Buku Sebagai Jendela Pengetahuan
Bulan Agustus lalu, saya berkesempatan mengunjungi Perpustakaan Provinsi di Mataram untuk mengikuti kegiatan Penulisan Berbasis Konten Budaya Lokal. Kegiatan ini dihadiri oleh banyak pegiat literasi dari pulau Lombok dan Sumbawa, dan memberikan banyak wawasan baru, terutama mengenai sejarah dan budaya Sasak. Program ini dirancang untuk berlangsung dalam tiga sesi pertemuan.
Sebelum acara dimulai, saya menyempatkan diri untuk menjelajahi rak-rak buku di perpustakaan. Banyak judul menarik yang saya temui, tetapi satu buku yang benar-benar menarik perhatian saya adalah "Dari Buku ke Buku; Sambung Menyambung Menjadi Satu" karya P. Swantoro.
Awalnya, saya mengira buku ini akan membahas sejarah buku, mirip dengan karya Fernando Bâez yang menceritakan tentang kehancuran buku-buku saat invasi Irak oleh tentara Amerika pada tahun 2003, atau mungkin seperti tulisan Johannes Pedersen tentang sejarah kesusastraan di dunia Arab. Namun, saya terkejut ketika menemukan bahwa buku ini lebih dari sekadar itu.
Buku setebal 472 halaman ini menceritakan perjalanan awal penulis, Polycarpus Swantoro, dalam berinteraksi dengan dunia buku. Meskipun banyak membahas tentang sumber sejarah, tokoh, perjuangan, dan politik, penulisan buku ini sangat padat dan terstruktur dengan baik, meskipun terkadang temanya saling bertabrakan.
Petualangan dimulai dengan kisah Kakek Sang Penulis yang meminta bantuan Bunyamin Wibisono, seorang pengoleksi buku tua. Hobi mengoleksi buku tua ini mungkin sudah jarang ditemui di zaman sekarang, dan bisa dibilang merupakan hobi yang langka dan mahal. Pembaca diajak untuk menjelajahi berbagai belahan dunia, dari Asia hingga Eropa, Timur dan Barat.
Salah satu kejutan dalam buku ini adalah terungkapnya bahwa Kakek yang diceritakan adalah penulis itu sendiri, Polycarpus Swantoro. Meskipun ada beberapa tema yang tidak selalu sejalan, pembaca akan merasakan bahwa penulis memiliki cara unik untuk menggiring mereka ke dalam ruang refleksi dan pemikiran.
Dalam kata pengantar yang ditulis oleh Jakob Oetama, CEO Kompas-Gramedia, buku ini mendapatkan pujian dengan ungkapan bahwa membaca "Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu" adalah pengalaman yang menyenangkan dan mengalir dalam narasi yang menarik. Namun, saya merasakan hal yang berbeda; buku ini membuat saya berjuang dengan kebingungan dan ketidaktahuan saya tentang banyak hal yang diangkat dalam tulisan ini.
Buku ini mengandung pesan penting yang sulit untuk disimpulkan. Dalam satu buku ini, terdapat sekitar 200 judul buku lain yang diceritakan dengan penuh makna, dari sudut pandang berbagai tokoh, sejarawan, dan politikus. Penulis berhasil menyusun sejarah dengan kesungguhan dan ketulusan jiwa, menjadikan buku ini layak disebut sebagai mini ensiklopedia klasik-kontemporer yang langka.
Tidak hanya tokoh dan sejarawan dari Indonesia yang diulas, tetapi juga penulis dan sejarawan asing yang memberikan jejak intelektual mereka. Dengan ingatan yang kuat, penulis memberikan perspektif baru bagi pembaca yang senang menjelajahi kerumitan.
Sebagai penggemar buku, saya setuju dengan sinopsis yang menyebutkan bahwa isi buku ini adalah 'lompatan kegirangan' dari penulisnya. Pembaca mungkin akan merasa tersesat dengan pemikiran penulis yang luas, tetapi kesesatan itu akan terpecahkan jika kita membaca kembali beberapa kali. Ini bukanlah bentuk 'penyiksaan logika' atau 'pengkerdilan intelektual', melainkan lebih kepada tantangan untuk memahami.
Membaca adalah cara untuk menghidupkan imajinasi, bukan membunuhnya. Imajinasi yang hidup dapat membantu kita menemukan solusi dari kesimpulan yang rumit. Buku ini hadir dengan kekuatan literasi yang mengajak pembaca untuk bertahan dalam proses yang rumit dan keluar sebagai pemenang. Ini terasa ketika kita berhasil menyelesaikan halaman terakhir buku ini.
Dalam satu titik harapan, buku ini memberikan warna baru bagi pembacanya. Di tengah kerumitan berpikir, buku ini hadir untuk membantu pembaca memahami hal-hal yang sebelumnya tidak jelas.
Meskipun mungkin terasa sulit di awal, pembaca akan menemukan ritme dan kenyamanan saat menyelami isi buku ini.
Setelah hampir dua minggu meminjam buku ini dari Perpustakaan Provinsi NTB, saya masih bergelut dengan pemahaman dan mencoba menyusun kembali informasi yang ada. "Dari Buku ke Buku Sambung Menyambung Menjadi Satu" tetap menjadi salah satu karya terbaik yang saya baca, dan saya berharap buku ini dapat menginspirasi banyak orang seperti saya.
Baca selengkapnya di Batuter.Com
Link Center : https://tautanku.com/batutercom