Pemuda Islam, Mencurigai Sekali.
Awal menjadi mahasiswa ada yang menganjal, asing, dan penuh pertanyaan. Pertanyaan yang tak kunjung redam atas tanya ‘mengapa’. Kata tanya yang menujukkan alasan dan sebab. Alasan apa hingga detik itu aku masih berkutat terhadap diriku sendiri. Sebab apa aku memutuskan bertahan di keputusan yang telah dipilih. Bisa saja aku berpaling dan kabur, layaknya maling yang mencuri. Kabur tanpa ada kabar dan sekali ditemukan dihajar masa. Namun, aku memutuskan bertahan dengan pilihan yang sudah terpilih. Cerita ini mengenai mahasiswa dan pencarian makna dakwah. Sebenarnya aku tak asing dengan ‘dakwah’, saat itu yang aku pahami dakwah kegiatan postif dan mengajak pada kebaikan. Sejak SMA mengikuti kegiatan ROHIS (Organissai Islam) , sehingga bagiku tak kesulitan memahami dakwah secara penuh. Nyatanya perkiraan itu keliru, malah semakin bergulat dengan pikiran dan kehendak hatiku. Apa yang aku pahami selama jenjang di SMA hingga kuliah jelas berbeda. Islam dan dakwah tak sesederhana melakukan hal-hal kebajikan seperti salat, puasa, dan haji. Juga bukan hanya sekadar mengajak seseorang mengaji, bukan hanya berbuat baik kepada Rabb dan sesama.
Bahkan awal semester kuliah, sempat aku dikira liberal dengan pemahaman yang berbeda dengan mahasiswa umum. Sebab saat itu aku membaca dan berdiskusi dengan teman-teman filsafat serta tafsir Alquran. Aku merasa pikiraku bebas dan terbuka pada hal-hal serius juga konyol. Hingga benar-benar menikmat serasa “ini yang aku cari”. Namum, kekritisanku kadang kala aku lontarkan secara sarkasme. Sebelum aku bertemu dengan teman-teman filsafat serta tafsir Alquran, aku bergabung dengan organisasi internal kampus bernuansa Islam. Kegiatan yang dilakukan tak jauh-jauh dari kajian dan program kerja secara tak langsung ‘mengislamkan’ kampus.
Lambat laun, aku mulai jarang berkabar di grup Whatshapp dan tidak mengikuti agenda organisaisi. Aku mulai enggan mengikuti segala kegiatan di organissai itu, yang hanya menyelesaikan program kerja. Sebatas itu pemahamnaku waktu itu. Juga saat itu, tak ada teman-teman organissai yang bergelut di literasi. Jarang sekali ada yang menekuni literasi. Teman-teman filsafatku merupakan mahasiswa tingkat akhir, sehingga mereka harus segera lulus dan menyibukkan diri dengan skripsi. Saat itu pula, aku berpikir usiaku sudah mulai dewasa dan pola pikirku tak bisa hanya memikirkan ego saja.
“Mengikuti organisasi jika tak aktif hanya akan menjelek-jelekan dirimu sendiri…” ujar Mbakyuku.
Ucapan itu membuat tersentak, sama saja aku menzalimi teman-temanku yang ada di organisasi. Di satu sisi, temna-teman oraginsasi tetap mengajakku, setiap ada agenda meskipun aku tak aktif. Maka aku mulai memperbaiki diri, mulai dari bidang yang aku garap, mulai mau berbalas pesan di Whatshapp dan menampakan diri ketika kegiatan. Walaupun sudah mengikuti kegiatan pemahamanku belum cukup mengerti tentang perananku sebagai pemuda Islam. Sebatas itu aku hanya memahami diriku semakin dewasa, harus mampu memikirkan orang lain.
Aku tetap mengalami pergulatan mengenai Islam dan dakwah. Mengapa harus ini yang aku pilih, bukankah ada organisasi Islam lainnya? Pemikiran Isalm yang bagaimana yang diusung organisasi ini? NU, Muhamadiya, MTA, atau ada yang lain? Katanya organisasi ini mencakup semua pemahaman Islam, namun mengapa aku rasa hanya merujuk pada salah satu saja?
Aku dipercaya untuk mengikuti penjenjangan di organissai itu, mulailah aku mengerti posisiku sebagai pemuda Islam.
Pemuda haruslah mampu berperan, kurang lebih begitu pemahamanku ketika itu. Bukan hanya pemuda pembawa perubahan melainkan, Rabb telah mempercayakan perubahan pada tangan-tangan pemuda yang masih mampu berpikir dan bertindak secara cepat dan tepat.
Arah bacaanku mulai berubah untuk menjawab gejolak pertanyaan yang bertumpuk di benak dan hati.
“Ada atau tanpa kamu, dakwah tetap akan berjalan. Jadi mau tetap bergerak atau berdiam diri?’ ujar seniorku. Lebih lanjut ia berujar, akulah yang membutuhkan dakwah bukan dakwah yang membutuhkanku. Tetap saja ucapan itu terasa ganjal. Benarkah ucapan itu atau hanya perspektif seniorku saja?
Nyatanya, memang akulah yang membutuhkan dakwah, dengan hal itu aku mendekatkan diri pada Rabb-Ku, lebih memahami perananku secara utuh agar mengenal-Nya dengan penuh. Menukil pesan dari Zaky A Rivai ( 2018) dalam buku “Mencurigai Diri Menaklukkan Masa Muda, Mencurgai Diri Mengkokohkan Masa Depan” bahwa, hendaknya pemuda mengatur pola hidup mereka. Bagaimana caranya agar membangun jaringan sejak muda, bermasyarakat, memberikan kontribusi yang optimal kepada masayarakat.
Fitria R Zain | 7 Februari 2019