Exotic Peucang: A Journey to Faraway
Kegiatan Mega Hunting merupakan projek yang diadakan oleh LFS FEB UI setiap tahunnya. Kegiatan ini adalah sebuah kegiatan jalan-jalan yang memiliki tujuan utama untuk hunting photo bagi para penikmatnya. Namun, kami juga memiliki value lain seperti meningkatkan exposure dan awareness akan kekayaan Indonesia. Mega Hunting pada tahun 2016 ini berjudul Exotic Peucang, dengan destinasi Pulau Peucang itu sendiri.
Pulau Peucang, sebuah pulau yang masih jauh dari pengaruh teknologi modern—terbukti dari keberadaan suatu area yang benar-benar tanpa listrik—merupakan salah satu surga tersembunyi dari Indonesia. Terletak di bagian utara Ujung Kulon, untuk mencapai tempat ini kita bisa menggunakan kapal kayu dengan waktu tempuh selama 3 jam dari Sumur. Selain itu, Pulau Peucang ini dikelilingi oleh pulau-pulau kecil lainnya yang menawarkan keindahannya masing-masing.
Hamparan pasir yang sangat putih nan lembut merupakan hal yang pertama kali menyambut kami ketika sampai di Pulau Peucang. Air yang menyapu pantai merupakan air yang berwarna biru jernih, dasar lautnya nyaris terlihat dengan jelas dari dermaga. Ditambah lagi pengunjung kali itu bisa dibilang hanya kami. Pantai tersebut terasa seperti hanya milik sendiri.
Selain keindahan pantainya, Peucang juga menawarkan keragaman satwa yang berada di dalam hutan yang masih benar-benar “hutan”. Karena masih benar-benar hutan itulah kami menemukan berbagai satwa liat seperti rusa, babi hutan, dan merak di sini. Hutan ini juga merupakan jalan yang harus dilalui jika kita ingin melihat tebing yang berada di sisi lain pulau. Kegiatan yang biasa disebut trekking ini membutuhkan waktu satu setengah sampai dua jam untuk satu kali balikan. Namun, pemandangan yang berada di sisi lain Peucang itu cukup untuk membuat kami terkesima.
Dikarenakan penginapan yang ada di Pulau Peucang hanyalah sebuah barak yang diisi oleh petugas di sana itu sendiri, kemping menjadi pilihan kami dalam bermalam. Kami pun pergi ke Tanjung Layar di sore hari, untuk membuat tenda dan juga melihat sunset. Selama berada di sana, kami menggunakan kapal yang sama ketika kami pergi untuk berpindah-pindah ke pulau lain.
Untuk sampai ke daerah tempat melihat sunset dari tempat kami berkemah, lagi-lagi kami harus melakukan trekking selama kurang lebih tiga puluh sampai empat puluh lima menit. Namun, jalanan yang dilalui untuk trekking kali ini cukup ekstrim karena sempit. Ini merupakan kesempatan yang sangat baik bagi orang yang benar-benar ingin menyatu dengan alam.
Meskipun pulau ini tidak memiliki listrik, namun hal ini membuat kami dapat melihat hamparan bintang di malam harinya. Bahkan ketika jam baru menunjukan pukul sepuluh malam, the milky way, sudah jelas terlihat.
Sebagai kunjungan terakhir, kami mengunjungi Cidaon. Cidaon merupakan suatu savana yang dihuni oleh banteng-banteng. Namun, kami tidak diizinkan untuk mendekati banteng tersebut. Kami hanya boleh mengambil foto dari jarak yang cukup jauh. Hal ini dilakukan karena dikhawatirkan banteng-banteng tersebut akan kabur ketika kami dekati.
Selain berbagai kegiatan di atas daratan, snorkling menjadi salah satu daya tarik wisata di sini. Kegiatan snorkling dapat dilakukan di daerah Pulau Oar atau Badul, karena airnya yang sangat jernih dan juga tenang. Terumbu karang yang terdapat di dasar lautnya juga menjadi daya tarik tersendiri.
Pulau Peucang merupakan destinasi wisata bagi orang-orang yang ingin melakukan perjalanan yang menyatu dengan alam. Meskipun ketersediaan listrik dan kamar mandi yang minim di tempat ini, pemandangan yang disajikan sungguhlah setimpal. Kita sebagai warga Indonesia sudah seharusnya meningkatkan exposure surga-surga tersembunyi Indonesia seperti yang satu ini, agar keragaman Indonesia tidak menghilang ditelan sejarah begitu saja.
Copyright 2016.
All photos by me.
Artikel ini ditulis untuk keperluan organisasi saya, dan dapat dilihat pada halaman websitenya : lfs-febui.com