Ia tak menyangka, kecanduannya terhadap rumus Phytagoras semasa SMP mengawali terjadinya tiga cinta segitiga yang ia alami sepanjang hidupnya. Rumus itu adalah salah satu bahasan matematika yang tingkat kesulitannya mulai beranjak dari sekadar operasi dasar seperti dua ditambah dua sama dengan empat.
Persoalan segitiga siku-siku dan penyelesaiannya menggunakan rumus Phytagoras membutuhkan setidaknya tiga atau empat baris coretan di kertas. Itu berarti tiga atau empat kali lebih banyak daripada jumlah baris yang dibutuhkan untuk menyelesaikan operasi dasar. Beranjaknya tingkat kesulitan itu memacu adrenalinnya semasa kecil. Dan, dengan itu ia tumbuh menjadi orang yang suka tantangan.
Ia tak memutuskan menjadi penganut gerakan keagamaan itu untuk menyalurkan hobinya yang suka tantangan. Ia mengalami hal lain. Tentu saja, bagi anak seusianya, menyatakan cinta kepada seorang perempuan bukanlah pekerjaan sederhana. Saking rumitnya, ia bahkan baru bisa tidur empat atau lima jam lebih larut daripada biasanya, dan makan empat atau lima sendok—atau lebih—lebih sedikit daripada biasanya.
Mungkin karena rambutnya, matanya, hidungnya, atau senyumnya. Ia tak yakin apa yang membuatnya jatuh cinta kepada Tia, seorang gadis kecil, yang tak kalah kecil daripadanya. Ia jatuh cinta kepada Tia jauh sebelum siang itu, saat Tia memintanya menjelaskan ulang kepadanya tentang rumus Phytagoras karena menganggap penjelasan Pak Abu, guru matematika di kelas mereka, membosankan dan membuatnya mengantuk.
Dan, jam istirahat siang itu menjadi kali pertama ia berdua-duaan dan terlibat obrolan paling panjangnya dengan Tia: lima belas menit. Meski ketika berdua-duaan itu, selama lima belas menit itu, mereka hanya di kelas, hanya mengobrol tentang rumus Phytagoras.
Sepulang sekolah, ia mampir ke warung, membelanjakan uang sakunya—yang tak terpakai di sekolah karena harus menjelaskan rumus Phytagoras kepada Tia pada jam istirahat—untuk membeli beberapa amplop. Jumlahnya akan berkurang satu esok pagi.
Lebih pintar daripada Tia dalam pelajaran matematika membuatnya lebih percaya diri untuk mengiriminya surat cinta. Ia mengira Tia akan merasa beruntung saat membaca suratnya dan mengetahui laki-laki pintar ini mencintainya. Dan, ia berharap Tia akan membalas suratnya, tapi lebih berharap Tia membalas cintanya.
Keesokan paginya, ia mengurungkan niatnya untuk segera menyerahkan surat—yang ditulisnya di kamar mandi karena takut ada orang rumah yang memergokinya—itu kepada Tia. Ia menundanya hingga jam pulang sekolah, supaya kalau Tia sampai bertanya, ia tak punya kesempatan untuk menjawabnya, supaya ia bisa langsung melesat pergi untuk menyembunyikan merah di wajahnya.
Ia merasa ada yang berbeda pada hari-hari setelah itu. Tia memang belum sekali pun membalas suratnya. Tia juga belum sekali pun mengatakan bahwa ia membalas cintanya. Tapi sejak itu, setiap pagi Tia menyapanya, mengobrol dengannya pada jam istirahat meski tak lagi bertanya tentang matematika, dan membarenginya keluar kelas selepas bel pulang hingga mereka berpisah di ujung jalan yang tak jauh dari pagar sekolah. Mereka kerap bercanda, dan Tia kerap mencubit kecil lengannya yang kecil ketika bercanda. Maka ia menyimpulkan, meski tak membalas suratnya dan tak mengatakan langsung membalas cintanya, Tia sudah menjadi kekasihnya.
Tepat sebulan kemudian, Tia meminta maaf kepadanya. Tia mengatakan bahwa ia berpacaran dengan Arta, teman semejanya. Ia sangat marah kepada Arta. Setelah hari itu hingga hari kelulusan, ia meninggalkan bangkunya di sebelah Arta dan duduk di pojok bangku deretan belakang kelas. Bangku yang ditinggalkannya itu kemudian diduduki Tia.
***
2.
Sepuluh menit lagi hari berganti. Ia meletakkan gitarnya setelah akhirnya merampungkan lagu terbarunya. Lagu yang lebih sering dinyanyikannya sendiri di dalam kamar, lagu yang ditulis untuk didengarkannya sendiri.
