may the force be with you . #starwarsday #starwars #starwarscelebration #cant #pejuangsbm #maythe4thbewithyou #maytheforcebewithyou #nerd #haha

seen from China
seen from China
seen from China
seen from United Kingdom
seen from Russia
seen from United States
seen from Germany

seen from United Kingdom

seen from Germany
seen from France

seen from India
seen from United States

seen from Austria
seen from China

seen from United Kingdom
seen from China
seen from Austria

seen from United States
seen from India
seen from Yemen
may the force be with you . #starwarsday #starwars #starwarscelebration #cant #pejuangsbm #maythe4thbewithyou #maytheforcebewithyou #nerd #haha
Kadang suka kesel sama orang yang mengukur kemampuan dari "kuliah di universitas mana?" Atau "masuk tahun pertama atau kedua?" Apalagi "bukan kedokteran ya?" Parahnya "dih gap year!"
Yaudah anggap aja itu palu, dan kamu besinya. Semakin dipukul semakin pipih. Dan jatuh bangun kamu, itu gesekannya. Maka jadilah si besi yang pipih tergesek gesek dan menjadi tajam. Yah gimana lagi? Kita ga bisa kontrol mulut orang. Sama aja, ngontrol mulut sendiri pun udah susah kan? 😊👌
SNMPTN, SBMPTN, USM PKN STAN: Kenangan Tiga Tahun, Akankah Terlupa?
Three years has passed. Wkwkwk. Maafin saya yang luput menunaikan janji untuk menceritakan sekelumit kisah perjuangan SNMPTN, SBMPTN, dan USM PKN STAN. Ya, walaupun dah basi sih tahun 2016. Gak papa deh, hitung-hitung jadi diary siapa tau lima tahun ke depan saya udah lupa sama kisah ini hehe.
Memilih. Jujur, saya orang yang paling benci sama pilihan. Ga suka milih. Dengan alasan saya adalah anak yang bingungan, rada plin plan, denger nasihat dikit bisa goyah...
Singkat cerita (panjangnya ada di part 1), setelah melalui kegalauan yang diatasi dengan sholat istikharah akhirnya saya mantap untuk memilih Pendidikan Dokter sebagai jurusan pilihan saya di SNMPTN. Toh, jadi dokter juga cita-cita dari kecil, kok. Saya merasa sangat mantap dengan pilihan itu.
Prestasi saya di sekolah bisa dibilang cukup lumayan. Saya masuk ranking 10 besar paralel dari 252 siswa jurusan IPA. Guru-guru optimis saya bisa lolos SNMPTN. Saat itu saya memilih Pendidikan Dokter UNS sebagai satu-satunya pilihan saya pada SNMPTN. Bermodalkan nekat, padahal belum ada alumni yang lolos di PTN tersebut. Tidak apa, kata guru-guru saya, siapa tau saya jadi pembuka jalan bagi sekolah saya untuk bisa masuk UNS.
Saat memilih PTN pun saya lagi-lagi menghadapi yang namanya galau. Mau pilih mana ya... Di satu sisi, mama saya mendorong saya untuk lebih nekat lagi wkwkwk. Masa saya disuruh pilih FKUI -_- Kalo saya masuk 5 besar sih saya berani, ini kan cuma 10 besar. Anak yang rankingnya di atas saya juga udah ada yang milih FKUI. Saya tau diri sedikit lah hehehe.
Pilihan jatuh ke Pendidikan Dokter UNS. Dengan sedikit keraguan. Firasat saya mengatakan saya tidak akan lolos. Yaudah lah ya, kalau Allah berkehendak, apapun bisa terjadi. Mau saya udah punya firasat kek, mau sekolah saya belum ada “pembuka jalan”nya kek, kan tetap Allah yang punya kuasa. Iya kan? :)
Lanjut kapan-kapan ah. Mau makan bakwan dulu hahaha.
SNMPTN, SBMPTN, USM PKN STAN : Tidak Ada yang Tidak Mungkin (Part 1)
“If something is destined for you, never in million years will it be for somebody else.”
Yey! Akhirnya dapet kesempatan buat nyeritain perjuangan yang sangat luar biasa di tahun 2016 ini. Saya dapet motivasi lewat tulisan orang lain, jadi saya juga pengen banget bisa membagikan tulisan untuk memotivasi orang lain. Bismillahirrahmaanirrahiim. Semoga bermanfaat dan bisa menginspirasi teman-teman semua yang sedang berjuang atau akan berjuang untuk meraih cita-cita kalian.
INTRO : Galau, Bimbang, Gonta-Ganti Pilihan
Kegalauan dimulai dari akhir kelas 11. Yaa mau kelas 12 lah ya. Kalian tau apa kegalauan yang saya rasakan?
Saya tidak tahu harus masuk jurusan apa.
Saya yakin, banyak orang yang merasakan apa yang saya rasa. Bukan saya saja. Apalagi sudah kelas 12 dan muncul banyak pertanyaan “Nanti kuliah mau ambil jurusan apa?”
Cita-cita saya dari kecil adalah menjadi dokter. Mainstream gak sih cita-citanya? Cita-cita anak TK banget kan? Bagi saya, menjadi seorang dokter itu mulia sekali. Hidupnya untuk mengobati orang lain. Keren deh pokoknya! Dunia dapet, akhirat juga dapet. Saya tidak pernah mengubah cita-cita saya untuk menjadi seorang dokter sampai akhir kelas 10.
Namun, di kelas 11 saya berubah…..
