Bukan kah tak seharusnya aku menunjukan rasa peduliku kepadamu secara terbuka seperti seorang laki-laki yang begitu bersemangat mengirim pesan singkat kepada kekasihnya di pagi hari untuk mendapakan hari yang menyenangkan atau yang selalu mengingatkan makan melalui pesan singkat yang ia kirim tiap kali memulai percakapan.
Aku bukan seorang yang selalu disampingmu yang mengetahui segala kegiatanmu dan keinginanmu yang ingin terpenuhi. Aku padamu bukanlah seorang pecinta kepada kekasih, atau orang yang selalu bisa terus bersamamu seharian menemani harimu setiap saat. Aku adalah seorang laki - laki yang sengaja benar oleh Tuhan dipertemukan denganmu di planet ini.
Lalu pada hari-hari selanjutnya tidak pernah alpa aku berdo'a untuk keselamatanmu. Manusia pada umumnya menyebut itu cinta, aku tidak bilang begitu. Bagiku ini kesempatan dalam hidup untuk merasakan bagaimana tulusnya berdo'a untuk orang lain. padahal orang lain tersebut bukanlah siapa-siapa, setidaknya untuk saat ini.
sebab seringkali kita begitu berat mendo'akan untuk orang lain yang lebih dalam kesusahan, mungkin dekat kematian atau dalam perang. Mendo'akan orang yang paling kenal dalam sepanjang hidup pun, misalnya ayah dan ibu, tidak pernah seperti ini.
Jika dipertemukan dalam keadaan seperti ini. sama-sama tahu bahwa kita tak bisa menjalani kebersamaan tanpa restu dari Tuhan, pastilah kita menerka-nerka kiranya apa yang sedang Tuhan rencanakan.
Aku mendo'akan keselamatanmu hingga lupa mendo'akan keselamatanku sendiri. Aku memastikan kamu aman ketika menyebrang jalan atau sekedar memastikan kamu hari ini sehat walafiat.
ini persis seperti anak laki-laki yang jatuh cinta pada mobil tamia di toko mainan, memerhatikan dan menginginkan. Sekedar ingin. Dinding kaca menjadi batas antara memiliki dan tidak memiliki. Seandainya dipecahkan, tentu saja dimarahi satpam. sedang ia belum memiliki kecukupan untuk membelinya.
Aku padamu adalah seorang dan orang lain yang bukan siapa-siapa. Jika aku peduli padamu, itu semata karena aku tidak tahu tentang bagaimana mengatasi perasaan. setidaknya aku mampu untuk menahannya dengan cukup mendo'akan. Aku menahanya untuk tidak lebih dari itu