Raih Suksesmu!
(Sebuah cerpen)
“Akhirnya, aku lulus SMA!” batin Amora gembira. Tentu ia sangat senang, karena perjuangannya menempuh segala macam tugas, ulangan, dan Ujian Nasional, terbayar sudah dengan kata-kata ‘LULUS’ di surat yang ia terima.
Layaknya wisuda mahasiswa, para calon alumni SMA Prigi masing-masing maju ke depan podium sambil menerima toga yang disematkan Pak Johan, kepala sekolah mereka. Wajah-wajah bahagia, haru, bahkan tangis, semua bercampur jadi satu dalam suasana megah acara perpisahan SMA Prigi. Beruntungnya, Amora dinobatkan sebagai siswi berprestasi seangkatan, karena aktif dalam berbagai macam organisasi, baik dalam bidang akademis maupun non akademis.
“Papa bangga banget sama kamu, nak!” seru Pak Amron, ayah Amora, setelah putrinya turun dari panggung dan duduk disampingnya.
Melihat suaminya mengelus rambut Amora yang baru menginjak umur ke-17 nya dengan penuh kasih sayang, Bu Ranti pun terharu melihat hasil dari perjuangan putri tunggalnya tersebut.
“Nggak sia-sia kamu selalu disiplin, bangun pagi tiap hari, belajar siang malam sampai akhirnya sukses seperti sekarang,” ujarnya bangga.
“Ini semua kan, berkat ayah dan ibu juga...” balas Amora terharu. “Untung kalian mendukung semua kebutuhan Amora...” gadis itu terdiam sejenak “kayak jam weker Doraemonyang ibu kasih waktu Amora pertama kali masuk SMA itu lho. Karena itu, Amora jadi jarang telat dateng ke sekolah!” serunya ceria.
“Oooh, yang ada stroberinya itu ya? Waktu itu, ibu belinya murah banget... cuma 194 ribu, ternyata besar sekali manfaatnya,” sahut bu Ranti senang (biasalah, ibu-ibu penganut prinsip ekonomi, hehehe.) sambil berusaha mengingat-ngingat bentuknya.
“Hahaha, iya bu, yang mukanya monyong-monyong lucu itu loh,” tukas Amora sambil tertawa. “Hari-hari Amora jadi lebih ceria deh, sehingga lebih semangat belajar!”
“Bagus dong kalo gitu. Pas kuliah nanti, kamu harus lebih rajin ya!” nasihat Pak Amron, yang disambut dengan senyum manis putrinya.
Amora dan orangtuanya menikmati setiap rangkaian acara dengan bahagia. Ada pula yang menjadi ajang reuni antar sesama orangtua siswa, hingga sampai pada acara penutupan. Sesi yang paling mengharukan ini, seakan-akan menjadi perpisahan yang berat antar siswa, guru, dan orangtua. Meninggalkan bangku SMA, tentunya akan menghadapi tantangan yang lebih besar lagi. Beberapa siswa ada yang langsung mencari kerja, atau melanjutkan kuliah seperti Amora. Isak tangis riuh terdengar dimana-mana...
Tak terkecuali Amora, yang dalam perjalanan pulang masih saja mengusap-usap kedua matanya.
“Anak mama yang cantik jangan nangis terus dong...” hibur Bu Ranti.
“Sampai rumah nanti, ayah sama ibu bakal ngasih surprise buat kamu!” lanjut Pak Amron.
“Hah?! Beneran, nih? Asyiiiiiik!!” Seketika, gadis itu kembali ceria. Tambah cerah lagi wajahnya begitu melihat surprise yang telah disediakan kedua orangtuanya.
“Boneka bantal!!! Makasih ayah, makasih ibuuu!” seru Amora sambil memeluk Pak Amron dan Bu Ranti bergiliran.
“Gimana? Amora suka?” tanya ayahnya.
“Suka bangeeet! Ayah sama ibu tau aja deh, kalo Amora suka gambar-gambar kartun begini.”
“Habis, kamu hobinya nonton animasi melulu, jadi ibu carikan hadiah yang cocok buat merayakan kelulusanmu, di sebuah toko online terpercaya, lho! Karena warna dan bahannya bagus, ibu beli deh” seloroh Bu Ranti.
“Tapi, Amora harus berjanji dengan ayah dan ibu, beberapa tahun nanti Amora bisa jadi pebisnis sukses, oke?” seru Pak Amron tegas.
