Soesilo Toer Buat Saya Adalah Semacam Aset Sejarah Bangsa yang Berharga
Salah satu hal paling tidak mengenakkan menjadi seorang penulis konten adalah, setiap hari Saya harus menulis (atau lebih tepatnya ‘mengetik’, tapi, persetan, Saya lebih suka menyebutnya ‘menulis’), sehingga menulis bukan lagi menjadi kemewahan. Mata Saya capek tiap hari mantengin layar laptop. Sehingga, kalau ada waktu luang, Saya memilih buat main sama Samantha, guitalele Saya, atau membaca. Membaca untungnya sampai saat ini masih jadi kemewahan. Waktu-waktu Saya bisa santai menghabiskan sebuah novel adalah waktu-waktu yang Saya syukuri.
Efek langsungnya, tentu saja, Saya jadi jarang sekali menulis. Padahal menulis seperti mengawetkan diri Saya, pemikiran Saya saat ini, untuk dibaca lagi oleh Saya bertahun-tahun kemudian. Menulis membuat Saya abadi. Benar, memang, kata Pram, menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Ah, karena Saya baru saja menyebut Pram, Saya mau cerita soal pengalaman Saya beberapa hari lalu. Saya mengunjungi perpustakaan PATABA BLORA, yang adalah singkatan dari Pramoedya Ananta Toer Anak Semua Bangsa (Kenapa nggak PATASBA sekalian, ya?). Perpustakaan ini adalah perpustakaan pribadi milik Soesilo Toer, adik Pram, yang dikelola bersama istri dan anaknya, Mas Benee Santosa.
Saya ke sini karena permintaan Alehandro, seorang teman yang sekarang kuliah piano klasik di Jerman, dan sedang pulang ke Indonesia, lalu atas tipu daya Saya, dia mau mampir ke Cepu, khususnya memang untuk mengunjungi PATABA karena dia adalah penggemar berat karya Pram. Jumlah buku Pram yang Saya baca belum ada setengah dari pencapaiannya. Menyebalkan.
Setelah janjian dengan Mas Benee via Whatsapp (tapi sayang Mas Benee sedang di Jogja mengurus penerbitan beberapa buku dari PATABA PRESS, yang berafiliasi dengan BERDIKARIBOOK) Saya dan Andro meluncur ke Blora naik motor. Sampai di PATABA sekitar jam setengah 12 siang. Saya pikir paling sore jam setengah tiga kami akan pamit, karena setelah itu, Saya mau mengajak Andro mendaki bukit Pencu.
Kami sampai, disambut oleh istri Pak Soes, yang Saya lupa menanyakan namanya. Kemudian kami diantar ke perpustakaan, menemui Pak Soes. Basa-basi sebentar, Pak Soes lantas memberikan ‘siraman rohani’ kepada kami berdua.
Beliau membuka cerita dengan kisah soal 11 tahun berada di Rusia sampai lulus S3, tapi sekarang memilih menjadi pengepul barang bekas karena mengikuti anjuran Socrates untuk mengenal diri sendiri, dan beliau mengaku sangat mengenali dirinya yang mendapat kepuasan batin saat menjadi ‘rektor’, yakni pengorek yang kotor-kotor, alias mengepul, alias mulung. Ajaib memang Pak Soes ini.
Mendengar Pak Soes bercerita, seperti mendengarkan buku audio buku-buku Pram. Kisahnya soal sejarah negeri ini, sangat nyata karena dari sudut mata partisipan peristiwa. Pak Soes berkisah soal peristiwa-peristiwa penting negeri ini, dari pengalamannya sendiri, bukan dari apa yang ia baca. Wajarlah, beliau sudah 82 tahun. Berapa banyak peristiwa sejarah bangsa ini yang beliau saksikan sendiri. Sedangkan Saya, reformasi 1998 saja tidak bisa Saya ingat. Sisanya, soal sejarah bangsa ini, Saya baca dari buku sejarah dan sebagian kecil Saya dengar dari guru.
Tapi, walau suka membaca buku sejarah, saya sudah tahu sejak lama kalau buku sejarah itu cuma buku dongeng. Dan mata pelajaran sejarah adalah kelas mendongeng. Kemudian setelah bertemu Pak Soes, Saya seperti mendapat konfirmasi soal dugaan Saya itu.
Kebanyakan isu yang diangkat Pak Soes, tidak jauh dari komunis dan PKI. Ya, wajar. Gara-gara kuliah di Rusia selama 11 tahun, sesampainya di Indonesia dia dipenjara selama 6 tahun karena dituduh komunis. Padahal, mungkin, Pak Soes sekarang jadi ‘kiri’ justru karena negara ini sudah melabelinya demikian.
Pak Soes menceritakan soal perlakuan-perlakuan tidak menyenangkan yang diterimanya, sampai saat ini, gara-gara statusnya sebagai mantan tahanan politik. Ditambah berita rusuhnya diskusi sejarah 1965 di LBH kemarin, Saya semakin yakin, bangsa ini masih sangat takut pada hantu komunis. Namanya hantu, tidak kelihatan, tapi membuat ketakutan. Banyak dari kita yang takut pada PKI. Atau sebenarnya, hanya takut pada kebenaran?
Saya bukan komunis, Saya nggak pernah ikutan partai, apalagi PKI yang sudah poranda bahkan sebelum Bapak dan Ibu Saya bertemu. Tapi, Saya suka saja dengar cerita soal sejarah negeri ini. Kalau bisa yang versi sebenernya. Walau, Saya juga tidak sepenuhnya mengimani kisah Pak Soes.
Yang seru dari perbincangan kami, sembari menceritakan kisah hidupnya sendiri, Pak Soes juga menghembuskan gosip-gosip soal punggawa-punggawa politik di negeri ini. Seru sekali. Pak Soes rasanya paling tepat jadi admin Lambe Turah versi politik. Astaga, maafkan kelancangan ini.
Saya tidak mau ceritakan detail apa yang dikisahkan Pak Soes pada Saya. Biar kalian termotivasi buat main ke PATABA. Sifatnya harus. Wajib. Dosa jika tidak dilakukan. Meskipun dosanya cuma dalam agama ilmu pengetahuan.
Serius. Sempatkanlah waktu. Saya saja duduk, mendengarkan, kadang menimpali, juga ketawa pada kelakar-kelakar Pak Soes, tahu-tahu sampai lebih dari empat jam. Jam empat sore Saya dan Andro baru pamit, dengan banyak informasi berjejalan di kepala kami. Tapi satu hal yang jelas, Saya benar-benar bodoh, dan tak tahu apa-apa soal negeri Saya sendiri.
Hal terakhir yang membuat kunjungan Saya makin ajaib, adalah saat kami berpamitan, Pak Soes baru bertanya nama kami berdua. Saya jawab “Saya Indah Salimin, Pak.”. Kemudian Pak Soes terkejut dan berkata, “Lhoh, kamu PKI, ya?”. Saya tanya kepada beliau alasannya. Katanya, ada tokoh PKI yang bernama Alimin. Setelah saya googling, memang demikian adanya.
“Bukan, Pak. Saya Salimin. Lebih mungkin saya disebut samin daripada PKI.”
Beliau tertawa.
Kami lantas pamit.
Oh, sebelumnya, kami sempat selfie. Seperti inilah kami: Saya, Pak Soes dan Andro.













