Selagi muda, aku tidak pernah terpikir untuk mengambil waktu lalu hening sejenak. Semuanya kuputuskan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Andai dulu aku sempat menarik diri, memasak matang apa yang bakal menjadi masa depanku, perasaan terjebak dalam situasi yang tidak lagi dapat diubah ini bisa saja dapat dihindari.
Di satu sisi, jika dulu aku memutuskan untuk memilih jalan yang tidak kupilih, akankah hidupku akan berbeda? Atau malah sama, tapi situasi dan latarnya tidak serupa? Masalah yang kuhadapi tetap akan hadir, sambil memasang tampilan yang tidak mirip sama sekali dengan apa yang sedang berada di depanku. Pastinya begitu, betul?
Melihat kebelakang lalu berandai-andai memang membuatku menjadi manusia yang tidak tahu terima kasih. Padahal, ada kubangan atau jurang yang telah kuhindari berkat pilihanku ini. Ada banyak anugerah yang sudah kuterima sejak pilihan hidup ini kujalani. Harusnya aku bisa berpikir seperti itu.
Atau, aku juga dapat menjadikan apa yang kualami sebagai pelajaran. Sejak awal berada di jalan yang kupilih ini, aku sudah menjumpai banyak mata pelajaran. Mulai dari bertemu orang yang salah atau menyia-nyiakan orang yang tepat, sampai berbuat baik atau berbuat jahat, semua memang bagian dari kurikulum kehidupan. Dan semuanya itu lebih dari penting. Karena apa yang kumakan itu, aku menjadi seperti aku yang sekarang. Harusnya, aku bisa menganggapnya seperti itu.
Kadang, menjadi manusia, yang pada dasarnya tidak memiliki rasa puas, membuat otak dan hati seperti terbebani untuk bekerja lebih keras daripada diriku sendiri. Andai aku berada di situasi yang lebih baik dari sekarang ini, aku pastinya akan mengeluh juga.
















