Kita Semua Pernah Bodoh
Pasti pernah, paling tidak sekali, kita melakukan hal yang sangat bodoh? Melakukan kesalahan? Bereksperimen dengan kehidupan?
Sebagai orang yang memiliki curiosity yang tinggi aku sudah memantapkan niat untuk melanjutkan pendidikan tinggi di jurusan teknik. Saat itu bidang yang menjadi idolaku adalah elektro. Terlebih semenjak SMA ku mendirikan ekskul robotik, niatku kian matang. Tinggal menetapkan universitas. Kota Bandung selalu menjadi primadona bagi sebagian besar teman-teman SMA ku. Sehingga mulailah aku mencari-cari daftar universitas di Bandung. Tanpa berfikir panjang, mantap sudah pilihanku pada sebuah universitas berlogo gajah. Hingga pada masa pendaftaran Seleksi nasional masuk perguruan tinggi baik jalur tes (SBMPTN) maupun jalur undangan (SNMPTN) selalu kutuliskan pada urutan pertama yang menunjukkan urutan prioritas.
Itu bukan lah sebuah kebodohan, melainkan sebuah impian seorang anak remaja. Lantas dimana letak bodohnya? Kebodohan pertama, semua keputusan itu dilakukan tanpa adanya pertimbangan matang seperti penilaian terhadap diri sendiri. Aku tidak melakukan riset tentang siswa seperti apa yang akan diterima oleh universitas. Semua hanya didasarkan oleh egoisme anak muda (Nekad) yang memutuskan dengan tergesa-gesa. Tidak berhenti di situ, kebodohan selanjutnya yaitu tidak menyiapkan rencana B apabila rencana A gagal. Fokusku hanya pada satu universitas dan hanya bermodalkan kepercayaan diri. Pada saat itu aku lupa bahwa ikhtiar harus didahulukan sebelum tawakal. Apakah kebodohannya berhenti di situ? Tidak.
Setelah SNMPTN & SBMPTN ditutup, aku tidak berminat untuk mengikuti tes jalur mandiri yang disediakan oleh beberapa perguruan tinggi. Kebetulan universitas incaranku itu tidak membuka pendaftaran jalur mandiri sehingga hilang motivasiku untuk mengikuti seleksi jalur mandiri. Hingga ketika semua jalur mandiri untuk perguruan tinggi negeri ditutup. Melihat latar belakang pendidikanku kalian pasti sudah tahu kalau aku tidak diterima baik SNMPTN maupun SBMPTN. Setelah pengumuman SBMPTN keluar, setelah itu juga aku mencari informasi perguruan tinggi negeri yang masih terbuka walau sebelumnya sempat mendapat shock dan berbagai macam ceramah dari orang tua. Hingga akhirnya aku melihat satu-satunya universitas negeri yang masih terbuka pada saat itu adalah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Universitas negeri menjadi prioritas utama karena biaya kuliahnya tidak terlalu tinggi.
UIN Sunan Kalijaga, namanya sangat asing di telingaku. Bahkan Kota Yogyakarta pun tak pernah terbesit di benakku sebagai destinasi melanjutkan pendidikan tinggi. Andai waktu dapat kuulang, mungkin sudah kuturankan ego dan mengambil keputusan yang lebih matang. Tapi, nasi sudah menjadi bubur, Sekarang hanya tinggal mengolahnya menjadi bubur ayam yang lezat untuk disantap. Maka, dimulailah lembaran baru kehidupanku di Kota Yogyakarta.
To Be Continued!!!
@henniarum @gugunm @sekotenggg @fadhila-trifani @mathmythic
















