Kali ini aku akan menulis tentang sebuah kisah yang belum pernah diceritakan oleh siapapun. Bisa jadi ini adalah sebuah kenyataan. Tapi, tidak menutup kemungkinan bahwa ini hanya sebuah fiksi. Tidak ada yang mengetahui orisinalitas dari kisah ini selain mereka yang memang mengetahuinya. Pasti ada orang yang akan merasa bahwa kisahnya mirip dengan yang pernah ia alami. Namun, itu hanyalah sebuah kebetulan. Bukankah banyak kebetulan yang terjadi dalam hidup? Baiklah, mari kita mulai dari sebuah tempat yakni sekolah.
Ketika itu aku duduk di kelas 3 SMP, Bersiap untuk mengikuti sebuah lomba bercerita dengan menggunakan bahasa inggris (telling story). Lomba itu mengutus satu orang siswa dan satu orang siswi dari tiap sekolah. Aku saat itu terpilih untuk mewakili sekolah dari pihak siswa. Dari pihak siswi adalah anak kelas 1, sebut saja Tini. Entah pertimbangan apa yang diambil oleh guru saat itu, tapi rasa sombongku sempat muncul kala itu
“koq anak kelas satu yang ikut? Emangnya sejago apa dia? Anak kelas dua atau tiga gak ada yang jago emang?” ucapku sombong dalam hati.
Ternyata Tuhan sangat menyayangiku. Dia tidak suka melihatku sombong. Sebagai pegingat, Dia memberiku penyakit varicella yang saat itu terkenal sebagai cacar air. Walhasil, aku tidak jadi berangkat untuk mewakili sekolah dan harus dipulangkan selama kurang lebih tiga minggu. Sekedar informasi, aku saat itu bersekolah di pondok pesantren, sejenis sekolah asrama berbasis islam. Pulang ke rumah tidak dapat terealisasi kecuali karena beberapa hal genting. Sakit adalah salah satu alasan untuk bisa pulang ke rumah, itu pun harus dengan rekomendasi dokter pondok. Itulah akhir pertemuanku dengan Tini. Pertemuan yang singkat dan tidak bermakna. Akhirnya segala persiapan untuk lomba harus ku pasrahkan ke salah seorang temanku. Sakit hati memang, hingga aku menjadi membenci bahasa pada saat itu. Tak ada lagi cita-citaku untuk menjadi bagian bahasa. Padahal sebelumnya, panggilan lomba bahasa datang silih berganti.
Tidak pernah lagi aku menemui atau mengenal Tini sejak saat itu. Bahkan namanya pun terlupa olehku hingga ketika liburan tiba. Karena rumahku terletak jauh dari pondok, harus naik pesawat itu pun seturunnya dari pesawat masih harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih empat sampai lima jam. Maka, untuk liburan yang hanya sepuluh hari terkadang aku berpikir dua kali untuk pulang. Suatu ketika, aku harus terlambat untuk kembali ke pondok. Tepatnya, saat liburan naik semester genap kelas 4 (satu SMA). Saat itu belum ada yang mengenal Whatsapp. Sosial media yang paling mainstream digunakan adalah Facebook. Iseng saja aku mencari orang-orang yang juga belum sampai di pondok. Ternyata, Tini pun belum sampai di pondok. Entah kapan aku menambahkannya sebagai teman di facebook, aku pun tak ingat. Namun, sejak saat itu aku jadi sering bertukar pesan. Basa-basi ku saat itu adalah tentang kakaknya yang ternyata menikah dengan orang yang satu pulau denganku. Jadilah aku menanyakan pendapatnya tentang daerah asalku. Percakapan pun saat itu diakhiri dengan basa-basinya meminta oleh-oleh kalau sudah sampai dipondok.
Sebagai perantau, ibuku sering memberiku buah tangan untuk dibawa ke pondok. Seringkali berupa makanan sehingga bisa ku bagikan ke teman-temanku. Salah satu buah tangan ini akhirnya ku berikan ke Tini sebagai “janji” dalam percakapan di facebook itu. Awalnya, memang sedikit canggung dan lucu ketika orang yang berkenalan via media sosial dan tidak pernah bertemu tiba-tiba bertukar hadiah. Selama di pondok kami jarang berkomunikasi. Terutama karena ada batas antara putra dan putri. Sebagai sekolah berbasis islam, pertemuan putra dan putri memang dibatasi. Hal ini membuat komunikasi pun sulit dilakukan secara langsung dan harus melalui perantara orang ketiga. Salah satu media perantaranya adalah surat yang dititipkan ke teman sekelas.
