Cerita Amai #1
Sore itu Amai menemukan pikirannya sedikit terganggu lantaran kelemahan hatinya yang mudah tersakiti hanya karena melihat sesuatu tidak mengenakkan yang tidak sengaja dilemparkan temannya pada Amai. Kemudian pertanyaan liar itu mengisi pikirannya.
“Jika Allah menciptakan manusia untuk beribadah, mengapa Dia tidak ciptakan saja manusia secara individual? Mengapa harus ada manusia lain untuk bersosialisasi? Mengapa tiap orang tidak diciptakan di dunia mereka sendiri saja dan terpisah dengan dunia orang lain? Allah sangat kaya kan? Dia pasti bisa menciptakan satu bumi untuk satu manusia. Sehingga tidak ada tanggung jawab yang harus dipikul untuk manusia lain, tidak ada etika-etika yang harus dipatuhi untuk menghormati manusia lain, dan yang paling penting, tidak ada lagi manusia yang sakit hati karena manusia lain, karena masing-masing dari mereka tidak pernah saling bertemu, mereka hidup sendiri di dunia mereka masing-masing, hidup mereka didedikasikan untuk ibadah saja kepada Allah, dengan sholat, ngaji, puasa, dzikir. Bukankah dengan begitu, lebih banyak manusia yang jadi taat?”
Kemudian hati kecil Amai menyadari kelemahan hatinya itu dan menuntunnya beristigfar. Hati kecil itu pintar, ia tidak perlu waktu lama untuk bisa menjawab pertanyaan liar dari pikirannya. Segera ia menjawab,
“Bukankah dunia itu memanglah permainan? Allah ingin kita menjadi bijak, tidak terbawa pada arusnya permainan dunia. Kehendak Allah permainan dunia ini bertipe multi-player, bukan single-player. Memang bisa saja Allah menciptakan kita sendiri-sendiri di planet kita masing-masing tanpa pernah saling bertemu, sehingga kita bisa dengan damai menunaikan ibadah sendiri-sendiri tanpa ujian-ujian berarti di dunia kita. Tapi, hal itu akan mengecilkan tingkatan ibadah kita. Masalah hati menjadi faktor utama ibadah kita menjadi tinggi, juga menjadi faktor utama pembeda antara manusia dan malaikat. Ujian hati biasanya muncul jika kita bersosialisasi. Ada jumawa, amarah, kedengkian, dan masalah-masalah hati lain yang harus kita hindari. Sedangkan ada keikhlasan, kesabaran, keteguhan, dan perhiasan-perhiasan hati lain yang harus kita kumpulkan. Semua itu akan menjadi ujian hati kita hanya jika kita bertemu dengan orang lain. Jika kita lulus dari ujian hati tersebut, kita akan menjadi manusia yang tingkatannya lebih tinggi daripada makhluk lainnya. Begitulah Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang spesial daripada makhluk lainnya. Karena ada hadiah besar yang disiapkan-Nya untuk kita yang berhasil menghadapi ujian dunia.
Lagipula, kita tidak pernah tahu kan, kita ini sebenarnya diciptakan bagaimana? Kita tidak penah tahu kan, permainan seperti apa yang diciptakan Allah? Siapa tahu kita memang diciptakan sendiri-sendiri di planet kita masing-masing. Siapa tahu orang lain hanyalah ornamen-ornamen yang diciptakan Allah yang sebenarnya tidak benar-benar hidup. Bisa saja mereka diciptakan hanya sebagai penguji hidup kita. Bisa saja mereka diciptakan untuk berpura-pura menjadi bagian dari dunia ini, berpura-pura menjadi manusia seperti kita, padahal mereka hanya objek-objek tidak nyata yang tiap kita tertidur, mereka menghilang. Wallahua'lam.”
Kemudan pikiran liar itu terdiam. Ia menolak untuk setuju, tapi ia belum memiliki argumen lain yang bisa melawan hati kecil Amai. Dan Amai harap, pikiran liar itu tidak menjadi lebih liar lagi.











