walaupun penuh drama dan banyak rasa. Apalagi keyakinan terkuat saya bahwa kami cocok hanya gegara kami pernah satu tim ujian praktik dan kami berhasil one shoot. Keyakinan yang tidak ada bukti ilmiahnya sama sekali. Mungkin untuk saya, Dia cukup. Beruntungnya dia. Sebaliknya, saya tidak punya kendali atas pikiran dan perasaan dia. So, Dia ke saya? itu urusan dia. Emang Gue Pikirin. Masalahnya…
Like my tangled hair after waking up
My days are messed up, take responsibility!
My face pretending to be happy
I’m still responsible for all you traces
– BtoB (Missing you)
***
Setelah komunikasi terakhir saya dengan Dia yang putus dipinggir jalan, saya merasa ini saat yang tepat untuk kembali memulai sebuah percakapan dengan dia. Saya ingat, saat itu bulan puasa, ada acara reuni. Biasa dong bulan puasa identik wacana Bukber (Buka Bareng), dan dari menyusun wacana itu, saya mendapatkan kontak Dia. Asyik.
Dengan penuh keyakinan, setelah sedikit meragu sebelumnya, saya pun memutuskan untuk mengirimkan dia pesan singkat. SMS. Saya kirim dan pasrah saja, dibalas atau tidaknya. Ehh…pesan saya dibalas. Alhamdulillah, tidak sia-sia sudah daftar sms gratis. Tunggu 15 menit dulu sebelum balas, biar tidak terkesan penuh semangat. Saya sadar bahwa kasih saya bukan kasih Ibu yang hanya memberi tak harap kembali, jadi saya balas pesannya dengan harapan dibalas kembali. Namun, sampai kabar ini diturunkan, pesan itu tidak pernah dibalas lagi pemirsa. Bonus sms gratis yang masih banyak dialihkan untuk tujuan send all info reuni sajalah, biar bermanfaat.
***
Saya haturkan rasa terima kasih kepada innovator-inovator yang telah mendedikasikan diri dan waktunya untuk kemaslahatan umat manusia, salah satunya karena hadirnya berbagai macam wadah-wadah digital yang menjadi media pemersatu bangsa, mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat, meningkatkan kecurigaan dan rasa ingin tahu, membuat kita mendapatkan beragam informasi (diinginkan pun tidak), merajalelanya hoax, menciptakan peperangan dalam bentuk lebih modern dan santai tapi lebih berbahaya, serta mempertemukan kembali orang-orang yang sudah lama tidak saling menyapa. Ada facebook, twitter, whatsapp, instagram dan banyak lagi. Sebut saja sendiri. Sungguh memperlancar silarutahmi tak berbatas. Yang terbatas kadang cuman kuota dan sinyal dibeberapa tempat. Belum lagi juga mendorong peningkatan perilaku konsumtif masyarakat dengan beragam online shop dengan berbagai penawaran menarik. Yah, saya doakan innovator-inovator ini mendapatkan ganjaran yang setimpal atas perbuatannya. Aamiin. Sekadar intermezzo guysss…
***
Salah satu wadah digital itu bernama Instagram. Media sosial yang seolah kekurangan orang susah, tapi memicu menjamurnya perilaku sirik dan otoriter atas jiwa orang lain. Kalau Instagram ini negara, mungkin akan dinobatkan sebagai negara dengan orang terkaya dan terbahagia di dunia. Mungkin. Di luar dari itu, aplikasi ini yang kemudian menyadarkan saya untuk berhenti. Berhenti dari harapan kosong yang saya jalani selama ini.
Kisahnya begini…
Suatu hari saya membuka instagram. Ketika itu status saya masih menjadi pengguna aktif. Aktif melihat postingan orang-orang dan story teman-teman yang terlihat seru dan menyenangkan. Semoga kenyataannya seperti itu. Kemudian, tibalah pada suatu postingan. Saya kaget dong. Kaget-kaget bahagia. Saya menemukan Dia. Diposting oleh seorang teman. Foto ramai-ramai. Ada captionnya, “Selamat yah guys, lancar-lancar kelahirannya nanti #soontobeparents #firstborn”. Acara 7 bulanan.
“Selama jalur kuning belum melengkung, kamu masih bisa nikung”
– Film Uang Panai’
Kutipan film diatas nampaknya tidak berlaku untuk saya. Pertama, saya tidak hobi balapan. Kedua, saya pengendara taat aturan dan tertib berlalu-lintas, tidak tertarik tikung-menikung, Nenek bilang itu berbahaya. Ketiga, Indonesia punya sekitar 260an juta penduduk (ini belum ditambah warga dunia lainnya) dan kamu lebih memilih menikung? Come on man!
Bukan instagramer namanya kalau keponya tidak bercabang. Saya penasaran dong, siapa yang #soontobeparents? Saya kira semua orang di dunia adalah pintar dan sudah bisa menebak siapa calon orang tua si dedek bayi, termasuk saya. Cuma, hati kecil masih berharap lain. Siapa tau salah. Toh manusia tidak ada yang sempurna. Tapi setelah selidik punya selidik, ditemukanlah fakta yang jelas secara pasti dan meyakinkan bahwa Dia telah sah jadi calon orang tua. Sebagai teman, tentunya dari lubuk hati terdalam saya mengucapkan “Selamat yah! Lancar-lancar kelahiran #firstborn-nya dan semoga kelak anaknya jadi anak sholeh bila laki-laki dan sholehah bila perempuan, Aamiin”. Hmm…
Setelah mengetahui kebenaran itu, sudah sangat jelas pula disini bahwa kutipan film diatas itu tidak berlaku untuk saya. Maaf. Ini bukan soal tikung-menikung, tapi lebih kepada karena jalurnya sudah ditutup, janur kuningnya sudah melengkung jauh-jauh hari sebelumnya. Ibarat gang, ini bukan gang kelinci lagi, tapi lebih kepada gang buntu. Kalau ada point yang keempat mungkin ini: Apa yang sudah dipersatukan Tuhan, tidak boleh diceraikan Manusia. Menikung saja sudah tidak ada kesempatan, apalagi memiliki. Kata bang Mandra,”rasain tuh!”.
Oke. Jadi…yah, sebenarnya kesempatan saya sudah tertutup dari jauh-jauh hari dan baru sadar ketika melihat postingan itu. Saya lemas. Tetap berdaya, tapi tidak berfungsi maksimal. Saya kepikiran terus, waktu ituuu. Serius. Kalau tidak percaya, tanya sama nyamuk-nyamuk yang tiap malam menghibur saya, tanya langit malam yang jadi gelap gulita untuk menambah kesan suram pada perasaan ini, tanya lantai dan dinding kamar mandi yang saya sikat untuk menyibukkan diri tiap kepikiran dia. Tanya saja. Mereka sama seperti bulan, kalau bisa ngomong pasti tak akan bohong. Tapi saya sih kaget kalau mereka bisa jawab. Kalau bisa, sekalian tanya pada tukang service handphone berapa harga untuk ganti LCD retak, soalnya handphone saya layarnya retak. Bukan. Bukan retak karena dilempar sebab tidak bisa menerima kenyataan, tapi karena jatuh tidak sengaja. Serius, tidak sengaja.
I spend a day as usual
I don’t feel awkward being alone
I thought I can’t live without you but I just live like this
But I feel empty I think I’m still there
– BtoB (Missing you)
***
Menunggu. Percaya atau tidak, saya melakukan aktivitas semu ini selama 13 tahun. Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar menunggu seseorang, dan bodohnya ini saya lakukan dengan keyakinan ”jodoh pasti bertemu” itu tadi. Nyatanya itu tidak terjadi dan tidak akan pernah terjadi. Yang lebih bodoh lagi nih yah-ini saya beri tahu-selama 13 tahun saya memikirkan dan menunggu, ternyata selama 13 tahun pula orang ini melupakan dan tidak peduli dengan saya. Kami sama-sama menjalani hidup masing-masing. Bedanya dia terpatri di hati saya, tapi tidak sebaliknya. Jadi, selama 13 tahun ini, yang terjadi adalah hanya rindu dan harapan sepihak. Tapi saya tidak menyesal. Tidak merasa rugi. Tidak sama sekali. Toh, langit masih biru, bunga tetap layu, dan bumi tetap berputar meski harapan tetap hanya jadi angan. Ingat! bumi bulat yah guys, bukan datar.
Saya baik-baik saja sekarang. Sungguh. Jangan khawatir. Saya teringat bahwa ternyata masih banyak perihal mendebarkan, mengejutkan dan yang jauh lebih sulit yang sudah saya lewati dalam 13 tahun ini. Fakta mencengangkan ini bukan satu-satunya. Nomor tiga bikin geleng-geleng. Eh, click bait kapang, hahaha (mencoba bahagia).
Terakhir, mengutip lirik terakhir lagu BtoB:
If I spend a day forgetting you
If I spend a year removing you
I just live like this
I miss you and miss you
– BtoB (Missing you)
Kalau Dia membaca ini, kemungkinan Dia akan membalas dengan mengutip lirik lagu dari Clean Bandit:
Pertemuan yang terjadi sejak 16 tahun lalu masih membekas dalam jiwa. Masih terngiang jelas saat pertama kali saya mencari ruangan saya melalui daftar nama alias absensi yang tertempel di tiap-tiap pintu ruangan lantai dua. Dan kemudian mendapati nama saya tertera di ruangan paling ujung sebelah kanan gedung, sebelah kanan tangga. Nama saya tertera di urutan 36. Lega, karena saya sudah jelas akan berada disini untuk tiga tahun ke depan.
Saya memasuki sebuah ruangan baru dan bertemu dengan wajah-wajah baru nan asing setelah enam tahun bertemu dengan wajah yang sama setiap hari. Saya melewati papan tulis, masuk ke lorong ke dua deretan bangku ketiga-dari pintu saya masuk-dan mendapati sebuah bangku kosong di baris keempat.
Sudah ada orang yang duduk di sana, dan saya bertanya apakah ada seseorang yang menempati tempat kosong disampingnya, dan dengan ramah gadis berikat rambut itu menjawab,”tidak”. Saya pun meminta izin untuk mengisi kekosongan itu.
Semua tampak asing di sana. Beberapa orang berlalu lalang keluar-masuk kelas, sampai datang beberapa orang yang mengaku-dan memang-sebagai kakak Pembina, hahaha. Mereka adalah orang-orang yang akan membimbing sekaligus akan memberitahukan hal-hal aneh yang harus kami lakukan untuk beberapa hari ke depan. Hal aneh itu adalah mengikat rambut dengan pita berwarna biru, membawa tas dari kantong plastik besar berwarna merah dan hal aneh lainnya yang sudah terlupakan.
Tapi diantara itu semua, hal yang tidak akan pernah saya lupakan adalah saat saya bertemu dengan orang ini untuk pertama kalinya. Dia. Ya, Dia. Orang yang sejak hari itu sampai hari ini terus terbayang di benak saya dan tak ingin beranjak. Hmm, mungkin dia sudah lama ingin beranjak, tapi saya menahannya. Setidaknya itu yang terjadi dalam pikiran saya. Raganya sudah melanglang entah kemana, tapi bayang wajah, senyum, tawa, tulisan tangan, tingkah laku serta tindak tanduknya masih terngiang di benak saya.
My mind hasn’t changed, I still want you
Even after years, I still miss you
I still remember when I first met you
Your clothes and hair style correctly
– BtoB (Missing you)
Kami sudah tidak bertemu sejak 13 tahun lalu. Tidak pula saling berkomunikasi lewat media apapun juga. Padahal ada banyak wadah yang bisa digunakan untuk kembali menjalin komunikasi, tapi anehnya saya tidak memilih satu pun. Jujur, yang saya inginkan adalah kami bisa akrab kembali secara penuh, seperti dulunya kami. Jauh dalam lubuk hati, saya selalu berharap dan menantikan hari dimana saya bisa bertemu dengan Dia lagi, walau itu hanya sebatas saling tegur sapa atau kalau memungkinkan dapat saling bertukar cerita sedikit tentang kehidupan saat ini. Sayangnya, sampai sekarang kesempatan itu tak kunjung datang.
I pray for you every night and day
I hope that someday soon
I can see you once again
You are still in my mind
– BtoB (Missing you)
Dia adalah orang pertama pada waktu itu yang menurut saya sangat nyambung dengan saya. Kami selalu ngobrol saat istirahat. Diskusi soal pelajaran. Membahas banyak hal, mulai dari film, musik, gosip artis, olahraga sampai smackdown. Bayangkan betapa serunya. Hal yang saya paling kagumi dari orang ini selain kepintarannya, juga kesabarannya. Saya tidak pernah sedikitpun liat keresahan, kesedihan bahkan rona kesulitan hidup hinggap diwajahnya. Saya sendiri bahkan baru bisa melupakan kesulitan hidup sejenak ketika makan coto. Semacam dopping. Dia tidak loh. Natural banget. Selain mungkin dia memang anaknya ceria, juga karena kami masih belia saat itu. Masalah hidup belum banyak mengusik pikiran, yah paling cuma resah karena pekerjaan rumah. Dia tipe orang yang menyenangkan dan mudah akrab dengan semua orang. Satu lagi, jago olahraga. Dia seorang Gooner, guys. Penyebab utama saya jadi suka Arsenal, hahaha.
