Masihkah kita meragukan-Nya?
Berapa kali Allah membantu kita disaat kita membutuhkan bantuan? Disaat waktu dirasa terasa sempit, disaat kemampuan serba terbatas, dan disaat kemustahilan-kemustahilan yang lain yang tidak mungkin kita dapatkan.
Pernahkah kita berfikir bahwa apa yang kita tanam itulah yang kita tuai? Selain Allah membalas kebaikan manusia di akhirat, Allah pun akan membantu kehidupan orang-orang yang hanya bergantung dan berharap kepada-Nya. Mungkin kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan adalah reward dari-Nya atas apa yang pernah kita kerjakan dahulu. Sama halnya dosa, Allah akan menurunkan azab untuk menyadarkan manusia agar kembali kepada-Nya. Namun, orang yang bertaqwa tidaklah berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya. Meskipun ujian yang didera olehnya dia tetap sabar dan percaya bahwa Allah akan selalu membersamainya. Dia pun paham ujian yang Allah beri pasti tidaklah diluar batas kemampuan diri kita. Karena itulah janji Allah.
Jadi, masihkah kita ragukan pertolongan-Nya dalam menjalani kehidupan di dunia ini? Pandangan dunia akan terasa kecil dihadapan kita, semua yang kita butuhkan dicukupi atas izin-Nya dan semakin erat kita menggenggam akhirat, dunia pun akan mendekat kepada kita. MasyaAllah.
Lalu muncul pertanyaan.
"Tapi mengapa orang-orang yang tidak beriman mendapatkan apapun yang dia inginkan di dunia ini? Selalu mendapatkan kesenangan, jauh dari kefakiran, serba ada, dan selalu dimudahkan hidupnya oleh Allah?"
Itulah istijraj, sama halnya Fir'aun diberi kekayaan, kekuasaan, dan kenikmatan duniawi yang tiada tandingannya, namun dia termasuk orang-orang yang dibenci oleh Allah karena kesombongan yang tidak mau beribadah kepada-Nya, bertindak semena-mena dan lagi jahat. Ustadz Oemar Mita pernah mengatakan bahwa itu adalah sebenarnya azab Allah, Allah biarkan orang-orang tidak beriman bersenang-senang di dunia ini sampai waktu yang ditentukan-Nya. Allah akan membalasnya di alam akhirat kelak karena sesungguhnya kebaikan ataupun kejahatan walaupun sebesar biji dzarrah tetap Allah akan membalasnya.
"Lalu, apakah sebenarnya Allah membiarkannya tidak beriman begitu saja tanpa datangnya hidayah?"
Sesungguhnya dalam kitab suci Al Qur'an tertulis bahwa Nabi Musa a.s. mengajak Fir'aun untuk beriman kepada Allah namun ajakannya dicamkannya dengan keras. Meskipun telah diperlihatkan mukjizat-mukjizat kenabiannya, tetap saja Fir'aun tidak percaya dan menganggap itu hanya sihir semata. Entah berapa kali Allah mencoba mengajak Fir'aun untuk meraih hidayah-Nya, namun sampai dia ditenggelamkan dia pun enggan beriman kepada-Nya. Sama halnya kita, pasti setiap manusia mendapatkan hidayah, entah dari apa yang dia lihat, dari temannya, dari sosmed, dari sanak saudara, dari kejadian-kejadian yang telah terjadi dan dari apapun itu bentuknya pasti Allah telah mengirimkannya untuk kita agar kita mau berubah menjadi lebih baik.
Namun itu semua bergantung pada diri kita sendiri, maukah kita mengamalkannya? Maukah kita istiqomah? Maukah kita hanya meminta dan berharap kepada-Nya? Dan maukah kita ikhlas atas kebaikan dan amal ibadah yang telah kita lakukan?
Jadi berusahalah untuk menjadi muslim sejati, raih cinta Allah, dan dapatkan ketenangan batin yang luar biasa meskipun kesenangan ataupun kesedihan datang tak akan mampu menggoyah iman kita untuk tetap beriman kepada-Nya. Perbanyak syukur, perbanyak istighfar, istiqomahkan amal ibadah dan kebaikan insyaAllah, Allah semakin dekat dan cinta kepada kita. Aamiin aamiin allahumma aamiin.












