Kutengok jam tangan digital yang melingkar di tanganku, terlihat angka 12:57. Tiga menit lagi.
Tentu saja ini sudah lewat jam makan siangku, dan aku melewatkannya sepekan terakhir tanpa menghasilkan apapun. Aku masih berkutat dengan pensil dan kertas sketsa di dalam sanggar seni kampus, tapi tidak ada yang benar-benar aku hasilkan. Hanya goresan-goresan tak berarti, yang tak seorangpun memahaminya, bahkan aku pun. Dan pensilku kembali patah untuk yang ke empat kalinya dalam satu jam terakhir.
Otakku masih berputar-putar memikirkan hal yang tak pernah terpikirkan oleh orang lain untuk dilukis. Tukang becak? Pedagang asongan? Pengemis? Loper koran? Pasti profesi-profesi itu sudah mainstream dan terpikirkan orang lain sebagai objek lukis. Aku ingin sesuatu yang berbeda, yang bahkan seorang kuratorpun membutuhkan waktu lebih untuk menangkap maksud lukisanku.
Hhhffftt.. Aku rasa untuk hari ini sudah cukup. Sudah 13 lembar kertas kuhabiskan untuk membuat gambar sketsa dalam sehari, dan tak satupun diantaranya akan kurealisasikan, otakku tak mengizinkan untuk meloloskan keetigabelasnya. Ini seperti kau menolak semua proposal yang kau ajukan sendiri.
Pameran memang masih akan diadakan dua pekan mendatang. Tetapi tenggat waktu untuk menyelesaikan lukisan hanya tersisa lima hari. Lukisanku—calon lukisan—dan tiga belas lukisan lain harus diserahkan ke panitia pameran—yang aku ketuai sendiri—untuk diberi bingkai dan perlakuan khusus lain. Dan saat ini dua belas lukisan lain karya teman-teman Seni Rupa sudah diserahkan ke seksi dokumentasi dan dekorasi. Sebelumnya aku lebih sibuk mengurus pelaksanaan acara, keperluan ini-itu, menandatangani surat-surat, tempat pameran, dan lain sebagainya. Baru seminggu ini aku luangkan untuk melukis.
Terlihat sosok Ale—teman seangkatanku yang lukisannya sudah 90 persen jadi—dari balik pintu sanggar. Ia berjalan masuk sambil mengelus perut buncitnya yang pastinya sudah penuh terisi makanan. Aku kira dia akan segera menyelesaikan lukisannya, tetapi dia malah menghampiriku—bukan langsung ke tempatnya melukis.
13:00. Inilah waktu yang kujanjikan pada seorang wartawan kampus untuk wawancara tentang pameran lukisan. Auby, begitu dia memperkenalkan namanya.
“Ren, ada cewek di depan nyari kamu,” Ale berseru memberi tahu.
Benar saja. Pada saat yang sama aku menerima sebuah pesan “Selamat siang. Kak Ren, aku sudah di depan sanggar seni,” di ponsel lamaku.
Sial. Kenapa harus sekarang? Semalam aku berpikir, mungkin sudah kugoreskan beberapa warna pada kanvas sebelum jam satu siang. Sudahlah, lagi pula aku tak menghasilkan apapun di sini. Aku perlu menghirup udara segar setelah tiga jam berada di dalam sanggar.
“Hmm,” balasku dengan anggukan kepala.
Aku berjalan keluar sanggar melalui pintu yang baru saja Ale lewati.
Ada pesan masuk ke ponsel lamaku yang hanya terdapat layanan panggilan dan pesan singkat—biasanya hanya kugunakan untuk menghubungi ibu di kampung halaman. Aku kira itu pesan dari ibu yang memintaku untuk segera meneleponnya seperti biasa. Ternyata dari nomor asing yang berisi permintaan wawancara terkait pameran lukisan. Dijelaskan bahwa berita akan dimuat di buletin kampus bulan depan. Tentu saja aku menyetujui, langsung kutentukan waktu dan tempat, walaupun aku merasa agak heran. Beberapa kali teman-teman pers mahasiswa pernah membuat janji wawancara, tetapi tidak melalui layanan pesan singkat seperti ini. Biasanya teman-temanku atau siapapun yang berhubungan dengan kampus menghubungiku via aplikasi percakapan yang akan masuk di ponselku satunya—yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Kebiasaanku menggunakan dua ponsel ini memang tidak praktis. Tetapi memang beginilah kebiasaanku, selalu kubawa keduanya kemanapun.
“Bisa dimulai?” Auby bertanya. To the point.
