Married!
17 Syawal 1437 H, itulah tanggal disaat dinyatakan bahwa aku telah menjadi salah satu bagian dari keluarga lain. Yap! saat dimana kata-kata sakral diucapkan oleh laki-laki yang telah memberanikan dirinya menjabat tangan ayah kandungku di depan 2 orang saksi dan khalayak ramai. Laki laki yang telah menyempurnakan setengah agamanya. Menikah. Sah? Sah!!
Beberapa temanku datang menyaksikan moment sakral tersebut. Mereka menyalami kami, mendoakan, dan minta didoakan agar segera menyusul menikah. Nikah kok nyusul sih? Kayak balapan aja *eh. Ada pula yang meminta untuk dicarikan jodoh a.k.a taaruf. Ada pula sahabat dari suamiku yang meminta tuk dikenalkan dengan salah satu temanku. Baik temanku maupun temanku sama2 punya tujuan yang sama, yaitu mereka ingin segera untuk menikah.
Mengapa ya semua orang ingin menikah cepat-cepat? Apa karena kebanyakan teman-temannya sudah menikah? Atau karena tuntutan orang tua? Karena ingin melaksanakan sunnah? Atau masalah umur yang udah amat matang?*air kali matang. Atau ngebet banget pengen ehem ehem *eh sensor. hehe
Sebenarnya virus-virus ngebet nikah itu pernah aku alami sendiri dan moment pengen banget nikah itu terjadi disaat lagi merasa hidup kok berat banget yaa..dan kayaknya lebih enak kalau ada yang merhatiin, ada yang nyuapin, ada yang bikinin tugas skripsi, ada yang ngetikin ada yang dst dst. Pokoknya ada sesosok halal yang ada di saat kita rempong deh..aaisshh
Eh..eh.. Itu nikah buat ibadah apa cuma pengen ngeles dari kewajiban skripsi? Hehe. Moment mumet dan ruwet terjadi saat di tingkat akhir kuliah. Saking mumetnya pernah ada kejadian mau beli ayam goreng krispi, ada tulisan di gerobak bapak sang penjual ayam dan yang aku baca adalah ayam goreng skripsi. Oke fix! Seketika nafsu makan ayam menjadi hilang.
Balik lagi soal menikah, sebelum aku memutuskan mantap untuk menikah. Aku sering mengikuti kajian seminar pra nikah, seminar parenting, psstt,,bahkan sempat ikutan yang namanya biro jodoh islami. But..if you know, ketika ada seorang laki-laki yang berniat taaruf dengan aku, aku langsung mengambil langkah 1992 untuk kabur dan tidak berani untuk melanjutkan taaruf. Sungguh nyaliku ciut tuk menikah saat itu dan aku kembali berkobar dan fokus untuk segera menyelesaikan skripsiku.
Gaes.. dari tiap seminar yang aku dapat, maka semakin bertambah pula info mengenai menikah itu seperti apa. Menikah itu bukan cuma gandengan berdua di jalan, suap-suapan atau sekedar panggil abi dan umi saja loh,,*aaah sweet. Serasa duania milik berdua, yang lain cuma ngontrak! Tapi
MENIKAH ITU.....HARUS ADA LANDASAN ILMU
Why? Karena menikah tanpa ilmu itu bisa berujung dengan yang namanya perceraian. Perceraian terjadi karena syiqo (perselisihan). Sedangkan terjadinya perselisihan salah satunya karena salah pilih dalam memilih pasangan hidup. Nah..nah...
Allah Subhanahu Wa ta’alla telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan untuk saling melengkapi. Nah, cara agar dapat berpasangan secara halal a.k.a menikah ada 5 langkah persiapan. Yaitu...
1. Persiapan Spritual,
Persiapan ini dilakukan dengan banyak dan sering2 mendekatkan diri beribadah pada Allah. Sering-sering baca Al Quran, apalagi QS An. Nur (26).
2. Persiapan Kepribadian,
Mau suami yang sholeh? Mau istri yang sholeha? Bila mendambakan pasangan seperti Ali Bin Abi Thalib, maka jadilah orang yang berkepribadian seperti Fatimah. Bila ingin yang terbaik, maka kita harus memperbaiki kepribadian kita. Tapi.. ada pula orang yang baik dipasangkan dengan orang yang buruk seperti Firaun dengan Asyiah. Allahu a’lam (Naudzubillah).
