Mau cerita dikit tentang hal yg lg buzzing bgt di kepala akhir-akhir ini. Bahwa jalanin aja, jangan banyak harusnya ini-harusnya itu. Banyak yg bilang apa yg gue jalani ini sia-sia. But what if this is my happiness? He is. Yea, HE IS. Despite perbedaan kami yg bikin bonyok sangat keras, gue merasa ya gue masih mau menjalani ini. Mengesampingkan perbedaan atau masalah sepele yg kadang pasangan lain besar-besarkan. Atau bahkan masalah yg mestinya bukan masalah dijadiin alesan buat putus. Bukannya gue jadi diskriminatif atau mendiskriditkan pasangan lain, cuma man...... Be grateful. Kalian masih bisa posting sana sini kalo kalian happiest couple in da world. Gue jg bisa sih, tp kl lg di keadaan gini, yg jd pikiran malah jd batas gerak-gerik sendiri. And I love mh family, truly, of course. But I love him too. Is it too much to have all of my love that I need? Do I worth it? Gue gaakan tau sampe titik dimana emang semua usaha sia-sia. Tapi gue gaakan nyerah karena faktor selain di diri kami. Selalu kami pikir seandainya kami sama.... Seandainya kami ini..... Itu...... . Tapi belakangan ini gue sadar, mungkin gue ga akan usaha sekeras ini buat sm dia kalo kita ga beda. Betapa gue bisa menyingkirkan bibit-bibit ga penting pertengkaran, tp lebih appreciate setiap momen yg kami lewati. Betapa emosi, egoisme dan sabar yg mulai kami latih justru untuk kelanggengan. Bahkan sampe bikin rencana apa yg akan kami lakukan 1 taun, 3 taun dan 5 taun ke depan. Hahaha, cliché kalo kata orang. Tapi ya gimana, kami ingin sesuatu yg visioner. Kalo ngga, ya kami udah masing-masing aja dari kemaren. Well, semoga Allah, Tuhan, atau whatever they called our Creator, tau mana yg bisa disebut cinta dan sayang yang tulus, selain cintaNya pada hambaNya dan cinta orang tua pada anaknya. Karena gue percaya sesuatu yang dibuat dengan niat baik, gak pernah sia-sia. Maybe they called me crazy, but what if it makes me alive? Maybe they called me crazy, but I'm not the only one. [np Marcell - Peri Cintaku] 😂😂😂😂😂