Sebut saja tokohnya “ANISA”
Di tengah kebahagiaan 2017, aku mendapati kisah seorang temanku yang kemudian aku jadikan dia pembelajaran. Sebut saja tokohnya adalah Anisa.
Anisa mendapati pasangan belum halalnya mencintai wanita lain. Anisa berpikir, Anisa menangis, bagaimana bisa Anisa diduakan dengan kondisi saat di mana hubungan kami masih sangat baik-baik saja. Pasangannya jatuh cinta saat dia intens bertemu dengan wanita lain di luar sana, sementara Anisa menunggu di sudut kota lain dengan rasa seolah dia masih baik-baik saja, masih dengan komitmennya. Namun nyatanya, cinta itu tumbuh di dalam hati pasangan belum halalnya dengan wanita lain dengan sangat dahsyatnya.
Anisa terus-menerus berpikir, bagaimana bisa? Bagaimana dia bisa memutuskan bahwa dia mencintai wanita itu dalam sekejap mata. Bagaimana dia bisa begitu cepat melepaskan semua janji yang pernah diucapkannya kepadaku dan menghilang begitu saja. Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa, ada wanita yang “bersedia” dirinya menjadi penyebab sakit wanita lain. Bagaimana bisa dia menerima lelaki itu, bahkan saat tau bahwa lelaki itu sudah terikat janji dengan wanita lain? Bagaimana dia bisa dan mau saja menerima cinta dari lelaki itu? Bagaimana bisa?
Sejak dulu, Anisa selalu diajarkan oleh ibunya untuk jangan sampai menyakiti orang lain. Biarlah kita yang tersakiti, asal jangan kita yang menyakiti. Anisa berusaha untuk itu. Anisa berusaha untuk tidak menyakiti meskipun kata-katanya ternyata sering menyakiti. Anisa hanya manusia, Anisa berdarah asli sumatra, Anisa akan jujur dengan apa yang dia katakan. Hanya itu, bukan bermaksud untuk menyakiti hati orang lain.
Anisa selalu menjaga jarak, terlebih saat Anisa memutuskan untuk berkomtmen dengan pria itu.
Anisa tau Anisa salah, tapi masih dilakukan. Ya, kita ini memang tergolong orang fasik.
Anisa memilih untuk berkomitmen sebelum pernikahan juga bukan tanpa sebab. Yang pertama, adalah keinginan ibunya yang ingin mengenal calonnya selama kurang lebih dua tahun. Yang kedua, untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Anisa tau, Anisa hanyalah wanita yang kadang supel keterlaluan dan mungkin kelewatan, sehingga banyak sekali gosip yang beredar tentang kedekatannya dengan banyak pria. Jadi, Anisa memutuskan dengan berkomitmen, dengan harapan akan melindungi dirinya sendiri, setidaknya dari pria-pria iseng di luar sana.
Setelah berkomitmen, Anisa sangat menjaga hubungannya dengan lawan jenis. Sangat ketat! Anisa sangat menjaganya. Namun, ternyata pasangan belum halalnya tidak. Kadang Anisa berpikir, kenapa dia tidak bisa melaksanakan apa yang Anisa laksanakan? Kenapa dia tidak bisa bertahan sedangkan Anisa bisa bertahan? Kenapa Anisa bisa menjaga tetapi dia tidak bisa?
Bergemuruh sejuta tanya, dan Anisa tau hanya ada satu jawaban.
Semua digerakkan oleh Allah, diizinkan oleh Allah untuk terjadi.
Karena kita semua adalah penyebab di bumi ini. Pilihan kitalah yang menjadi sebab baik atau buruk. Ketika kamu melakukan perbuatan buruk, sesungguhnya itu dari dirimu sendiri, kemudian Allah mengizinkannya untuk terjadi. Allah mengizinkan itu bukan berarti itu adalah hal yang baik untuk kamu lakukan, tapi harus melalui kamu, hal itu terjadi untuk jadi sebab-sebab baik bagi orang yang telah tersakiti jika dia ikhlas menerimanya.
hati-hatilah dengan bujuk rayu syaitan, karena dia kan selalu menyamarkan hal buruk menjadi baik. Aku pernah mendengar bahwa kualitas syaitan yang menggoda manusia itu mengikuti kualitas manusia orang yang digodanya. semakin baik dia, maka syaitan akan semakin pintar dan cekatan dalam melakukan tipu daya. So, berhati-hatilah. untuk apa yang kamu lihat sebagai kebaikan, tapi dilalui dengan cara yang tidak baik, maka kamu tidak akan memperoleh apapun selain kemudharatan.
Dari tokoh “ Anisa” yang ingin memberikan pelajaran.