Mungkin Dia tidak sadar dan saya rasa tidak akan pernah sadar bahwa dia membawa sangat banyak perubahan besar dalam hidup saya. Dia punya andil besar terhadap bagaimana saya menentukan arah kebijakan dalam hidup saya. Reformasi Indonesia terjadi pada tahun 1998. Reformasi dalam diri saya terjadi sejak saya bertemu Dia, enam belas tahun lalu. Saya berubah menjadi pembelajar aktif. Tiap malam. Dari jam 8 sampai jam 10 kadang sampai jam 11. Ditemani siaran radio, entah itu Venus FM, entah itu Delta FM, entah itu Gamasi FM, entah itu Radio Mahasiswa. Semua pasti tahu sendirilah rasanya tidur larut malam tapi besoknya masuk pagi. Mengantuk.
Lalu…
Saya yang sebelumnya lebih minat pada drama korea Sassy Girl Chun Hyang-tidak ada minat menuntut ilmu- alhasil menjadi suka belajar. Saya yang tidak pernah membayangkan dalam hidup saya bisa menyelesaikan soal fisika, semenjak itu jadi menikmati fisika. Langsung sayang dengan rumus F = w/s. Gaya sama dengan usaha dibagi jarak. Langsung posesif untuk tahu nama-nama penemu-sampai hapal bahwa penemu barometer adalah Evangelista Torricelli-dan langsung menjadikan Marie Curie sebagai panutan hidup. Yang pertama tetap Mariana Renata. Tabe’, Ma-ri-a-na Re-na-ta BUKAN Ma-ri-a Re-na-ta. Tanda seru tiga kali.
Terus…
Saya yang sebelumnya tiap membaca pasti mengantuk dan berakhir ketiduran, menjadi senang membaca buku. Buku fiksi pertama yang saya baca dalam hidup saya adalah novel Dealova dengan tebal sekitar 304 halaman yang saya tamatkan dalam waktu seminggu. Itu luar biasa menurut saya. Kakak saya, menyelesaikan novel Harry Potter dengan tebal sekitar 1000 lebih halaman hanya dalam waktu satu malam. Mungkin dia terinspirasi kisah Sangkuriang yang dituntut menyelesaikan Tangkuban Perahu dalam semalam, tapi dugaan saya lebih kepada karena itu buku pinjaman, jadi harus dituntaskan segera. Anda bayangkan, betapa jomplangnya kecepatan membaca saya dan kakak saya. Membuat kita jadi tahu siapa yang beginner, siapa yang expert.
Ditambah…
Saya yang saat itu tidak mengetahui minat saya, menjadi sadar bahwa saya sangat tertarik pada bahasa dan sejarah. Timbullah semangat baca tentang sejarah kerajaan Hindu-Budha di Indonesia. Jadi tahu bahwa Kerajaan Kutai merupakan kerajaan Hindu-Budha pertama dan tertua. Jadi kepo tentang kisah cinta segitiga antara Ken Arok, Ken Dedes dan Tunggul Ametung. Jadi tahu bahwa ternyata Candi Borobudur dan Candi Prambanan berasal dari kerajaan yang sama tapi oleh Dinasti yang berbeda. Candi Borobudur untuk agama Budha, sedangkan Prambanan untuk agama Hindu. Saya yang sebelumnya sering ragu mengangkat tangan untuk menjawab, entah mengapa jadi berani mengacung dan menjawab di kelas.
“Kerajaan Sriwijaya”, kata saya dengan lantang, mantap dan tegas menjawab soal kuis dari guru sejarah pada waktu itu dengan wajah sok cool dibalik rasa bangga. Kepada diriku saat itu, saya cuma ingin bilang,”biasa meko kapeng”, hahaha.
Kemudian…
Saya yang sebelumnya lemah di matematika kemudian termotivasi untuk menaklukkan matematika, walaupun akhirnya tidak sanggup juga. Matematika ada untuk diselesaikan Say, bukan untuk ditaklukkan. Semua saya lakukan secara sadar dan meyakinkan. Tidak dibawah tekanan apapun, apalagi karena tekanan rasa cinta. Sorry yah, saya bukan kontestan Indonesian Idol yang melakukan semuanya karena cinta. Saya lakukan bukan untuk Dia. Saya lakukan semuanya murni untuk saya sendiri. Dari saya, oleh saya, dan untuk saya. Ini negara demokrasi bung! Trigger-nya dari Dia tapi.
Waktu itu istilah “memantaskan diri” belum begitu popular atau bahkan belum ada. Saya dan kawan-kawan masih piyik guys, masalah terbesar hidup saya saat itu adalah pekerjaan rumah, utamanya Matematika, bukan asmara. Boro-boro untuk “memantaskan diri” biar sederajat duduk dipelaminan, menyelesaikan PR saja kadang baru dilakukan pagi hari sebelum jam pertama dimulai. Ini mau sok-sok demi cinta, preeet.
***
“Roda-roda terus berputar, tanda masih ada hidup. Karena dunia belum henti berputar melingkat searah”.
– Benny Soebardja (Apatis)
Hidup tak selamanya mulus, begitupun hubungan antar manusia. Berputar seperti roda. Kadang akur, kadang bergesek. Saya dan dia pun demikian. Tiga tahun kebersamaan mau tidak mau harus dipisahkan oleh keadaan. Kami masih harus menjalani hidup lagi, bisa ditempat yang sama, bisa juga ditempat yang berbeda. Saya dan dia di tempat yang berbeda. Mungkin ini lebih ke pegas yah daripada roda. Bedanya pegas masih ada rapat-renggangnya, hubungan kami murni terputus karena keadaan. Tidak ada perselisihan. Sama sekali tidak ada. Yang ada hanya hubungan tidak saling kenal yang menjadi akrab, kemudian dekat, lalu renggang, lebih jauh, makin jauh, dan akhirnya pisah. Tidak disengaja seperti benang antara layangan satu dengan layangan lainnya yang sengaja digesek biar ada yang putus. Satu lagi. Tidak ada istilah silaturahmi.
***
Hubungan kami berakhir seiring dengan berakhirnya sambungan telepon terakhir yang saya mulai. Iya, saya yang mulai dengan niat agar silaturahmi tidak terputus. Sebab saya gelisah. Saya ingin mengobrol dengan dia tentang banyak hal lagi seperti yang lalu-lalu. Itu panggilan terakhir untuk Dia, dari saya. Istilahnya “dimulai dari telepon, diakhiri dari telepon”. Pasalnya percakapan kami enam belas tahun lalu juga dimulai dari telepon. Maklumlah, jaman dulu belum ada handphone.
Pada pembicaraan terakhir melalui telepon itu, dengan jelas saya mendengar suara keresahan, keengganan, keacuhan, dan keterpaksaan untuk berbicara dengan saya. Hal yang selama ini tidak pernah nampak atau mungkin nampak tapi saya tidak sadari. Maklum, perasaan membutakan segalanya. Ngek. Namun, sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak akan pernah memulai komunikasi lagi dengan dia, apapun itu, kecuali dia terlebih dahulu memulai. Pasif? Pasrah? Gengsi? Terserah orang memandang apa, yang jelas saya tidak mau orang lain terpaksa harus berhubungan dengan saya, semuanya harus dimulai dari hati, dari diri sendiri.
Hal itu pula yang kemudian saya terapkan dalam bermedia sosial. Bukan karena gengsi saya tidak meng-add pun mem-follow duluan. Saya berpikir, kalau siapapun mau menjadi teman saya, pasti dia akan menambahkan saya di dalam hidupnya, ehh… maksudnya di media sosialnya, dan pasti saya akan menerima dengan senang hati. Pasti. Ketik “add” atau “follow” gampang kok. Tinggal klik, sudah.
Yang susah adalah menerima kenyataan tidak diterima. Saya hanya takut kecewa kalau-kalau saya ingin berteman dengan seseorang, tapi si orang tersebut ternyata tidak menghendaki hal yang sama. Soalnya orang seperti ini ada. Oleh karena itu saya tidak mau berharap banyak. Ekspektasi tinggi seringnya berakhir kecewa, teman-teman. Yang terpenting sih, kalau berharap jangan ketinggian, biar kalau jatuh tidak terlalu sakit. Atau sekalian saja jangan berharap pada manusia, soalnya manusia punya rasa, bisa sakit dan menyakiti, bisa kecewa dan mengecewakan. Tuhan juga kadang memberi berbagai rasa, termasuk kecewa, tapi setidaknya Tuhan tahu mana yang terbaik untuk umat-Nya. Dan yang terbaik untuk saya mungkin bukan dia, begitupun sebaliknya. Mungkin iya, mungkin tidak. Saya sungguh tidak ada niatan untuk berharap banyak, tapi entah mengapa…
Lagi-lagi rindu. Rindu lagi-lagi. Lagi dikali lagi, jadi berkali-kali. Berkali-kali rindu.
Intinya, saya sedang rindu nih (Hazeek!).
My life is incomplete. It’s missing you…
– BtoB (Missing you)
***
Saya menulis ini sembari memutar sebuah lagu dari Born to Beat (BtoB) berjudul Show Your Love. Iseng saja saya memilih lagu ini sebab pernah dengar sekali dan suka. Setelah itu lagu kedua mengalun, terdengar intro suara piano yang membuat saya menghentikan ketikan saya dan mengecek sekilas lagu siapa gerangan itu, ternyata masih lagu dari BtoB, tapi saya tidak memperhatikan judulnya. Ok, saya lanjutkan menulis sambil mendengar lagu itu, dan ternyata juga bagus. Setelahnya itu lagu selanjutnya dan selanjutnya masih dari BtoB dan seketika saya menyadari ternyata lagu mereka easy listening. Mengingatkan pada lagu-lagu dari boyband barat lawas.
Hal baik janganlah disimpan sendiri-harus dibagi-maka saya pun membagikan lagu Show Your Love dengan tambahan “lagu BtoB bagus-bagus ternyata”. Keesokan harinya saya mendapatkan direct message (DM) dari seorang teman yang cukup banyak memberi pencerahan seputar lagu korea kekinian dan menyarankan saya mendengar Missing You-nya BtoB. Katanya lirik lagunya dalam. Saya ikuti. Saya buka youtube dan memutar Missing You dari BtoB itu. Ternyata, lagu dengan intro piano yang membuat saya terpanah semalam berjudul Missing You. Saya pun menonton MVnya sambil membaca arti liriknya. Tertegun aku terheran-heran kemudian. Pasalnya lirik lagunya menggambarkan pikiran dan perasaan saya selama ini. Kalau ibarat drama korea, lagu Missing You-nya BtoB adalah soundtrack nyata hidupku. Peciisssss. Mengapa demikian? langsung saja kita saksikan di T.K.P.
***
Di suatu sore dengan sengaja saya menerima telepon dari seseorang. Untuk yang kenal saya pasti paham bahwa saya “text person” bukan “call center”. Saya lebih suka komunikasi secara tulisan atau chat dibanding telponan, karena (1) telepon bikin telinga panas, (2) saya bisa fokus kembali melakukan hal lain setelah membalas chat, dan (3) dengan chat saya punya waktu untuk mencerna dan membalas pesan dengan baik. Tapi, karena sore itu saya lowong, jadi dengan penuh kesadaran saya menerima telepon itu.
Pos samping rumah pak polisi menjadi saksi pembicaraan kami. Mengapa di sana? Jelas, karena cuma di sana sinyal yang kuat. Pos itu tepat berada di seberang rumah kakak saya dan diantaranya bukan jalan raya-hanya jalan kompleks biasa-jadi aman.
Pembahasan kami dimulai dari film, lalu beralih ke pertanyaan seputar hal pribadi yang beberapa jawabannya dapat ditemukan di kartu keluarga. Orang ini terus berusaha menggali saya dan saya pun menjawab seperlunya. Ketika merasa jawaban saya kurang memuaskan atau saya menolak untuk menjawab pertanyaannya, orang ini menggunakan teknik call back-melewati pertanyaan yang saya skip, untuk akhirnya dia menanyakan hal itu kembali ketika ada kesempatan-dengan harapan saya akan keceplosan menjawabnya. Sayangnya, sampai komunikasi kami terputus, dia tidak mendapatkan jawaban yang diharapakannya. Pesan moralnya: jangan berharap pada manusia kalau tidak mau terlalu kecewa.
Dari semua pertanyaan yang dia lontarkan seperti tim HRD kepada saya, ada satu pertanyaan yang terngiang-ngiang di kepala saya, pertanyaan soal asmara. Acikeee. Jadi, ketika saya mengatakan bahwa saya tidak pernah terlibat hubungan asmara dengan siapapun, orang ini kaget dan mengira saya bohong.
