Mungkin hanya pengakuan dan pemaparan semata.
Mungkin hanya impresi kebenaran sementara.
Jam tiga. Waktu yang berisyarat pada angka, kerat garis, dan arah panah, memanah asaku.
Enampuluh putaran sebelum segalanya harus tuntas. Selesai. Tenggelam aku pada riuh rendah kesibukan orang-orang. Menggaris. Memotong. Merekat.
Peluh ini tak terkira, bersemangat sejak tadi malam. Memandikanku dengan aroma yang tak terduga. Kain lusuh menutupi tubuh, formalitas belaka. Simpul demi simpul di tanganku lebih penting dari apapun. Menjalin napas yang tersumbat di tenggorokan.
Sesederhana sweater beige model v-neck yang menggantung lemas di kurusmu. Aku menganga, menepis titik air yang berseluncur di dahi.
Apa yang kau tatap itu? Ulinan ijuk yang agak miring sana-sini? Sambungan benang hitam yang meninggalkan gores di jemariku? Atau lidi-lidi menyilang itu?
Tidak. Aku mundur. Peluh ini tak terkira, semakin bersemangat saja.