Penculikan Buku Enam Belas Tahun Lalu dan Karma Seorang Pengelola Perpustakaan
(Diambil dari Film ‘The Book Thief’ (Sumber: The Daily Texan)
Perpustakaan pertama yang aku kenal, adalah perpustakaan sekolah menengah pertama yang teduh, dengan bangku-bangku kayu yang ditata sebagaimana layaknya bangku-bangku di perpustakaan sekolah menengah pertama, dan entah bagaimana, punya koleksi buku sastra yang sangat baik pada waktu itu.
Semasa sekolah, aku sangat sering ke perpustakaan, mungkin hampir setiap hari. Sampai-sampai, penjaganya tidak merasa perlu menegur aku untuk mengisi buku tamu ketika hidungku tampak di matanya. Aku ke perpustakaan saat istirahat, atau saat dikeluarkan dari kelas karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah. Aku termasuk jarang mengerjakan pekerjaan rumah, karena malas, tentu saja.
Beberapa waktu setelah kunjungan yang sering, penjaga perpustakaan mengajari aku cara menggunakan katalog. Tapi aku tidak pernah tahu apa yang aku cari sehingga lebih sering berjalan dari rak ke rak sembari menyentuhkan jari-jariku ke punggung buku yang ditata sesuai nomor panggilnya, membaca judul buku dan pengarangnya.
Seperti wajarnya perpustakaan sekolah negeri, perpustakaan sekolahku penuh dengan buku-buku pelajaran dan novel terbitan Pujangga Baru dan Balai Pustaka. Belenggu. Belenggu. Harimau-harimau. Kalau Tak Untung. Tenggelamnya Kapal Van der Wijk. Siti Nurbaya. Siti Nurbaya. Aku sudah baca semua buku-buku itu sampai pencarianku berpindah ke rak lain. Dari novel-novel lama, aku berpindah pada rak berisi buku-buku kumpulan cerpen, puisi dan buku-buku terjemahan. Rak ini, selanjutnya menjadi monumen jatuh cintaku pada sastra.
Buku pertama yang aku baca dari rak itu adalah kumpulan cerpen dari Bagus Takwin. Dalam sebuah cerita, dia mengutip sebuah puisi yang ditemukannya dari forum internet (’apa pula itu ‘forum internet’?’, batinku waktu membaca catatan kakinya) dan hingga buku itu diterbitkan, Bagus Takwin tidak bisa menemukan siapa penulis puisi itu. Seperti ini puisinya:
Di bawah bintang bintang hidupku terlentang
Kenangan dan kenyataan berbaur
Jalan jalan masa depan pun kabur
Apa yang dicari alam hidup ini,
Selain uji coba merangkai jalan?
Siapa tau cocok dengan masa kini
Siapa tau bisa jadi harapan
Saat riang,saat berkabung
Lewat merejam tanpa makna
Pun tak kutau melenggang saja
Tak pernah kutau tak pernah kuterka
Puisi yang tidak tahu ditulis oleh siapa itu, adalah puisi yang pertama kali menyentuh hatiku, remaja 13 tahun yang tentu saja tidak akan memahami puisi dengan diksi yang ndakik-ndakik. Maka dari itu, puisi yang diksinya biasa-biasa saja, buatku sangat indah dan membuatku mulai menulis puisi. Aku menyalin puisi itu di buku harian, di buku pelajaran, di buku paket, di robekan kertas kosong yang aku temukan, dan di mana saja aku bisa menuliskannya. Aku sempat hapal puisi itu di luar kepala. Aku mulai terobsesi dengan puisi itu.
Aku membaca buku berjudul ‘Bermain-main dengan Cinta’ itu puluhan kali. Khusus puisi itu, mungkin ratusan kali. Aku meminjam buku itu berulang-ulang hingga suatu hari aku putuskan: aku menginginkan buku itu. Aku terobsesi dengan puisi itu. Hingga akhirnya, aku merencanakan sebuah strategi untuk menculiknya.
Buku itu tidak pernah dipinjam sebelumnya. Hanya aku siswa pertama dan selanjutnya terus menerus membacanya, jadi waktu itu aku pikir, tidak akan ada orang yang merasa kehilangan dia. Buku itu akan lebih merasa berharga dan bahagia bersama aku.
Rencana harus disusun dengan matang, rapi dan aman.
Aku mulai mengamati konstruksi ruang perpustakaan, memahami penataan meja, rak-raknya, jendela, posisi penjaga perpustakaan, serta kebiasaannya meninggalkan perpustakaan di jam-jam tertentu. Aku, tentu saja, menghabiskan waktu lebih lama di perpustakaan untuk misi ini, tapi semua itu aku lakukan dengan bersemangat, dan seorang diri. Aku tidak mungkin cerita pada teman-temanku yang baik bahwa aku mau menculik buku.
Dari pengamatan dan berbagai percobaan selama seminggu, aku jadi tahu bahwa jendela paling ujung, yang menghadap ke arah kelasku, bisa dibuka asal aku menaruh sebuah bangku di bawahnya. Itu bisa aku akali dengan memindahkan bangku ke dekat situ dan berpura-pura menjadikannya pijakan mencari majalah di rak terdekat. Sementara itu, aku mencatat penjaga perpustakaan selalu pergi ke kamar mandi 10 menit setelah waktu istirahat selesai. Aku sudah mendapat waktu terbaik untuk menyelundupkan buku ini.