Saya bilang,”terserah, tapi saya jawab jujur”.
Dia bertanya lebay,”kenapa???”.
“Hmm...mungkin karena saya menunggu seseorang”, saya jawab singkat.
“Cerita… cerita…”, dia mendorong.
“Hmm, jadi begini, ada orang yang saya suka dari 16 tahun lalu dan sampai hari ini saya masih suka”, sekian.
“Oh no way. Serius?”, dia kaget.
“Ia, serius. Serius milyar rupiah malah. Ini orang tipeku sekali. Ibarat dasar negara, ini orang Pancasila sekaligus UUD-nya”, kata saya.
“Terus ini orang sekarang dimana?”, dia berusaha tenang.
“Tidak tahu. Sudah 13 tahun saya tidak ketemu. Saya juga sudah tidak tahu kabarnya sekarang”, saya menjawab santai.
“Heh? Terus… terus kenapa menunggu orang yang sudah tidak pernah ditemui dan bahkan tidak diketahui kabarnya? Saya yakin selama 12 tahun banyak yang bisa gantikan dia”, katanya.
“Betul, selama 12 tahun saya ketemu banyak orang tentu saja, tapi seperti yang saya bilang tadi, ini orang ibarat Pancasila sekaligus UUD. Dengan kata lain, sebuah pedoman. Saya selalu berpedoman dan mencari sosok yang sesuai dengan orang ini di tiap kandidat yang dirasa bisa menggantikan dan saya belum menemukan. Karena belum ketemu, ya sudah, berarti belum waktunya”, saya jelaskan.
“Oh my God. Kalau begitu cara kerjanya, maka akan lebih rumit jalan ceritanya. Kamu hanya akan selalu berakhir membandingkan dia dengan kandidat yang ada, dan tentunya akan sulit dapat kandidat yang sesuai seperti dia, karena dia cuma satu. Ini mah bukan susah move on, tapi memang tidak mau move on. Kamu terbelunggu oleh bayang-bayang orang yang bahkan kamu tidak tahu kepastiannya. Saran saya, sebaiknya kamu lebih membuka diri terhadap kemungkinan-kemungkinan yang datang. Tidak ada ruginya mencoba hal baru”, katanya dengan bijak.
“Yah, mau bagaimana lagi, namanya perasaan”, saya menanggapi sambil dalam hati berpikir,“Iya sih, betul juga”.
Percakapan sore itu kemudian membuat pikiran saya kembali mengembara ke masa lalu. Masa ketika saya bertemu, mengenal dan akhirnya putus kontak dengan seseorang yang dibicarakan dalam percakapan di atas. Seseorang itu kita sebut saja Dia.
***
Saya pertama kali bertemu dengan Dia 16 tahun lalu, tepatnya 2005 dan kita berpisah 3 tahun kemudian dan tidak pernah berjumpa lagi setelahnya. Kontak terakhir kami saya lakukan di pinggir jalan. Terdengar drama memang, tapi faktanya memang di pinggir jalan karena waktu itu sinyal belum sekuat sekarang.
Di pinggir jalan itu saya duduk di tugu perbatasan desa, sendirian dengan hp Nokia 8250 di telinga, sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang dan sesekali diberikan backsound dari klakson oleh supir truk dan bus yang baik hati lagi budiman.
Alasan saya menelpon Dia saat itu bukan karena rindu apalagi karena ingin mendengar suaranya. Bukan. Saya mau bertanya tentang suatu hal yang saya yakin Dia pasti paham. Hmm, ok, sebenarnya saya cuma mau ngobrol, seperti yang dulu kami lakukan, hahaha. Bertanya agar supaya ada bahan yang dibahas saja dan Dia menjelaskan sebaik mungkin, lalu saya membayangkan dan berusaha mengingat penjelasannya juga dengan sebaik mungkin. Sampai suatu ketika dari arah belakang saya tiba-tiba terdengar suara yang memanggil nama saya yang menyebabkan saya berbalik. Ternyata benar nama saya yang dipanggil, dan yang memanggil saya adalah yang punya hp, ibu saya. Panggilan dari ibu saya itu menandai harus berakhirnya pula panggilan telpon saya ke Dia dan itu juga merupakan komunikasi terakhir yang saya dan Dia lakukan. Setelahnya tidak ada lagi. Sampai sekarang.
Mengapa tidak ada komunikasi setelahnya?
Pada komunikasi terakhir kami itu, walaupun saya mendapatkan rasa senang dan pencerahan tentang hal yang saya ingin tanyakan tapi saya merasa tidak sebaliknya dengan lawan bicara saya. Terdengar ada keengganan di sana. Saya merasa Dia tidak ada rasa ingin berbicara dengan saya lagi seperti yang saya rasa-rasa dari mendengar nada suaranya. Entah karena dia sibuk atau apa saya tidak paham. Yang jelas bukan persoalan resah takut pulsa habis ya, karena yang menelpon adalah saya dan yang membayar tagihan pulsa prabayar hp yang saya gunakan adalah ibu saya. Jadi tidak ada masalah soal pulsa, ini soal rasa. Setelah telepon saya akhiri, saat itu pula saya memutuskan untuk mengakhiri juga hubungan silaturahmi antara kami. Yang ini jangan dicontoh yah guys! Hubungan silaturahmi harus tetap diperkuat, jangan sampai putus.
Hari-hari berlalu, tahun-tahun berganti dan sampailah pada hari ini. Semuanya diisi kerinduan akan Dia. Aneh tapi nyata. Apapun yang saya lakukan dan jalani dalam kehidupan saya, selalu merujuk pada Dia. Saya dengar lagu, ingat Dia. Saya lihat dua orang asik ngobrol, jadi ingat Dia. Saya nonton film, eh masih ingat dia. Pokoknya sendi-sendi kehidupan saya selama berpisah tidak lepas dari bayangannya.
I spend a day missing you
I spend a year missing you
I just live like this
I miss you and miss you
– BtoB (Missing you)
Kadang saya menceramahi diri sendiri,”kenapa kamu sibuk merindukan orang yang belum tentu merindukan kamu? Dia entah dimana tetap bahagia dan fokus menjalani kehidupannya tanpa ada kamu didalamnya, dan kamu? Dengan percaya diri merasa galau dan memikirkan Dia selama bertahun-tahun non-stop, tidak capek bund?”
Banyak pertanyaan sulit di dunia ini, bagi saya ini salah satunya. Sampai berita ini diturunkan saya masih belum dapat menjawab pertanyaan mengapa saya tidak bisa berhenti memikirkan Dia walau sudah berkali-kali melayangkan pertanyaan ini ke diri sendiri.
I forget everything and feel relieved
Thinking about the past it’s alright
Makes me find an answer
But becomes a prison locking me up
Time only move forward
I haven’t achieved anything
– BtoB (Missing you)
Ini bund video selengkapnya (Source: https://www.youtube.com)
Perihal yang saya khawatirkan terjadi. Saya jadi terobsesi dengan Blackpink. Awalnya coba-coba, eh jadi keterusan. Apa kira-kira salah dan dosaku hingga kujadi bucin Blackpink? Sungguh, bingung-bingung kumemikirnyaaa…
Mengutip D’ Lloyd, saya memohon…
Oh Tuhan, Berikan petunjuk-Mu,
Untuk kujadikan pegangan hidupku.
Katakan salahku dan apa dosaku, sampai kubegini.
***
Sehari setelah mendengarkan lagu lovesicks girls untuk kali pertama, saya ke bank untuk mengurus buku tabungan. Ketika menunggu antrian di customer service, saya yang biasanya membaca e-book tiap menunggu antrian apapun tetiba tergerak untuk mencari fakta seputar Blackpink. Tiba-tiba saja kepikiran. Maka saya bukalah situs pencarian yang terkenal itu. Hal pertama yang saya ketik adalah ‘siapa leader Blackpink?’. Ternyata mereka tidak ada leader guys. “Unik juga”, batin saya.
Setelahnya adalah membaca fun facts seputar Blackpink. Saya baca semua artikel terkait mereka dan kaget. Saya pikir mereka lebih tua dari saya, ternyata I’m the unnie, hahaha. Anggota tertua adalah Jisoo yang lahir pada 1995, disusul Jennie sebagai kelahiran 1996, lalu Rosé dan Lisa yang lahir pada 1997. Kim Jisoo dan Kim Jennie adalah warga negara Korea, tapi Jennie pernah sekolah lima tahun di New Zealand, makanya pandai bahasa Inggris. Park Chaeyoung dengan nama Inggrisnya Roseanne Park alias Rosé adalah gadis keturunan Korea kelahiran New Zealand yang besar di Australia. Last but not least, Lalisa Manoban yang merupakan orang Thailand sekaligus non Korea pertama yang debut di YG Entertainment.
“Ada yang bisa dibantu?”, seseorang mendatangi saya. Saya yang asyik membaca fakta Blackpink tetiba mengarahkan pandangan ke sumber suara.”Ia, ini saya mau buat tabungan baru”, jawab saya. Sosok mbak yang menghampiri saya kemudian mengambil kartu atm dan buku tabungan saya yang sudah kadaluarsa untuk di cek, dan kembali dengan informasi bahwa saya harus mengurus ulang semuanya. Dalam hati saya,”itulah tujuan utama saya datang ke sini”. Beberapa saat kemudian nomor antrian saya dipanggil, maka majulah saya ke customer service. Akhirnya, setelah dua tahun, saya punya atm dan buku tabungan lagi. Sekadar intermezzo guys…
Dari membaca seputar mereka melalui artikel-artikel yang ada, saya kemudian menonton semua acara yang ada mereka, mulai dari episode ketika Jisoo dan Jennie menjadi bintang tamu di Running Man, kemudian episode ketika Jennie kembali diundang ke Running Man untuk episode Lucky and Unlucky Hand. Setelahnya menonton lagi episode ketika Blackpink menjadi tamu di Running Man untuk pertama kali. Dari situ lalu pindah menonton episode Knowing Brother saat pertama kali Blackpink juga jadi bintang tamu di sana. Ternyata mereka juga punya beberapa reality show yang ditayangkan di channel youtube resmi mereka. Jangan sedih, saya juga nonton. Bahkan variety show “Michuri” Village Survival, the Eight season I yang ada Jennie sebagai salah satu anggota tetapnya, saya tonton. Dari acara tersebut saya jadi tahu bahwa Jennie ini ternyata gadis kota yang tidak pernah ke desa sebelumnya. Bahkan di acara tersebut dia mengaku bahwa itu pertama kalinya dia mengupas kentang. “Kalau mengupas kentang saja dia newbie, apa kabar mengupas salak?”, pikir saya. Dia juga mengaku bahwa itu adalah kali pertama dia memasak nasi yang bukan nasi instan. Baru tahu saya ada nasi instan di dunia, selama ini tahunya hanya beras plastik. But anyway, pokoknya acara-acara yang ada Blackpink saya saksikan.
Ketika pada 25 November saya menonton mereka di Waktu Indonesia Belanja TV Show, setelahnya saya memutuskan menonton film Dokumenter mereka, BLACKPINK: Light Up The Sky. Sutradara memberikan kita gambaran nyata mereka sebagai manusia utuh-bukan sekedar sebagai idola yang terlihat sempurna. Filmnya bagus. Gambarnya bagus. Yang jelas setelah menonton itu, pemahaman dan simpati terhadap Blackpink semakin besar. Saya akan heran sih kalau ada orang yang menjadi atau masih menjadi haters mereka setelah menonton film dokumenter itu.
Dari film kemudian lompat dari satu video ke video lainnya secara simultan. Spontan. Itulah yang saya lakukan. Saya semakin mendalami Blackpink tanpa saya sadari. Tidak direncanakan. Saya heran sendiri dengan diri saya. Tapi sudah kepalang basah, ya sudah, sekalian nyebur saja.
***
Saat itu kebetulan sudah minggu-minggu mendekati masa pergantian tahun, kakak saya memutuskan pulang untuk bertahun baru bersama. Maka jadilah kami bertahun baru bersama-sama.
Suatu siang, ditengah-tengah menonton video kompilasi Blackpink yang dibuat oleh para fansnya, saya bertanya ke kakak saya,”kau tau Blackpink?”
“Iya. Jisoo, Jenni, Rose, sama Lisa toh”, kakak saya.
“Ih, kenapa kau bisa tahu?”, saya heran.
“Karena anggotanya cuma empat orang”, kakak saya menjawab keheranan saya.
“Kau ikuti juga ini Blackpink?”, saya penasaran.
“Tidak”, kakak saya singkat.
“Cantik-cantik tawwa. Bagus-bagus juga lagunya. Waktu kudengar kukira lagunya 2Ne1”, saya.
“Pas dibubarkan 2Ne1, setelah itu debut ini Blackpink”, kakak saya.
