Forum belajar: Psikologi laki-laki dan kekerasan
Saya belum pernah datang ke coffee war sebelumnya. Kedai kopi itu terletak di kemang timur raya setelah Australia International School. Sore itu saya menyempatkan datang kesana, tapi bukan untuk sekedar nongkrong dan ngopi cantik. We have a major topic to discuss. Who are the “we” I mentioned here? We yang saya maksud adalah saya dan segelintir orang yang minat belajar tentang psikologi laki-laki dan kekerasan plus teman-teman volunteer dari yayasan pulih serta Aliansi Laki-laki Baru.
Topik yang kita bicarakan ini sangat-sangat anti mainstream. Kita bicara tentang laki-laki dari sudut pandang berbeda. Kami tidak hanya fokus membicarakan banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, namun kami justru fokus membahas what makes men do the violance?
Meminjam istilah mentor kelas drama saya, Teh Opie, “Pastikan kamu tau alasan dari segala tindakan yang kamu lakukan on stage agar penonton percaya bahwa yang kamu lakukan itu real.” Dengan kata lain semua tindakan termasuk kekerasan terhadap perempuan (KTP) dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pasti punya alasan atau latar belakang yang membuat scene ini menjadi real. Sadly, banyak orang belum aware akan hal ini.
Ternyata kita selama ini disetir sedemikian rupa oleh buruknya sistem sosial yang berlaku dalam masyarakat. Masyarakat sendirilah yang menciptakan dan menanamkan persepsi bahwa laki-laki itu lebih superior dari pada perempuan. Semacam kebenaran paling mutlak yang sudah ditanamkan bahkan jauh sebelum si anak lahir.
Akhirnya muncullah sebuah triad of men’s violance yang dipopulerkan oleh kauffman pada tahun 1999:
Kekerasan terhadap diri sendiri
Kekerasan terhadap perempuan
Kekerasan terhadap kaum laki-laki lainnya
Triad ini tanpa disadari berlaku dalam keseharian kita bermasyarakat bagai siklus yang tidak pernah terputus antara satu dan lainnya. Apa sih yang bikin ini bisa mengakar dan membudaya sedemikian kuatnya di masyarakat? Dari kesimpulan saya pribadi simultan pola asuh yang diterapkan dari nenek moyang kita dahulu lah yang akhirnya membuat suatu pola yang salah terhadap persepsi orang dalam memandang gender.
Orang tua terlalu mendewakan anak laki-laki, dan itu salah .
Sekali lagi saya katakan disini bahwa itu salah. Kebiasaan kecil yang tanpa kita sadari membentuk karakter si anak menjadi superior dan bertingkah as if he is the center of the world. I mean, come on!
Salah satu karakter dalam buku favorit saya yang berjudul Tuesday With Morrie bernama Morrie Schwartz yang merupakan mantan professor di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat suatu hari pernah menghadiri liga basket antar universitas. Masing-masing supporter saling memekikkan nama tim masing-masing. Bahkan mereka menekankan bahwa tim mereka adalah “number one”. Seketika Morrie berdiri dan balas meneriaki supporter itu dengan pertanyaan, “What’s wrong of being number two?”
See? Karena dari sebelum lahir pun laki-laki somehow sudah di tempatkan dalam posisi paling istimewa, lalu saat beranjak dewasa lingkungan menekan mereka agar tetap jadi istimewa dengan cara harus menjadi nomor satu di segala bidang dan kalau mereka tidak bisa menjalankan tuntutan dengan baik they’ll be judged as a looser. While the truth is, nobody’s perfect. Dispite of they’re men or women, people make mistakes, everyone is struggling, suffering and having disadvantage of themselfes of doing view things. That’s normal .
Belajar dari forum ini, saya jadi banyak tau seperti apa sebenarnya kaum laki-laki itu. I feel sorry for the burden they’ve carried all their life. Semoga bisa jadi pembelajaran juga buat kita semua agar nantinya kita dapat menerapkan pola asuh yang berimbang terhadap anak .