Jarak Itu, Hanya Berkedalaman 2 Meter
Iya, si hidup di permukaan, dan si mati di bawah sana. Kematian selalu menjadi pelembut hati paling ampuh. keresahan tentang kematian, pasti membuat kita minimal, mengeluhkan dosa-dosa kita, terlepas ia lalu diperbaiki atau tidak.
Kematian adalah takdir umuri yang direview saat pertama kali ruh ditiupkan ke dalam jasad, menginjak usia empat bulan di dalam rahim ibu, sehingga tak ada satupun yang dapat mengingatnya, apalagi menawarnya. Ia adalah rahasia besar yang menguji sebaik apa seorang hamba beramal.
Next topik, tentunya ada durasi bernama kehidupan sebelum kematian yang mengerikan akhirnya datang . oke, mari kita kerucutkan. saya ingin bicara tentang nikmat kehidupan dan perantaranya. perantara? ya, sepasang manusia yang akhirnya menjadi orang tua kita. Dalam sebaran normalnya, our parents is our hero, whoever they are, however they rise us up, they brought us a life. Absolutely, memuliakan mereka adalah amalan utama setelah mengesakan Allah dan menaati RosulNya. The most precious thing in the world that we have. Umi-Abi, Mamah-Papah, Ibu-Bapak, Ayah-Bunda. selalu menggetarkan mengingat jasa mereka, yang kasih sayangnya seperti udara, merasuk dalam setiap tarikan nafas, tak pernah habis dan tak tertebus.
bagaimana bila 2 topik ini saya sandingkan? iya, Orang tua, dan kematian.
Fath, Apa bagusnya kombinasi itu? kombinasi sendu kelabu dan mengharu biru! pasti ga ada yang demen bahas kombinasi ini. Tak ada seorang pun yang tahu, akan jadi pihak yang meninggalkan atau ditinggalkan kan?
Tapi, lagi-lagi, seringnya orang tua selalu jadi pihak yang meninggalkan. Karena bilangan usia yang semakin banyak selalu identik dengan kesempatan hidup yang semakin sedikit, meski itu bukan jaminan. tapi kebanyakan seorang anak selalu lebih takut untuk ditinggalkan dibanding bersiap untuk meninggalkan, padahal sunatullah pasti punya pencilan.
Kematian menjadi kejadian yang paling tak diharapkan kebanyakan manusia meski sebenarnya ia bukan hal tabu, karena pasti dialami semua orang. Overall, kematian adalah kehilangan paling dalam, dan gerbang kerinduan tanpa temu. Apalagi bila yang pergi adalah orang tua kita, terutama saat usia kita masih amat muda, kepergiannya selalu jadi lebih berat.
Beberapa hari yang lalu, seorang bestfriend curhat pada saya di puncak stressnya. “kadang gue mikir, kalo boleh gue tukeran takdir sama papah, gue milih meninggal duluan. karena kalo gue meninggal duluan, mungkin ga akan jadi seberat ini“. its over sist, everything happened according the destiny. seru saya dalam hati. faham sekali betapa tidak mudah berada dalam posisinya. to be the only one who used to be a secondary decision maker for her family, jadi tempat tumpah segala kesedihan dan kepiluan si mamah, berupaya sekeras mungkin mempertahankan standar hidup meski si papah sudah ga ada. dengan segala amanahnya di kampus yang ampun deh gue, totally very hectic then every one. than i alwasy see her smile from her tired face, setiap kali ketemu. oh Rabb, apalah saya ini buat dia curhatin.
Dan di malam yang sama, seorang bestfriend yang lain curhat juga sama saya, tentang perubahan demi perubahan dalam keluarganya 5 bulan pasca kepergian sang ibu. very complecated, jadi anak tengah dari tiga bersaudara yang isinya perempuan semua. menghadapi ayah dan si bungsu yang sama-sama lagi puber, dan dia yang juga totally hectic di kampus.
sungguh kepergian mereka di usia muda kita, adalah transformasi besar-besaran dalam keluarga.
saya masih ingat sekali, pernah saya rebahan di samping si bungsu dan dengan isengnya bilang :”nanti, kalo azam uda segede teteh, umi sama abi, pasti uda umur 60an, uda jadi nenek kakek buat ponakan-ponakan azam, jadi azam nanti harus bantu teteh ngurusin umi-abi” entah saya kesambet apa waktu itu sehingga ngomong kaya gitu ke anak kelas 3 sd, tapi azam pun berkaca-kaca mendengarnya.
Dan, dari kejadian demi kejadian, saya jadi berpikir, bagaimana kalau usia mereka tak sampai 60 tahun, harus sekuat apa saya sebagai seorang sulung, mungkin target menikah saya dan umar akan mundur jauh, dan mungkin-mungkin sulit lainnya.
Finally, tidak akan ada beban yang ditimpakan tanpa disediakannya pundak yang setimpal. God’s destiny totally perfect. bahwa komposisi jadwal kematian setiap orang dalam sebuah keluarga telah disesuaikan kadarnya, jadwalnya sudah dirancang atas kemahabijaksanaan dan kemahasempurnaan Allah. pasti tepat.
Lebih dari semua itu, kapanpun mereka terjadwal untuk pergi, salah satu investasi abadi mereka adalah doa anak-anak mereka yang shalih/ah, kitakah? bukankah doa kita untuk mereka jadi terasa semakin penting untuk dikabulkan justru setelah mereka pergi? tentang kubur yang lapang, tentang seorang teman dialam sendirinya, tentang taman cahaya di bawah tanah sana.
bila begitu, tidakkah semestinya kita semakin giat menyinggahi waktu-waktu mustajab seperti sepertiga malam? tidakkah kita semakin ingin agar dapat jadi jelmaan orang-orang merindu yang Allah gambarkan dalam Ath Thur 21?
tulisan ini, ku dedikasikan pada kalian, sahabat-sahabatku dengan pundak yang lebih cepat menguat untuk menanggung kehilangan itu.
Fatwa, dek Hanif, Nishop, Ina, dek Nti, dek Ranti, Nukhik, Caput, and every one who have same fate,. Allah love you so much.
semga segala bentuk pengorbanan kalian di jalan ini, dapat meringankan hisab mereka di yaumil akhir kelak
bukankah jarak itu hanya berkedalaman 2 meter? ah, hiburan yang kering. biarlah rindu itu pecah dalam sujud panjang kalian.
giliranku dan yang lain untuk bersiap.