Pacoban
Beberapa waktu lalu aku belum menulis lagi di sini, dikarenakan beberapa hal yang mesti kujalani. Dalam kurun waktu itu, tentu saja tetap ada rasa cemas dan kegelisahan dalam diri, untuk terus menulis dan menuangkan segala pikiran.
Pertengahan Agustus kemarin, aku berangkat ke Banyuwangi. Acara tahunan paguyuban. Kurasa tak perlu kuceritakan lebih detail apa saja yang kualami (atau kami alami) di sana. Yang jelas, acara tahun ini memang mewakili betul kondisi 2020 yang angker ini; sepertinya semesta memang sedang memberi pelajaran untuk kami. Untuk orang-orang paguyuban kami. Pacoban, kalau kata orang Jawa.
Aku bukan tipe orang yang sanggup bersabar-sabar terhadap apa pun yang sekiranya terlihat tidak adil bagi diriku atau bagi orang-orang sekitarku. Emosi masih demikian akrab denganku yang muda dan belum apa-apa. Respons yang muncul dariku mungkin saja kurang berkenan bagi orang sepuh mana pun. Tapi meskipun demikian, aku yang masih tunas ini tetap berpegang teguh pada adab dan etika. Apa pun yang akan kulakukan, jika itu terkait dengan orang-orang sekitar, pasti selalu kuusahakan untuk meminta izin terlebih dulu. Jika mereka, orang-orang tua yang ludahnya sudah lebih pahit dari kita, tidak mengizinkan kehendakku, tentu saja akan aku sendiko dawuhi.
Terhadap permasalahan yang tertanam dan sempat bertumbuh di paguyuban kami kemarin, aku sudah mencoba untuk menganggapnya sebagai gulma semata yang sudah mati ditebas. Itu termasuk pelajaran, kata orang tua.
Karena aku berkaca pada pribadiku sendiri, ada satu hal yang akhirnya kupelajari: hendaknya diriku menyadari, bahwa betapa pada dasarnya setiap orang bersusah payah menjaga kedamaian dalam dirinya. Dan hendaknya diriku pun menjaga betul polah tingkahku, jangan sampai sikap kelakuanku, minimal lisanku, menyenggol kedamaian orang lain yang sudah anteng di tempatnya.
Jika aku menyalahi adab tersebut, pada hakikatnya aku sudah menyakiti diriku sendiri. Sebab segala apa yang dirasakan kebanyakan orang, adalah suatu hal yang dapat kurasakan pula. Tergoresnya kulit daging orang lain, adalah luka pedih yang sesungguhnya kuciptakan dan kurasakan untuk diriku sendiri. Perihnya hati orang lain tersebab ucapanku, adalah kejahatan sekaligus hukuman yang menimpa batinku sendiri. Jika aku menyalahi etika tersebut, alangkah ngerinya. Aku sama saja sedang membunuh diri melalui manusia lain, melalui makhluk lain.
Ujian, tentu sudah mesti dialami semua manusia yang bernyawa. Itu kalimat klise yang kebenarannya sudah mutlak dan tidak lagi memberi ketakjuban apa pun. Sebuah permasalahan terkadang ibarat tabrakan beruntun. Mobilmu yang tadinya melaju mulus di atas jalan tol, bisa saja dihantam sebuah mobil lain dari arah belakangmu, dan itu menyebabkan mobilmu mendapat daya laju tambahan ke arah muka, sebelum mobil lain di depan mobilmu terdampak sial pula. Kerja bagus dari sebuah efek domino.
Kita semua sedang bergelut dengan permasalahan masing-masing. Masalah yang tunggal ataupun yang bersifat domino, atau yang sifatnya sporadis sekalipun. Bibit masalah bisa datang dari mana pun, bisa muncul dari siapa pun. Bahkan bisa lahir dari sebuah keadaan yang sebermula baik-baik saja.
Kolega, bos besarmu, tetangga, kawan ngobrol, kawan lingkaran, tukang tambal ban, orang yang memotong laju motormu seperti setan, orang yang kau temui di jalan, keluarga, bahkan orang yang kamu cintai, semuanya adalah lahan basah yang dari sana, sebuah bibit masalah berpotensi tumbuh menjelma pohon besar dan berbuah kecut.
Demikian pula aku. Saat ini, semua cobaan datang dari mana saja, sedemikian halus dan maya seperti angin dari tiap-tiap penjurunya. Apakah ini tulisan curhat belaka? Terserah kamu mempersepsikannya sebagai apa. Tapi anggap saja sebagai permisalan kecil, sebab aku pun manusia.
Lantas apa yang mesti dilakukan? Bagaimana agar semua itu beres dengan sempurna dan paripurna?
Aku tidak tahu. Jika aku tahu, tentu sudah kutulis dalam buku Seni Menuntaskan Masalah dengan Sempurna dan Paripurna yang Bukan Seperti Pegadaian.
Yang kutahu hanyalah menjalaninya saja, seperti halnya kita menjalani 2020 yang sudah lebih dari separuh ini. Toh napas masih setia pada talinya, jiwa masih bisa mencecap nikmatnya damai, meskipun tertatih-tatih.
Selamat menyambut malam Jumat Kliwon.







