"Aa bade mengembara wae?" Boruto menghela napas. Sulit meninggalkan Ibu dan Adiknya. Tetapi, dia tidak mau berakhir menjadi kepala desa seperti ayahnya. Sungguh. "Iya, Ambu. Nyuhunkeun piduana weh." balas Boruto sekenanya. Dia mengikatkan hitaite yang telah dicoreng, menandakan sudah tidak ada ikatan apapun yang menjadi alasannya pulang ke Konoha. "Ambu moal ngalarang-larang Aa. Ambu mah sok mangga wae bade dilajengkeun, Aa bade kamana da ayeuna Aa lain budak alit deui, ngan Aa kudu inget, yen matak kanyaah Ambu mah ngalir siga Citarum." Hinata merasa dadanya sesak. Putra tersayangnya harus menempuh jalan lain. Boruto mendongakkan kepala. "Unggal dinten Boruto moal waka hilap nelepon Ambu sareng Hima." Hinata pun tidak kuasa menahan air matanya yang ingin membasahi pipi. "Kade cing waspada, sigap, jeng tegep." Boruto mengangguk. Melihat bekal yang disiapkan oleh Hinata. Hima daritadi menangis dan ya, Boruto membulatkan tekad. "Nuhun Ambu, mugia sehat, Hima oge. Jaga Ambu keur Aa, ya, Hima." Kediaman Uzumaki ditimpa muram. Kepergian sulungnya membawa suram. Hinata hanya berharap putranya selamat dan dia bisa kembali membuatkan nasi liwet untuk sekeluarga.