Untuk sesaat, wajah Amora nampak ragu. Apakah bisa ia memenuhi permintaan orangtuanya, sekaligus mencapai cita-citanya sejak kecil untuk menjadi seorang businesswoman? Ditambah lagi, ia merupakan anak tunggal, jadi segala harapan orangtuanya sudah pasti tertumpu di pundaknya. Tapi, impian besar harus diraih dengan sungguh-sungguh, bukan? Jadi, Amora mengangguk mantap atas ‘tantangan’ Pak Amron, kemudian berjanji dalam hati agar bisa membahagiakan kedua orangtuanya.
***
“RIIIINGGGGG RIIIIINGGGG”
Suara weker Doraemon strawberry membangunkan Amora yang masih terlelap dalam mimpinya, kenangan saat baru lulus SMA. Kini, Amora yang telah berusia 22 tahun, berhasil membangun karirnya, merintis online shop khusus menjual aksesoris murah. Usahanya laku keras, berkat kepercayaan konsumen yang selalu ia jaga, keramahannya dalam melayani setiap pesanan, menyediakan member card bagi pelanggan loyal-nya, dapat berkonsultasi secara online, dan yang tak kalah penting ialah mutu barang terjamin dan pengiriman yang cepat.
Dengan cepat ia merapikan tempat tidur serta bantal Hello Kitty kesayangannya, mematikan weker dan lampu tidurnya yang berbentuk karakter Spongebob (hadiah sweet seventeen dari Karis, sahabat semasa SMA), yang ternyata masih bagus dan awer setelah dipakai selama kurang lebih 5 tahun.
Amora segera menuju ke kamar mandi, mempersiapkan segala keperluan untuk menuju ke rumah orangtuanya. Rumah yang ia tempati selama tujuh belas tahun, menjadi saksi bisu atas segala jerih payahya demi diterima sebagai mahasiswi di salah satu sekolah bisnis terbaik di Indonesia.
Waktu tempuh selama satu jam dari Jakarta-Palembang pun tak terasa, melihat senyum bangga kedua orangtuanya yang menyambut Amora. Pak Amron dan Bu Ranti dengan senang hati mengantarkan putri semata wayangnya itu ke kamarnya, sesampainya mereka di rumah. Amora seketika terkejut melihat papan kayu bertuliskan namanya tepat di depan pintu kamar.
“Masih dipajang aja papan nama kupu-kupu ini, “ ujar Amora tertegun.
“Iya dong... demi menyambut Amora yang udah sukses menggapai cita-cita nih!” balas Pak Amron sumringah.
“Walau anak ibu dan ayah telah merantau jauh, tapi kami masih percaya, kalau suatu saat Amora akan menjelma jadi seorang wanita karir yang sukses besar,” sambung ibu Amora sambil memeluk putrinya, yang tanpa sadar menitikkan air mata.
“Bu, Yah... Amora janji, tetep berbakti sama orangtua yang udah mengasuh Amora selama ini, meskipun dulu Amora suka bandel, ngebentak, marah-marah karena ayah dan ibu ngelarang ini itu... tapi sekarang Amora sadar, larangan itu supaya Amora patuh dan jadi orang sukses...” setelah mengucapkan kata-kata itu, tangis Amora pun pecah.
“Yaudah, Amora masuk kamar dulu, tenangkan hati ya. Ini, ada kotak musik buat menenangkan hati kamu. Begitu tahu kamu mau pulang hari ini, jadi ibu pesan dulu seminggu sebelumnya. Untung pengirimannya cepat!”
Bu Ranti menyerahkan sebuah benda merah berhiaskan dua figuran Hello Kitty, tokoh kartun kegemaran Amora dari kecil tersebut.
“Makasih banget ya... Amora seneng punya orangtua yang suportif kayak kalian,” sahut Amora bahagia sambil memasuki kamarnya.
Malam hari itu, Amora merenung, betapa banyak hal berharga yang diberikan keluarga, terutama orangtua, demi mendukung anaknya untuk mendapatkan pendidikan terbaik hingga menjadi sukses. Meskipun terkadang sang anak, yang emosinya masih labil, sering membentak, memarahi, bahkan melanggar aturan orangtua. Namun percayalah, mereka pasti masih menyayangi anaknya, karena ingin sang anak tumbuh besar sesuai dengan harapan orangtua, yang terbaik baginya...
FB | Twitter | Web