Setahun empat bulan yang lalu, ia juga menciptakan sebuah lagu. Dengan gitar murah dan pemutar musik yang harganya lebih mahal sedikit daripada gitarnya, ia merekam lagu itu dan memperdengarkannya kepada Wina saat mereka makan malam bersama. Wina—yang tak berkomentar apa-apa saat mendengarkan lagu itu—mengiriminya pesan singkat setelah sama-sama sampai di rumah, “Terima kasih untuk makan malam dan lagunya. Manis.” Malam pertamanya memacari Wina berjalan sempurna.
Karena yang ditulisnya ketika itu adalah lagu cinta, tentu saja “manis” merupakan salah satu komentar yang ia harap ia terima. Maka, selepas malam itu, lagu demi lagu baru diciptakannya. Wina tak sempat mendengar semuanya. Terlalu banyak. Jatuh cinta adalah kurun yang diharapkan pelakunya agar berjalan sangat lambat, kalau tak bisa diharapkan untuk berhenti. Wina masih ingin menikmati manisnya lagu pertama ciptaan kekasihnya itu lebih lama lagi.
Tapi “manis” yang keluar dari rekah bibir Wina melecutnya untuk lebih produktif menulis lagu-lagu lain. Ia ingin mendengar Wina mengucapkan kata itu lagi. Lagi dan lagi.
Sebelum menjadi sepasang kekasih, ia dan Wina adalah dua orang yang berbeda dalam banyak hal, tapi tidak dalam selera musik. Mereka berdua mengamini kutipan yang mengatakan bahwa hidup tak lengkap, atau tak indah, atau apa pun, tanpa musik. Kesamaan kesukaan kepada sebuah genre musik pun akhirnya mendekatkan mereka, membuat mereka lebih mengenal dan menemukan sisi menarik dalam diri masing-masing. Sisi menarik yang membuat mereka saling jatuh cinta.
Tapi, bukan berubahnya cinta atau selera musik yang membuat Wina meninggalkannya malam itu, tak sampai dua puluh empat jam setelah ia selesai menciptakan lagu terbarunya itu. Sepanjang setahun empat bulan, malam itu memang bukan yang pertama Wina menangis dan bilang ingin menyudahi hubungan mereka. Tapi malam itu, saat Wina melakukannya lagi, ia tak bisa menahan Wina pergi seperti biasanya.
Pelukannya tak lagi bisa menahan Wina, malah pelukan itu menjadi pelukan terakhir mereka. Pelukan yang segera dilepas Wina sebelum terlalu lama hingga ia tak sempat mencium lagi bibirnya seperti saat mengakhiri pertengkaran-pertengkaran yang pernah terjadi sebelumnya. Pertengkaran yang berakhir dengan malam yang indah dan panjang, takkan lagi pernah terulang.
Seminggu setelah itu, baru ia tahu, ketika Wina turun dari sebuah sedan yang tak asing baginya, lalu menggenggam tangan seorang teman baiknya, Yanu.
***
3.
Malam semakin larut. Suara-suara jangkrik semakin nyaring, menembus jendela kaca studio di balik punggungnya. Setiap hujan, apalagi sore hari, ia berulang kali memutar kursinya, membelakangi mejanya, dan memandangi air yang turun dari langit itu dari balik kaca. Ia suka sekali ketika hujan semakin deras, dan pandangannya semakin terbatas karena tempias air yang menempel di jendela.
Sudah empat jam lebih sejak jam pulang kantor, tapi ia masih asyik mengolah foto-foto lama di komputernya. Selepas magrib masih ada satu-dua rekan kerjanya yang juga belum pulang. Tapi semakin malam, tinggal ia sendirian di ruangan itu. Ia tak tampak ingin segera beranjak, padahal semua pekerjaan sudah diselesaikannya tak lama setelah makan siang.
Baru kemarin majalah bulanan yang menggunakan foto-foto hasil jepretannya itu naik cetak. Tak mengherankan sejak sore tadi kantornya sudah cukup sepi, sebab hari ini tenggat tak memburu dan mendesak-desak.
Ia memandangi layar komputernya, mengamati lagi desain-desain undangan yang dibuatnya sendiri. Ia tak tahu kapan akan menikahi kekasihnya yang dua tahun belakangan tinggal di kampung halamannya di pulau seberang. Maka, dari enam belas desain undangan yang sudah dibuatnya, ada enam belas tanggal yang berbeda.
Ia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Seperti yang sudah-sudah sejak hampir dua tahun belakangan, malam itu ia duduk saja dan bersiap membuat desain undangannya yang ketujuh belas, untuk ia lihat-lihat lagi pada saat-saat seperti itu sebelum ia lanjutkan dengan membuat desain undangan yang kedelapan belas, dan seterusnya.
Baru saja lembar kerja baru di layar komputernya terbuka, tiba-tiba masuklah Ratna, model busana pesta yang ia potret seminggu sebelumnya. Belum sempat ia bertanya atau berkata apa-apa, perempuan cantik itu mencium bibirnya, menutup rapat mulutnya yang sempat menganga. Lama.