Nasihat Semut-Semut
Seminggu terakhir, saya saksikan sendiri bagaimana semut-semut mendominasi setiap sudut rumah. Saat saya menekan tombol dispenser, dan air mengalir dari kerannya, ternyata semut-semut ikut hanyut. Semut hari ini doyan air putih ternyata. Dan mereka sudah berani melakukan ekspansi mesin-mesin di dalam rumah. Tempo hari, sempat juga kulkas disatroni semut-semut.
Dua hari lalu, saya mampir ke rumah Iwong dan dispensernya pun bersemut. He-he, dulu layar tivi yang bersemut, sekarang air dalam gelasmu bisa dijadikan kolam renang oleh mereka.
Tadi pagi, saya temukan barisan semut yang memanjang di lantai dan jendela. Mereka muncul beberapa menit setelah saya sapu teras rumah yang rentan kunjungan debu itu. Entah di mana ujung barisan mereka. Tidak saya telusuri, dan tidak berniat juga untuk mengusik mereka. Sedari kecil, saya sudah dianugrahi hidayah (mudah-mudahan begitu) untuk tidak melakukan genosida terhadap hewan-hewan remeh temeh seperti semut. Kecuali yang merugikan dan membuat jengkel, seperti nyamuk, misalnya. Kecoak pun, biasanya hanya saya giring ke arah pintu, dan sampai di depan pintu, saya sapu ia seperti bos konglomerat membabat bola golf di lapangan hijau.
Saya tidak punya mental seganas itu untuk membunuh koloni semut. Tidak sampai hati rasanya, misalnya membakar barisan mereka sampai tuntas. Saya selalu membayangkan mereka menjerit-jerit saat dilalap api, dan itu mengerikan. Selain itu, semut menjadi hewan yang saya hormati setelah saya membaca riwayat moyang mereka dalam kisah Nabi Sulaiman alaihissalam. Dari kisah itu, mereka itu hewan yang tertib dan paham etika, bukan? Saya selalu bilang pada siapa pun yang memiliki niat jahat terhadap semut, bahwa Nabi Sulaiman akan datang dan menggampar wajahnya jika bersikeras membakar semut-semut.
Pembicaraan mengenai semut ini ternyata berlanjut di tempat praktik Suhu Tomi Aditama. Beliau ahli herbal dan saraf, juga ahli dalam energi pemberdayaan diri yang bertempat di Gamping. Beliau orang yang asyik untuk diajak diskusi. Silakan berkunjung sewaktu-waktu. Jika belum tahu tempatnya, bisa lakukan pencarian di google maps dan ketik Tom’s Hepi Wellness Centre.
Semut, menurut Suhu Tomi, adalah salah satu makhluk yang bisa dijadikan acuan pertanda alam. Di saat-saat seperti ini, mereka kita dapati di mana pun, bukan tanpa alasan. Ada sebuah siklus alam yang menggerakkan mereka berbondong-bondong datang. Tidak mungkin seorang ratu semut suatu hari berdiri dan berteriak pada rakyatnya, “Rakyat-rakyatku, hari ini aku sedang bete, yuk kita jarah makanan manusia!”
Tentu bukan.
Mereka datang dan menjarah meja dapurmu dalam rangka penyediaan stok makanan jangka panjang. Karena apa? Karena alam sebentar lagi akan memasuki masa-masa dingin. Kalau pakai bahasanya Suhu Tomi, sebentar lagi cuaca kita akan didominasi angin. Saat ini saja sudah mulai terasa dinginnya. Semut-semut, akan lebih sering berdiam diri di sarang mereka dengan persediaan makanan yang cukup saat masa itu datang.
Itu juga yang seharusnya kita baca, menurut beliau. Perilaku semut ini adalah pertanda alam, kurir yang menyampaikan pesan semesta bahwa di masa-masa demikian, harusnya kita bersiap-siap dan waspada. Angin bisa menjadi patogen, menyebabkan penyakit dalam tubuh. Jika tidak menyiapkan diri, imunitas tubuh kita akan terserang, dan habislah kita. Semestinya, mulai dari sekarang, kita sudah harus meningkatkan imunitas dengan memaksimalkan asupan makanan dan minuman yang bersifat panas. Boleh rutin minum jahe panas atau wedang uwuh, misalnya. Olahraga pun penting untuk menjaga suhu dan kebugaran tubuh. Bahkan aktivitas tidur pun perlu diperhatikan, kalau bisa tak usah gunakan pendingin ruangan atau kipas angin. Penggunaan selimut menjadi penting, karena saat kita tidur, aktivitas kita terhenti dan panas tubuh menurun. Selimut berperan untuk membuat sumuk,mengondisikan tubuh jadi hangat.
Secara filosofis-spiritual, kita sedang diingatkan untuk berhati-hati agar tidak angin-anginan. Terbawa ke sana dan ke situ. Sebaliknya, gunakan momen itu untuk menghimpun angin (napas) dalam diri, agar timbul suatu tenaga yang bisa kita dayagunakan.
Mereka, semut-semut itu, bisa sedemikian patuhnya pada keseimbangan semesta. Dan alangkah beratnya jadi manusia, ternyata. Hidup masih harus menanggung bebannya sendiri-sendiri, dan masih pula harus membaca tanda-tanda. Ah.
Jika ada waktu luang, marilah kita ucapkan terima kasih pada semut-semut yang bisa kita temukan di sekitar kita. Boleh dicoba, dan tenang saja, kita paling-paling hanya dicap edan oleh manusia di sekitar.
Kamsia, matur nuwun, danke, terima kasih, semut-semut yang berbaris di dinding menatapku curiga seakan penuh tanya, sedang apa di sini?

















