Perahu kayu yang miring jalannya 1 (Satu)
A: Hai, lama tak jumpa ya
B: Iya, sepertinya kamu terlihat baik-baik saja
A: Oh ya? (tertawa kecil) mungkin itu karena kopi yang terus saja kau pegangi dari tadi. Ristretto.
B: Ini? Bagaimana kamu bisa tahu ini Ristretto?
A: (tertawa kecil)
B: Aku pernah berkunjung dua kali ke kedai kopi ini demi Ristretto (tersenyum). Dulu.
A: Dulu? Maksudmu bagaimana?
B: Iya, beberapa bulan ini terasa seperti bertahun-tahun buatku. Aneh ya?
A: Ah... kurasa itu tergantung alasan (sembari membolak balik buku menu)
B: Alasan, huh... Sesuatu yang tidak kusuka, namun selalu aku gunakan, kapanpun, dimanapun (sembari menyalakan rokok)
A: Mari kubuat mudah, aku ingin melihat caramu bercerita tentang apa yang kamu alami? (masih membolak balik buku menu)
B: Yah... (menghembuskan asap rokok). Ini soal... perahu kayu... yang miring jalannya.
A: Uh huh...(masih membolak balik buku menu)
B: Bermula dari aku yang masih muda, tak berhenti mengumbar nyali. Bermimpi apa saja, kapan saja, dan dimana saja. Imajinasi dan mimpi terus mengalir begitu deras, hingga aku mulai menantang alam semesta. Aku melompat sambil tertawa ke samudra luas. Tujuanku hanya satu, aku ingin alam semesta melihatku. Kutunjukkan pada-Nya mimpi yang tak pernah dimimpikan siapapun. Mimpi dari orang yang amat bodoh dan berkarat hatinya. Mimpi yang hari ini ternyata hanya jadi bualan sia-sia. Mimpi yang membuatku ditampar oleh-Nya sehingga tak henti-hentinya aku berterimakasih...
Kupikir lompatanku waktu itu adalah ujung tombak dari mengapa aku masih disini menceritakan kisah ini padamu. Karena itulah, aku bertemu perahu itu... (mengisap rokok dalam dalam)
A: Lanjutkan untukku (menutup buku menu)
B: Sebaiknya aku memanggil barista dulu untukmu (menghambuskan asap rokok lalu berdiri dan melambaikan tangan pada orang dibalik mesin penggiling kopi)