“Iya, 2016. Padahal bisa jalan berdua. Kejamnya industri”, kata saya.
“Begitu memang industri hiburan, kalau sudah tidak menarik yah diganti, begitu juga nanti Blackpink”, kakak saya.
“Astaga, miripko ini Jennie, capricorn golongan darah B juga. Beda satu hari tanggal ulang tahunmu, baru suka sekali kaget-kaget juga sama suka akting sok imut, hahaha. Baru kalau bicara kadang sadis juga”, kata saya yang seorang gemini.
“The power of capricorn golda B. Itu Jennie biar tidak make-up cantikji. Itu juga Jisoo cantik, muka-muka pemain drama”, jawab kakak saya yang seorang capricorn.
“Itu juga Lisa cantik, tapi kusuka kalau rambut pendek. Rosé cantikji juga, tapi kukira pertama lebih tua dari Jennie, ternyata seumuran sama Lisa”, jawab saya.
“Ih, lebih cantik itu Lisa pas panjang rambutnya, kalau Rosé kayak jutek-jutek mukanya kalau diam”, kakak saya.
“Iya, tapi intinya cantik semua anggotanya”, saya.
Fakta mengejutkan bahwa 2Ne1 dibubarkan dan ditahun yang sama manajemen mereka ternyata menerbitkan Blackpink, memunculkan asumsi publik bahwa Blackpink ada untuk menggantikan 2Ne1. Hal yang kemudian membuat saya bertanya-tanya akan nasib Blackpink dimasa yang akan datang. Setelah percakapan itu saya melanjutkan menonton video-video tentang Blackpink lainnya, sementara kakak saya melanjutkan menonton film yang sedang dia tonton.
***
Tidak hanya kepo soal tindak-tanduk para anggotanya, saya juga jadi semakin kecanduan lagu-lagu Blackpink. Dari lovesicks girls, secara otomatis youtube kemudian memutarkan lagu kedua dari Blackpink untuk saya. “Blackpink in youwr awriiaaaah”, kata Lisa sambil turun tangga. Saya merasa seperti diintimidasi oleh geng Nero ketika mereka bilang,”How you like that? Heh!”. Lagunya sesangar ekspresi para penyanyinya.
Setelah saya mendengar lagu-lagu lain dari mereka, sejak saat itu saya mulai menjadikan lagu-lagu Blackpink bagian dari kehidupan saya. Semacam soundtrack. Hari-hari yang ‘black’ itu berubah jadi ‘pink’, karena lagu-lagu Blackpink. Sebagai contoh…
Ketika menunggu operasi Mama saya, ada Blackpink di sana turut menemani,”Stay…stay…stay with me”.
Ketika pulang ke rumah dari ketidakpastian, ada Blackpink berteriak,”I’ll kick it if you’re down, kick it if you down”.
Ketika sore tiba dan memutuskan membaca buku di beranda, ada Blackpink juga di sana mengungkapkan keresahannya,”You know, I don’t know what to do, don’t know what to do without youuu”.
Ketika menatap derasnya hujan sambil minum kopi instan, Blackpink juga ikut-ikutan mendukung sendunya suasana,”You’ll never know unless you walk in my shoes… ‘Cause everybody sees what they wanna see, it’s easier to judge me than to believe”.
Ketika Mama saya tidak jadi membeli ikan karena harga yang tidak sepakat, ada Blackpink mengkompori,”See you later boy, see you later. See you later boy, see you later-later… See you later, maybe never”.
Secara keseluruhan lagu Blackpink bagus-bagus, tapi kalau saya mau urutkan, yang menempati lima teratas versi saya antara lain Lovesick Girls, Do know what to do, As If It’s Your Last, You Never Know, dan See you later. Tambahan bonus, Let’s-kill-this-loooveeee...
Waktu pertama kali mendengar lagu yang berjudul ‘As If It’s Your Last’ dan ‘Playing with Fire’ di Spotify saya pikir itu lagu dari 2Ne1, ternyata itu adalah lagu dari Blackpink. Saya dengar kabar katanya lagu ‘As If It’s Your Last’ awalnya dibuat untuk 2Ne1. Saya pikir warna musik 2Ne1 terdengar hampir sama dengan Blackpink, hanya saja dikemas secara berbeda. Lebih segar, muda dan berbahaya.
***
Mulai dari kapan tahu sampai hari ini update dari Blackpink kian membanjiri saya. Mulai dari penundaan konser mereka bertajuk “The Show” yang harusnya Desember tahun lalu diganti ke hari terakhir bulan Januari tahun ini, tentang drama perdana Jisoo, tentang anak adopsi Rosé bernama Hank yang punya akun instagram dengan follower jutaan dalam waktu singkat, tentang Jennie yang membuat kanal youtube pribadi dan mengunggah video pertama tepat di hari ulang tahunnya, tentang Blackpink x BTS yang kembali tampil di Waktu Indonesia Belanja TV Show, tentang kemunculan teaser MV debut solo Rosé yang menggemparkan khalayak dan informasi bahwa dia akan menyanyikan side B dari albumnya di konser “The Show” (salut dengan kinerja tim marketing mereka), tentang Lisa yang akan kembali menjadi mentor tari di sebuah program China, tentang kejulidan netijen terhadap bahasa Inggris Jisoo, tentang nyinyiran kekanak-kanakan yang didapatkan Lisa hanya karena terlambat memposting teaser MV debut solo Rosé (kejulidan yang sungguh tidak perlu) dibanding anggota lainnya, tentang isu rasisme yang tak henti menimpa Lisa, tentang video behind the scene dan geladi dari konser mereka, tentang Rosé yang melakukan live di hari ulang tahunnya untuk menyapa para penggemarnya (beberapa diantara pemirsa live tersebut adalah tipikal yang kalau ditongkrongan suka ‘nggak asyik banget sumpah’), tentang Lisa yang menggemparkan jagat maya akibat ulahnya mengunggah video menari terbaru di kanal youtube-nya (sakit ni orang!), dan hal-hal lainnya tentang Blackpink yang tidak henti-hentinya menghujam hadirin dan hadirat sekalian.
Tak lupa pula saya haturkan bahwa …
Saya menjadi bagian dari jutaan orang yang mengikuti media sosial mereka, satu per satu. Bukan untuk tujuan update apalagi ikut-ikutan ya-pengen saja-sebab jujur pikiran pertama saya setelah melihat postingan mereka di sosial media pasca jadi follower adalah ingin unfollow. Tapi sayangnya tidak saya lakukan, hahaha. “Monoton gilaaa postingannya”, pikir saya. Mana captionnya kadang ada, kadang ada walau singkat dan lebih sering tidak saya mengerti karena tulisan korea. Postingan dan update seru justru saya dapat dari akun-akun penggemar ketika menelusuri bagian penjelajahan-sebelumnya banyak diisi postingan tentang Han Ji Pyeong-yang kini berubah jadi sarang postingan seputar Blackpink.
Saya masih menyimpan tanya,”mengapa terlintas pemikiran kreatif dalam diri “semesta” untuk menghadirkan dan mendorong Blackpink menemani hari-hari saya yang penuh hujan deras, jemuran lembab, dan atap bocor? mengapa harus Blackpink? dan mengapa baru setelah empat tahun mereka debut?”.
Ya, semesta memang sering membuat ‘kebetulan-kebetulan’ mengagetkan, begitu pun kepada saya. Tapi apapun itu, sama seperti pikiran saya dibalik adanya pandemi Covid-19 di dunia saat ini, saya yakin kehadiran Blackpink mengisi hari-hari saya juga pasti ada hikmahnya. Semoga saja...
Blackpink pada ulang tahun ke-4 (Source: https://id.pinterest.com)
Pertama dengar kata itu, saya pikir itu judul film, merujuk pada film Pink Panther. Kembali mendengar itu dalam rentan yang cukup lama, saya pikir itu nama sebuah band indie. Kalau tidak salah itu sekitar tahun 2016, waktu dimana saya lagi senang-senangnya mengulik lagu-lagu indie dari berbagai negara dan sedang terkena demam drama Descendant of The Sun dimasa-masa mengerjakan skripsi. Beberapa lama setelahnya kata itu saya dengar lagi-mungkin sekitar tahun 2017-dan saya pikir itu nama sebuah boyband korea. Dalam rentan waktu itu saya hanya berakhir menduga-duga tanpa pernah mencari tahu lebih lanjut apa dan siapa sebenarnya Blackpink ini. Saya hanya fokus ingin jadi sarjana saat itu.
Sampai pada 2018, saya kembali mendengar kata ini digaungkan oleh teman-teman lelaki saya. Blackpink- Rosé-Lisa. Tiga kata itu selalu saya dengar disebut-sebut. Karena tidak paham, maka bertanyalah saya kepada teman saya,“Apa sebenarnya itu Blackpink?”.
“Girlband korea”, senior saya menjawab.
“Oh, girlband, astagaaa… kukira boyband. Yang mana lagunya itu? Berapa orang anggotanya?”, tanya saya.
“Empat orang”, kata seorang teman yang sedang di depan laptop sambil memutarkan lagu dari Blackpink, yang dua tahun kemudian baru saya ketahui berjudul Ddu-du ddu-du.
Untuk saya yang pada masa itu lebih sering terpapar lagu-lagu bernuansa pop ceria yang santai, lagu yang teman saya putar terdengar lumayan keras di telinga saya. Bukan karena lagunya tidak bagus yah, tapi telinga saya butuh adaptasi lama, jadi lagu itu terkesan bising pada saat itu.
“Kenapa bisa terkenal sekali ini girlband? kayak banyak sekali orang selalu sebut-sebut”, saya bertanya heran, tapi bukan untuk maksud meremahkan. Saya heran karena baru sekali itu dengar temen-teman laki-laki saya menggaungkan nama girlband korea dengan sebegitu antusias. Berarti ada sesuatu yang spesial dari Blackpink sendiri.
“Bagus-bagus lagunya, terus cantik-cantik member-nya, baru bisa juga bahasa Inggris”, kata senior saya yang kemudian menyebutkan nama-nama member-nya. Hanya dua nama yang saya ingat saat itu, Rosé dan Lisa. Saya ingat dua nama ini karena selain terdengar Indonesia, saya tiba-tiba ingat tetangga sekaligus ibu teman main saya waktu kecil yang dipanggil Ibu Ros dan juga teman angkatan saya yang bernama Lisa. Saya bertanya lagi untuk memastikan karena saya pikir dia bercanda waktu menyebut nama itu, ”Lisa temanku?”.
“Bukan, Lisa Blackpink. Ada member-nya seksi sekali namanya Lisa”, kata teman saya.
“Rosé saya kusuka”, kata teman yang tadi memutar lagu Blackpink menimpali.
“Dari manajemen mana itu?”, saya kepo.
“Dari YG entertainment”, jawab senior saya.
“Oh, satu manajemen sama Big Bang dong. Pantas begitu musiknya”, kata saya yang kebetulan seorang VIP online.
Awalnya saya pikir anggota Blackpink ini adalah gadis-gadis korea yang pintar bahasa Inggris karena mereka belajar, sebab anggota Big Bang juga seperti itu, seperti G-Dragon dan Taeyang. Mereka belajar bahasa Inggris secara otodidak. Tapi dari jawaban senior saya ternyata saya salah. Tidak, ada dua orang bukan asli Korea. Rosé kayaknya dari Australia.
“Oh, bule ini Rosé?”, tanya saya kaget.
“Bukan. Orang korea tapi dari kecil tinggal di Australia”, kata senior saya.
“Aha, pantas mendunia. Ada anggotanya bukan dari Korea, baru pintar bahasa Inggris juga anggotanya”, kata saya sok tahu.
Dari percakapan saat itu dalam benak saya yang terlintas adalah bahwa untuk menggaet dunia internasional ada baiknya memang tiap member boyband atau girlband korea yang kurang bisa bahasa Inggris untuk semakin belajar bahasa Inggris, setidaknya untuk mempermudah mereka mengutarakan pendapat mereka secara langsung dengan nyaman yah walaupun menggunakan penerjemah tentu bukan hal yang buruk. Semoga maksud saya dipahami. Saya pernah nonton salah satu episode Running Man, bintang tamunya ada anggota boyband bernama Rap Monster (RapMon) yang merupakan leader ditimnya dan dikenal sebagai seorang jenius bahasa karena pintar bahasa Inggris dan ternyata dia belajar secara otodidak. Klu G-Dragon, Taeyang, dan RapMon bisa, yang lain pasti juga bisa, asal mau saja.
Setelahnya tidak ada lagi hal lebih lanjut seputar Blackpink yang saya ketahui. Saya tidak ada minat menggali lebih lanjut karena pada waktu itu saya sedang tenggelam dalam kegiatan saya dan juga merasa masa bakti saya sebagai fangirl sudah habis. Rasanya sudah tidak pantas lagi bagi saya menjadi pemuja member boyband/girlband diumur saya waktu itu, terlebih juga saya sudah tidak mengikuti perkembangan seputar boyband pun girldband korea seperti yang saya dulu intens saya lakukan di masa SMA sampai awal kuliah.
