Tarik napas,,, bersiap ya! Di tulisan kali ini akan ku beberkan satu kisah nyata yang berperan penting dalam perubahan hidup dan kepribadianku sejauh 180°. Sebenarnya sih ini cerita telenovela yang sudah sering kalian dengar, tapi mungkin belum pernah bila langsung dari pemeran utamanya kan haha. So, just enjoy!
Sejak kecil ntah kenapa umi terlalu senang membelikanku baju-baju model anak laki-laki. Tau dong ya? Kaos dan celana levis pendek gitu loh. Kalau belanja baju baru di mall pun tak ragu umi langsung membawaku ke tempat baju anak laki-laki. Potongan rambutku kala itu juga ikut mendukung. Kata umi, "ribet anak kecil rambut panjang". Baju blouse perempuanku bisa terhitung dan masih ku hafal sampai sekarang. Satu warna pink dan putih dengan bunga kuning di tengah dada, satu lagi warna ungu ada kotak-kotaknya masih dengan pemanis bunga, satu lagi warnanya agak kehijau-hijauan, dan satu lagi warna biru dongker kotak-kotak masih dengan bunga. Pernah aku ini saking tak sukanya didandani layaknya laki-laki (lebih ke iri karena saudara sepupu perempuan yang lain itu punya baju "cantik-cantik"), ku lakukan demo dengan nangis tidak berhenti di depan rumah nenek di Banyuwangi. Padahal itu hari besar dan kami harus bepergian tapi ku "ngadat" dan memilih untuk memakai baju setelan kaos bali warna ungu. Menurutku itu lebih perempuan ketimbang baju setelan kaos belang-belang dan celana jeans pendek di atas lutut yang baru bulan lalu di beli umi. Sejak saat itu, orang tua ku menyerah dan selalu membelikan baju perempuan hahay mantap!
Masuk di kelas 3-4 SD hidupku cukup menyenangkan karena ku banyak diikutsertakan lomba oleh sekolah, awalnya lomba menggambar dan mewarnai, lalu lomba IPA. Sayangnya dua piala yang ku punya hanya piala juara 1 lomba IPA SD se-kecamatan dan juara 2 lomba IPA SD se-kota Serang, aku gagal di tingkat provinsi karena malas belajar saat itu :) patah hati sepatah-patahnya nangis 24 jam, umi bapak bingung harus ngapain wkwk. Tapi tak apa, masa ini masa yang penuh rasa syukur. Bapak sudah ada di top karirnya, umi senang menjadi ibu rumah tangga, aa sudah tenang di pondok pesantren modern terbesar se-Asia Tenggara menuntut ilmu. Hidupku ideal sekali nampaknya.
Memang kerja semesta itu rumit. Di saat-saat ku tau bagaimana rasanya ada di masa-masa golden age, di saat itu pula Tuhan ingin aku belajar makna hidup yang sesungguhnya. Di tahun yang sama ku dihadapkan dengan kenyataan rumit yang mungkin tak semua anak akan mau menerima ini dalam hidupnya. Orang tua ku jadi sering bertengkar hebat, umi jadi lebih sering menangis dalam edisi curhat dengan sahabatnya yang sampai saat ini ku panggil "mamah", dan bapak yang asik dengan pasangan barunya. Di tahun itu ku harus menerima kalau tak ada lagi mudik tahunan rutin ke Banyuwangi, tak ada lagi jalan-jalan setiap malam minggu, tak ada lagi rasa nyaman setiap ku pulang sekolah. Yang ada hanya ketakutan. Takut melihat kedua orangtua saling adu omong yang berakhir saling tangis. Singkat cerita satu tahun itu penuh pilu, hingga akhirnya Tuhan menegur, bapak keluar dari kerjaannya dan umi memilih menjadi TKW ke Arab untuk selamatkan pendidikan anaknya yang saat itu aa baru saja menjadi seorang mahasiswa di universitas swasta di kota Bandung, satu tahun lagi pula aku harus melanjutkan sekolah, kemauanku keras untuk bisa masuk pondok (selain termotivasi kakak yang lebih dulu menjadi santri, keadaan rumah tak bisa membuatku betah, sama sekali).
Kelas 5-6 SD masa-masa yang kulalui dengan beragam rasa. Sesak karena tak ada sosok ibu yang mendampingi masa remaja awalku, marah karena tak ada sosok bapak yang mengerti hancurnya aku kala itu. Tapi di sisi lain ku jadi lebih bisa mandiri, siapkan baju dan peralatan sekolah, kerjakan tugas sendiri, pulang pergi sekolah naik sepeda dilanjut dengan naik angkot, lebih banyak habiskan waktu di sekolah untuk jadi kepercayaan wali kelas, curi-curi waktu sms-an sama "doi" (hahaha dia jadi secret admirer ku sejak kelas 4 dan baru berani deketin kelas 6, sayang sebelum UN dia hilang kabar, ituloh yang ku ceritakan dulu harus aku sama doi itu jadi penganten di pesta perpisahan kelas 6 wkwk), pulang larut malam karena sibuk latihan silat, dan hal-hal aneh lainnya. Hidupku saat itu agak berantakan dan tidak teratur, tapi ya cukuplah menantang. Di masa-masa UN yang lain sibuk belajar aku sibuk maen kelereng. Bayangkan saja aku harus mengerti keadaan keluarga yang jauh dari kata "Keluarga Ideal".
