Sengaja membuat judul dengan kata “Opini-1″ karena isinya ya hanya pendapatku. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa orang lain memiliki pemikiran yang serupa, atau justru sangat bertentangan dengan pemikiranku. Sangat ingin menulis apa-apa saja yang menurutku harus dipersiapkan sebelum kata ‘Ankahtuka wazawwajtuka.....’ atau ‘Aku nikahkan dan kawinkan.......’ diucapkan. Bagiku pernikahan adalah hal luar biasa yang akan dijalani setiap manusia yang sudah matang secara mental dan umur. Seringkali kita (kaum perempuan) diburu umur atau omongan tetangga atau sanak saudara sehingga terkesan terburu-buru. Dan ya, aku mengalaminya. Jadi kemarin Sabtu, my mother’s cousin baru saja melangsungkan resepsi pernikahannya dan seperti biasa banyak pertanyaan ‘mana nih calonnya? sibuk belajar mulu.’ atau ‘ingat umur, kakak-kakakmu sudah pada nikah tuh’ atau ‘kamu cewek loh, nggak takut ketuaan? atau mau sengaja jadi PT (Perawan Tua)’. In my opinion this words so sarcasm. Seharusnya sebagai keluarga kita bisa saling support atau setidaknya jangan ngata-ngatain.Hehehe. Karena apa? perempuan itu perasaannya sangat sensitif dan sadar atau tidak hal semacam itu bisa menjadi satu toxic secara tidak langsung. Ditarik lebih jauh lagi, bisa jadi si-perempuan yang dikata-katain akan terluka psikisnya, kemudian buru-buru chat pacarnya (bagi yang punya) untuk segera menikahi atau kalau yang belum punya pasti bakal buru-buru cari dan alhasil dia nanti salah pilih karena kurang pertimbangan. Kalau nanti gagal si orang-orang yang ngeburu dia biar cepet nikah itu bakal ngatain lagi ‘kemarin sih buru-buru nikah, jadi ginikan akhirnya. OMG, nggak kebayang sih gimana rasanya jadi si perempuan yang selalu disudutkan dan akhirnya mengambil keputusan yang nggak tepat.
Btw, sepertinya tulisan ‘kata pengantar’-nya terlalu panjang ya. I’m so sorry malah kebawa perasaan dan curhat dan ngebayangin. Jadi berikut aku jelaskan se-jelas mungkin agar nanti kalau ada para toxic tanya lagi ‘kapan elu nikah?’ aku dengan mudah ngirim link tulisan ini ke mereka, hehehe.
1. Mempersiapkan Diri (Mental)
Menikah itu bukan hanya soal bermesraan berdua. Jalan-jalan, hangout bareng seperti anak belasan tahun sedang pacaran. Akan ada banyak perselisihan kecil yang diakibatkan oleh perbedaan pola pikir, kebiasaan, pola asuh dan masih banyak lagi. Contohnya, si istri lebih suka tidur terang dan si suami lebih suka tidur gelap, atau si istri suka makanan bersantan dan si suami suka makanan tumis, atau si istri sukanya beres-beres malam dan si suami suka beres-beres mah pagi aja, atau si istri suka tidur dengan guling si suami menganggap bahwa guling itu penganggu. Sesimpel itu yang sebelum menikah nggak kebayang atau kebayang sih, tapi cuman dipikir hal remeh. But seriously, itu bisa jadi bahan cek cok rumah tangga. Belum lagi hal besar yang menuntut kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan, contoh: anak mau sekolah dimana, mau investasi kemana, mau tinggal dimana, dan mau-mau yang lain yang memang sering kali menuntut salah satu pihak untuk mengalah demi masa depan.
Namanya juga hidup bersama, jadi tidak ada lagi namanya egois, bersikap childish, atau malah suka ngambeg. Jadi, persiapkan mental sejak dini dengan mengatur emosi. Janga lagi suka meledak-ledak seperti dinamit. Belajar membangun visi misi hidupmu dalam jangka waktu pendek, sedang, dan menengah. Berlogikalah sebelum jadi ‘bucin’. Bucin-lah dengan orang yang tepat, dengan orang yang tidak memanfaatkan ke-bucinan-mu. Belajar mengalah sama adik, jangan berebut remot TV di rumah misalnya.