***
Pada pertengahan tahun 2020, saya menghabiskan waktu luang di malam hari dengan menonton salah satu kanal di youtube yang tidak sengaja saya temukan. Sama seperti banyaknya penonton youtube lainnya, ketika sedang menonton saya sambil membaca kolom komentar. Ada satu komentar yang selalu dilayangkan setiap saya menonton di kanal tersebut. “Reaction to Jenlisa Please…”, tulisan di kolom komentar tersebut.
Selain tidak mengerti manfaat video reaction itu apa, saya pun tidak paham Jenlisa itu apa. Saya tidak ada niat sedikitpun untuk mencari tahu. Sampai suatu ketika pemilik kanal yang saya tonton itu-mungkin karena bosan dibombardir permintaan yang sama terus menerus-akhirnya mewujudkan harapan penontonnya yang gigih dan tekun mengirim komentar yang sama di setiap videonya ini.
Akhirnya video reaction Jenlisa hadir di kanal youtube-nya dan saya menonton. Ternyata “Jenlisa” adalah akronim dari Jennie dan Lisa, dua member Blackpink, yang tentunya sama-sama perempuan. Para penggemar pro Jenlisa adalah mereka yang menyukai kedekatan, keakraban dan kemesraan yang ditujukan antara dua member Blackpink ini, malah banyak yang baper sendiri melihat aksi-aksi so sweet diantara keduanya, dan bahkan meyakini hubungan diantara keduanya adalah nyata. “Zaman sudah berubah semakin pesat yah. Progresif dan liberal”, pikir saya.
Saya jadi nostalgia ke masa saya mengidolakan boyband korea. Saya tidak menemukan bentuk shiper-shiper semacam ini. Mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Zaman saya, yang saya tahu hanya para anggota boyband/girlband membuat sebuah video parodi dari drama hits saat itu untuk ditampilkan dalam acara konser mereka. Seperti Big bang yang pernah membuat video parodi dari drama Coffee Prince (2007) dan Secret Garden (2010). Saya tidak ingat ada yang menyoroti dan mengagumi kedekatan antara dua anggota boyband atau girlband dalam satu grup dan baper karenanya. Sekali lagi, mungkin ada, tapi saya tidak tahu.
***
Di tahun yang sama-2020- tepatnya awal November, saya tidak sengaja menonton cuplikan salah satu episode Running Man yang disarankan oleh Youtube. Itu adalah episode ketika para member Running Man sedang mempersiapkan pertunjukkan untuk merayakan ulang tahun mereka ke-9. Kedelapan anggota latihan menari bersama koreografer Lia Kim dengan koreografi yang awalnya nampak mustahil untuk dilakukan tapi akhirnya dapat dieksekusi dengan baik oleh semua anggota RM di atas pangggung. Dari situ saya belajar, apapun yang awalnya terlihat mustahil ternyata kalau dilatih dan diusahakan dengan sungguh-sungguh dan penuh kesabaran pasti akan berbuah manis. Saya menonton semua cuplikan di episode itu berulang-ulang dan mendapati diri juga merinding berulang-ulang.
Beberapa hari kemudian saya disarankan lagi oleh youtube episode Running Man lainnya. Cuplikan episodenya cukup panjang. Para pemain yang dibagi dalam tiga tim harus mengirim satu perwakilannya untuk duduk melantai dan menggunakan bando kucing dengan sensor yang membuat telinganya dapat bergerak naik turun mengikuti rangsangan otak dari penggunanya. Masing-masing perwakilan diberikan kesempatan untuk menggoda para pemain lain agar telinganya bergerak. Pemain yang menang adalah dia dengan jumlah pergerakan telinganya lebih sedikit. Bintang tamu dalam episode tersebut adalah Blackpink, yang saya tahu karena nama itu ada dijudul videonya. Selain episodenya seru dan lucu, itu juga adalah pertama kalinya saya melihat keempat anggota Blackpink. “Oh, inimi Blackpink yang legendaris itu”, pikir saya. Saya pun kemudian menonton episode Blackpink ini secara penuh di VIU.
Dari episode Running Man itu saya menjadi sedikit tahu tentang personel Blackpink. Mereka ternyata sudah dua kali menjadi bintang tamu di Running Man, dan itu adalah kali kedua mereka bertamu sekaligus untuk mempromosikan lagu terbaru yang ada dalam album terbaru mereka. Ternyata mereka baru comeback. Nama dan wajah anggota sekilas saya sudah sedikit tahu, tapi bagaimana suara mereka saya tidak tahu, sebab saya belum pernah mendengar lagu mereka dengan seksama.
***
Pada minggu kedua bulan November, sambil bersiap-siap untuk menemani mama saya ke Rumah Sakit Gigi, saya membuka youtube dengan niat untuk mendengarkan lagu dan melihat video berjudul BLACKPINK-‘Lovesick Girls’ M/V di beranda saya. Saya tidak pernah mendengar lagu Blackpink sebelumnya, jadi bisalah yang ini dicoba. Saya tidak memperhatikan videonya karena sedang berpakaian, hanya mendengar lagunya, tapi spontan melihat ke arah layar ketika sampai pada bait…
Yeah, We were born to be alone, but why we still looking for love?
“Iya juga yah? masuk akal”, pikir saya ketika mendengar lirik tersebut, mengingatkan pada lirik lagu Noah,”tak pernah ku mengerti aku segila ini, aku hidup untukmu, aku mati tanpamu”.
Setelah selesai bersiap, saya memutar kembali video itu karena suka dengan lagunya dan menonton dengan seksama adegan demi adegan sekaligus memperhatikan penampakan anggota Blackpink satu per satu. Oh, ternyata mereka memang pada cantik-cantik semua, pantas jadi idola global. Oh, ternyata Jennie dan Lisa ini bagian Rap. Oh, ternyata pemilik suara yang saya pikir adalah suara Jennie ternyata Rosé. Oh, ternyata pemilik suara yang saya pikir adalah Lisa ternyata adalah Jisoo. Oh, ternyata yang namanya Lisa memang cantik, apalagi dengan rambut pendeknya itu. Lisa sangat cocok dengan model rambut itu, menurut saya yang adalah penggemar telenovela “Cinta Paulina” pada masanya. Saya sangat suka perempuan dengan model rambut pendek lurus sebahu- itu model rambut favorit saya. Memperhatikan wajah Lisa, saya merasa dia mirip seseorang yang biasa saya liat, tapi saya lupa siapa. Ketika kemudian ingat dia mirip siapa saya memutuskan untuk menyimpan ingatan ini untuk diri sendiri. Bahaya kalau diungkap. Nanti saya kena hujat.
Beberapa saat setelahnya, dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Gigi, tiba-tiba mengalun lagu Lovesick girls di radio mobil online yang mengantar kami. “Kok kebetulan sekali? pertanda apa ini?”, benak saya.
***
Dari cuplikan Running Man, lalu menonton MV, youtube kemudian kembali merekomendasikan saya cuplikan acara Knowing Brother yang dimana bintang tamunya sekali lagi, Blackpink. Jelas mereka tampil di sana untuk mempromosikan album terbaru mereka. Saya termasuk penonton Knowing Brother, jadi saya nonton cuplikan itu, ternyata seru, maka saya memutuskan untuk menonton versi lengkapnya di VIU.
Beberapa hari berselang, ketika sedang menonton youtube, tiba-tiba ada iklan Tokopedia muncul dan disitu ada Lisa yang bilang,”… Four more days until Tokopedia Waktu Indonesia Belanja TV Show ”. Setelah melihat itu, entah mengapa saya tiba-tiba merinding. Blackpink akan muncul di acara tersebut, tepatnya pada 25 November. Saya kaget bukan karena Tokopedia berhasil mengundang Blackpink, tapi lebih kepada kok ‘lu lagi lu lagi’. Layaknya sebuah efek domino, Blackpink terus menerus menampakkan pengaruhnya kepada saya tanpa saya sadari.
Kepalang penasaran, empat hari kemudian, saya ikutan menonton Waktu Indonesia Belanja TV Show itu. Ada mas Hansol dan MC Jongnim sebagai pemandu acara. Mereka diwawancara seputar kegiatan mereka selama pandemi dan ditantang bermain games. Permainannya adalah mereka harus menebak judul film berdasarkan clue yang digambar oleh salah satu anggota, yang dalam hal ini dilakukan oleh Rosé. Disitulah perhatian saya kemudian lebih banyak tertuju pada Jisoo dan Rosé, sebab sebelumnya tidak terlalu memperhatikan keduanya.
Ketika melihat Rosé mulai menggambar, seketika dalam benak ini langsung berkata,”aihh, tinggal tunggu waktu saya suka ini orang, tapi sebelum itu mari kita perhatikan yang lain”. Pikiran saya itu muncul bukan karena dia pandai menggambar. Bukan. Tapi karena dia left-handed. Ya, saya suka orang kidal.
Permainan dimulai, clue yang digambar Rosé cukup jelas, dan ketiga anggota lainnya berhasil menjawab pertanyaannya dengan baik. Yang menarik adalah ketika para member berhasil menjawab dengan benar, Rosé berbalik dan bilang ke mereka ‘gomawo yeorobun’ yang artinya terima kasih guys. Saya terkesima ketika dia mengatakan itu, bukan karena merasa itu ditujukan ke saya. Bukan. Saya tidak sepercaya diri itu.
Mengutip kalimat dari buku Pak Parlindungan Marpaung,“Satu kata penting adalah Kita. Dua kata penting adalah Terima Kasih. Tiga kata penting adalah Mari Lakukan Bersama”. Kalimat ‘terima kasih’ memang cuma terdiri dari dua kata, tapi efeknya besar sekali-saya pernah merasakannya. Sayangnya, orang sering tidak sadar akan pentingnya sebuah ‘kata’ dan dampak yang ditimbulkan ketika kata tersebut menjadi sebuah ‘kalimat’ untuk orang lain. Saya yang suka baper akibat efek dahsyat ‘dua kata penting’ tersebut jadi memandang Rosé berbeda sejak itu. Saya dalam hati langsung menghakimi,“Saya kira ini orang jutek, ternyata dia orang yang sopan, baik, dan rendah hati sekali”. Makanya guys, jangan seperti saya. Jangan mudah berasumsi sebelum mengenali.
Hal menarik lainnya yang saya temukan datang dari Jisoo ketika dia mencoba menjawab. Dia menjawab ‘Anpanman’ untuk jawaban ‘Shrek’ dan ‘Eternal Sunshine’ untuk jawaban ‘Thor’. Seketika itu juga saya bilang,”lah, ini orang pasti seumuran sama saya. Dan dia sepertinya juga satu selera dengan saya, menyukai film-film lawas”. Berdasarkan jawaban tersebut-selain juga karena seingat saya, sejak tahu blackpink beberapa minggu, saya jarang mendengar nama Jisoo disebut- maka saya memutuskan untuk suka Jisoo. “Mantap ini orang”, pikir saya.
Ibarat Bom Hiroshima dan Nagasaki (radiasinya dikabarkan masih ada sampai saat ini)-tepatnya setelah bom pertama dijatuhkan-pengaruh Blackpink semakin besar dan mendorong saya mengulik mereka lebih dalam.“Kenapa semesta tiba-tiba membombardir saya dengan berbagai hal seputar Blackpink terus menerus? Apa tujuan dari semua ini?”, kata saya dalam hati bak pesinetron yang sedang monolog sekaligus berharap semoga saya tidak jadi budak cinta. Tidak jadi lovesick girl. Jujur saya takut sekali. Ini sungguh kebetulan yang sangat membingungkan sekaligus meresahkan saya.
Tidak terasa beberapa jam lagi kita akan meninggalkan 2020 yang saya sebut sebagai tahun virtual, pasalnya banyak hal yang biasanya dilakukan secara tatap muka harus dialihkan ke ranah virtual demi keamanan dan keselamatan bersama. Semua karena pandemi.
Awalnya semua tampak biasa, sampai suatu ketika masuklah Corona. Virus Corona atau dikenal dengan nama panggung Covid-19 pertama kali terdeteksi di Wuhan, China pada 2019 akhir, lalu berkembang dan melebarkan sayap ke penjuru dunia. Virus global. Saat banyak negara mengkonfirmasi kasus Covid-19 masuk ke negara mereka pada bulan Januari, Indonesia dengan bangga mengklaim bebas sampai pada Maret 2020 Presiden mengkonfirmasi kasus Covid-19 pertama di Indonesia dengan adanya tiga pasien, yaitu Ibu dan dua puterinya. Setelah banyak pihak menuntut untuk lockdown atau di Indonesia dikenal dengan karantina wilayah, pemerintah memutuskan bahwa kebijakan untuk mengatasi Covid-19 yang berkaitan dengan kesehatan adalah dengan memperkuat pariwisata dan perekonomian. Setelahnya, walaupun banyak yang meragukan covid-19, tapi berbagai tempat dan kegiatan yang melibatkan banyak orang: pusat perbelanjaan, aktivitas sekolah dan perkantoran, berbagai usaha dan aktivitas lainnya dibatasi sementara dengan sebutan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Kota yang biasanya ramai, hiruk pikuk dengan jejeran kendaraan menjadi sepi seperti libur lebaran padahal belum lebaran. Memasuki ramadhan tidak ada terawih, sahur on the road, dan buka puasa bersama yang menjadi ajang reuni seperti tahun-tahun sebelumnya. Semua sendi kehidupan berubah dan lahirlah bentuk adaptasi baru: menggunakan masker, hand sanitizer yang selalu siap sedia, dan jaga jarak.
