Tiket kereta sekarang bisa dibeli via ATM, namun harus menggunakan fotokopi KTP untuk mengambil tiketnya. Itu pun harus satu jam sebelum keberangkatan. Aku jadi berpikir, mengapa tidak ke stasium saja sekalian beli tiketnya? Apalagi ada biaya layanan Rp7.500,00, itu kan nanggung banget. Berangkatlah aku ditemani adikku ke stasiun karena aku lupa jalan. Sesampainya kami di jalan menuju stasiun, global warming menunjukkan taringnya: banjir nyaris menyentuh velg mobil. Aku lupa kalau tadi habis hujan deras! Meski hujannya sudah berhenti, airnya belum surut. Drainase dan perencanaan kota yang buruk ditambah perilaku membuang sampah sembarangan membuat selokan tidak lagi terlihat batasnya. Kalau air banjir yang berkecipak karena beraneka kendaraan ini sampai masuk melalui knalpot, mobil ini akan tamat riwayatnya di jalan. Aku kemudian melihat sedan di depanku yang knalpotnya menggerung menyembur air yang berusaha masuk. Aku ingat bahwa gas dan kopling harus terus dimainkan selama ada di area banjir. Aku merasa sedikit lebih aman mengetahui aku naik mobil yang lebih tinggi daripada sedan: kijang. Aku melihat mobil kijang di depan sedan yang aku lihat knalpotnya tidak tersentuh air dan aku merasa lega. Adikku aku tanyai tentang ini dan dia berkata, "Mobil kita kan dipendekin sama mbah kakung supaya mbah putri bisa naik?" Astaga, aku lupa itu. Nenekku yang menderita rematik memiliki kesulitan berjalan dan tidak dapat memaksimalkan kakinya. Otomatis naik mobil selain sedan tanpa bantuan ekstra akan memberatkan. Namun, kakekku tetap ingin punya mobil itu, Kijang Grand 1.8, sudah ditambahi bemper depan, dan setelah nenekku rematik... kakekku memotong shock breaker mobil dan casis mobil supaya lebih pendek dan nenekku bisa naik dengan mudah. Padahal beliau punya mobil lain yang bisa dipakai nenekku. Tapi tidak, kakekku ingin nenekku ikut menikmati mobilnya, yang dibeli dengan surat atas nama nenekku supaya otomatis mobil ini atas kepemilikan nenekku. Beliau tahu resiko yang akan dialami mobil ini ketika berjalan di medan berat. Beliau juga sayang barang-barangnya... dan beliau tidak keberatan memodifikasinya, yang mungkin akan dianggap hobiis mobil agak merusak, supaya istrinya yang sakit bisa ikut menikmati. Nampaknya kakekku tidak memperhitungkan cucunya yang tegang di kemudian hari di jalanan yang tiba-tiba banjir dengan mobil tinggi yang sengaja dipendekkan ini. Tapi syukurlah, kami berhasil sampai stasiun dan pulang lagi tanpa masalah yang berarti.