Pelayatan
Aku selalu membenci pelayatan. Rumah duka selalu mengandung getir di setiap sudutnya, rasa kecut yang menjalar di seluruh tubuhku, udaranya yang selalu terasa sesak di dada, dan rasa hampa yang memenuhi udara. Bukannya aku takut akan kematian atau aku benci ditinggalkan, sungguh bukan karena itu. Maka akan aku ceritakan segala hal yang aku benci di pelayatan, kebetulan hari ini ada sebuah pelayatan di kampungku.
Pukul 13:00 siang ini, seorang pemuda bernama Yanto ditemukan meninggal di kamarnya. Lehernya dipeluk kabel yang terhubung di usuk kamarnya. Dia ditemukan oleh ibunya yang baru pulang sehabis mengajar di SD kampung sebelah. Yanto sendiri adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Yanto adalah seorang pemuda pendiam dan jarang bersosialisasi, hidupnya dihabiskan mengurung diri di kamarnya dan merampungkan pekerjaan yang dia dapat secara daring di media sosial. Ah Yanto, yang sejak kecil ditinggalkan oleh ayahnya merantau ke pulau seberang, yang tak pernah pulang, yang kepulangannya berupa surat bahwa sang ayah tinggal sebuah nama. Ah Yanto yang malang, yang dibenci oleh para saudaranya sehingga membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hidupnya.
Di pelataran rumah Yanto, para pemuda dan bapak-bapak seraya kompak bahu-membahu mendirikan tenda untuk melindungi para pelayat dari jahatnya cuaca. Tak hanya tangannya yang bekerja, mulut mereka juga saling bergerak membicarakan janda kembang desa sebelah yang bahenol dan aduhai lekuk tubuhnya. Pembicaraan yang getir untuk sebuah pelayatan.
Di belakang rumah Yanto, para pemudi dan ibu-ibu memasak. Memasak cerita Yanto selama hidupnya.
“Duh tidak disangka ya bu?” kata Bu Painem
“Iya bu, padahal kemarin kelihatan sehat lho.” Bu Minah menimpali.
Percakapan bodoh. Bukankah memang perihal kematian memang tak ada orang yang bisa menyangkanya? Para pemudi dan para ibu juga menggunjing perihal Yanto yang dianggap melakukan tindak pesugihan karena punya banyak uang tanpa keluar rumah. Ah memang sial untuk Yanto, perihal belanja daring saja jadi masalah. Sungguh terasa kecut.
Di sekitar ruang kelurganya, para kerabat saling berkumpul memakai pakaian dengan warna seragam, hitam. Setelah selesai mengucapkan kalimat perpisahan dan berdoa untuk jenazah, mereka juga ikut membicarakan kehidupan Yanto.
“Kok bisa ya dia bunuh diri? Padahal kayaknya nggak ada masalah sama orang lain, orang bersosialisasi saja tidak pernah lho.” Mbak Susi berbicara dengan mudahnya kepada kerabat yang lain, yang tidak Mbak Susi ketahui adalah Yanto kecil kerap mendapatkan perundungan. Rasa trauma itu yang membuat Yanto enggan untuk bersosialisasi dengan orang. Sedang para kerabat tak ada yang mengetahuinya, meraka masih sibuk mengunyah makanan ringan dan merokok. Sungguh terasa sesak.
Sedang di ruang tamu, jisim Yanto masih tergeletak ditutupi jarik. Ibunya menangis terisak di samping tubuh Yanto, dibelakangnya terdapat dua orang saudara Yanto dan seorang lelaki tengah baya yang juga menjabat sebagai carik. Kedua saudara Yanto hanya terdiam, sementara Pak Carik berusaha menenangkan Ibu dengan mengelus pundak Ibu.
Ruang tamu yang hampa, yang tanpa suara selain suara tangis Ibu. Dua saudara Yanto masih terdiam dan membisu, tak ada percakapan. Tak ada ekspresi dari keduanya, tapi satu hal yang jelas, jauh di dalam lubuk hati mereka, mereka merasa lega. Tidak ada lagi adik menyebalkan untuk mereka, tak ada lagi adik bodoh untuk mereka, dan juga kelegaan bahwa warisan orang tua mereka hanya akan dibagi menjadi dua, bukan tiga.
Pak Carik masih saja mencoba menenangkan Ibu Yanto. Pak Carik merasa tak tega melihat Ibu yang kehilangan anaknya. Pak Carik yang memang sangat dekat dengan Ibu, yang begitu dekatnya hingga dapat memiliki kunci rumah Yanto. Pak Carik yang dekat dengan Ibu, yang kerap menginap di rumah Yanto selama Ayah bekerja di pulau seberang. Pak Carik yang pernah digerebek oleh warga saat menginap di rumah Yanto, di saat Ibu belum berstatus janda.
Yanto yang malang, yang selama hidupnya menderita. Yanto yang malang, yang tidak dipedulikan. Yanto yang malang, yang kerap mendapatkan perundungan. Yanto yang malang, yang sudah mati masih dihinakan. Yanto yang malang, semoga kematian menolongmu dari kemalangan.
Jadi, hal-hal ini yang membuatku tidak menyukai pelayatan. Aku, Yanto. Aku membenci pelayatan, khususnya pelayatan saat kematianku.


