Penutupan berbagai tempat untuk sementara waktu berdampak pula kepada banyaknya pekerja yang dirumahkan sampai waktu yang tidak ditentukan. Tatap muka atau interaksi antar individu atau kelompok dilakukan dari rumah secara virtual, entah kerja, entah kuliah, entah sekolah bahkan wisuda. Tren sepeda, memelihara tanaman sampai maraknya pencurian pot bunga mencuat. Ya, semua karena pandemi.
Tahun 2020 dibuka dan ditutup dengan berbagai kejadian, ada suka, ada duka, ada luka. Banyak nyawa yang pergi, tenaga kesehatan yang gugur, kondisi ekonomi yang semrawut, hidup yang cukup sulit, dan angka kejadian kasus yang jauh dari kata surut. Semua karena pandemi.
Bagi saya tahun 2020 memang bukan tahun yang baik, tapi juga bukan tahun yang sepenuhnya buruk. Not good, but not really bad. Walaupun ada banyak kesempatan yang hilang dan rencana yang tertunda, tapi disaat yang sama banyak cerita dan kisah yang sebelumnya terlewat kini saya sadari keberadaannya dan fakta-fakta baru yang membuka mata saya. Kalau kata Ost. Sinetron Hikmah,”semua kan ada hikmahnya”. Yup, ini karena pandemi.
Menjelang pergantian tahun angka kejadian Covid-19 terus meningkat, namun demikan harapan agar keadaan menjadi lebih baik tentu selalu dipanjatkan. Walaupun dengan memakai masker membuat kita tidak perlu make-up-an lebih sering tapi menyimak orang bicara dengan lebih jelas secara langsung tentu lebih menyenangkan.
Tetap jaga kesehatan, tetap jaga jarak, dan masker jangan lupa! Semoga kita semua sehat selalu. Aamiin. Sekian. Wassalam.
Yours,
UP
[Ditulis di Makassar, didetik detik terakhir 2020]
Di luar sedang hujan, sedikit membuyarkan kebahagian orang yang sedang membakar uang dalam bentuk petasan. Saya berharap hujan reda, supaya mereka tidak sia-sia.
Beberapa jam lagi menjelang pergantian tahun dan saya di sini memutuskan menulis setelah sebelumnya berbaring menghadap langit-langit rumah yang telah saya dan keluarga diami sejak 2011. Mulai dari saya baru menjadi mahasiswa baru sampai akhirnya telah menyelesaikan sekolah saya. Rumah ini menjadi saksi bisu atas semua yang terjadi. Saya baru sadar telah tinggal di rumah ini hampir 9 tahun, dan dalam kurun waktu tersebut ada banyak hal yang telah terjadi. Kabhi Kushi Kabhi Gham.
Pikiran saya terdorong untuk bernostalgia ke masa lalu. Menggali kembali ingatan akan tahun baru-tahun baru sebelumnya yang saya telah saya lewati. Yang sebagian besar saya lewati di rumah ini.
Tahun baru 2012 adalah tahun baru pertama saya di rumah ini bersama keluarga. Ramai. Ada Mama saya yang sedang sakit saat itu, ada dua kakak saya, ada sepupu-sepupu saya. Saya dan sepupu-kami bertiga- memutuskan membuat terang bulan-sebelumnya kami telah buat beberapa kali- dan seteko teh poci. Saya ingat kami bertiga jalan ke minimarket untuk membeli semua bahan dan lalu membuatnya, dan setelahnya tentu memakannya bersama yang lain. Kakak saya yang satu waktu itu baru pulang tugas dari Rumah Sakit. Membasuh diri dan lalu istirahat. Sepertinya tahun baru tidak begitu spesial untuk dia. Kakak saya yang satu bersama sepupu diajak sepupu yang lain untuk tahun baru di luar. Pergilah dia. Tidak beberapa lama teman sepupu saya datang lagi mengajak sepupu saya yang tadi juga ikut membuat terang bulan untuk tahun baru di luar. Pergilah dia. Tinggal saya dan sepupu saya serta mama dan kakak yang istirahat. Sepupu saya membuka percakapan,”sepertinya dia memang bukan orang yang tahan tinggal di rumah saja”, dan saya mengiyakan.
Tahun baru 2013 masih sama. Ada mama saya, kedua saudara saya, dan ada sepupu saya juga yang seperti tahun sebelumnya juga bertahun baru disini. Dia belum libur kuliah jadi bertahun baru bersama di kota ini. Ada personel baru, seorang keponakan saya. Tapi tidak lama, dia pergi bersama temannya bertahun baru di luar. Dia memang bukan anak rumahan. Kami hanya menghabiskan malam pergantian tahun di rumah saja, dengan makanan berminyak dan minuman bersoda.
Tahun baru 2014 masih sama. Ada mama saya, kedua kakak saya, dan ada sepupu saya juga yang seperti tahun sebelumnya juga bertahun baru disini. Saya pergi membeli sate untuk makan malam dengan sepeda kumbang saya. Nama jepangnya Mamachari Bike.
Tahun baru 2015 sebenarnya seorang teman mengajak untuk bertahun baru di gunung. Tapi saya menolak, karena tahun baru adalah momen yang penting untuk dihabiskan bersama keluarga. Mau sepi pun ramai.
Tahun baru 2016 sedikit berbeda. Tahun ini ada daeng saya yang sedang menjalani rawat jalan. Ada juga tiga sepupu lainnya. Kami membuat nasi kuning dan memakan bersama dimalam tahun baru. Tahun baru termewah yang pernah saya lewati.
Tahun baru 2017 juga ada yang berbeda. Dua keponakan saya telah persiapan masuk perguruan tinggi. Orang tua mereka memutuskan datang dan bertahun baru di sini. Tanggal 31 Desember 2016 bersama mereka saya ke Trans Studio Mall untuk bermain di wahananya. Ternyata biaya masuknya lebih besar karena ada pertunjukkan sirkus. Masuklah kami bermain. Pulangnya kami memesan martabak dan terang bulan dan makan bersama. Tahun baru dengan budget terbesar yang pernah saya keluarkan gegara ke taman bermain. Ya sudahlah yah.
Tahun baru 2018 seperti tahun sebelumnya kembali saya lewati di rumah hanya bersama mama dan kakak saya. Tetap menyenangkan karena musim liburan.
Saya ingat tahun lalu, tahun baru 2019, saya menghabiskan malam pergantian tahun hanya berdua dengan teman saya, di klinik. Itu adalah pertama kalinya saya menghabiskan tahun baru tidak bersama keluarga saya. Rasanya sangat beda, itu hal baru, tapi saya tetap menikmati. Teman lainnya datang beberapa jam setelahnya karena mereka juga menghabiskan malam dengan keluarganya. Teman tersebut membawa banyak makanan dari rumahnya dan kami makan bersama. Yummy.
Tahun baru kali ini saya lewati dengan dua kakak dan mama saya. Yups, hanya kami berempat. Diramaikan dengan dua botol soda, tahu pedas gosong dan onde-onde buatan mama saya, waktu berjalan cepat sekali. Waktu saya kecil, menanti jam 12 sangat amat lama sampai membuat saya jatuh terlelap. Saya ingat dulu berdiri di depan jam dinding dosen teladan-hadiah untuk Om saya dari tempatnya mengajar-berharap segera jam 12 karena saya ingin mendengar kembang api sebelum tertidur, tapi saya kalah oleh rasa kantuk. Sekarang, melirik sedikit, ehh sudah akan jam 12 saja. Dewasa membawa perubahan besar terhadap banyak aspek kehidupan, terutama terhadap pola pikir, pola tidur dan cara melewatkan waktu.
Tahun 2019 memberikan banyak pelajaran, perjalanan dan bermacam perasaan yang sampai pada akhirnya membuat saya berhasil menyelesaikan studi saya. Dan 2020 adalah pertanda untuk memulai lembar baru dengan lebih baik lagi. Senyata-nyatanya kehidupan sudah menunggu saya di depan. Saya harus memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Semoga saya berhasil, dan kalian juga. Aamiin. Sekian. Wassalam
Yours,
UP
[Ditulis di Makassar, 31 Desember 2019, pukul 22.45]
Tiga tahun terakhir, saya merasakan frustasi yang amat sangat. Frustasi itu kemudian tumbuh dan berkembang menjadi depresi yang besar. Depresi itu timbul tenggelam dalam diri saya, menghantui langkah demi langkah yang saya jajaki dari hari ke hari, kemudian saya menyadari, saya merasa hampa. Kosong.
Melihat kembali ke belakang, mengingatkan saya kembali bahwa ada banyak waktu yang berlalu, ada banyak kesempatan yang datang, ada anyak ilmu yang bisa di dapat, tapi terlewatkan begitu saja. Teman-teman pergi satu per satu, mereka telah menemukan pulau impian mereka, sementara saya masih mencari. Dan pada akhirnya saya tidak menemukan apa yang saya cari, karena sesungguhnya saya tidak tahu apa sebenarnya sedang saya cari. Hal ini menambah rasa frustasi. Dan saya merasa menjadi orang paling pecundang di dunia.
Kemudian…
Tidak terasa buku 2017 yang tebal ini akan segera berakhir dan kita akan mulai menjajaki buku selanjutnya. Memasuki lembaran pertama dari 365 halaman yang akan bergulir hari demi hari ke depannya. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tentunya banyak diantara kita telah mempersiapkan berbagai macam resolusi akhir tahun yang sudah dicanangkan dan siap direalisasikan ditahun berikutnya. Dengan penuh semangat dan optimisme tentunya.
Jujur saja, sebenarnya, setiap tahunnya, awal tahun selalu saya mulai dengan rasa antusiasme dan suka cita yang besar, banyak hal yang sudah membludak di kepala dan sudah mendesak untuk segera diwujudkan, tapi pada akhirnya kenyataan seringnya tidak dekat dengan ekspektasi. Walaupun begitu kita tak boleh patah arang dan berputus asa, tetap harus berusaha sebaik-baiknya mungkin.
Seperti halnya sekian banyak orang, saya pun telah mempersiapkan beberapa resolusi dengan iringan do’a agar semuanya bisa terwujud sesuai harapan. Yang diantaranya sebagai berikut:
1) Kembali aktif menulis, kembali aktif membuat tulisan di blog pribadi, tentang apapun, mau itu keresahan, kebahagiaan, kesedihan. Apapun.
2) Membaca lebih banyak buku dari tahun sebelumnya. Tiap tahun saya selalu menargetkan 50 buku/tahun, dan tahun inipun demikian. Semoga bisa tercapai, atau setidaknya lebih banyak dari tahun sebelumnya.
3) Menjadi pribadi yang lebih baik, lebih bersyukur, lebih dewasa, lebih fokus dan lebih bertanggung jawab. Aamiin.
Dan tahun baru itu pun tiba kembali, 2018, tahun yang menawarkan berjuta harapan dan kesempatan untuk diraih, untuk diisi dengan sebaik-baiknya. Maka ada benarnya jika resolusi yang kita buat ini menjadi semacam penunjuk arah perjalanan kita, untuk mengarahkan kita selama 365 hari ke depan agar bisa sampai ke tempat yang kita tuju. Tempat itu berbeda-beda tiap orang, tapi harapan saya kita sampai di sana dengan selamat, bahagia dan penuh rasa syukur. Sekian. Wassalam.
Yours,
UP
[Ditulis di Makassar, 01 Januari 2018, pukul 00.03]
Hatiku tergugah untuk menulis hari ini dikarenakan kemarin nonton Pak Mario di TV. Kemarin pak Mario kedatangan bintang tamu yang kebetulan sekampung sama saya, *drum roll* jeng…jeng…jeng…jengggg… Pak Habibie.
Kebetulan akhir-akhir ini Pak Habibie sering diundang untuk menjadi pembicara di berbagai stasiun, bukan stasiun kereta atau stasiun balapan nah, stasiun TV. Bukan pembicaraan tentang politik, tapi tentang kisah cintanya sama Alm. Bu Ainun yang so sweet sekali. Nda tau itu orang-orang kepo sekali dengan kehidupan percintaannya Pak Habibie. Kenapa ko tawwa semua mau sekali tahu-tahu kisah pribadinya Pak Habibie ?!!!! *ku bela ki Pak.