3. Persiapan Ilmu,
Persiapan ilmu bisa kamu dapat dengan bertanya pada orang yang terlebih dahulu menikah daripada kamu, tanya sama ustad perihal ilmu nikah itu apa aja sih? Juga baca buku dan ikut kajian-kajian seminar pra nikah. Ilmu Nikah itu apa aja sih? Yang aku tau...
Kita lihat dari pengertian nikah dulu, Nikah adalah penghalalan hubungan suami istri dengan syarat dan rukun tertentu. Rukun? Rukun nikah itu apa aja? Rukun nikah yang pasti harus ada calon suami/calon istri, wali nikah, saksi minimal 2 orang dan yang pasti harus ada ijab kabul. Adanya ijab qabul itu harus disertai dengan mas kawin (mahar), disini perempuan sebaiknya meminta mahar yang tidak memberatkan calonnya suaminya, yang ringan saja, sedangkan yang laki-laki sebaiknya memberi yang lebih dari apa yang diminta dari calon istrinya. Selain tentang arti, rukun dan syarat nikah ada juga ilmu hikmah dan beberapa permasalahan terkait nikah. Seperti talak, rujuk, nuzus, pengaturan nafkah dsb.
Ada 3 hal yang dianggap serius, tapi dibecandain juga jadinya serius loh.. yaitu nikah, talak dan rujuk
Jadi, gak boleh dijadikan becandaan dan main-mainan ketiga hal tersebut. Ingat! Orang yang hendak menikah harus bisa menghilangkan sifat kekanak-kanakan, menuju pendewasaan diri dan mengontrol dirinya sendiri.
4. Persiapan Materi,
Nah.. menikah juga butuh persiapan materi. Materi untuk biaya mahar, biaya KUA, biaya walimah, biaya sewa gedung, catering, dsb. Juga untuk biaya pasca menikah. Semuanya butuh biaya. Baik ikhwan maupun akhwat kudu nabung. Ingat..yang wajib itu bayar KUA sama maharnya. Seserahan ga wajib. Siraman apalagi! Tapi kalau mau memberikan seserahan, alhamdulillah banget. Syukur2 dibeliin paket iphone, ipad, sampe mac book, atau satu set rumah beserta isinya. Hehe pasti sang calon istripun akan suka. *suka banget.
Tapi , buat apa membeli kebutuhan yang sebenarnya ‘belum’ dibutuhkan sebelum nikah apabila bisa dilakukan setelah menikah nanti. Allahu a’lam..yang pasti sering-sering nabung.
5. Persiapan Sosial,
Mau nikah tapi gak kenal tetangga? Mau nikah tapi gak tau lingkungannya? Hmm.. gimana mau bersosialisasi sama istri/suami atau keluarga calon pasangan hidup kalau sama tetangga sebelumnya gak kenal dan belum bisa bersosialisasi.
Mau nikah tapi ga tau calonnya mau seperti apa? Calon yang seperti apa di keluarganya? Eits.. kita harus mengetahui calon kita dengan cara taaruf loh. Taaruf berasal dari kata arafah yang berarti mengenal/mengetahui. Taaruf juga diartikan saling mengenal, sebagai muslim kita harus tau etika bertaaruf didampingi oleh orang ketiga. Orang ketiga ini bisa saudara kita, ustad/ustadzah dan orang di lingkungan terdekat calon pasangan kita. Apabila kita sudah mengetahui seperti apa calon hidup kita dan telah mantap, maka segera lakukan proses khitbah dan meminang. Datangi orang tuanya. Bicarakan niat baikmu. Dan..menikah. Alhamdulillah :)
Jadi, kapan antum dan anti menikah? Persiapkan semuanya ya..!
Semoga ALLAH meridhoi dan memberkahi segala persiapan yang kalian lakukan untuk menikah. Tetap semangat!
Untukku aku menikah
Dan
Untuk-Nya aku menikah
Bali, 12 Oktober 2016
deedinny








