Sejiwa Kita Dalam Kurun Waktu
Pernahkan langit terasa begitu dekat dengan helai rambut ?
Bahasa kalbu menjadi isarat hatiku saat ini, hilang timbul kenangan nostalgia diri,
Berjalan langkah terarah meninggalkan kalian, seiring waktuku memudar ditepian.
Kawan, dalam bahasa mungkin tidak lebih dari makna keluarga, tidak lebih dari ikatan darah, tidak lebih dari sandaran pendamping hidup. Namun ada artian denagn makna yang lebih dalam disana, sebuah tranpotasi yang mengantar perjalanan anak laki- laki berkelahi dan anak perempuan yang menangis. Tanpa kawan kehampaan terasa nyata, kegelisahan dalam perjalan kedewasaan, kehampaan lingkungan sosial. Aku, kalian saling mengantarkan hingga kita mencapai simpang pemberhentian, simpang berbeda dimana transportasi lainnya sedang menunggu kita. Persimpangan yang memisahkan hubungan namun menimbulkan kenangan panjang, sebuah tempat dimana langit terasa begitu dekat dengan helai rambut.
Waktu berjalan tegap tanpa torehan kebelakang, langit berjalan mendekat kemudian kembali menjauh, begitu banyak transportasi yang mengantarkanku hingga tempatku saat ini, sebuah tempat dimana aku mengenang kawan perjalanan, sebuah tempat aku menangis merintih kesepian, sebuah tempat tanpa ada transportasi lain menungguku.
Senja langit kali ini, merah cahaya mentari menyinari. Aku yang terhenti terkubur dalam nuansa pasif kehidupan, seonggok monster bernama uang menerkam, mencekik leherku, menenggelamkan tanpa bisa aku melihat sang waktu. Entah apa aku masih merasa hidup saat ini, aku berharap kawan, kalian mendengar tangisanku, merasakan rintihanku hingga mengirim banyak transportasi untuk meneluarkanku dari belenggu monster ini, hingga aku merasa hidup, merasakan kembali kehidupan, merasakan hangat langit yang begitu dekat dengan helai rambut.