Yah…mungkin juga terkait dengan sebuah film layar dinding yang ditampilkan perdana ke khalayak ramai pada tanggal duapuluh dua bulan lalu tahun lalu melalu sebuah proyektor disebuah ruangan yang mampu menggemakan sebuah suara ke berbagai sudut dalam ruangan itu atau lebih dikenal dengan nambek “Bioskop”. Siapa sih yang belum nonton film Habibie Ainun??? Bagi yang belum nonton, kata orang-orang yang suka nonton putih abu-abu, euw kampseupay. Tapi saya sih maklum, itu film kan tayang perdana saat orang lagi sibuk-sibuknya belajar untuk ujian, jadi mungkin yang belum nonton belum sempat aja kali. *yang belum nonton, yang dikatai kamseupay, ku bela ko ca’.
Back to film…
Nah…walaupun belum nonton, tapi dari judulnya pasti sudah pada tahu itu film tentang Pak Habibie sama Bu Ainun, walaupun belum tahu jalan ceritanya. Itu film harusnya diputar bulan Februari, yang dimana kebetulan itu bulan dikenal sebagai bulan penuh cinta dan kebetulan filmnya juga bergenre romantis, tapi sayang tidak, karena itu film diputarnya dua bulan lalu. Nggak papalah, yang lalu biarlah berlalu. Disini, tepatnya di lembaran demi lembaran ini, saya bukan mau bahas sinopsisnya itu film. Bukan. Anda salah kalau pikir begitu. Makanya jangan sotta’ !
Nah…dari yang saya dengar lewat suara yang dibawa oleh udara yang keluar dari mulutnya Pak Habibie sendiri, beliau ceritakan secara kronologis kisah cintanya sama Bu Ainun. Saya kebetulan sudah beberapa kali dengar penuturannya di beberapa acara, di channel berbeda. Saking seringnya nonton dan dengar, sampe-sampe saya hapal alurnya. Pak Habibie cerita pake alur campuran dengan setting masa lampau. Janganmi saya cerita sedetail-detailnya nah karena jujur ini sudah malam, orang malam-malam tidur, bukan cerita. Skefo.
Salah satu yang saya dengar kemarin adalah penuturan Pak Habibie diacara Pak Mario. Beliau, dulu, waktu Bu Ainun masih ada, pernah berfirasat dan sangat yakin dengan firasatnya bahwa beliau yang akan lebih dulu meninggalkan dunia yang fana ini dan akan bertemu dengan Sang Pencipta. Hal itu kemudian beliau utarakan kepada Bu Ainun yang waktu itu masih hidup. Ini percakapannya (pake bahasa penulis, tapi sama ji intinya anu…):
“Ainun, sepertinya saya duluan yang akan pergi tinggalkan kamu. Kamu saya tinggal sendiri. Saya duluan yang ketemu Allah. Nanti kita ketemu disana saja”.
“Emang kamu siapa? Tuhan? Yang bisa putuskan itu hanya Allah SWT, bukan kamu”.
“Tapi,,,data statistik mendukung dugaanku. Bapak saya meninggal umur 48, dan ibu saya meninggal umur 70(an). Ayah kamu meninggal umur 80(an) dan ibu kamu meninggal umur (90)an. Dari itu data terlihat bahwa suami lebih dulu dibanding istri. Jadi saya yakin saya duluan yang pergi tinggalkan kamu punya diri.”
Dari percakapan itu kalau kita bawa ke kehidupan nyata adalah kenyataan yang tidak sesuai harapan. Dimana Pak Habibie berharap (dan sangat yakin) bahwa beliau duluan yang pergi, tapi ternyata Allah SWT pupuskan harapannya dan lebih memilih Bu Ainun duluan yang pergi.
Siapa yang mau berani bertanya sama Allah SWT kenapa Bu Ainun yang duluan ? Kenapa Bu Ainun yang naik arisannya? Dan kenapa bukan kalian? Hah? Ada yang berani? Kalau saya sih tidak. Saya tidak mau dan tidak akan mengajukan pertanyaan seperti itu bukan karena saya sadar bahwa saya sama seperti Bu Ainun, kami perempuan, lahir dari perempuan, lahir di Indonesia, dan diciptakan oleh Dzat yang sama, tapi hanya karena saya takut menerima balasan dari-Nya yang isinya dua kata yang sangat menyakitkan, WHY NOT??? Itu kata yang menohok sekali kawan.
Keluar jalur sedikit. Hanya sekitar 5cm. Masih seputar kisah cinta yang dipisahkan oleh ajal, saya teringat sebuah cerita dari seorang kakak sepupu yang hobinya kasih uang ke cici supaya dapat menyewa sepuluh komik tambah novel dan dua CD, bukan Celana Dalam yah, tapi CD film. Dia pernah menceritakan saya sebuah kisah dari sebuah komik yang hampir tidak sama dengan kisahnya Pak Habibie dan Bu Ainun. Bedanya yang dikomik itu masih pacaran, belum menikah, jadi mereka pisahnya saat masih muda. Dan tinggalnya juga di Jepang sana, bukan di Indonesia.
Ceritanya adalah mengenai sepasang muda mudi yang saling mencintai, kita sebut saja si Pria dengan Galih dan Si Wanita denga Ratna. Maksudnya, itu cwo namanya Galih, kalau itu cwe namanya Ratna. Penyanyinya D’cinnamons. Si Galih dan si Ratna ini saling mencintai, saling menyayangi dan tidak terpisahkan. Rekat sekali. Mungkin mereka lem cintanya pake lem Korea. Wallahu a’lam. Keduanya selalu bersama-sama, kecuali tempat tinggalnya beda. Bukan muhrim soalnya, jadi tinggal masih di rumah orang tua masing-masing.
Kebersamaan yang terjalin antara keduanya itu semakin erat seiring berjalannya waktu. Sedetik tak bertemu serasa panuan seabad. Pokoknya rindunya itu talliwa sekali. Talliwa lebay. Hingga pada suatu hari keromantisan yang terjalin oleh keduanya yang oleh orang-orang jomblo disebut ke-lale-an, harus dipisahkan secara mendadak oleh sebuah mobil yang menabrak si Ratna, yang membuat Ratna kemudian harus pergi untuk selamanya, meninggalkan dunia yang fana ini, menuju keabadian dan menjadi almarhumah kemudian. Meninggalkan si Galih yang masih bau lem Korea. Meninggal si Galih yang kemudian mengutuki Tuhan karena telah mengambil si Ratna, dan bukan malah dirinya saja. Kenapa si Ratna? Kenapa bukan saya, Tuhan? Begitu katanya.
Hidup Galih pun yang selama ini seperti berada di Taman yang paling Indah, yaitu Taman Kanak-Kanak menjadi seperti di Neraka Jahannam (Ini yang mati si Galih atau si Ratna kah??? kenapa yang berasa kayak di neraka si Galih?).
Maklumlah, dia ditinggalkan oleh belahan jiwanya, yang dalam bahasa inggris disebut Soulmate. Orang yang sangat ia sayangi melebihi makanan yang sudah terproses dalam tubuhnya yang kemudian keluar menjadi benda semisolid yang disebut feses oleh anak jurusan IPA. Orang yang membuatnya merasa sebagai orang terkaya, pemilik jagat raya. Orang yang membuatnya tidak dianggap Gay oleh kaumnya. Orang yang membuatnya semangat menjalani hari-hari dan menyukai Korea, tepatnya lem Korea. Hidupnya hancur sehancur-hancurnya. Dia menjalani hidup tanpa gairah dan lebih memilih menamatkan hidupnya daripada menamatkann sekolahnya. Dia ingin menyusul si Ratna.
Kemudian, ketika dia ingin memulai aksinya untuk menamatkan diri, tiba-tiba muncul seseorang yang ceritanya berperan sebagai Malaikat baik. Si malaikat menegur si Galih.
“wehhh…mauko apa anak muda?”
“mauka mati, nda sanggup ma hidup tanpa kekasihku.”
“kau lagi jadi modelnya Agnes kah untuk lagu tanpa kekasihku? Kenapako mau bunuh diri sede’?”
“iihhhh, kenapako? Kalau kita mau mati gang, hak kita donk? Pergi ko deh, ganggu konsentrasi saja.”
“tapi untuk apa? Kau sok menderita sekali. Masih banyak yang lebih mederita dari kau nah !!!”
“kau nda menger. Itu si Ratna cinta sejatiku. Kau nda liat ka, hidup ku kacau selepas dia tinggalkan ka sendiri, hidup penuh liku-liku.” *jempol naik, yang artinya mari dangdutan*
“ihh, sarru dipiara. Alay deh. OK…terserahmi pade mauko apa, tapi liatko dulu tayangan yang satu ini !”
“tayangan apa? tayangan ulang atau gen-tayangan atau tayangnga’ rong?”
“bukan anu, liatmi dulu”
Akhirnya menontonlah si Galih dulu tayangan dari si Malaikat sebelum membunuh dirinya. Ditayangan itu dia melihat sosok si Ratna yang bagai mayat hidup, tapi bukan zombie walaupun bisa dibilang begitu sedang duduk di depan sebuah makam. Seperti makam orang Jepang. Di tayangan itu tergambar pula bagaimana kehidupan si Ratna yang terlihat memperihatinkan yang lebih pantas disebut mengerikan. Si Ratna bak orang sakit jiwaaa’, lusuh, tidak terawat, rantasa’, kutuan, botto, ihh pokoknya kondisinya adalah kondisi yang tidak diinginkan seluruh betina di dunia yang masih waras, dari golongan manusia dan punya akal sehat. Pokoknya, kondisinya si Ratna menyedihkan. Mungkin bisa dapat rekor sebagai wanita dengan kondisi sangat amat paling mengerikan versi Guinnes Book of Record (maaf bila penulisan salah).
“ihh,,,kenapa itu begitu si Ratna?”, si Galih bertanya.
“hmm…rantasaki toh pacarmu?”
“io…cu’mala sekali kodong. Kenapa bisa begitu?”
“stresski itu. Galau dia. Ditinggal mati dia”
“hah? Ditinggal mati? Eh…kuburannya siapa itu btw?”
“kuburan mu itu anu. Nda nyadar sekali”
“kenapa bisa kuburan ku, na saya masih disini?”
“itu tayangan adalah versi lain dari kisah hidup mu. Tapi disitu yang meninggal kau, bukan si Ratna. Liat meko si Ratna kalau misalnya kau yang meninggal. Yang mana yang terlihat lebih menderita, kau dengan kondisi mu sekarang atau si Ratna dengan kondisinya seperti yang sudah kau lihat tadi? hah? siapa paling menderita? Kau masih berpikir jeko mandi, masih sempat jeko berpikir bunuh diri, tapi liatko si Ratna, untuk ambiki saja kotoran matanya dia sudah nda berpikir untuk itu apalagi untuk mandi. Dia hanya tinggal bagai patung, pikiran kosong, sambil makan lontong. Bayangkan seandainya kau yang ditabrak, pasti dia akan lebih menderita karena kehilanganmu dibanding saat kau kehilangan dia. Kau masih punya tenaga untuk jalani hidupmu, tapi dia? Tidak. Tidak sama sekali anak muda.”
Kemudian si Galih tersadar di dalam sepinya dan menunduk lunglay bak alay. Tamat.
Itulah sekilas mengenai cerita komiknya, sedikit banyak miripkan, si Galih dan Pak Habibie ditinggal oleh orang yang amat sangat mereka cintai, sayangi, dan percaya. Kalau misalnya yang duluan pergi Pak Habibie dari Bu Ainun mungkin jalan cerita di filmya juga akan berbeda. Pasti tidak akan seperti yang terlihat sekarang. Malah mungkin filmnya sendiri belum tentu akan ada. Dan kalau filmnya tidak ada, belum tentu kita akan tahu kisah romantisme hubungan antara keduanya. Karena yang lebih banyak bicara di media selama ini juga Pak Habibie, yang lebih banyak muncul juga beliau dibanding Bu Ainun, jadi pastilah berbeda versinya. Dan satu hal yang saya pikir, seandainya yang terjadi adalah sebaliknya misalnya, apakah Bu Ainun akan bisa menjalani hari-harinya, hidupnya dengan lebih baik dibanding dengan yang sekarang telah dijalani Pak Habibie sejak kepergiannya? Wah, itu juga saya tidak tahu. Tanya sendiri deh sama Bu Ainun.
Saya dan mungkin semua orang tahu bahwa Tuhan tahu yang terbaik bagi umatnya. Tapi belum tentu umatnya memikirkan bahwa Bisa jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita, dan bisa jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik bagi kita. Intinya sih yah tetap bersyukur. Grateful katanya si DIA dalam statusya.
Hoaaaaammm.,,,ngantuk. So… see u tomorrow but still love me like there’s no tomorrow. Bye.
