Peri Pohon
Sejak kecil aku suka sekali pohon. Bermain dengannya semenjak pagi ketika matahari berbayang panjang adalah kegemarannku.
Aku ingat di pekarangan depan rumah tumbuh sebuah pohon semirip kelapa dengan tubuh lebih ramping dan daun rapat. Aku sangat menyukainya. Ia mempunyai lubang-luang kecil di batangnya.
Suatu hari hujan deras mengguyur, aku mengintip dari jendela bagaimana bulir-bulir air deras membasahi pepohonan, tanah pekarangan, dan teras. Aku melihat langit sama sekali tidak mendung, namun putih seputih kapas dan agak berkabut.
Sambil melihat hujan, aku sering meniupkan udara ke jendela. Terlihat kabut-kabut udara dari mulutku menempel di kaca. Lalu aku menggambar lingkaran ataupun sekedar coretan tidak jelas di atasnya.
Menunggu hujan adalah saat-saat ketika pikiranku mengembara. Aku percaya peri itu ada. Aku tahu mereka bertubuh mungil dan berlari-lari ke sana ke mari.
Sejenak menunggu. Hujan pun reda.
Kubuka pintu untuk merasakan dinginnya udara. Aku keluar untuk melihat ke sekeliling pekarangan. Aku melihat dan memegang pohon mirip kelapa itu. Batangnya basah dilumuri tetesan hujan. Daunnya lebih hijau dari biasanya,
Setelah aku perhatikan salah satu lubang di batangnya terlihat penuh air. Lalu kusentuh dan keluarlah air dari sana. Seperti pancuran kecil. Aku gembira sekaligus takjub. Aku terpesona kenapa ada air keluar dari situ? Apakah pohon ini menyimpan air? Atau apakah karena hujan terlalu deras sehingga air masuk ke dalam batangnnya? Atau kah?
Iya, aku tahu mengapa....di sana ada peri. Peri pohon.