Mulai menyaring segala informasi, mana yang tepat dan tidak tepat bagi dirimu. Jangan membiarkan segala yang baik dan buruk masuk dan menghantui kehidupanmu. Filter! Belajar menyimpan rahasia, biasanya perempuan suka ngegosip bahkan aib suami ikut keseret juga. Ingat bahwa istri adalah pakaian suami, aib suami ya harus kita tutupi, jangan malah jadi bahan gosipan saat berkumpul sama teman-teman. Jangan suka curhat ke mana-mana. Carilah orang yang tepat agar bisa meng-keep segala privasi. Jangan biarkan orang terlalu banyak menyetir hidupmu, apalagi sampai menghasut melakukan hal-hal yang kurang baik.
Cobaan dalam rumah tangga itu ada-ada saja. Sejak detik ini, mari mulai menghadapi segala macam masalah dengan gagah, jangan lari like a looser. Jadilah garuda, ketika ada badai dia membentangkan sayapnya dan terbang lebih tinggi. Belajar dari setiap masalah yang datang, ambil hikmahnya. Kita punya Tuhan, ingat itu! Mau agama islam, kristen, hindu, budha atau yang lainnya ingatlah bahwa Tuhan mau kita belajar dan menjadi lebih baik.
2. Belajar Mengelola Rumah
Berbicara soal budaya, di Indonesia perempuan dituntut untuk bisa mengelola rumah. Itulah kenapa ibu-ibu sering bawel nasehatin anak perempuannya beres-beres rumah. Di sinilah peran istri di dalam rumah bekerja. Walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa suami akan membantu istri dalam urusan beres-beres, tapi setidaknya perempuan harus bisa dulu. Jangan buru-buru nikah ketika: ngepel masih maju, nyapu masih kaku, nyuci piring di washtub masih banjir kemana-mana, nyuci baju bagian kerah dan lengan masih kotor, masak bisanya mie sama telur bahkan masak air aja gosong, sama sampah jijik terus malas bersih-bersih, naruh barang masih sembarangan.
Coba bayangkan sejenak, apa kata mertua? Masih akan nuduh mertuamu yang bawel dan jahat? Padahal aslinya karena tingkah laku sendiri. Belum lagi kalau bangunnya di siang bolong, jangan salahin mertua kalau ngebangunin dengan diguyur pakai air segayung. Biasanya ketika jadi mahasiswa dan tinggal di kosan pasti jadi sering bangun siang dan nggak ada yang marahin. Jadilah kebiasaan yang kurang baik. Mulai sekarang, ketika akan menikah mulailah tinggalkan hal-hal yang kurang baik dan mulailah bangun pagi dan belajarlah mengelola rumah seperti ibu kalian atau doing better-lah. Belajar dengan memperlakukan ibu seperti ratu. Bangun lebih pagi, rendam baju, cuci piring, nyapu, ngepel, dan cuci baju. Ketika ibu di dapur ikutlah dan mulailah ambil bagian. Suami itu sebetulnya bukan hendak membuatmu berubah jadi pembantu, tapi perlakukan ia dengan baik inshaAllah suami akan betah di rumah. Dan belum tentu hidup itu akan selamanya ada di atas. Adakalanya harus prihatin dan nggak semuanya bisa diseleksaikan dengan uang. Jika keadaan ekonomi menurun support suami dan berhematlah dengan masak di rumah. Jangan malah mencari laki-laki yang kelihatan lebih mampu finansialnya dan kamu bisa hidup layaknya seorang princess. Percayalah menemani suami from zero to hero itu keren banget.
