Ada sebuah kisah yang ditulis oleh Imam Adz Dzahabi dalam kitab yang berjudul Syiar A’lam An-Nubala’. Kisah yang benar-benar pernah menggores lintasan waktu dalam sejarah manusia, bukan rekaan seperti halnya kisah fiktif hari ini. Ialah kisah pertemuan empat anak muda di Hijr Ismail, setengah lingkaran yang terletak di Ka’bah. Tempat suci dan tersucikan hingga akhir zaman.
Dialah Abdullah bin Umar, putra Umar bin Khattab. Pemuda selanjutnya bernama Abdullah bin Zubair, ‘Urwah bin Zubair dan Mush'ab bin Zubair, ketiga orang ini adalah anak dari seorang sahabat Rasul yang bernama Zubair bin Awwam. Pertemuan istimewa ini dibuka dengan kata 'tamannaw' yang artinya 'berharaplah!'. Seperti pada umumnya pemuda, dengan semangat dan gelora yang membara. Mereka mengukir mimpi, mencoba menunjuk bintang impian agar kelak mereka mampu meraihnya.
Majelis ini dimulai dengan kalimat Abdullah bin Zubair, “Saya ingin kekhilafahan.”. Anak muda yang ingin menjadi khalifah, pemimpin. Bukan sederhana, ketika saat ini tidak banyak pemuda yang berpikir demikian. Lebih parah lagi justru sambutan riuh tawa, ketika seorang pemuda hari ini mengucap 'presiden' sebagai impiannya.
Selanjutnya Urwah bin Zubair berkata, “Saya ingin menjadi tempat masyarakat ini mengambil ilmu.”. Impian menjadi seorang ulama, pecinta ilmu. Bagaimana menyelami pikiran seorang Urwah bin Zubair, kemudian mereplikasinya ke dalam pemikiran pemuda saat ini. Bagaimana mindset mencintai ilmu dapat terbentuk ketika belenggu hingar bingar dunia sulit terlepaskan, seperti hari ini?
Kemudian Mush’ab bin Zubair pun menyampaikan keinginannya, ”Saya ingin menjadi Amir Iraq dan menikahi Aisyah binti Thalhah dan Sukainah binti Husain.”. Dua impian yang ia gantungkan sekaligus, menjadi pemimpin dan menikahi dua wanita cantik dan cerdas di jamannya, dan kedua-duanya adalah putri dari sahabat Nabi shalallahu 'alaihi wassalam.
Terakhir, Abdullah bin Umar, “Aku ingin Allah mengampuniku.”. Sebuah kalimat terlihat biasa saja, namun maknanya yang begitu tinggi. Impian yang hanya akan ia buktikan kelak di akhirat.
Hijr Ismail adalah saksi impian mereka. Bintang yang mereka gambarkan, cita-cita yang mereka katakan, hingga pada kemudian hari Allah sampaikan mereka pada takdirnya.
Abdullah bin Zubair benar-benar menjadi khalifah selama kurang lebih sembilan tahun. ‘Urwah sungguh menjadi ulama besar di Kota Madinah. Banyak sanad hadits darinya yang diambil dari ‘Aisyah binti Abu Bakar, Ummul Mu’minin yang merupakan bibinya. Mush’ab pun benar menjadi pemimpin di Iraq dan bisa menikahi dua wanita sholihah yang sangat cerdas dan cantik tesebut.
Keinginan yang belum bisa dibuktikan adalah ketercapaian cita-cita Abdullah bin Umar. Allah yang memiliki segala rahasia. Apakah Allah mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar seperti yang ia sampaikan di majelis itu? Tapi Imam Adz Dzahabi rahimahullah menuliskan keyakinannya bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa Abdullah bin Umar sebagaimana yang ia inginkan.
Merekalah pemuda-pemuda dengan sentuhan Nabi yang ditempa dengan keimanan dan Quran. Para pemuda yang dibina dengan pendidikan terbaik. Mereka tumbuh menjadi pemuda yang berani bercita-cita dan mewujudkan apa yang mereka inginkan. Dengan keimanan yang menghujam, yakin seutuhnya atas izin dan pertolongan Allah.
Siapalah Abdullah bin Zubair? Sehingga kemudian ia bercita-cita ingin menjadi khalifah. Ia bukan dari keluarga istana (meski keluarganya adalah keluarga sahabat Nabi yang mulia). Namun ia tetap berani bercita-cita, dan yang terpenting berani untuk berusaha meraihnya.
Pun bedakan dengan orang-orang yang hanya berkhayal. Perbedaan orang yang bercita-cita dan berkhayal adalah ketika dia melaksanakan, mencoba berupaya maksimal untuk mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan orang yang hanya bermimpi dan berkhayal adalah yang tetap dalam tempat tidurnya. Tidak kemana-mana. Tidak bergerak sama sekali. Maka bagaimana mungkin ia akan meraih impian-impiannya?
Manusia boleh bercita-cita. Biarkan pijar semangat meraihnya terus berkobar dan menyinari kehidupan kita. Jangan biarkan padam! Mari bersama semaksimal mungkin dalam upaya menjadi hamba Allah yang mulia, sholih, dan berilmu. Sampai suatu hari kita akan menyaksikan hadits Nabi “bekerja”:
“Bekerjalah kalian! setiap kalian akan dimudahkan menuju takdirnya masing-masing.”
*Sumber dengan perubahan : http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/guru-parenting-nabawiyah/236-pijar-cita-cita