Hal-hal yang membentuk saya: Jurnalistik
Ini tulisan ketiga dalam tema “hal-hal yang membentuk saya”. (Di bawah-bawah udah nulis dua artikel soal ini juga). Rencananya, saya ingin berbagi tentang hal general dari faktor eksternal yang (kalau bisa dikatakan) membentuk diri saya. Kali ini saya ingin membahas pengalaman saya sebagi jurnalis(?)
Mengapa bidang ini membentuk saya?
Kalau dibilang cita-cita saya mau jadi jurnalis, saya udah meraih cita-cita saya. Alhamdulillah. Bahkan sebelum lulus kuliah.
Dan kenapa ini membentuk diri saya?
Karena menjadi jurnalis menjadikan saya manusia yang terus berusaha mencapai kebijaksanaan.
Gemana engga?
Pertama kali saya merasakan be a real journalist itu ketika saya SMA kelas 11. Iya, saya tergabung ke dalam reporter magangers Kompas MuDA. Waktu itu kesempatan yang datang adalah saya ikut liputan wartawan Kompas (dan ini salah satu pengalaman amazing menurut saya). Kami janji liputan untuk daerah Tangsel, waktu itu saya janjian untuk ketemu di satu daerah pasar, buat meliput sampah. Dan kala itu saya sampai lebih dulu+saya nyasar ke pasar yang lain. Sebelumnya kami juga udah briefing dari hp kalo bakal angkat isu limbah atau smapah pasar. Saya bisa tanya ke pedagangnya, dan kala itu, tanpa pernah turun (ya sebelumnya pernah juga sih sehari-dua hari liputan di luar kantor) saya tanya ke salah satu pedagang di pasar, masuk pasar secara random dan tiba-tiba nongkrong sok asik sama mereka. Sendirian. Seolah wartawan tulis profesional (mungkin gue tengil banget kali ya waktu itu). Dan karena dari dulu saya emang bawa uang jajan pas, yaudah saya ngobrol aja tanpa beli dagangannya mereka
Yang saya inget sampai sekarang, lah tikus pasar guedhe-guedhe banget.
Sampai akhirnya syaa belum nemu anglenya, dan saya nyasar pas mau keluar pasar. Malah ditanyain “mau cari apa kak?” atau sesekali di catcalling-in sama mas-mas pasar.
Karena saya salah pasar, saya harus ke pasar satunya buat ketemu kakak wartawan.
Oke, singkat cerita, kami engga dapet apa yang ingin kami tulis. Dan you know, kakak wartawan ngajak saya liputan ke mana? Ke BNN di dekat bandara Soetta. Dan jujur aja, bagi saya itu amazing, karena sampe SMA kelas 11 pun saya engga pernah naik pesawat. Dengan saya liputan waktu itu, for the first time artinya juga saya ke bandara, naik Damri, bukan buat naik pesawat, tapi buat liputan.
Singkat cerita lagi, di SMA pun saya suka ikut lomba jurnalistik. Salah satunya di Sonic Linguistic yang diadain sama MAN Insan Cendikia, jadi runner up kala itu.
Terus saya semakin tertarik dengan dunia jurnalistik. Entah ya, ini terpengaruh sama pekerjaan bokap atau engga, yang jelas, dulu perusahaan tempat bokap kerja memfasilitasi karyawannya buat bawa surat kabar setiap hari. Jadilah dari kecil emang cekokan saya koran cetak.
Pas masuk kuliah saya yang dari peminatan IPA berencana masuk kehutanan atau ilmu komunikasi di institut pertanian. Emang niatnya mau jurnalis, dulu sih mau jurnalis Nat Geo. (saya sampai lupa punya mimpi ini sebelum akhirnya inget lagi pas nulis artikel ini). Polos banget ya. Masa mau masuk kehutanan biar jadi jurnalis Nat Geo. Ya singkat cerita lagi, saya engga masuk. Malah masuk Sastra Indonesia. Tapi di kampus saya malah bergabung di pers mahasiswa. Dan selama itu pun saya belajar banyak. Mulai dari bagaimana menyajikan berita, melihat angle, melihat peran media, menggali narasumber, menggali isu, belajar berani, belajar melihat orang-orang yang punya kedudukan di mata pers itu sama. (Cuy gue bisa nulis nama ibu dan bapak dosen di artikel dengan panggilan nama aja tanpa pakai pak atau buk, padahal gue mahasiswa). Saya harus bisa menaklukan tekanan, baik dari kampus, teman-teman organisasi, aih bahkan tekanan kerja dengan orang di tim yang engga semuanya nyaman. Banyak banget ilmu yang saya dapet di Manunggal. Engga cuma jurnalisme aja, saya dan teman-teman belajar mengelola organisasi pers, muter uang, cari sponsor, bikin MoU dengan percetakkan, dengan pengiklan, berkasus dengan narsum wehehe, dan masih banyak lainnya.
Dan sekarang saya join di Citizen Journalist Academy-nya Liputan6.com dan Indosiar yang bekerja sama dengan Pertamina. Emang sih belum adanya progres dari kegiatan ini. Pun pengalaman saya di M ternyata menolong banget buat ikut kegiatan ini. Kalau dulu saya ada rapat redaksi, di CJA ini saya berasa harus bersikap pro karena saya harus cari materi sendiri, gali isu, peka keadaan-di tengah skripsi yang aduhai banget prosesnya. Sendiri. Ya gitu, gila kenapa sih gue suka bikin diri gue terhimpit. Eh engga boleh ngeluh, ini belom seberapa.
Nah itu, jurnalisme menjadikan saya lebih wise. Saya merasa berguna banget ketika bisa memberitakan suatu hal yang publik belom banyak tahu. Satu sisi saya bisa mengangkat narasumbernya, satu sisi saya meberikan sajian yang bermanfaat buat orang lain. Dan itu menjadikan pola pikir saya, juga keribadian saya, banyak diwarnai referensi hidup.
Kalau mau ditarik kasar, saya kurang lebih 5 tahun sudah mengenal jurnalistik. Dan jurnalistik sangat sangat sangat mempengaruhi kepribadian saya. Menjadi pribadi yang lebih bisa arif berpikir dan memaknai hidup.