Kurasa aku jarang melihat Auby di kampus, atau bahkan mungkin ini kali pertama aku melihatnya. Tubuhnya kecil, penampilannya sederhana, sangat tidak mencolok. Dia hanya membawa sebuah buku catatan kecil, dan sebuah bolpoin yang terselip di saku kemejanya. Aku bertaruh dia anak baru. Aku memang jarang—bahkan mungkin tidak pernah—memperhatikan mahasiswa baru.
Aku cukup terkejut dengan kalimat pembukanya.
“Nggak perkenalan dulu?” tanyaku.
“Aku kan sudah memperkenalkan diri semalam. Dan aku sudah tahu nama dan jabatan kakak di pameran lukisan ini. Jadi kurasa bisa langsung dimulai saja,” terangnya.
Sudah jelas dia anak baru.
“Oke, mulai saja pertanyaan pertama,” ujarku.
“Kak Ren belum mandi ya?”
“Itu pertanyaan pertama di list-mu?”
“Eh, bukan. Maaf. Habisnya kakak kelihatan capek dan rambut kakak berantakan,”
“Bukan urusan kamu kan?,” tentu saja aku kaget dan agak kesal. Memang begini model rambutku, dan tentu saja aku sudah mandi!
“Memang bukan. Baiklah, aku nggak peduli apakah kakak sudah mandi atau belum. Omong-omong tiga hari yang lalu ponselku rusak. Untungnya ada teman yang berbaik hati meminjamkan ponsel ini,” jelasnya sambil mengeluarkan sebuah ponsel keluaran lama dari dalam saku yang sama tempat berselip bolpoinnya.
‘Memangnya aku peduli?!’ pikirku.
“Kakak tahu kan, ponsel seperti ini nggak ada fasilitas perekam suara? Jadi kalau boleh sedikit merepotkan, apa aku bisa meminjam ponsel kakak untuk merekam percakapan kita?,” pintanya dengan wajah-tanpa-dosa.
Selain membuat kesal dan bertele-tele, gadis ini juga merepotkan. Tapi aku masih memiliki cukup kesabaran dan berbaik hati meminjamkan ponselku.
“Gunakan saja ponsel ini,”ujarku sambil menyerahkan ponselku, terlebih dahulu kubuka aplikasi perekam suara.
Auby menerimanya kemudian menekan tombol record.
Wawancara berlangsung membosankan dengan pertanyaan standar 5W+1H. Sementara aku menjawab pertanyaan, Auby sesekali mencatat pada buku kecilnya itu. Hingga tiba pada pertanyaan yang memaksaku harus memutar otak.
“Jadi temanya adalah ‘Para Pejuang di Jalan Raya’ ya? Nah, menurut Kak Ren, apa arti berjuang? Apa esensi dari tema ini?”
“Apa ya? Hmm.. menurutku, berjuang itu suatu tekad atau kemauan keras yang membuahkan usaha untuk, hmm.., move, menuju keadaan yang lebih baik. Dan itu berlaku di mana pun, termasuk di jalan raya. Harapannya kita bisa belajar dari para pejuang di jalan raya ini, belajar bersyukur, bersabar, dan lebih bijak ketika berada di jalanan, dan tentunya bisa lebih menghormati para pejuang ini,”
“Hmmm… terus apa saja kendala atau kesulitan buat acara ini?”
“Kalau dari panitia, sejauh ini persiapan lancar. Mungkin nanti ada kesulitan waktu menyalurkan dana. Karena ini kan acara amal, jadi perolehan dari acara ini akan kami coba sumbangkan untuk para pejuang di jalan raya. Kalau dari aku pribadi, kesulitan bagi waktu. Karena selain jadi ketua panitia, aku juga jadi salah satu mahasiswa yang ditunjuk sebagai kontributor lukisan. Dan saat ini lukisanku belum selesai,” terangku sambil tertawa kecil yang kupaksakan dengan maksud mengejek diri sendiri.
“Wah.. jadi curhat nih,” tanggapnya sambil tersenyum. “Oke, Kak Ren, sepertinya ini sudah cukup. Terima ka…” kalimat Auby terpotong oleh sebuah teriakan.
“Ren!” Ternyata Ale. “Masih mau lanjut melukis nggak? Kalau urusanmu dengan cewek manis itu sudah selesai, bantu aku beres-beres sanggar!” teriaknya dari balik pintu sanggar sambil melirik nakal pada Auby.