Hal ini masih berlanjut hingga saat ku berada di pondok. Sedikit membaik saat umi sudah pulang ke Indonesia tepat ku kelas dua SMP. Bapak? Ya masih seperti itu hahaha dan malah berlanjut hingga sekarang ku punya adik tiri yang sama sekali tak pernah ku anggap sebagai adik. "Kekeuh da hoyong jadi si bungsu" kalau bahasa sundanya mah. Iya kawan, aku anak yang tumbuh dalam keluarga yang poligami. Itu kenapa sampai sekarang aku selektif sekali memilih calon. Lah koq jadi kesitu wkwk. Pembahasan itu nanti saja di tema ke-enam :)
Tapi aku bersyukur sekali punya ibu yang punya label lebih dari kata tangguh, berani ambil keputusan di duakan hanya karena tak mau anaknya terputus pendidikan dan cita-citanya. Sekarang beliau sudah punya dua sarjana yang siap jadi garda terdepan kalau nanti ada datang lagi dan mau menyakiti. Bapak? Ya sedang menikmati hidup masa tuanya dengan anaknya yang masih kelas 2 SD :) tapi justru aku jarang sekali menceritakan ini pada orang lain, bukan karena malu punya keluarga yang begini, tapi lebih kepada tak mau kalau bapakku itu dipandang buruk oleh orang. Karena bagaimana pun beliau yang ajarkan bagaimana cara menjadi seorang yang bisa memimpin dan gemar berorganisasi, yang paling rajin belikanku buku-buku latihan soal di setiap semester sekolah dasar, yang paling semangat ngajak ku ke toko buku dan belikan novel Laskar Pelangi (ku menyesal saat itu ditawari sampai empat buku tetraloginya malah ku menolak wkwk), yang mungkin lewat pilihannya itu juga anaknya sekarang sudah berubah wujud dari yang dulunya manja, cengeng dan sakit-sakitan. Ya walaupun kalau lagi kumat masih suka nutup kepala pake bantal di pojokan kamar, sambil teriak-teriak "koq hidup gue tuh gini banget siii susah banget gitu", tapi besok paginya udah ketawa-ketiwi nonton kartun :)
Bersyukurlah aku yang dari kecil dikenalin sama rentetan kata-kata. Yang akhirnya bisa membantuku jalanin fase-fase terberat. Sampe sekarang. Makanya dulu ntah di odp keberapa aku pernah bilang kalau nulis itu bagi gue udah kayak kebutuhan. Khususnya buat self-healing sih. Tapi gapapa, semoga bisa jadi karya yang bermanfaat buat pembacanya. Do'a in lah jadi gue nerbitin buku, ini naskah gue mogok coy udah hampir tiga minggu hahahaha
Ya intinya gue cuma mau bilang kalau,
Memang tak pernah ada pilihan yang tak punya konsekuensi. Masalahnya adalah mungkin sebagian orang gak sadar kalau konsekuensinya bukan cuma dirinya aja yang nerima, tapi juga sekitarnya bahkan lingkungan terdekatnya. Jadi, coba lah untuk terus berusaha ambil pilihan terbaik agar konsekuensi yang diterima gak terlalu buruk.
Aduh pembahasan kali ini agak berat yak wkwk tenang-tenang gue cerita ini sambil ketawa-ketawa sih jadi nyantai, gak seberat dulu kalau ditanya orang dikit tentang keluarga pasti mendadak melow dan berlinang air mata. Ya gimana, fase ini ada di fase anak-anak ya curang sih kalau gak diceritain wkwkkw. Dan mungkin memang udah sepakat juga sama semesta buat berdamai, karena masih ada fase-fase setelah ini yang harus dijalanin dan dijadiin sejarah positif kalau nanti gue 'pulang' dan meninggalkan nama. Mungkin ada gunanya juga umi seneng jadiin anaknya tomboy waktu kecil, sekarang kerasa efeknya mungkin, biar kuat kayak laki-laki wkwk.
Besok ku ceritain yang lebih seru ya. Petualangan sama orang-orang yang dikirim Tuhan buat jadi penyelamat masa kecil berharga itu.
Bonus buat kalian yang udah mau baca sampai akhir ceritaku hari ini, ku kasih foto tomboy ku dulu (jangan disebar, takut ngalahin Shireen anaknya Hamidah)
@fadhila-trifani @gugunm @mathmythic @adhit21 @sekotenggg