365 of 365; Gimana ya rasanya bisa punya satu orang di hidup ini?
Satu orang aja, cukup. Andai.
seen from Russia

seen from Canada
seen from Canada

seen from United States

seen from Malaysia
seen from Canada

seen from Canada
seen from Canada
seen from Malaysia
seen from Yemen
seen from Canada

seen from Canada
seen from Canada
seen from Canada
seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Macao SAR China
seen from China
seen from Yemen

seen from United States
365 of 365; Gimana ya rasanya bisa punya satu orang di hidup ini?
Satu orang aja, cukup. Andai.
andai
jika kau baca postingan sedihku bukan berarti aku sedih
jika kau baca postingan cintaku bukan berarti aku mengejarmu
aku hanya menjalankan kehidupanku
sesuai dengan kemampuanku
aku tidak mengejarmu ataupun aku mengharapkanmu
jujur itu hanya dunia maya
semua yang tampil dilayar itu hanyalah hal yang fana.
Sosial Media.
Apa yang kamu pikirkan jika mendengar kata sosial media?
Kalau bagiku. Kadang sosial media sedikit menjadi merepotkan.
Apalagi kalau sudah menyangkut pasangan.
Aku kira beberapa pertengkaran yang pernah aku alami dengan pasangan adalah karena sosial media.
Yang dia enggak pernah upload bersama aku,
selalu update status padahal belum balas whatsappku,
dulu sering update bersama, sekarang udah ga ada jejak bareng bareng padahal hubungan baik baik aja. Itupun bisa jadi masalah.
ada yang sering risih kalau pasangannya terlalu mengumbar kemesraan.
Repot kalo dipikirin terus.
Dan andaikan saja, kamu termasuk orang yang cuek pada pasangan kamu mau ngapain aja di sosial medianya, mungkin kamu salah satu yang beruntung.
Karena sosial media hanya fasilitas. Bukan seluruhnya dari duniamu. Betul atau tidak?
Jika saja.. maka...
Aku kadang berandai, bagaimana jika saat itu ketika kau melihatku, aku melihatmu balik. Ketika aku tak sengaja melihatmu bibirku justru tersenyum padamu. Seandainya sore itu aku berbalik ke arahmu, banyak hal yang seandainya aku bisa lakukan saat itu terhadapmu. Apa semuanya akan baik baik saja hari ini.
Seandainya aku mengucapkan terima kasih saat kau membantuku berulang kali, mengatakan sampai jumpa dan melambaikan tangan, mengatakan ya saat jarimu mengetuk bahuku, tidak menyembunyikan senyumku hanya karena kau tak sengaja mencariku, seandainya aku menghampirimu kala itu, membangunkanmu saat kau tertidur lelap di belakang. Apa akan ada yang berubah saat ini, akankah ku bisa melihatmu sampai saat ini.
Andai saat itu, aku memandangmu lebih lama. Apa kau akan bertahan di sampingku juga sangat lama. Andai saja saat itu, ketika aku masih bisa melihatmu. Aku mengungkapkannya.. Apa saat ini kau akan menjadi milikku..
Sialnya, semua sudah berlalu. Saat ini aku hanya melantur, dan berpikir jika saja, andai saja.. maka apa semuanya akan baik baik saja.
-Andai- (part 3)
Mulanya Adalah Andaikan
Andaikan aku dulu rajin, pasti sekarang aku sukses
Andaikan aku dulu menabung, pasti sekarang hidupku cukup
Andaikan aku dulu belajar, pasti sekarang nilaiku sempurna
Andaikan aku dulu semangat, pasti sekarang cita-citaku tersampai
Aduhai, sulit sekali rasanya untuk tak menyesal
Hingga kini banyak kata andai selalu terucap
Atau itu adalah cara Tuhan untuk membuat kita berbenah?
Berapa kali kita telah menyaksikan, mengalami sendiri dan hal itu membuat kita mengucap kembali, "Andaikan"?
Berapa kali "Andai" itu bertransformasi menjadi "Saya akan berubah"?
Ah, jauh rasanya.
Semoga Tuhan tak bosan membuatku untuk selalu mengucap "Andai", atau
Semoga Tuhan mengubah kata "Andai"-ku menjadi "Saya akan berubah"
Hingga kemudian hidup kita selalu penuh aksi untuk berubah lebih baik.
Semoga!
Kendal, 15 Februari 2019
"Ogni volta che andai tra gli uomini ne ritornai meno uomo di prima."
- Seneca, Epist. VII, 3.
Ruang Riuh
i Ada yang mengenang—terkenang. Di sepertiga malam, kelukur hati. "Mengungkaimu, wahai ingatan. Bagaikan ombak, sapu nama di atas pasir".
ii Ada yang duduk bermain menit. Jungkat-jungkit di atas cita. "Memagutmu, wahai permata hati. Bagaikan memutar arloji, ke arah kiri".
iii Ada yang mengoyak langit-langit. Tiada gelap, hanya elok sebagai penghuni. "Mendamaikanmu, wahai bayang. Bagaikan tidur cendera, tiada anai tiba-tiba".
iv Ada yang sadar tersesat dalam ruang. Bermain-main dengan mengada—ada. "Merangkaimu, wahai putaran angka. Tiada sukar mewujudkan— andai".
Dewi N. Sutrisno 2017