Bisa dibilang aku sangat jarang berkomunikasi dengan santri putri. Menurutku memang aku tidak ada urusan penting. Tapi kemudian, semua berubah ketika pergantian semester. Aku mendengar bahwa Tini sakit dan mencoba untuk memberi semangat agar cepat pulih dan bisa beraktivitas seperti biasa. Terdengar alay memang, terutama bagi orang sepertiku yang sering kali bersikap tidak peduli pada orang lain. Sebagai informasi dulu aku terkesan dingin di kalangan santri putri. Aku pun tak mengerti mengapa bisa mendapat kesan demikian. Bahkan, kesan itu bertahan hingga hari kelulusan. Padahal, di kalangan santri putra aku dikenal sebaliknya. Hal ini yang membuatku sering beranggapan bahwa aku punya kepribadian ganda. Hahaha.
Aku dan Tini semakin dekat ketika kelas lima (dua SMA). Namun, aku memang tidak pernah ada niat untuk berpacaran. Terlebih saat ku tahu bahwa salah satu teman baikku juga mendeketinya. Sebut saja Irfan, salah satu teman sekelasku sejak kelas satu. Irfan adalah salah satu sosok yang menghiburku ketika aku tidak betah dulu. Bisa dibilang dia adalah sosok yang cukup menginspirasiku hingga aku bisa betah jauh dari orang tua. Sejujurnya, aku pun setuju bila Irfan dan Tini “jadian” sepertinya mereka cocok. Namun, hal itu tidak pernah terjadi bahkan hingga hari kelulusan. Menurut kabar angin yang sampai padaku, ia merasa tidak enak karena aku juga dekat dengan Tini. Andai waktu dapat terulang aku akan sampaikan padanya “udah jadian ajah!!!”
Sejak pengiriman lomba telling story, hampir tidak pernah kulihat nama Tini absen dari perlombaan bahasa. Begitu juga dengan teman yang menggantikan ku dulu. Sering kali, sepulang dari lomba tidak jarang aku mendapatkan “oleh-oleh” lomba. Pernah suatu kali dia membelikan sushi, pernah juga dia membelikan stiker dan cokelat. Bahkan ketika study tour dia juga membelikan oleh-oleh. Terkadang oleh-oleh ini aku balas dengan cokelat. Menurutku cokelat adalah salah satu cara menghilangkan stress. Aku pernah membacanya di sebuah artikel bahwasanya coklat bisa melepaskan hormon yang dapat menurunkan tensi dan membuat lebih ceria. Hal itu yang sering kutuliskan dalam surat “pengantar hadiah”.
Berbicara tentang surat, belakangan aku mengetahui bila mengirim surat melalui teman sekelasku maka surat tidak akan langsung dibaca olehnya. Si “tukang pos” akan membacanya terlebih dahulu sebelum sampai ke tangan “penerima.” oleh sebab itu, aku pun mengganti metode pengirimanku melalui teman sekelasnya yang notabene adalah adik kelasku. Hal ini tentu membuat si tukang pos enggan membaca surat tersebut mengingat ia adalah adik kelas. Dulu senioritas cukup kental terasa. Jika kau punya masalah dengan senior maka kehidupanmu di asrama tidak akan tenang. Kemudian, aku mencari tukang pos yang kamarnya paling dekat dengan kamarku. Hingga suatu ketika si tukang pos menjadi aggota kamarku. Ini semakin mempermudahku untuk mengirim surat. Namun, untuk menjaga image ku lakukan dengan diam-diam. Aku kira sangat sedikit yang mengetahui bahwa aku surat-suratan dengan masif kepada santri putri.
Hingga suatu ketika . . .
perlu lanjut ke part 2 ga yah? @fadhila-trifani @henniarum @gugunm @mathmythic @sekotenggg @pcltelor