“Aku sudah selesai. Oke, aku bantu beres-beres sekarang,” balasku berteriak. “Itu tadi pertanyaan terakhir kan? Kalau begitu aku masuk dulu,” pamitku pada Auby.
Auby hanya mengangguk dengan wajah sedikit bingung.
“Kamu lihat ponselku?” tanyaku pada Ale.
Selesai beres-beres, aku merogoh semua saku di baju dan celana yang aku kenakan, tapi belum juga kudapati ponselku.
“Itu sedang kamu pegang,” jawab Ale.
“Bukan yang ini, yang satu lagi..” aku mulai resah.
“Aku nggak melihat di manapun di ruang ini,” ujarnya dengan wajah datar.
Aku coba ingat kembali kapan terakhir kali aku melihat ponselku itu. Aku ingat!
“Auby!” seruku sambil berlari keluar sanggar seni, tapi tak terlihat lagi sosok Auby di sepanjang koridor. Tentu saja dia sudah pergi, sudah 30 menit berlalu sejak aku meninggalkannya di sini.
“Ponselku ada di kamu?” segera kukirim pesan singkat pada Auby menggunakan ponsel lamaku.
Selang semenit, pesan balasan darinya masuk.
“Iya, kak. Aku ada kelas, jadi tadi langsung pergi,”
Di waktu dan tempat yang sama aku kembali menemuinya. Pertemuan yang sebenarnya tidak perlu. Terlebih di tengah kebuntuanku dalam melukis. Lukisan Ale dengan gaya realisme itu kini sudah 100%, sore nanti akan diserahkan ke seksi dokumentasi. Itu artinya tinggal lukisanku saja yang belum terkumpul. Jika aku tidak segera menyelesaikan lukisan—yang bahkan belum aku mulai—ini, itu akan menghambat pekerjaan mereka.
13:00. Auby datang. ‘Selalu tepat waktu’ pikirku.
Alih-alih minta maaf dan segera menyerahkan ponselku, dia malah memandangku dengan tatapan aneh. Aku bingung dan sedikit canggung.
“Hmm.. jadi, ponselku kamu bawa?,” tanyaku.
“Tenang saja, aku bawa. Tapi aku nggak mau minta maaf karena kakak sendiri yang meninggalkannya kemarin. Lalu kupikir ada bagusnya juga, karena aku bisa lebih mudah meng-copy file rekaman kemarin,” ujarnya membela diri.
“Baiklah. Kamu nggak harus minta maaf. Tapi bisakah kamu berikan ponselku sekarang?” pintaku.
Dia mengeluarkan ponsel dari dalam ransel yang semula digendongnya. “Aku tahu lukisan kakak belum selesai, tapi kakak harusnya tetap fokus,” ujarnya seraya menyerahkan ponsel padaku. Kemudian berlalu.
“Terima kasih!” ucapku agak keras agar suaraku masih dalam jarak dengar Auby.
Dia berbalik. “Oh ya, kak. Bukankah kami juga termasuk para pejuang di jalan raya?”
Seorang gadis mungil sedang berdiri mengamati lukisan di depannya. Beberapa kali ia terlihat memainkan gulungan kertas yang dipegangnya. Aku menyejajarkan diri dengannya di depan lukisan.
“Meskipun nggak terlalu jelas, aku tahu itu gambar uang recehan, itu koran, itu… hmm, gitar atau ukulele kurasa, dan, hey, itu kamera, pensil, bolpoin… Lukisan gaya apa ini?” tanyanya sambil menunjuk tiap detail lukisan.
Rupanya dia sudah menyadari kehadiranku walau tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan.
“Entahlah. Terlalu jelas untuk disebut abstrak, karena kamu berhasil menebak setiap detailnya,” jawabku sambil tersenyum.
“Dan aku langsung tahu ini karya Kak Ren,” ujarnya, kali ini sambil beralih menghadapku. “Selamat!,” serunya sambil menyodorkan gulungan kertas yang sejak tadi ia pegang, tepat di depan wajahku.
Masih dalam keadaan cukup kaget, aku meraih gulungan kertas itu, lalu membukanya. Ternyata buletin kampus terbitan bulan ini.
“Fresh from the press,” ujarnya sambil berlalu.
Setelah beberapa langkah, ia berbalik dan berkata “Kembali kasih, kak…” dengan senyum lebarnya yang menyebalkan. Kemudian meneruskan langkahnya menuju pintu keluar.
Ternyata dia masih gadis yang sama, sama menyebalkannya seperti saat pertama bertemu.
Aku tersenyum sendiri di tengah berlangsungnya pameran lukisan.[]