3. Belajar Mengelola Keuangan
Ini bukan karena aku lulusan akuntansi ya. Karena di akuntansi juga tidak diajarkan cara mengelola keuangan rumah tangga. Tapi ini sangat penting dan perlu disiapkan. Edukasi penting untuk berbicara mengenai hak dan kewajiban. Sebetulnya ini bukan hanya masalah uang tapi ada masalah-masalah lain juga. Kalau berbicara masalah uang mungkin saat pacaran dulu bisa dibilang loyal sekali sama pasangan. Tapi kalau sudah menikah perlu diperhatikan kontrolnya. Mulailah dengan menghitung kebutuhan rumah sehingga kamu bisa mengkalkulasi berapa persen konsumsinya, berapa persen investasinya dan berapa sisa untuk picnic-nya. Jangan sampai sudah diberi cukup uang oleh suami tiba-tiba habis di tengah bulan. Catat segala keluar masuknya uang, apalagi jika nominalnya cukup besar. Karena bisa jadi kita lupa dan suami mencurigai arus uang yang ada di rumah. Apalagi nih biasanya perempuan kan suka dengan perawatan, dan pasti nggak murah. Evaluasi pengeluaran bulanan dan ambil perbaikan. Cara belajarnya adalah dengan me-manger pengeluaran sehari-hari. mencatat kebutuhan mingguan, bulanan dan tahunan. Beberapa orang menganggap bahwa arisan adalah satu hal yang kurang baik. Tapi buat aku arisan malah jadi tempat investasi agar pengeluara bulanan bisa terkontrol dan juga mempererat pertemanan kuliah atau SMA. Karena arisanlah minimal dalam sebulan kami masih terus bertegur sapa.
4. Belajar Bagaimana menjadi Seorang Ibu
Dambaan sekali kan punya anak-anak lucu yang ramai di rumah. Tapi faktanya itu hanya khayalan belaka. Banyak ibu-ibu muda yang mengalami baby blues setelah melahirkan. Mungkin aku akan membahas Baby Blues Syndrome dan Depresi Pasca Melahirkan di chapter berikutnya. Yah, semoga saja aku nggak malah nulis hehehe. Back to the topic, ingatlah bahwa anak bukan uji coba, anak bukan tanaman yang kalau gagal tumbuh kita bisa beli bibit di warung pertanian kemudian kila menanam lagi dan yang rusak dibuang, anak bukan zat kimia yang bisa masuk uji lab dan kalau meledak bisa beli di penjualnya. Anak adalah harta luar biasa, amanah Tuhan yang tidak bisa di tukar tambah. Pendidikan apa yang ditanamkan sejak dini akan ia bawa hingga dewasa kelak. Tutur kata kita, tingkah laku, pemikiran kita yang akan membentuk mereka. Stop saying “belajarnya sambil jalan aja” believe in me, it’s doesn’t work! Anak-anak butuh orangtua cerdas akal dan mental untuk mengantarkan mereka menjadi orang besar nantinya. Pendidikan karakter dan agama yang akan membentuk mereka menjadi pribadi yang tangguh. Jangan merasa cukup ilmu, karena di titik itulah kamu akan berhenti belajar. Ilmu di dunia ini sangat banyak sekali, nggak akan ada habisnya. Dan konsumsilah buku-buku agar kita bisa menjadi ibu yang cerdas dan teman diskusi untuk anak-anak kita.
Belajar menangani anak-anak, jangan ketika nangis malah dibilang berisik. Belajar mencintai mereka. Belajar membuat mereka nyaman. membaca atau ikutlah dialog parenting. Salah satu buku yang saya rekomendasikan adalah Membasuh Luka Pengasuhan - Karya Ulum A. Saif dan Febrianti Almeera. Sebetulnya diluar sana banyak buku yang membahas bagaimana cara membangun karakter anak. Jadi tidak ada alasan untuk malas belajar wahai calon ibu.