Saya akui, saya tidak terlalu jago di bidang biologi (pokoknya yang banyak hafalannya, bukan biologi aja). Saya merasa saya lebih kuat di pelajaran hitung-hitungan. Saya suka banget pelajaran matematika. Padahal banyak banget kan yang sebel sama matematika?
Tapi, meskipun saya gak jago biologi, asalkan saya suka dengan cara mengajar gurunya, saya akan berusaha sebaik mungkin untuk ngertiin materinya. Mau gimana pun caranya, begadang, buat catetan lucu (?), nyari materi di internet karena mumet baca bukunya, saya jalanin.. Dengan satu alasan, saya suka cara mengajar gurunya.
Terdengar pilih-pilih ya? Ya, kita emang gak bisa nuntut orang lain untuk berperilaku sesuai yang kita mau. Apa daya, saya bener-bener gak suka dengan guru biologi kelas 11 dan saya sempat membenci pelajaran biologi selama satu tahun. Nilai biologi saya turun jeblok dari B+ ke B-. Sangat drastis. Hanya karena saya gak suka sama gurunya dan guru tersebut tidak memberi nilai yang sesuai dengan hasil usaha saya. Gak perlu diceritain ya kronologinya gimana…
Guru tersebut berhasil mengubur cita-cita saya untuk menjadi dokter selama setahun :’)
Sempat kepikiran untuk berubah haluan jadi apoteker. Apa ambil farmasi aja ya? Mirip-mirip kan sama kedokteran tapi ada kimianya….. Oh ya, saya juga suka pelajaran kimia. Keren aja gitu tiap materinya saling berkesinambungan hehe.
Saya gak yakin (kebanyakan gak yakinnya nih) untuk ngambil farmasi. Apalagi ada rumor farmasi hafalannya lebih parah dari kedokteran. Gak tau sih faktanya gimana… Namanya juga rumor…
Awal-awal kelas 12, saya konsultasi dengan banyak orang. Saya minta saran dari orang tua saya, sepupu, om, tante, guru bimbel, dan juga teman-teman. Ayah saya tetap menyarankan saya untuk jadi dokter, kalau ibu sih terserah saya katanya… Sepupu saya bilang “Farmasi aja! Jadi dokter lama lho.” Om-tante nyaranin jadi dokter aja, biar di keluarga besar ada yang jadi dokter (ini alesan yang klise banget gak sih). Guru bimbel bilang “Ilmu komputer aja atau matematika murni. Sesuai banget sama passion kamu.”. Sementara ada beberapa teman yang nyaranin jadi guru matematika…….
Bingung. Konsultasi malah bikin makin bingung. Aduuhh pilih apa ini. Untuk masa depan gak bisa main asal pilih…
Akhirnya saya memantapkan pilihan saya di Ilmu Komputer. Saya cari-cari info tentang apa yang bakal dipelajarin, prospeknya gimana. Saking penasaran sama dunia per-ilkom-an saya main games berbau coding. Hahaha seru juga ternyata. Pas acara BKUI saya “maksa” temen saya untuk mampir ke gedung Fasilkom UI. Pulang dari UI saya bilang ke orang tua saya
“Ma, Pa, kakak mau masuk ilmu komputer UI ya? Boleh kan?”
“Kan kakak yang ngejalanin, ya boleh lah.” kata Ibu saya. Ayah diem aja, no comment. Saya tau saat itu beliau masih menginginkan saya untuk jadi seorang dokter.
Saat pengambilan rapot kelas 12 semester 1, pikiran saya berubah lagi.
Waktu itu yang bagiin rapot guru biologi (kelas 12) saya karena wali kelas saya sedang melaksanakan ibadah umrah. Saya suka sekali dengan cara mengajar guru biologi saya. Beliau cerdas, penyampaiannya jelas, dan selalu menuntut kita untuk aktif di pelajarannya. Masih muda, enerjik, dan juga baik. Ini gak lebay lho yaa, emang beneran begini menurut saya dan beberapa teman saya sih hehe.
Beliau lah yang menyarankan saya untuk ambil kedokteran karena memang di semester itu nilai biologi saya bisa dibilang cukup tinggi. Dengan catatan, jangan pilih FKUI di SNMPTN. Pilih FK universitas lain, Kenapa jangan pilih FKUI?
Karena FKUI ‘biasanya’ hanya menerima 1 orang dari sekolah yang levelnya seperti sekolah saya dan ‘biasanya’ (lagi) yang diterima adalah anak yang ranking paralelnya tinggi. Minimal lima besar lah…
Guru biologi saya menyarankan agar saya memilih FK Unand. Karena letaknya di kampung kita FK Unand bagus, akreditasinya A, dan sudah ada beberapa alumni yang melanjutkan studi di sana.
Saya bingung. Padahal sudah hampir fix mau pilih Fasilkom UI…
Saya kembali berunding dengan kedua orang tua saya. Ayah dan ibu saya menyarankan untuk memikirkan lagi untuk ambil kedokteran. Kan kakak pernah mau jadi dokter, apa benar-benar gak ada keinginan kakak untuk jadi dokter lagi? Coba dipikirkan lagi antara Ilmu Komputer atau Kedokteran. Begitu kata ayah dan ibu saya. Ya, lebih seneng sih kalau kakak jadi dokter. Tambah ayah saya.
Saya sholat istikharah. Minta petunjuk, mana yang lebih baik bagi saya. Ilkom atau Kedokteran? Tepatnya bulan Januari hati saya mantap di kedokteran. Oke, fix kedokteran!
Part 2 lanjut beberapa hari lagi. Ceritanya panjang hihi. Lagi sibuk persiapan kuliah juga (gak sibuk-sibuk amat sih sebenernya)