"Dongeng adalah medium terindah dalam tradisi lisan Nusantara."—Lentera Dipantara dalam Cerita Calon Arang oleh Pramoedya Ananta Toer.
Marmarti, kakang kawah, adi ari-ari, getih, puser kang metu soko margo ino, sing metu bareng sedino. Aku njaluk... (Sebutkan permintaan).
Itu adalah mantra sakti yang diajarkan bapak ketika masih kecil. Mau melakukan apapun, punya tujuan apapun, sebut mantra itu. Akan banyak terkabul. Katanya.
Saya akan coba terangkan maksudnya sejauh yang saya dengar, 'dengar', karena ini hasil penjelasan bapak angkat saya secara lisan kapan hari. Marmarti, artinya saudara. Kita memanggil saudara kita yang menemani kita lahir, ada empat, yaitu kakang kawah (kakak kawah/air ketuban), adi ari-ari (adik ari-ari), getih (darah, sebagai saudara sulung) dan puser (tali pusar, sebagai saudara bungsu). Kang metu soko margo ino (yang keluar dari liang peranakan ibu), sing metu bareng sedino (yang keluar bersama dalam sehari).
Orang Jawa, terutama yang masih memegang tradisi kejawen, atau masyarakat yang masih konservatif tentu akrab dengan kalimat "sedulur papat limo pancer". Sedulur papat adalah empat saudara di atas, limo pancer (yang kelima, pancer). Pancer artinya pusat, yaitu diri kita sendiri. Peletakkannya, jika kita berada di titik pusat, maka ari-ari berada di timur, getih di selatan, kawah di barat dan puser di utara. Yang terakhir ini banyak maunya dan paling berbahaya. Saking bahayanya, dia bisa mengajak kita untuk membunuh orang lain. Di sini, kita meminta bantuan tiga saudara kita yang lain untuk menenangkan si bungsu. Seperti ini kurang lebih arti sedulur papat limo pancer yang saya dengar dan pahami.
Satu lagi. Pancer, diri kita, memiliki satu lagi kawan yang selalu ikut, yang disebut moloikat ayang-ayang (malaikat bayang-bayang) yaitu bayang-bayang kita sendiri. Dia yang selalu menemani kita. Kita duduk, dia duduk. Kita berdiri, dia berdiri. Kita makan dia makan. Dia melakukan apa yang kita lakukan. Dialah refleksi diri kita. Kepadanya kita bercermin. Jangan sekali-sekali mengkhianatinya, mengkhianati refleksimu sendiri.
Dalam tasawuf—yang saya dengar dari bapak kandung saya (saya pribadi tidak pernah belajar secara khusus mengenai tasawuf, hanya mendengar)—terdapat empat elemen dasar yang selalu menyertai hidup menusia—yang mana kita tak bisa lepas darinya—yaitu Lawamah (Aluamah), Supiyah, Amarah dan Mutmainah.
Lawamah adalah sifat yang mengajak manusia untuk berbuat kejam, nafsu ingin memusnahkan/membunuh yang lain. Sifat ini melekat dalam diri manusia yang selalu ingin menjadi superior, lebih tinggi dari yang lain. Tidak ada manusia yang lepas dari sifat ini, sesedikit apapun sifat ini, pasti dimiliki oleh setiap manusia. Lawamah terletak di utara (mirip puser, saudara bungsu), berwarna hitam, melambangkan unsur tanah. Secara fisik, tanah adalah bagian dari tubuh manusia. Kita gosok kulit kita, lama-lama akan muncul tanah (sekarang, saya menyebutnya daki, hehe).
Supiyah adalah sifat yang mengajak manusia untuk mencintai harta benda/ cinta duniawi. Dia termasuk godaan utama manusia. Manusia modern, dari kita bangun hingga tidur lagi, pasti kebanyakan adalah untuk mengurus perihal kebutuhan duniawi. Supiyah terletak di barat (mirip kawah, kakak), berwarna kuning, dan melambangkan unsur angin, nafas kita.
Amarah adalah sifat yang mengajak manusia untuk menguasai panggung kepemimpinan dan politik, keinginan untuk menjadi cerdas agar bisa sombong ke yang lain. Dia identik dengan sifat manusia yang menggebu-gebu, tidak sabaran, dll. Amarah terletak di selatan (mirip getih, saudara sulung), berwarna merah yang melambangkan unsur api, darah kita.