Dengan perhitungan matang, hari pelaksanaan penculikan buku pun tiba. Selepas bel istirahat pertama berbunyi, aku langsung menuju perpustakaan. Masuk dan menyapa penjaganya, mengatakan aku akan tetap tinggal satu jam pelajaran setelah istirahat karena gurunya izin (dalam ingatanku, gurunya tidak benar-benar izin). Penjaga perpustakaan menyambut dengan gembira. Tentu saja tidak selalu ada orang yang menemaninya di perpustakaan, kan?
Seluruh perhitunganku berjalan dengan tepat. Sepuluh menit setelah jam masuk berbunyi, penjaga perpustakaan berkata dari bangkunya, padaku yang sudah naik ke kursi, berpura-pura mencari majalah di rak paling atas dekat jendela, bahwa ia akan ke toilet sebentar dan berpesan kalau ada siswa yang masuk ke perpustakaan, harus mengisi buku tamu. Aku mengiyakan. Memangnya siapa siswa lain di sekolah ini yang akan mengunjungi perpustakaan pukul sepuluh lebih sepuluh pagi selain aku?
Kupastikan penjaga perpustakaan sudah menghilang dalam perjalanan melaksanakan hajatnya. Aku menggeser kursiku ke dekat jendela, membukanya dan melongok, memastikan tidak ada yang sedang lewat atau berjalan di sekitar situ, menjatuhkan buku Bagus Takwin keluar perpustakaan melewati jendela, menutup jendela kembali, turun dari kursi dan mengembalikan kursi ke posisinya semula. Aku mengambil sebuah majalah, dan duduk di dekat bangku penjaga, menunggunya kembali sebelum aku pamit ke kelas dan memberitahunya bahwa tidak ada anak lain yang datang ke perpustakaan.
Saat penjaga kembali, aku menahan gemetar yang masih mengigiti jemariku. Bagaimanapun, itu adalah penculikan buku pertamaku dan tentu saja membuatku gugup dan sedikit tremor. Penjaga perpustakaan tidak pernah curiga dan bahkan sampai aku lulus, tidak pernah ada yang menanyakan atau menyadari buku Bermain-main dengan Cinta milik Bagus Takwin sudah hilang dari perpustakaan sekolah. Aku pamit dengan natural, meninggalkan perpustakaan menuju kelasku, mampir menghampiri buku favorit yang sudah kuculik dengan sukses dan selamanya menjadi milikku.
Sebagaimana seorang maling yang mendapatkan kemudahan, tentu saja penculikan buku-buku yang menarik perhatianku kembali kulakukan. Aku tidak bisa memastikan, tapi yang kuingat betul, ada tiga buku yang berhasil kuculik. Buku kedua adalah Kejahatan dan Hukuman tulisan Fyodor Dostoyevsky (yang membuatku terkagum-kagum pada nama-nama orang Rusia yang bagiku sangat indah’- tokoh utamanya bernama Rodion Romanovitch Raskolnikov dan Alyona Ivanovna!)
Berbeda dengan tokoh Rodya yang akhirnya dipenjara, kejahatanku menculik buku, tidak pernah mendapat hukuman sampai aku lulus sekolah (tidak usah membahas atau memikirkan soal dosa karena hal itu sudah kubicarakan dengan Tuhanku dan walaupun Dia tidak menyampaikannya secara langsung, sepertinya Dia memaafkanku). Walaupun begitu, seperti seorang pemabuk yang berhenti minum pada kelahiran anak perempuannya, aku juga menemui momen yang membuatku berhenti menculik buku.
Aku berhenti melakukan itu, setelah penculikanku yang ketiga, pada sebuah buku berjudul The Art of Novel tulisan Milan Kundera. Berbeda dengan dua buku sebelumnya yang sudah kubaca sebelum kuculik, buku ini sangat menarik perhatianku karena covernya bewarna nila dan manis. Walau curiga sejak awal karena ada kata ‘novel’ di judulnya (aku suka membaca novel dan buku fiksi lainnya, tapi masa iya sebuah novel memuat kata ‘novel’ di judulnya?), tapi aku sangat menyukai Fyodor Dostoyevsky dan berharap bisa membaca karya-karya terjemahan lainnya. Buku Milan Kundera, pada akhirnya kutahu bukan novel, melainkan kumpulan esai mengenai novel-novel terkenal di dunia, salah satunya Kejahatan dan Hukuman. Kesalahan dalam memilih target penculikan, ditambah rasa bersalah dan takut akan dosa, membuat The Art of Novel menjadi buku curian terakhirku di sekolah menengah pertama. Aku menyelesaikan buku itu, sembari mengutuk wawasanku yang dangkal sehingga tidak mampu memahaminya. Setidaknya, buku itu membuatku berhenti menjadi penculik.
Enam belas tahun setelah itu, aku dan teman-teman sekota membuka perpustakaan gratis di rumah. Sebagaimana rayap bagi rak kayu, penculik buku adalah ancaman yang bisa dicegah namun tidak benar-benar bisa dihindari oleh perpustakaan. Oleh karena itu, kepada semua donatur buku perpustakaan, bolehkah aku, mewakili, jika ada, para penculik buku dan diriku enam belas tahun lalu, meminta maaf untuk buku-buku yang dipinjam dan tak pernah dikembalikan?