Kenapako liati ka begitu ? bullynya lagi matanya. (itu bolla’ di’, tabeeee)
Itulah sepenggal kalimat yang sebenarnya tidak dipenggal, tentang bully yang lebih tepatnya hanya sekadar jayus belaka. Untuk hiburan semata. Karena hidup ini sebenarnya hanya sendau gurau, tapi manusia lah yang membuatnya jadi serius. Jadi ribet. Jadi limit. Jadi sejadi jadinya lah pokoknya.
Kemarin, entah kenapa, ada angin dari kipas angin tapi tidak ada hujan di luar sana, saya dan unni yang sedang minggal-minggal (baca: guling-guling) dalam kamar tetiba jadi membahas tentang masalah bully mem-bully dan bully di-bully lima ribu tiga. Sebelumnya kami memang sudah beberapa kali membahas tentang tema ini dalam cerita-cerita kami, tapi tak apalah kalau diulang-ulang, biar gampang diingat.
Bully atau bullying itu sangat identik dengan anak sekolahan. Si doel anak sekolahan, jadi si soel identik dengan bully. Bully merupakan perilaku premanisme yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang terhadap seseorang individu, dan dalam kebanyakan kasus penyebab umumnya adalah sirosis (penyakit hati). Dan kebanyakan bully terjadi di sekolahan dan dilakukan oleh, yah anak sekolahan tadi, entah itu SD, SMP, Madrasah, SMA, SMK, maupun kuliah terkadang masih sering mengalami yang namanya di-bully. Kalau saya sendiri sampai sekarang masih dibully sama rasa malas saya. Si rasa malas selalu bertindak sewenang-wenang terhadap rasa rajin saya. Dia menghalalkan segala cara agar si rajin jatuh dan hancur, salah satunya dengan bersekongkol dengan setan agar saya yang rajin ini menjadi malas. Sungguh licik memang si malas dan si setan ini. Jangan ditiru yah adik-adik !
Selain saya, kakak saya juga sempat di bully dulu waktu dia masih SMP, kalau saya tadi di bully secara maya, si unni malah si bully secara luna, ehh ralat, secara nyata. Maksudnya di bully langsung di dunia nyata, di dunia SMPnya yang fana itu. Mulai dari tingkat mild sampai severe sudah dia alami. Tingkat mild itu masih sebatas di ejek-ejek, dipandang hina, dan diacuhkan, sedangkan tingkat severe itu mulai kepelecehan fisik. Si unni sendiri juga tidak tahu kenapa dia diperlakukan seperti itu. Katanya, seandainya waktu itu tidak ada temannya yang bilang dia anak guru, mungkin teman-temannya yang tidak pantas disebut teman itu masih memperlakukan dia secara semena-mena. Sebenarnya si unni berniat menyembunyikan identitasnya sebagai anak guru di SMPnya saat itu, tapi karena temannya sudah bilang jadi tak apalah, lagian justru itu membantu sehingga dia tidak diganggu gugat lagi sama si gatal-gatal itu.
Sekarang banyak sekali kasus-kasus pem-bully-an yang lebih parah dari yang dialami si unni. Sebut saja dulu ada kasus geng nero, trus juga ada kasus pem-bully-an di SMA Lab School Jakarta, trus kekerasan yang dialami junior di IPDN, dan lain-lain. Hampir di semua sekolah pernah terjadi yang namanya pem-bully-an.
Di AS, ada sekitar 980 siswa yang bunuh diri setiap tahunnya karena depresi dan stress dengan kehidupannya, yang dimana dia sering dibully sama teman sekolahnya. Sungguh menyedihkan, menakutkan, sekaligus buat miris. Harusnya memang yang tindak kekerasan, seperti bullying ini harus dihilangkan dari dunia pendidikan dan dunia-dunia lainnya, tapi menurutku bullying tidak sepenuhnya berdampak buruk, tergantung bagaimana kita menyikapi, karena kebanyakan korban bullying adalah mereka yang tidak pernah berusaha menyikapi hal tersebut dan bahkan malah membiarkan dirinya dibully terus-menerus. Mereka takut melapor karena nanti dibilang pajamma’ lah, ballor lah, anak mami lah, pengecut lah, pokoknya yang begitu-begitu lah sehingga yang ada mereka justru semakin dibully, karena tidak ada yang tahu to?!!
Kemudian si unni cerita tentang komik yang pernah dia baca yang salah satu episodenya berkaitan dengan bully mem-bully. Cerita komiknya mau mirip-mirip dengan In time-nya Justin Timberlake, pake waktu-waktu juga katanya ditangannya. Ceritanya begini…
Komik itu bercerita tentang orang-orang yang hidupnya tinggal sehari lagi. Nah, tokoh utamanya disini berperan sebagai orang yang akan memberitahukan kepada si orang yang naik arisannya untuk segera di panggil menghadap Sang Ilahi itu untuk mengingatkan mereka bahwa hidupnya sisa 24 jam lagi alias sehari. Nah disisa waktu yang 24 jam itu, si calon Almarhum(ah) dipersilahkan untuk melakukan apa yang mereka ingin lakukan sebelum nyawanya diambil 24 jam kemudian. Dikatakan ini komik mirip In Time karena pada lengan di setiap tokoh terdapat jam yang serupa dengan jam di lengannya Justin Timberlike dkk di film itu.
Nah, pada suatu hari si tokoh utama diberi tugas untuk memberitahukan kepada seorang pemuda yang naik arisannya bahwa hidupnya tinggal sehari dan mempersilahkannya melakukan yang ingin dilakukannya di 24 jam terakhirnya. Si pemuda itu sudah tahu apa yang ingin di lakukannya di sisa hidupnya. Dia ingin membunuh… membunuh… membunuh #gemamodeON *ekspresi kaget ala bocah-bocah disinetron*
Disini si tokoh utama hanya bertindak mengawasi seperti pengawas pemilu, tidak punya hak untuk melarang, jadi apapun yang calon Almarhum(ah) ingin lakukan, ya tafaddal.
Si pemuda yang berniat membunuh di akhir masa hidupnya ini di dorong oleh rasa dendam yang sudah menggunung dalam dirinya selama bertahun-tahun. Selidik punya selidik, ternyata dia dendam sama teman-temannya di zaman sekolah yang selalu memperlakukan dia secara tidak berperikemanusiaan. Ternyata dia waktu sekolah sering dibully sama teman-temannya. Maklum waktu zaman sekolah pemuda itu culun soalnya, ya tipe siswa yang pake kacamata tebal yang selalu melorot, baju masuk dalam celana dan dikancing semua, trus bawa buku banyak dan jalannya tunduk-tunduk polos ala maba plontos, ya tiap sekolah pasti punya lah, min. satu orang. Orang berani bertindak semaunya sama dia dikarenakan penampilannya yang culun itu sehingga memikat perhatian semua orang untuk menyiksanya, culun kan identik dengan lemah. Nah, makanya, gaoooooolllll dooooonnngggggg !
Saking dendamnya, walau sudah bertahun-tahun berlalu sejak kejadian pem-bully-an yang dia alami, dia masih tetap ingat wajah semua orang yang pernah menindasnya, yang dia harapakan akan mati sebelum dia. Kemudian, dia datangilah satu-satu itu orang yang pernah bully ki, dengan harapan si calon korbannya ingat kelakuan buruknya sama dia beberapa tahun silam, supaya aksi pembunuhannya juga lebih seru, setidaknya ada lah adegan mohon-mohon ampun dari si calon korban ke pada si calon tersangka alias si pemuda, supaya ada lah juga adegan penolakan atas ampunan dari si pemuda kepada si calon korban.
Namun apa daya, lain ingin, lain pula yang terjadi. Itu orang-orang yang ceritanya mau dia bunuh semua, ternyata tak satu pun dari mereka yang ingat si pemuda itu. Jadinya, ketika si pemuda ini mau membunuh, itu calon korbannya pada takut sambil bertanya, siapa kamu ? kenapa kamu mau bunuh saya punya diri? Apa salah yang saya punya? Siapa saya? dimana saya? *jadi lupa ingatan*
Si pemuda berusaha mengingatkan semua calon korbannya atas aksi pem-bully-an yang dulu mereka lakukan kepadanya, tapi diingatkan berapa kali pun tak satu pun dari mereka yang ingat apa yang mereka dulu perbuat sama si pemuda. Bagi mereka si pemuda ini justru hanya ngaku-ngaku saja. Dasar lelaki tidak jelas, mungkin begitu dipikiran mereka.
Akhirnya dengan wajah kaget nan kecewa dan terlihat kecele disertai rasa marah dan malu juga, niat membunuh yang sudah membara dalam dirinya dia urungkan. Dia kecewa, ternyata tak satu pun dari calon korbannya yang ingat dia punya muka dan ingat tindakan yang dia lakukan sama si pemuda. Kemudian berjalan lah si pemuda meninggalkan calon korban terakhirnya yang seperti sudah kencing satu ember dengan rasa kecewa bersemayam di lerung jiwa, hati dan raganya. Penyesalan pun datang menghampiri rasa kecewanya itu. Menyesal kenapa tidak dari dulu dia melawan? kenapa baru sekarang ada keberanian dalam dirinya untuk melawan ? kenapa keberanian itu datang saat semua orang telah lupa atas perbuatannya mereka? Pertanyaan itu menghampirinya satu persatu tanpa menuntut jawab. #backsound SO7-Aku pulang
Ketika diperjalanan, si pemuda itu kemudian melihat sekelompok siswa sedang melakukan aksi pem-bully-an kepada seorang siswa yang sepertinya satu sekolah dengan mereka. Melihat aksi itu, dia kemudian menghampiri mereka untuk menolong siswa yang dibully itu. Setelah yang mereka yang mem-bully pun pergi. Kabur mereka. Siswa itu pun selanjutnya berterima kasih kepada si pemuda atas bantuannya.
“Terima kasih kak, sudah tolongka.”
“Bah, io. Sama-sama cika. Tapi lain kali, kalau dikasi begitu ko lawan ki, janganko diam saja. Kalau sekarang kau tidak lawan memang, besok-besok na kasi begitu jeko lagi.”
“Ia, kak. Makasih nasihatnya. Besok-besok saya akan lawan kalau mereka kasi gitu ka lagi.”
“Bah…”
Setelah aksi heroik yang dilakukannya, si pemuda itu pun kemudian meninggal.
Keesokan harinya, nama beserta wajah si pemuda tersebut masuk di berbagai surat kabar nasional akibat aksi percobaan pembunuhan yang dia lakukan kepada beberapa orang kemarin. Dia buron ternyata. Banyak komentar pembaca pada koran tersebut yang isinya hujatan kepada si pemuda, tapi kemudian ada satu komentar pembaca yang nadanya ucapan terima kasih.
“Saya sangat berterima kasih kepada kakak itu, karena dia sudah menyelamatkan saya dari sekelompok orang yang berniat jahat kepada saya kemarin. Sekali lagi terima kasih. J”
Begitulah cerita singkatnya.
Trussssss ????
Nah, dalam cerita dia atas ada dua hal yang perlu diingat :
Pertama, saat seseorang sudah menyakiti atau melukai hati seseorang, dia akan dengan mudah lupa kelakuannya itu, tapi tidak bagi orang yang sudah dia lukai hatinya. Orang yang terluka, kalau dipendam akan jadi dendam dan pasti akan selalu ingat orang yang membuatnya terluka tadi. Makanya, jangan coba memendam sesuatu hal karena bisa jadi dendam. Lebih baik kau lupakan dan maafkan orang yang melukaimu atau paling tidak kau katakan langsung bahwa kau sakit hati daripada kau pendam lama-lama terus pas kau mau balas dendam tapi orang yang sudah membuat sakit hati tadi justru lupa kelakuannya. Kan, jadinya kecele dua kali. Seperti yang si pemuda alami.
Kedua, ketika kita mengalami (misalnya) pem-bully-an, kita punya dua pilihan, aktif atau pasif. Kalau aktif artinya kita melawan dan kalau kita melawan, peluang kita untuk di bully lagi itu semakin kecil, sebaliknya kalau kita justru pasif, pasrah tidak melawan, secara otomatis si pem-bully menganggap kita lemah dan akan bully kita lagi dengan semakin mem-bully buta (baca:membabi buta).
Akhir paragraf, semua hal yang terjadi dalam hidup kita, yang kita alami, yang kita perbuat itu pasti semua ada hikmahnya. Dan kita bukan robot. Kita adalah manusia-manusia yang punya kontrol atas diri kita masing-masing. Kita punya tanggung jawab terhadap diri kita masing-masing. Perlakuan orang ke kita atau sebaliknya perlakuan kita ke orang lain yang mengontrol adalah kita. Jadi, apapun yang terjadi dengan diri kita, apapun yang kita dapat atau yang kita peroleh adalah karena kita. Semuanya dari kita, oleh kita, dan untuk kita. Jadi, tidak sepatutnya kita menyalahkan orang lain, atas kegagalan yang kita alami.