3 Mantra Pengubah Takdir
1. Ridho Memahami bahwa apa pun peristiwa atau kejadian sebagai Undangan Kebaikan dari Allah, baik itu takdir manis atau takdir pahit.
Ridho atau biasa kita pahami Perasaan Menerima, tanpa rasa keluh-kesah. Itulah yang membuat hati kita lapang dan damai atas takdir apa pun yang terjadi dalam hidup kita.
Kuncinya: Terima… Syukuri...
2. Do’a Kita semua tahu bahwa do’a adalah sebaik-baik senjata kaum Muslim. Lantas kenapa kita enggan berdo’a. Ingat… do’a yang telah dilangitkan tak akan kembali sia-sia, asalkan ia do’a kebaikan.
Bukankah sudah banyak keajaiban-keajaiban yang bermula dari do’a?
“Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (Q.S. Al-Mu’min: 60)
Kuncinya: Rasakan… Penuh Keyakinan… Ulangi, Terus-Menerus…
Jangan sampai do’a kita terasa hambar, hampa, atau rutinitas belaka. Karena do’a adalah momen istimewa dimana kita bisa ngobrol berdua dengan Tuhan Semesta Alam.
Do’a ini bahasannya amat panjang, semoga lain waktu Allah masih memberi kesempatan membahasnya.
3. Ikhtiar Jika do’a melangit tinggi, maka ikhtiar itu membanjiri bumi. Ketika do’a sudah melangit tugas kita selanjutnya adalah menjemput karunia Allah di muka bumi.
Kuncinya: Bergerak… Penuh Harap… Tawakkal Maksimal…
Contohnya adalah kisah air Zam-Zam. Tahukah kamu kenapa Ibunda Siti Hajar bolak-balik Safa dan Marwah sebanyak 7 kali?
Harusnya ketika kita mencari air itu kan mutar-muter, bukan bolak-balik. 1 sampai 3 kali mencari air, kalau tidak dapat ya sudah cari ke tempat lain. Lha ini sampai 7 kali? Bayangkan!!!
Ternyata Ibunda Siti Hajar sudah tahu, di gurun pasir tidak mungkin ada airnya. Ikhtiar berkali-kali di tempat yang sama (Safa-Marwah) adalah bentuk kesungguhannya kepada Allah dan inilah cara Ibunda Siti Hajar merayu Allah lewat ikhtiarnya.
Ikhtiar maksimal bolak-balik Safa-Marwah, namun hati Ibunda Siti Hajar tidak pada ikhtiarnya, hatinya menembus langit merayu Rabb-nya.
Yogyakarta | 17 Jumadil Akhir 1441H






