5. Memilih Calon yang Tepat
Last but not least dan yang harus ada kalau mau menikah adalah calon suami. Carilah suami yang tepat. Ingat, tepat bukan yang terbaik menurut versi teman atau tetanggamu. Yang mau menikah itu kamu, bukan saudara atau temanmu. Yang paling mengenal karaktermu adalah kamu. Jangan terjebak oleh penampilah fisik, contoh: ganteng, tinggi, putih, macho, good looking, kaya atau kriteria-kriteria lain yang tidak menampilkan karakter dan pola pikir. Logikanya, ketika kamu mau beli smartphone, kamu beli spesifikasinya bukan casing-nya aja. Ganteng tapi begok. Tinggi tapi nggak bisa diajak diskusi. Terus buat apa? Jangan pakai alasan biar enak digandeng saat kondangan atau resepsi. Tapi ketika diajak bicara politik, ekonomi, sosial budaya, masa depan, teknologi dia cuma bisa bengong doang. Bagiku itu lebih memalukan dibandingkan orang yang secara fisik biasa saja tapi punya karakter, pola pikir yang luar biasa. Cari tahu tentang agamanya. Bagaimana cara ia beribadah. Kalau dia paham betul agama, percaya deh dia mau menghianatimu aja pasti mikir sejuta kali. Tapi kalau dia agama cuma sekedar KTP, ya wasalam. Selingkuh akan jadi kebiasaan dan pelarian, setiap kamu protes dia akan mengatakan bahwa ‘aku sudah nggak cocok lagi’ atau ‘tiba-tiba aku udah nggak sayang kamu lagi’ atau ‘kayaknya kita udah nggak cocok deh’. Orang yang tahu dan paham dia akan menjaga janjinya sebaik mungkin. Janji untuk tidak membuatmu sedih, membuatmu menunggu, membuatmu menangis atau bahkan meninggalkanmu.
Diskusikanlah masalah keuangan, visi misi, cara menyelesaikan masalah, bahkan sex. Mengapa itu penting? aku pernah mengikuti perkuliahan yang membahas masalah pra nikah bahwa kecenderungan pasangan dalam melakukan hubungan intim juga bisa menjadi permasalahan dalam rumahtangga. Mungkin teman-teman bisa belajar juga mengenai hal tersebut kepada masternya hehehe. Karena akupun masih dalam tahap belajar.
Cobalah bertanya banyak hal atau bahkan sebenernya kita sangat-sangat bisa menguji pasangan. Contohnya, ‘gimana pandanganmu tentang poligami?’ dari jawaban tersebut coba tarik benang penjelasannya. Apakah dia termasuk pro atau tidak. Hal ini penting loh, apalagi bagi perempuan yang tidak mau dimadu. Atau bisa dengan pertanyaan ‘kalau nikah nanti, aku boleh kerja nggak?’, dari sana kamu juga bisa mengambil keputusan apakah akan lanjut ke jenjang pernikahan atau tidak karena meskipun kamu menikah, kamu (perempuan) juga berhak memiliki mimpi. Banyak loh perempuan-perempuan hebat yang show up di depan publik dan bisa menjadi contoh untuk kita semua. Dia bisa meng influence banyak orang seperti Kak Najwa Shihab dan Ibu Sri Mulyani.
Mungkin itu saja yang bisa aku share mengenai opiniku tentang pertanyaan ‘kapan nikah?’ atau toxic people yang selalu nyuruh kita buru-buru nikah. Untuk yang sedang menuntut ilmu, fokuslah! Janji-Nya, Ia akan meninggikan derajat orang-orang yang mencari ilmu. Tuhan sedang membantumu menyeleksi calon suami yang tangguh memperjuangkanmu tanpa kamu sadari. Hanya orang terbaiklah yang akan memintamu menjadi istrinya. Tuhan juga sedang menggiringmu kedalam kelompok-kelompok yang terbaik. Terlepas dari tuliasan di atas, Tuhan adalah sebaik-baiknya perencana. Dia tahu mana waktu terbaikmu. Jangan iri atau minder dengan teman-teman yang lebih dulu menikah. Mungkin itu memang waktunya. Dan Allah sedang mempersiapkan jodoh terbaikmu. Terus belajar dan berdoa. InshaAllah usaha tidak menghianati hasil, Stop being toxic people girls, kamu punya sejuta urusan lain yang harus kamu sendiri selesaikan dibanding menjadi toxic untuk sesamamu.