Mutmainah adalah sifat yang mengajak untuk selalu mendekat kepada Tuhan. Ia identik dengan sifat baik yang ada pada manusia. Mutmainah terletak di timur (mirip ari-ari, adik), berwarna putih yang melambangkan air, darah putih dan unsur-unsur cair lainnya yang ada dalam tubuh kita.
Dari empat korespondensi itu, kita dapatkan bahwa puser~lawamah (utara, mengajak membunuh), kawah~supiyah (barat, mengajak cinta duniawi), getih~amarah (selatan, mengajak sombong, takabur, dan paling menguasai), ari-ari~mutmainah (timur, mengajak ke kebaikan menuju Tuhan).
Seperti yang saya singgung di atas—kata bapak angkat saya—yang paling berbahaya adalah puser, dalam hal ini dia berkorepondensi dengan lawamah (nafsu membunuh) sampai-sampai kita meminta tolong kepada tiga saudara kita yang lain.
Entah karena berbahaya atau ada alasan lain, puser tetap dijaga dan disimpan, yang tiga lainnya dikembalikan ke alam (ari-ari dikubur, getih dan kawah dicuci di sungai). Sampai sekarang, saya masih punya puser saya, disimpan dalam kotak bedak di lemari. Dulu ketika saya masih kecil, kalau sakit selalu diberi minum dari air hasil rendaman puser untuk digunakan sebagai obat.
Hidup kita akan aman, damai, sentosa dan bersahaja jika kita selalu mengingat empat saudara kita, berikut mengendalikan empat nafsu itu. Kita tak bisa menghilangkan beberapa dan mengambil yang lain sesuai kebutuhan, kita hanya bisa berusaha mengontrolnya seberapa besar porsi lawamah, supiyah, amarah dan mutmainah yang akan kita pakai, walaupun itu tak mudah.
Dalam mengingat-ingat sedulur papat, biasanya tiap hari lahir kita (tiap selapan, yaitu tiap tiga puluh lima hari sekali) dibuatkan jenang (bubur) berjumlah lima piring kecil. Warnanya ada yang merah, putih, ada juga yang kombinasi keduanya. Rasanya sebagian manis, sebagian asin, sebagian ada yang hambar. Ini melambangkan empat saudara lahir kita, masing-masing untuk mengingat mereka, dan memberinya makan.
Ngomong-ngomong, tau kan kenapa tiap tiga puluh lima hari sekali? Karena weton lahir itu kombinasi hari dan pasaran, contoh minggu pon, kamis pon, dll. Hari jumlahnya tujuh, pasaran jumlahnya lima, jadi KPK dari tujuh dan lima adalah tiga puluh lima. Artinya, weton lahir muncul tiap tiga puluh lima hari sekali (disebutnya selapan, lap adalah satuan sekali putar—dalam hari-pasaran—tiap tiga puluh lima hari, jadi setelah se-lap-an ada rong-lap-an (dua lap), telung-lap-an (tiga lap), dst).
Lebih jauh lagi, sifat-sifat manusia juga disebabkan oleh hari kelahirannya. Dalam jawa, ini disebut pasaran. Terdapat lima pasaran berikut letaknya, yaitu legi (timur), pahing (selatan), pon (barat), wage (utara), kliwon (pusat). Berdasarkan hari lahir itu, serta hubungan dengan letak empat sedulur tadi, sifat-sifat manusia bisa ditebak. Begitu pula bagaimana nasib mereka kelak—bagaimana keberuntungan dan kenaasan berpengaruh ke kehidupan mereka—dari segi rejeki, pangkat, tempat tinggal, sampai ke kecocokan jodohnya.
Udahan dulu nulisnya. Mau istirahat. Lanjut kapan-kapan kalau mood nulisnya baik lagi.
Percaya atau tidak, itu urusan anda masing-masing. Saya hanya menulis apa yang pernah saya dengar tanpa pernah mempelajarinya dengan serius. Saya menulis, bukan berarti saya percaya dengan semua itu. Sekali lagi, saya hanya menulis apa yang pernah saya dengar tanpa pernah mempelajarinya dengan serius. Saya hanya menganggap itu semua sebagai bagian dari kayanya mitologi Jawa. Benar tidaknya, saya tidak tau.
Lmj, 2 Ramadhan 1441 H, 00:00 WIB.
—Terinspirasi untuk menulis ini setelah melihat serial kartun avatar Aang (pengendali empat elemen: angin, air, tanah, api) yang kembali tayang di GTV tiap sore, hehe.